Monday, June 02, 2008

Places VS Charms (Reflection from Trip to Israel - 2)

Baik pada waktu saya akan berangkat ke Israel, selama di sana ataupun setelah kembali dari sana, banyak teman yang dengan bercanda mengatakan bahwa saya "naik haji" ala Kristen hehe…

Kita sama-sama tahu bahwa pergi ke Israel berbeda dengan naik haji seperti yang dilakukan oleh orang muslim. Naik haji adalah rukun Islam yang kelima sementara pergi ke Israel sama sekali tidak diperintahkan oleh Alkitab.

Sebelum pergi ke Israel, saya sudah mendengar tentang perilaku tidak Alkitabiah dari orang-orang Kristen yang pergi ke sana. Pada waktu di sana saya mendengar beberapa cerita yang lebih aneh lagi dan saya sempat melihat beberapa di antaranya. Ada orang Kristen yang ingin dibaptis ulang di sungai Yordan, ada yang sengaja menyentuh batu atau tempat tertentu dengan harapan ada berkatnya, ada yang meletakkan uang di gereja tertentu supaya diberkati lebih banyak, dsb.

Perilaku-perilaku seperti itu jelas sama sekali tidak berdasarkan Alkitab, bahkan boleh dibilang melawan Alkitab. Seakan-akan Tuhan menunjuk tempat atau benda tertentu untuk menjadi jimat bagi orang Kristen. Seakan-akan ada kehadiran Tuhan yang lebih di situ yang membuat Tuhan mau tidak mau memberkati orang-orang yang menyentuhnya. Ini konsep lampu Aladin dan bukan konsep Alkitab. Tuhan tidak pernah terikat oleh tempat atau benda.

Israel adalah lokasi terjadinya banyak peristiwa-peristiwa dalam Alkitab. Dulu tempat itu dipilih Allah untuk menjadi tempat kehidupan Yesus di bumi. Tetapi tidak pernah Tuhan berfirman supaya kita selalu ke Israel untuk mendapatkan berkat yang lebih besar. Tuhan tidak terikat pada tempat penyaliban Yesus, lokasi Yesus membuat mukjizat, air sungai tempat Yesus dibaptis, dsb sehingga kalau kita kesana Tuhan pasti memberkati.

Uniknya, ternyata mental jimat ini sangat melekat pada manusia. Manusia memang selalu suka mencari suatu tempat atau benda yang dianggap punya ‘isi’, punya kuasa dan bisa ditakuti oleh dirinya. Maka kalau saja kubur Musa ditemukan, pasti banyak orang Israel zaman itu yang menyembahnya. Dan kalau saja salib Yesus ditemukan, pasti banyak orang Kristen yang menyembahnya (terbukti ketika Ratu Helena memerintahkan pencarian salib Yesus dan menemukan banyak salib palsu, itu pun sudah menjadi benda yang dipuja-puja oleh gereja).

Bukan berarti tempat atau benda itu tidak penting. Tuhan juga memakai benda atau tempat sebagai simbol kehadiranNya, seperti bait suci dan tabut perjanjian. Tetapi Tuhan sudah berulang kali mengajar orang Israel, jangan jadikan itu jimat. Bait suci adalah simbol kehadiran Tuhan, tempat itu dikuduskan oleh Tuhan, dan kalau mereka sembarangan bisa langsung mati. Tetapi ketika Israel melawan Tuhan, dibiarkanNya orang Babel dan orang Roma untuk masuk ke ruang maha kudus bahkan menghancurkannya dan tidak mati. Ketika Israel berperang melawan Filistin, mereka membawa tabut perjanjian ke medan perang supaya mau tidak mau Tuhan memberkati, tetapi Tuhan malah membiarkan tabut itu dirampas oleh orang Filistin. Orang-orang itu mungkin menyentuh, membuka dan melihat ke dalamnya tetapi tidak menjadi mati, sebagaimana kalau itu dulu dilakukan orang Israel. Bait suci dan tabut perjanjian bukan jimat, tidak ada tempat atau benda yang adalah jimat. Kehadiran Tuhan tidak pernah bisa diikat oleh tempat atau benda apapun.

Pergi ke Israel seperti mencari ilustrasi untuk Firman Tuhan, mencari alat peraga untuk cerita Alkitab atau seperti yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya, mencari icon untuk merangsang imajinasi kita akan cerita Alkitab. Kalau boleh saya bandingkan, walau tidak terlalu tepat, pergi ke Israel adalah seperti pergi mendengar khotbah. Apakah ada berkatnya? Ada! Tapi apakah mendengar khotbah pasti mendapat berkat? Jelas tidak! Tergantung bagaimana kita mendengar, tergantung bagaimana kita membuka hati kita, dan tergantung apakah Tuhan memberkati. Seperti itu jugalah pergi ke Israel. Itu hanya suatu tempat. Memang tempat yang luar biasa, tempat dimana Tuhan pernah menyatakan dengan sangat jelas kemuliaanNya di tengah manusia, tetapi tetap hanyalah suatu tempat. Apakah ada berkatnya pergi ke sana? Tergantung bagaimana kita merenungkan kaitan tempat itu dengan Firman Tuhan, tergantung bagaimana hati kita apakah bebal atau lembut ingin mengenal Tuhan lebih dalam, tergantung apakah Tuhan memberkati.

Kalau saya pikir-pikir, kenapa banyak orang punya mental jimat? Jawabannya mengerikan, karena mereka ingin memegang Tuhan dalam kuasa mereka. Tapi Tuhan tidak pernah bisa dikuasai manusia.

Tidak ada embel-embel baru di depan nama saya karena saya pernah ke Israel. Saya hanya pernah pergi ke suatu tempat, Israel, dan di sana saya merenungkan Firman Tuhan serta berdoa.

Wednesday, May 28, 2008

Places as Icons (Reflection from Trip to Israel - 1)

Sebelum pergi ke Israel, saya punya sikap skeptis terhadap perjalanan ke Israel yang banyak dilakukan oleh orang Kristen. Alasannya adalah saya merasa banyak tempat-tempat di sana yang sebenarnya tidak bisa dipastikan keasliannya.

Peristiwa-peristiwa penting berkaitan dengan hidup Yesus terjadi sekitar tahun 5 SM – 29 M. Tahun 70 M kota Yerusalem pernah dihancurkan dan orang Yahudi, termasuk orang Kristen, tersebar kemana-mana. Setelah itu penganiayaan kepada orang Kristen makin menghebat. Di tengah hebatnya penganiayaan, mungkin banyak orang Kristen yang tidak terlalu memperhatikan lagi tempat-tempat yang berkaitan dengan kehidupan Yesus. Baru pada abad ke-4, ketika kekaisaran Romawi menjadi Kristen, orang-orang berusaha menemukan kembali tempat-tempat itu dan membangun gereja di atasnya.

Karena latar belakang seperti demikian, saya sangat ragu darimana orang bisa tahu pasti tempat Yesus dilahirkan, tempat Yesus disalibkan, jalan yang dilalui Yesus sambil memikul salib, dan sebagainya. Maka keraguan saya adalah untuk apa pergi hanya melihat sesuatu yang sebetulnya "palsu."

Ketika saya diajak untuk ikut ke Israel, saya bergumul apa yang harus saya harapkan pada waktu berada di sana. Apakah perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang berarti atau sekedar sebuah wisata. Lagipula, saya akan pergi bukan sekedar sebagai penikmat wisata tetapi sebagai pembimbing rohani. Saya harus mengatakan sesuatu pada waktu berada di sana! Apa yang harus saya katakan?

Ketika di sana, saya menemukan bahwa tempat-tempat yang kami kunjungi mungkin bisa dikategorikan menjadi 3 macam:

1. Tempat-tempat yang bisa dikatakan pasti atau minimal hampir pasti
Tempat-tempat seperti ini ditentukan berdasarkan tradisi yang sangat kuat, yaitu tradisi oral yang tidak pernah terputus. Tempat-tempat seperti ini misalnya: Gereja St. Peter di Galicantu yang adalah rumah Kayafas. Di dalam Alkitab dikatakan Yesus malam hari dibawa ke rumah Kayafas untuk diadili dan pagi-pagi Dia dibawa ke Pilatus. Antara malam dan pagi, sangat mungkin Dia ditahan dalam penjara. Penggalian arkeologi kemudian menemukan penjara di bawah rumah itu. Bisa kita katakan Yesus pasti pernah ada di rumah itu, dan bahkan sangat mungkin Yesus juga pernah ada dalam penjara itu. Bagi saya tempat-tempat seperti ini memberi kesan yang sangat kuat. Luapan emosi begitu besar. My Lord Jesus was here!


2. Tempat-tempat yang tidak bisa dipastikan dengan tepat lokasinya, tetapi letaknya di sekitar tempat itu dan suasana serta keadaan lingkungannya tidak jauh berbeda.
Tempat-tempat seperti ini, walaupun tidak pasti, tetapi memberikan gambaran yang sangat dekat. Misalnya: gunung Sinai. Setahu saya saat ini lokasi gunung Sinai yang dimaksud di dalam Alkitab tidak diperdebatkan lagi. Tetapi di bagian mana persisnya lokasi orang Israel berkemah dan Musa menerima hukum Allah, tidak ada yang tahu. Tetapi karena pemandangan sekitar gunung Sinai kurang lebih sama, maka pada waktu berada di salah satu puncak gunung Sinai, saya bisa membayangkan pemandangan yang sama dengan yang dulu dilihat orang Israel ketika Tuhan memberikan 10 hukumNya.



Tempat lain yang seperti ini adalah via dolorosa, jalan salib yang dilalui oleh Yesus. Kita memang tidak tahu persis jalan mana yang dilewati oleh Yesus, bahkan lokasi bukit Golgota pun tidak diketahui dengan pasti, tetapi suasana jalan-jalan di kota tua Yerusalem kurang lebih sama. Maka saya bisa membayangkan seperti itu juga jalan yang dilalui Yesus sambil memikul salib.


Untuk tempat-tempat seperti ini, saya juga merasakan kesan yang kuat. Dengan mudah saya bisa membayangkan secara dekat peristiwa yang saya baca di dalam Alkitab.

3. Tempat-tempat yang sama sekali tidak pasti
Tempat-tempat seperti ini ditentukan berdasarkan tradisi yang sangat lemah, maksudnya tradisi oral (dari mulut ke mulut) yang sempat terputus. Jadi dulu orang tahu itu tempatnya, tapi karena perang atau lain hal, tidak ada lagi orang yang tahu dimana. Kemudian tiba-tiba muncul dugaan lagi bahwa itu tempatnya dan dugaan itu yang kemudian menyebar. Ini adalah tradisi yang sangat lemah. Tempat-tempat seperti ini misalnya: Gereja tempat Yesus naik ke surga atau bukit Golgota.



Berbeda dengan dua macam tempat yang pertama, tempat-tempat seperti ini tidak memberikan kesan yang kuat kepada saya.

Perbedaan kesan yang ditimbulkan oleh setiap tempat itu kepada saya jelas disebabkan oleh ‘kadar keasliannya’. Tempat yang sama sekali tidak bisa saya yakini sebagai tempat yang benar, tidak bisa membuat saya mengkaitkannya dengan kisah yang saya baca di dalam Alkitab.

Boleh saya katakan tempat-tempat itu menjadi semacam ilustrasi bagi kisah Alkitab. Memakai istilah gereja Katolik, tempat-tempat itu menjadi semacam ‘icon’. Bukan menjadi icon untuk dipuja tetapi menjadi icon yang merangsang imajinasi saya akan peristiwa Alkitab. Juga bukan menjadi icon yang menggantikan Alkitab tetapi menolong saya lebih menghayati apa yang sudah saya baca di dalam Alkitab.

Maka betapa salahnya jika kita pergi ke sana tanpa tahu peristiwa itu di dalam Alkitab. Kita harus mengkaitkan tempat itu dengan apa? Lalu what’s the point pergi ke sana?

Oh ya, saya perlu tambahkan. Ada tempat-tempat yang memang sama sekali tidak pasti, tetapi di tempat itu orang Kristen selama berabad-abad melakukan penyembahan. Dan saya memperoleh kesan yang sangat kuat juga di situ. Bukan dengan mengkaitkannya langsung dengan peristiwa dalam Alkitab. Tetapi saya membayangkan Tuhan yang disembah dan dipuja selama ribuan tahun di tempat itu. Tempat-tempat semacam itu menjadi semacam batu peringatan. Seperti hari kelahiran Yesus yang tidak pernah kita ketahui kapan, tetapi tanggal 25 Desember menjadi ‘batu peringatan’ untuk itu. Demikian pula tempat-tempat itu menjadi batu peringatan untuk karya Tuhan. Tempat-tempat seperti itu misalnya: Gereja Abu Sirga (dipercaya dibangun di atas tempat keluarga Yesus pernah tinggal ketika lari ke Mesir) dan stasiun terakhir via dolorosa (dipercaya oleh gereja Katolik sebagai tempat penyaliban Yesus). 

Wednesday, May 07, 2008

Bercanda

Bercanda menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial kita. Ketika berkumpul bersama teman-teman, kita semua suka bercanda. Caranya macam-macam. Ada yang dengan menceritakan kisah lucu, menggoda dengan gerakan, mimik muka dan bahasa tubuh yang lucu, atau dengan menggunakan sindiran atau anekdot baik tentang orang lain maupun tentang diri sendiri. Semua itu kita sebut bercanda.

Jarang kita sadari bahwa bercanda sedikit banyak ada kaitannya dengan apa yang sesungguhnya kita pikirkan. Misalnya ketika kita berkata “wah perutmu kayak semar”, biasanya kita tidak katakan itu kepada orang yang super kurus tapi justru kepada orang yang memang dalam pikiran kita perutnya besar. Atau ketika kita bilang “rambutmu bagus ya kayak bihun”, biasanya kita tidak katakan itu kepada orang yang dalam pikiran kita rambutnya sangat halus, tetapi justru kepada yang menurut kita rambutnya kasar. Kalau tidak seperti demikian, maka candaan kita pasti tidak lucu karena orang tidak melihat kaitannya.

Walaupun ketika mengucapkan kata-kata canda itu kita jarang menyadari ada kaitan antara bercandanya kita dan apa yang kita pikirkan, tetapi lain ceritanya ketika kita yang dijadikan sasaran bercanda. Orang yang dijadikan sasaran bercanda akan lebih peka bahwa ada kesamaan antara dirinya (artinya kenyataan sesungguhnya) dengan kalimat candaan yang ditujukan kepada dirinya. Dampaknya? Bisa dia ikut tertawa karena memang lucu dan baru sadar bahwa dirinya bisa dianalogikan seperti itu atau bisa sangat tersinggung karena kalimat itu mencungkil sesuatu yang sensitif bagi dia.

Apa yang menyebabkan reaksi orang itu berbeda? Jawabannya juga bisa macam-macam. Tetapi salah satunya adalah relasi dia dengan orang yang mengucapkannya. Kalau dia kenal baik dengan orang yang mencandainya, kecil kemungkinan dia tersinggung. Biasanya dia akan tertawa dan mungkin balas mengucapkan candaan tentang orang itu. Tetapi kalau dia tidak terlalu mengenal orang itu, cerita menjadi berbeda.

Bukankah kita memang harus hati-hati dalam berkata-kata, termasuk kata-kata yang kita kategorikan bercanda? Jangan salah mengerti, saya tidak mengatakan kita tidak boleh bercanda. Betapa sepinya dan membosankannya dunia tanpa kalimat-kalimat candaan (termasuk yang bernada saling ‘menghina’, oops!). Tapi cobalah berhati-hati.

Jika candaan itu memang ada kaitannya dengan apa yang sesungguhnya kita pikirkan, mari ingat jangan sampai candaan itu keluar dari pikiran yang jahat. Kita boleh melihat kekurangan orang (baik karakter, kesalahan ataupun fisik) lalu mengucapkannya dalam bentuk candaan, asalkan di dalam kasih. Kalau itu kita lakukan di dalam kasih, tidak ada yang salah walaupun sekali lagi, hati-hati! Tetapi menjadi berbeda jika kita bukan saja melihat tetapi sungguh menghina orang itu dalam pikiran kita lalu mengeluarkannya dalam bentuk candaan. Orang itu mungkin tidak tersinggung karena dia tidak tahu bahwa kita sedang menghina. Tapi itu tetap berdosa. Pikiran yang jahat dikeluarkan dalam kalimat manis, kalimat candaan, yang palsu. Orang tertawa dan kita puas. Tetapi tidak ada yang menyangka bahwa kalimat itu sebetulnya keluar untuk memuaskan kejahatan hati kita.

Bayangkan betapa sakitnya orang itu jika dia bisa merasakan bahwa ‘candaan’ itu sebetulnya bukan masuk dalam kategori bercanda tetapi penghinaan.

Wednesday, April 23, 2008

Ketulusan

Ketulusan dari dulu adalah karakter yang sangat disukai. Kita tidak suka kepada orang yang ‘ada udang di balik batu’ (bahkan ungkapan ini pun sudah lama sekali muncul), orang yang berbelok-belok untuk menyembunyikan maksudnya, orang yang menjebak, pendek kata kita tidak suka orang yang tidak tulus. Walaupun demikian, kita seringkali memaafkan ketidaktulusan. Kita tidak terlalu merasa terganggu dengan ketidaktulusan yang dilakukan orang di sekitar kita.

Tetapi di zaman sekarang keadaan sudah berubah. Kepekaan akan ada tidaknya ketulusan ini menjadi lebih tajam. Bukan berarti orang-orang zaman sekarang lebih tulus (bagaimanapun orang tetap berdosa), tetapi mereka lebih peka, curiga dan tidak suka dengan ketidaktulusan.

Saya ambil contoh praktis saja dari dunia pemasaran. Dulu para agen asuransi diajarkan oleh perusahaan supaya ketika menawarkan asuransi, sebisa mungkin jangan katakan bahwa produk yang dijual adalah asuransi. Alasannya? Banyak orang yang belum mengerti asuransi tetapi langsung antipati ketika mendapat penawaran asuransi. Maka para agen asuransi akan ‘putar-putar’ dulu ketika bicara, baru ujungnya berkata “nah inilah yang saya jual”.

Demikian pula dalam sistem pemasaran multi level (MLM) yang sangat booming sejak hampir 20 tahun yang lalu. Ketika ingin mengajak orang untuk bergabung, mereka diajarkan untuk tidak ‘straight to the point’. Maka mereka mungkin akan mulai dengan mengajak orang itu berpikir apa yang diinginkannya (seringkali yang digali adalah ketamakan dan kemalasan orang itu, seperti ingin punya mobil mewah, penghasilan ratusan juta, tanpa bekerja pula). Bahkan ketika ingin mulai bicara pun, mereka tidak akan katakan ingin membicarakan hal itu. Mereka mungkin katakan ingin datang main ke rumah, ingin bicarakan bisnis, atau bahkan sekedar ‘membesuk’. Setelah ‘putar-putar’, baru mereka menjelaskan maksud sebenarnya.

Cara-cara pemasaran seperti ini terbukti sukses, tapi itu dulu. Sekarang ini, cara-cara yang saya sebutkan di atas masih dilakukan, tetapi saya makin banyak mendengar suara-suara miring dari orang-orang yang menjadi ‘korban’ pemasaran dengan cara tersebut. Mereka merasa ditipu, menjadi objek, diganggu, dan yang paling menyedihkan adalah itu dilakukan oleh orang-orang yang mereka kenal. Artinya ada relasi yang terluka di situ.

Saya pernah mengalaminya. Suatu kali ada teman lama yang tiba-tiba menelpon. Wah, saya sangat senang karena memang sudah lama tidak bertemu. Tetapi setelah basa-basi sejenak, kemudian dia mengatakan ingin menawarkan bisnis. Ketika saya tanya bisnis apa, dia mencoba menyembunyikannya dan mengatakan akan menjelaskannya ketika nanti bertemu saya. Di otak saya langsung muncul 3 huruf yang berkedip-kedip “M-L-M” (Multi Level Marketing). Akhirnya dia memang mengaku, dan dengan sopan saya menolak karena sayatidak tertarik. Setelah telpon ditutup, saya merasa sakit hati. Saya tahu teman saya itu pasti mencoba memikirkan setiap nama yang bisa di ‘prospek’ dan di situlah baru dia teringat nama saya. Sejak hari itu, dia juga tidak pernah menelpon saya lagi. Saya sangat merasa dimanfaatkan dan tidak suka dengan ketidaktulusannya.

Saya juga pernah terjebak, duduk dan harus mendengarkan presentasi yang ‘putar-putar’ dulu itu, yang padahal dari awal saya sudah tahu ujungnya akan seperti apa. Pertanyaan seperti “apa yang anda cita-citakan?” untuk menggali ketamakan saya, membuat saya muak.

Ada 1 cerita lagi, suatu kali seorang teman mengirim SMS menanyakan kapan saya ada waktu karena dia ingin mampir dan ngobrol. Pengalaman saya (bukan cuma sekali dalam peristiwa yang saya ceritakan di atas, tapi beberapa kali) langsung membuat alarm di atas kepala saya berbunyi. Teman ini bukan teman yang dekat, kami juga sudah tidak bertemu beberapa tahun, dan dia tidak pernah khusus ingin ngobrol dengan saya sebelumnya. Belakangan saya tahu, dia memang ingin menawarkan asuransi.

Saya perlu jelaskan dulu, saya tidak anti dengan produk asuransi atau produk yang ditawarkan melalui jaringan MLM. Produk asuransi dan MLM banyak yang bagus dan memang dibutuhkan. Saya juga mencari beberapa di antaranya dan senang membelinya. Tapi saya tidak suka dijebak. Saya lebih senang jika ada orang yang langsung katakan “saya jualan asuransi/produk A, kamu perlu nggak? Kalau mau, biar saya jelasin dulu nanti terserah putusin tertarik atau nggak”.

Saya yakin cara-cara pemasaran seperti di atas masih sukses, dan itu sebabnya masih dipakai. Tetapi saya juga yakin cara pemasaran seperti itu pasti akan makin tidak populer dalam tahun-tahun yang akan datang. Dan adalah kebodohan jika perusahaan-perusahaan masih melatih tenaga pemasarnya melakukan hal-hal seperti di atas, karena itu berarti mereka tidak peka menangkap perubahan.
Saya tidak ingin menulis panjang lebar seperti ini untuk mengkritik dunia pemasaran, tetapi yang ingin saya ajak kita lihat adalah ternyata banyak gereja juga melakukan hal yang sama. Gereja juga tidak membaca perubahan zaman.

Mungkin dulu orang Kristen merasa cara-cara pemasaran seperti di atas sukses untuk bisnis, maka mereka berpikir “wah, ini cocok juga di gereja”. Maka dibuatlah penginjilan dengan cara seperti demikian. Misalnya kita mengadakan pertemuan di rumah, kita undang tetangga dengan menyebutkan “ini acara makan-makan”, tetapi waktu mereka datang ada pengkhotbah yang menginjili mereka. Kita juga tiba-tiba menelpon kenalan lama kita, yang tidak pernah sama sekali kita hubungi dan sejujurnya tidak pernah kita ingat, hanya untuk mengajak mereka ke KKR (bayangkan perasaan mereka karena tahu nama mereka baru teringat waktu kita sedang mendaftarkan siapa yang bisa diajak untuk KKR). Atau kita tiba-tiba menyapa dengan sopan tetangga kita yang tadinya tidak pernah kita sapa (dan mungkin dia sebal dengan kita) hanya karena ingin mengajak mereka ke persekutuan di rumah kita.

Sekali lagi saya yakin cara-cara seperti di atas masih bisa dipakai dan sangat bagus kalau orang Kristen punya semangat untuk memberitakan Injil. Tetapi saya juga yakin cara-cara seperti itu akan makin membuat gereja dicela daripada dimuliakan. Mengapa? Sama seperti kasus dalam dunia pemasaran yang saya sebutkan di atas, itu sangat tidak tulus! Mengapa tidak langsung katakan “Minggu depan ada kebaktian di situ, khusus jelasin tentang kekristenan. Mau ikut nggak? Kalo mau, datang aja dengerin, nanti saya temenin”, atau “Minggu depan di rumah saya ada acara kumpul-kumpul. Yang datang beberapa teman gereja dan juga teman-teman mereka. Acaranya santai, pendeta dari gereja saya kasih khotbah singkat, setelah itu kita makan bareng dan ngobrol-ngobrol aja”. Dan akan lebih menyenangkan bagi orang yang diajak jika selama ini kita memang teman mereka, bukan tiba-tiba mau jadi teman hanya karena ingin mengajak mereka ke KKR!

Satu lagi analogi yang ingin saya tarik dari dunia pemasaran. Hal yang sangat menggelikan bagi saya adalah di dalam usaha memasarkan produknya, banyak para pemasar yang menyebut ‘keinginan menolong orang lain’ sebagai dasar motivasinya. Mereka berkata “kalau saya bisnis sendiri, saya hanya memperkaya diri sendiri, tapi saya ingin menolong orang lain dan anda juga bisa menolong orang lain dengan bergabung dengan bisnis ini”. Apakah sungguh itu motivasinya? Adakah di antara kita yang antusias “Wow, alangkah indahnya bisa menolong orang lain. Saya akan bergabung dengan bisnis ini!”? Jelas bukan itu motivasinya!

Mengajak orang untuk percaya kepada Yesus adalah hal yang sangat mulia, karena kita tahu itu adalah hal terbaik yang bisa terjadi kepada seseorang. Motivasi dasarnya? Kasih! Kasih dalam hal ini boleh saya definisikan sebagai keinginan untuk orang lain memperoleh yang terbaik untuk hidupnya. Melihat orang lain punya kebutuhan rohani dan ingin menawarkan pertolongan dari Tuhan yang mampu menolong, itulah kasih! Tanpa kasih, ajakan yang mulia itu menjadi sangat tercemar. Tanpa kasih, motivasi kita mungkin hanya karena disuruh hamba Tuhan, atau tidak enak kalau persekutuan di rumah sepi, atau mengusir perasaan bersalah karena tidak menginjili. Apapun juga, jikalau bukan kasih, ajakan kita itu menggelikan. Walaupun kita katakan motivasi kita adalah kasih, tapi coba tanya pada diri sendiri apakah betul motivasinya kasih? Kalau sebenarnya bukan kasih, bau ketidaktulusan itu akan tercium.

Di zaman ini banyak orang yang sedang mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hidupnya. Mereka merasa kering, lelah, bosan dengan hidupnya. Mereka membutuhkan Tuhan. Jika kita mengasihi mereka, pertama-tama kita tidak ingin mereka hidup seperti itu, kita ingin mereka menerima kehidupan yang sesungguhnya di dalam Yesus. Kedua, kalau memang kita punya hati seperti itu, pergilah kepada mereka, tanyakan apakah mereka mau mempertimbangkan bahwa Yesus bisa mengisi kosongnya jiwa mereka. Kita punya berita yang sangat berharga, mereka perlu itu, maka tawarkan kepada mereka! Tapi jangan lupa, lakukanlah dengan tulus dan penuh kasih!

Tuesday, April 08, 2008

1 Samuel 13 - Ketidaktaatan


Saul adalah raja pertama dari bangsa Israel. Kitab 1 Samuel pasal 9-12 mencatat hal-hal yang indah
tentang bagaimana Saul dipilih Tuhan menjadi raja, bagaimana namanya dibuat menjadi harum di antara orang Israel, sehingga Samuel pun bisa berlega hati minta diri dari bangsa Israel. Tetapi mulai 1 Samuel 13, yang diceritakan adalah kemerosotan Saul. Ketidaktaatan dan ketidak bijaksanaan Saul mulai diperlihatkan, sampai akhirnya 1 Samuel 15:35 menyimpulkan: “…Samuel berdukacita karena Saul. Dan Tuhan menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel”. Itulah kesimpulan akhir yang menyedihkan tentang Saul.

Selama Saul memerintah, bangsa Israel terus berada dalam kondisi peperangan dengan bangsa-bangsa lain. 1 Samuel 13-15 menceritakan kemenangan-kemenangan awal Saul atas Filistin dan juga Amalek. Maka dari sisi manusia, bisa dikatakan 1 Samuel 13 ini adalah permulaan yang baik dari pemerintahan Saul. Baru saja jadi raja, sudah menang perang terus. Dia mengawali pemerintahannya dengan menunjukkan kemampuannya melawan musuh. Tetapi justru di sini pointnya. Cerita kesuksesan Saul bercampur dengan komentar yang buruk dari Tuhan.

Dan akhirnya seluruh cerita ditutup di 1 Samuel 15 dengan kesimpulan yang menyedihkan itu tentang Saul. Sekalipun Saul bisa memenangkan peperangan dan banyak mengerjakan hal yang baik selama dia menjadi raja, tetapi dia tidak taat pada Tuhan. Kalau mau diukur dari keberhasilan, Saul sangat sukses. Tapi bukan itu yang Tuhan lihat. Tuhan tidak memuji kesuksesannya, tetapi Tuhan bersedih melihat hatinya.

Kesalahan Saul dalam 1 Samuel 13 ini adalah dalam hal mempersembahkan korban. Kesalahan Saul adalah karena ia tidak mentaati firman Tuhan yang disampaikan oleh Samuel (13:13-14).

Saul ingin segera membakar korban karena pada waktu itu rakyat mulai berserak meninggalkan dia. Tentara Israel punya sedikit sekali senjata yang layak karena mereka sama sekali tidak menguasai teknik untuk mengasah besi. Tidak ada seorang pun tukang besi di Israel, maka mereka tidak memiliki satu pun pedang atau tombak (13:19,22). Hanya Saul dan Yonatan yang punya. Yang lain pakai apa? Mungkin kapak, arit, atau alat-alat pertanian lainnya yang tidak layak dijadikan senjata berperang. Sementara itu, mempersembahkan korban sebelum berperang adalah kebiasaan bangsa-bangsa zaman itu sebagai cara mendapat perkenanan dewa mereka. Bangsa Israel juga punya konsep yang sama. Itu sebabnya dalam keadaan yang serba lemah, sementara korban belum dipersembahkan, mereka sangat takut dan mulai meninggalkan Saul. Maka Saul ingin membangkitkan semangat rakyat dengan membakar korban, seperti berkata “Lihat korban sudah dipersembahkan! Allah pasti tolong!”.

Samuel sudah memberikan perintah supaya Saul pergi dulu ke Gilgal dan menunggu dia selama 7 hari di sana sampai dia datang dan barulah mempersembahkan korban (10:8). Tetapi sesudah ditunggu 7 hari lamanya, Samuel belum datang juga sementara rakyat sudah tidak sabar. Keadaan memburuk karena musuh makin dekat mengepung dan semua sudah ketakutan, ada yang bersembunyi di gua dan ada yang melarikan diri. Maka Saul pun melanggar perintah Tuhan.

Ada 3 hal lagi yang menjadi kesalahan besar Saul:

Pertama, dia pintar beralasan. 
Kita bisa berkata bahwa tindakan Saul masuk akal. Persis seperti alasan Saul mengapa dia mempersembahkan korban tanpa menunggu Samuel: “Rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mihkmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran” (13:11-12).

Kata-kata Saul hebat, alasannya tepat, semuanya masuk akal. Tetapi Saul lupa 1 hal: Tuhan lebih senang orang yang taat! Alasan apapun, sekalipun masuk akal, menjadi tidak masuk akal karena melawan perintah Tuhan.

Kalau kita lihat nanti di 1 Samuel 15, kita menemukan kisah yang mirip terulang lagi. Saul tidak taat lagi, dan ketika ditegur, dia langsung memberikan lagi alasan-alasan yang masuk akal. Ini kelemahan Saul yang paling dasar: dia pintar bicara dan mencari alasan ketika ditegur.

Kedua, Saul dikuasai oleh keadaan dan bukan oleh iman.

John Bunyan mengatakan kalimat yang agung: “Aku lebih baik berjalan di dalam gelap bersama Tuhan daripada berjalan sendirian di dalam terang”. Lebih baik di dalam gelap, tidak tahu mengapa, tidak tahu harus bagaimana, tetapi tetap bersama Tuhan, daripada seakan-akan tahu jelas apa yang harus dilakukan, tahu jalan kemenangan, tetapi sendirian karena tidak bersama Tuhan.

Tetapi pikiran Saul lain. Dan seringkali begitu jugalah kita! Ketika kita melihat keadaan tidak beres, kita sering ingin segera melakukan sesuatu. Kita tidak suka ada sesuatu yang berjalan di luar kontrol kita, kita ingin pegang kendali. Tetapi ini salah! Ini seringkali sama dengan keinginan manusia menjadi sama seperti Allah. Kita ingin mengatur hidup kita, ingin semua berada dalam kontrol kita. Padahal lebih baik lemah, seperti tidak bisa berbuat apa-apa, berada dalam kegelapan, tapi jelas menantikan Tuhan.

Terakhir, Saul menganggap Tuhan hanya seperti mainan. Ketika dia mempersembahkan korban, dia juga hanya ingin memakai Tuhan untuk memberkati peperangan. Dia ingin memakai upacara persembahan korban kepada Tuhan itu sebagai alat untuk memompa semangat prajuritnya. Ia tidak menganggap serius Tuhan.

Belajar mentaati Tuhan, belajar tetap taat sekalipun keadaan tidak memungkinkan, belajar tetap menunggu Tuhan sekalipun seperti tidak bisa ditunggu, itu adalah pelajaran-pelajaran penting dalam kehidupan. Saul melakukan kewajiban agama, Saul bicara tentang Allah, Saul juga melakukan pekerjaan Allah. Semua itu dia lakukan, tetapi itu tidak cukup. Masalahnya adalah hati, 'The heart of the matter is a matter of the heart' (Inti dari masalahnya adalah masalah hati). Allah tidak ingin semua itu tanpa hati yang merindukan dan mentaati Dia.

Bagaimana hati anda?

Monday, April 07, 2008

Perubahan


Akhir-akhir ini di dalam beberapa kesempatan, saya bertemu beberapa orang teman lama, teman-teman semasa SMA dulu. Surprise memang, ada yang masih saya kenal, ada yang hanya saya ingat wajahnya tapi lupa namanya, ada juga yang setelah kenalan baru saya tahu ternyata itu teman SMA! Biasanya yang terakhir itu adalah mereka yang memang waktu masa SMA dulu hanya tahu-sama-tahu dengan saya.

Masing-masing sudah berubah, saya berubah dan mereka juga berubah. Perubahan kami bukan sekedar pada fisik, yang biasanya terlihat dengan tubuh yang makin ‘besar’, rambut yang makin jarang, dan wajah yang makin tua, tetapi juga pada kehidupan.

Dulu semua sama-sama ‘anak SMA’, seragam kami sama, putih abu-abu dan dan sepatu hitam, pergumulan hidup kami juga mirip yaitu PR, ulangan, ujian, les dan masalah dengan guru.

Sekarang semua punya kehidupan yang berbeda. Ada yang sudah berkeluarga dan ada juga yang belum. Ada yang bekerja sebagai karyawan, dosen atau guru, ada yang wirausaha dan ada juga yang menjadi profesional seperti dokter. Ada yang ekonominya maju dan serba berkecukupan dan ada juga yang biasa-biasa saja. Daftar ini masih bisa ditambah terus.

Yang menarik adalah tidak semua kondisi-kondisi di atas sudah bisa diprediksi sejak dulu. Banyak juga yang ‘dulunya sama sekali tidak terbayang dia bisa jadi begitu’. Saya kira teman-teman SMA saya juga dulu tidak ada yang menduga kalau akhirnya sekarang saya menjadi hamba Tuhan penuh waktu di gereja. Jangankan mereka, sayapun tidak menduga!

Dan saya juga menemukan beberapa hal yang menarik, walaupun kebanyakan perubahan-perubahan itu hanya sekedar status pernikahan, pekerjaan, kondisi ekonomi, atau segala 'embel-embel' lain di permukaan, tetapi ada juga perubahan yang terjadi pada ‘orang’nya. Ada yang dulunya seperti apa tetapi sekarang seperti apa. Ada yang dulunya sangat aktif pelayanan, sekarang sekedar ke gereja. Ada juga yang dulunya tidak percaya Tuhan sekarang jadi orang yang sangat bertumbuh. Ada yang dulu ‘agak aneh’, sekarang berubah walaupun ada juga yang berubahnya menjadi makin parah.
Saya jadi merenung lagi tentang kehidupan saya. Saya yang sekarang juga sudah berbeda dengan saya yang dulu. Mengenai 'embel-embel', pasti banyak perubahan. Tapi mengenai 'orang'nya, mungkin dalam beberapa hal saya tidak berubah (ini menyedihkan saya), dalam beberapa hal lain mungkin saya menjadi makin buruk (walaupun saya harap tidak seperti itu), dan dalam beberapa hal lain mungkin saya makin baik. Tetapi yang membuat saya bersyukur adalah, dengan segala kekurangan yang ada, saya bisa mengatakan saya bertumbuh. Ini membuat saya sangat bersyukur. Walaupun lambat dan cacat di sana-sini, saya bertumbuh!

Dan saya berpikir apa yang menyebabkan saya menjadi seperti sekarang ini? Jawaban saya bisa bermacam-macam: karena orang tua, karena lingkungan, karena teman-teman, atau karena keputusan-keputusan tertentu dalam hidup saya. Tetapi saya sadar di atas semua itu adalah: karena kasih karunia Tuhan dan respon saya atas kasih karunia itu. Tuhan, dengan terus menerus, tidak bosan-bosan, pantang menyerah, berusaha menggarap hidup saya untuk mengubah saya, dan saya berubah juga walaupun respon saya sering lamban dan bebal (Ah, andaikata saya tidak begini bebal dan lamban!).

Ada perubahan-perubahan dalam hidup saya yang waktu SMA dulu, atau bahkan waktu kuliah dulu, sama sekali tidak terpikir oleh saya. Saya tidak terbayang akan menjadi seperti apa adanya sekarang ini. Saya tahu saya masih sangat super jauh dari baik. Tapi saya bisa menyaksikan bagaimana kasih karunia Tuhan itu beroperasi dalam hidup saya dan bagaimana respon saya yang bebal dan lamban itu, walaupun seperti membuka pintu dengan pelit kepada Tuhan, ternyata sudah membuat anugrahNya menerobos masuk. Maka sekarang ini, kalau melihat ke belakang, saya bisa berkata “Oh, betapa manisnya perubahan itu, betapa manisnya karya Tuhan dalam hidup saya!”.

Lalu saya lihat lagi keadaan diri saya sekarang ini. Jujur saya tidak puas, bahkan sangat tidak puas, dengan diri saya yang sekarang. Bukan saya tidak puas dengan anugrah Tuhan. Saya tidak puas karena saya tahu Tuhan ingin saya lebih dari sekarang tapi saya masih terlalu pelit membuka pintu itu. Dan saya memandang ke depan untuk perubahan lagi.

Suatu kali, ketika saya sedang sangat kesal, saya berkata kepada teman saya “saya sudah tidak bisa berubah lagi, sudah mentok!”. Teman saya kemudian memberikan nasihat bijak yang terus saya ingat “jangan batasi perubahan yang ingin dikerjakan Tuhan!”.

Hidup saya hari ini belum tentu menunjukkan besok akan seperti apa. Sekali lagi maksud saya bukan sekedar kondisi ekonomi, jenis pekerjaan atau segala embel-embel lain tetapi diri saya sendiri. Dan sampai berapa jauh saya bisa berubah? Alkitab memberitahu: Sampai seperti Kristus! Sampai hidup dalam kemuliaan bersama Tuhan dan malaikat-malaikatNya di surga! (2 Kor 3:18, Kol 3:4).

Menanti saat itu membuat saya terharu dan tidak sabar. Saya ingin ada disana dan bisa menoleh ke belakang dan dengan lebih berani lagi berkata “Oh, betapa manisnya perubahan itu, betapa manisnya karya Tuhan dalam hidup saya”. Saat itu pasti akan tiba!

Friday, March 21, 2008

Mengenang Apa?

Minggu ini orang Kristen merayakan Jumat Agung dan Paskah, dua hari yang sangat besar, kalau tidak bisa dikatakan terbesar, dalam kalender gereja.

Di dalam kebaktian Jumat Agung atau Paskah di gereja-gereja, dengan berbagai cara kita selalu mengenang kembali kesengsaraan Kristus. Ada pengkhotbah yang menceritakan ulang penderitaan yang ditanggung Yesus. Ada gereja yang menampilkan cuplikan film The Passion of Christ. Ada juga yang menampilkan drama yang melukiskan adegan penyiksaan dan penyaliban Yesus. Dan tidak jarang jemaat, termasuk saya, menangis karenanya.

Jelas tidak salah, bahkan harus, untuk kita mengenang kembali kesengsaraan Kristus. Juga sama sekali tidak salah untuk menangis membayangkan penderitaan yang ditanggung oleh Kristus.
Tetapi jangan sampai kita salah alamat!

Ketika seorang ayah yang penuh kasih memukul anaknya yang bersalah, ia pasti tidak ingin anaknya menangis karena pukulannya saja, lalu titik berhenti di situ. Ia pasti ingin anaknya tahu kesalahannya dan tidak ingin mengulanginya lagi. Ketika seorang ayah memberikan hadiah, ia pasti tidak ingin anaknya bersukacita hanya karena hadiahnya saja, tetapi karena tahu ayahnya mengasihinya.

Ketika kita merayakan Jumat Agung dan Paskah, mengenang kesengsaraan Yesus, menangis karenanya, apa sebenarnya yang kita kenang dan tangisi? Kalau kita hanya mengenang betapa menderitanya Yesus, betapa sakitnya cambukan yang dia terima, betapa perihnya luka ketika paku itu menusuk kaki dan tangannya, kita salah alamat. Kalau kita hanya menangis karena itu, kita salah alamat. Allah tidak ingin kita berhenti di situ.

Mengenang kembali kesengsaraan Kristus seharusnya membawa kita melihat dua hal:

Pertama, betapa besarnya kasih Kristus. Apa yang Dia tanggung bagi kita adalah pernyataan kasihNya kepada kita, kasih yang sudah ada sebelum permulaan zaman dan kasih yang terus dinyatakan kepada kita sampai hari ini bahkan sampai selama-lamanya. Peristiwa kesengsaraan Kristus adalah salah satu, atau lebih tepatnya yang terbesar, dari pernyataan kasih itu. Oh sungguh, “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus!” (Ef 3:18).

Kedua, seperti yang dikatakan Yesus kepada perempuan-perempuan yang menangisi diriNya: “janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk 23:28). Yesus disalib karena menanggung dosa-dosa kita. Tangisilah diri kita yang berdosa ini, tangisilah diri kita yang membutuhkan darahNya yang dicurahkan di atas kayu salib itu, tangisilah diri kita yang sampai hari ini terus berbuat dosa dan terus disucikan oleh darahNya itu!

Betapa lebih gampangnya kita mengenang kesengsaraan Kristus daripada mengingat kasih Allah apalagi keberdosaan kita! Tetapi itulah Jumat Agung dan itulah Paskah.

Selamat merayakan Jumat Agung dan Paskah. Tuhan berkati!