Tuesday, March 03, 2009

Supaya Kamu Dapat Berdoa

"Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa" (1 Petrus 4:7)

Kesudahan Segala Sesuatu Sudah Dekat
Surat 1 Petrus ditulis mungkin sekitar tahun 60-an M, artinya sampai sekarang sudah berlalu lebih dari 1940 tahun. Tetapi waktu itu, Petrus mengatakan ‘sudah dekat’. Kesadaran (awareness) semacam ini selalu muncul dalam Alkitab. Yesus juga mengatakan sudah dekat dan ‘berjaga-jagalah’. Ada 2 arti ‘sudah dekat’ :

Pertama, bagi kita pribadi, waktu kita tidak lama. Begitu kita dipanggil Tuhan, itulah ‘kesudahan segala sesuatu’ bagi kita, pribadi.

Kedua, sebelum generasi di zaman Yesus itu berlalu, tanda-tanda akhir zaman sudah digenapi. Maka tidak ada lagi peristiwa yang memisahkan kita dari kedatangan Kristus. Yesus bisa datang kapan saja! Kondisi seperti ini berarti ‘sudah dekat’.

Petrus perlu menyebutkan ini karena kalau kita berpikir bahwa kesudahan segala sesuatu masih jauh, itu adalah pikiran yg menyesatkan dan akan menjauhkan kita dari Kerajaan Allah. Yesus sungguh-sungguh bisa datang kapan saja.

Kuasailah dirimu dan jadilah tenang
Keduanya lebih ke arah pikiran (mind) daripada tubuh. Ada 2 hal muncul dalam pikiran saya mengenai arti perintah ini:

Pertama, jangan biarkan pikiranmu panik akan berbagai masalah yang engkau hadapi dalam dunia. Kita bisa berdoa sambil sibuk melakukan banyak hal, tapi kita tidak bisa berdoa sambil panik.
Kedua, arahkan pikiranmu kepada Tuhan yang akan segera datang, jangan berpikir Dia masih jauh dan lama. Pikiran seperti ini akan memfokuskan kita kepada Tuhan dan kebenaranNya.

Supaya kamu dapat berdoa
Mengapa perintah ini diberikan setelah 2 kalimat di atas? Calvin mengatakan “Dia mau mengingatkan mereka untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, bukan secara formal”. Kalau doa hanya formalitas, dalam keadaan apapun, dengan pikiran bagaimanapun, asalkan kita biasa berdoa atau lancar berkata-kata, kita pasti bisa berdoa. Tetapi doa yang sungguh-sungguh, hanya bisa ketika kita sadar “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat…kuasai diri… dan jadilah tenang”.

Thursday, January 29, 2009

Sahabat Yang Aneh

Alkitab memakai banyak istilah melukiskan hubungan kita dengan Tuhan dan salah satu yang sangat personal adalah ‘sahabat’. Suatu kali ketika saya sedang merenungi hubungan saya dengan Tuhan, saya mencoba membayangkan Tuhan sebagai sahabat saya sebagaimana yang Dia janjikan. Seperti apa sebenarnya persahabatan kami?

Sebagai sahabat, saya jelas bukan sahabat yang baik. Saya sangat sering membuat Dia kecewa, bahkan tanpa ragu menyakitiNya. Saya tahu apa yang tidak Dia suka tapi tokh saya lakukan. Saya seringkali memanfaatkan Dia dan tidak memikirkan perasaanNya. Bahkan ketika Dia ingin berkomunikasi, saya seringkali menutup telinga. Sebagai sahabat, saya ini pengkhianat, jahat, malas, keterlaluan.

Lalu saya bertanya apa yang dirasakan Tuhan sebagai sahabat saya? Seorang sahabat tentu akan marah bahkan benci.

“Apakah Engkau marah Tuhan?”

Sangat aneh ketika saya menemukan bahwa Tuhan tidak membenci saya. Tuhan benci kepada kegagalan, dosa, dan kejahatan saya, tapi dia tidak membenci saya.

“Tuhan, bukankah apa yang saya lakukan tidak bisa dipisahkan dari diri saya? Saya sendiri yang melakukan semuanya, dengan sadar dan entah berapa ratus atau ribu kali. Mengapa Engkau tidak membenci saya?”

Saya jadi merasa tidak enak hati dengan Tuhan. Ketika terjadi konflik di antara sahabat maka hubungan akan terasa menjadi kaku dan ada yang mengganjal. Itu yang saya rasakan. Tetapi saya mencoba bertanya,

“Tuhan, apakah Engkau juga rasa ada yang mengganjal?”
 
Tuhan menjawab, “Ya, jelas ada yang mengganjal, ada sesuatu yang merusak relasi kita”
 
“Lalu bagaimana Tuhan?”

Tuhan diam …........... dan Dia ingatkan saya apa yang sudah Dia lakukan.

Saya tidak habis pikir! Benar-benar tidak habis pikir! Saya yang salah, tapi Tuhan malah menyelesaikannya dengan memberikan diriNya untuk saya di kayu salib. Dan sampai hari ini, Dia sabar melihat saya sering melakukan berbagai hal yang merusak relasi kami. Dia tetap tidak membenci malah terus mengulurkan tanganNya untuk berbaikan lagi.

“Tuhan, apakah Engkau rasa ada yang mengganjal?”

“Ya tentu, tapi Aku sudah bereskan. Tinggal giliran kamu yang bereskan. Buka hatimu, bertobat, terima anugrah-Ku.”
 
Engkau sahabat yang aneh Tuhan… terlalu baik… terlalu baik...

Tuesday, September 30, 2008

Apa Yang Membentuk Kita?


Zaman modern menghasilkan banyak konsep yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.
Konsep-konsep itu sudah dianggap sebagai kebenaran yang kalau tidak dianggap mutlak maka paling sedikit dianggap tidak-perlu-dipertanyakan. Konsep-konsep itu menjadi aturan yang mengatur kehidupan, standar untuk mengukur segala sesuatu dan motor penggerak aktivitas kehidupan.

Efisiensi, efektivitas dan produktivitas, adalah beberapa di antaranya. Konsep-konsep yang pertama-tama diterapkan dalam industri ini sudah menjadi konsep kehidupan manusia. Efisien berarti apa yang ditanamkan (uang, tenaga, waktu, dll) memberikan hasil yang baik, makin sedikit yang ditanam dan makin banyak yang dihasilkan berarti makin efisien. Efektif berarti menghasilkan apa yang kita inginkan. Produktif berarti menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar.

Ketiga konsep ini punya kesamaan yaitu berfokus pada hasil. Pertanyaannya adalah “Bagaimana hasilnya, dibanding dengan yang kita tanamkan atau yang kita harapkan? Berapa banyak hasilnya?” Maka satu konsep lagi yang mau tidak mau harus muncul adalah pengukuran. Selalu harus ada ukurannya, ada yang bisa dinilai, dievaluasi, dan kalau hasil pengukuran kurang baik, diperbaiki.

Di dalam dunia industri, konsep-konsep ini punya tempatnya sendiri. Tetapi seperti yang dikatakan orang "we shape the building and then the building shape us". Kita membentuk sebuah bangunan dengan bentuk tertentu, dan setelah bangunan itu jadi kita tidak bisa berjalan menabrak dia maka kita harus berjalan mengikuti bentuk bangunan itu, kita membangun kamar maka sekarang kita tidur selalu di kamar itu, kita membuat taman maka sekarang kita harus menyediakan waktu untuk merawatnya atau mengeluarkan uang untuk membayar orang lain melakukannya. Maka bangunan itu sekarang membentuk hidup kita. Konsep-konsep itu dibangun oleh manusia untuk industri, tetapi setelah jadi, maka konsep-konsep itu punya kekuatan luar biasa melampaui tempatnya. Konsep-konsep itu membuat industri menjadi monster bagi para pekerja di dalamnya. Para pekerja tidak dilihat sebagai manusia tetapi sebagai penghasil. Maka tidak heran revolusi industri menjadi bentuk perbudakan baru. Dan ketika keadaan sekarang ‘lebih baik’, pekerja dilihat sebagai aset (berapapun bagusnya istilah itu, itu tetap merendahkan karena manusia bukan barang!). Perubahan itu hanyalah memelintirkan praktek dari konsep yang sama, kalau tadinya pekerja ditindas sekarang dikipas, tetapi dengan tujuan yang sama.

Konsep-konsep itu juga mengatur kehidupan pribadi kita dan juga kehidupan bergereja. Kita mengukur hidup ‘berguna’ atau tidak dengan menghitung apa yang sudah berhasil kita kerjakan. Bahkan kita mengukur tanggung jawab kita dalam memakai waktu dengan menghitung berapa banyak yang berhasil kita lakukan dalam satu hari. Kita mengukur orang dengan berapa banyak yang mampu dia lakukan atau berapa hebatnya dia dalam menghasilkan sesuatu (mungkin karya atau uang). Kita mengukur ‘sukses’ atau tidak suatu acara dengan bertanya berapa yang hadir. Kita mengukur keberhasilan suatu program dengan bertanya berapa banyak dana dan tenaga yang sudah dikeluarkan dibanding dengan hasilnya.

Sebagian orang menghibur diri dengan mengatakan “maka yang penting kualitas bukan kuantitas”. Ini pun hanyalah memelintirkan praktek dari konsep yang sama. Jika itu adalah KKR, maka kita tidak bertanya ‘berapa yang hadir’ tetapi ‘berapa banyak yang mengambil keputusan’ (maksudnya yang mengangkat tangan!). Jika itu adalah retreat, maka kita tidak bertanya ‘berapa yang ikut’ tetapi ‘berapa yang hidupnya berubah’. Jika itu adalah penginjilan kita tidak bertanya ‘berapa kali’ tetapi ‘berapa orang’. Maka sebenarnya sama saja!

Konsep-konsep itu sudah keluar dari tempatnya, seperti tanaman yang menjulurkan akarnya kemana-mana. We built it and it has already shaped us!

Wednesday, August 06, 2008

Yang Penting Tuhan Mau - 2

Semakin lama saya melayani, semakin banyak saya melihat orang melayani bukan di tempatnya. Hal ini menjadi semakin sulit dicegah karena banyak orang Kristen yang ‘mempraktekkan kasih’ secara salah.

Misalnya ada orang yang jelas tidak bisa menyanyi, tetapi tetap mau ‘mempersembahkan’ pujian secara solo. Padahal pada waktu dia menyanyi, semua orang yang punya sedikit saja sense of music akan gelisah sambil mendengarkan nyanyiannya. Tetapi di dalam ‘kasih’, bagaimana kita bisa menolak orang yang mau melayani? Bagaimana kita bisa mematahkan semangat orang yang ingin melayani? Maka bukannya mencegah dia menyanyi solo kita malah memuji dia, kalau tidak mau berbohong, maka yang kita puji bukan suaranya tetapi ‘semangatnya’, “wah hebat sekali lho tetap semangat mau nyanyi buat Tuhan”. Semua dilakukan atas nama ‘kasih’.

Saya percaya Tuhan bisa memakai suara sejelek apapun untuk menjadi berkat. Saya pernah mendengar cerita tentang seorang anak yang suaranya sama sekali tidak bagus, tetapi dalam keadaan dia sakit parah dia ingin menyanyi menyatakan imannya kepada Tuhan, dan nyanyiannya itu menjadi berkat luar biasa bagi semua orang yang mendengarnya.

Tapi ada 2 hal yang harus menjadi pertimbangan kita disini: Pertama, kenyataan bahwa Tuhan bisa memakai apa saja termasuk yang paling buruk, tidak berarti kita boleh memberikan yang buruk. Kita tetap harus berusaha memberikan yang terbaik. Kedua, dalam cerita tentang anak yang sakit parah tadi, atau cerita-cerita serupa dengan itu, ada konteks yang melatarbelakangi nyanyian mereka. Maka yang didengar oleh orang bukanlah suara mereka tetapi kesaksian mereka. Nyanyian anak itu menjadi berkat karena orang mengagumi imannya di tengah pergumulannya. Suaranya yang false tidak menghalangi orang memuji Tuhan karena yang menjadi media penyampai berita sebenarnya bukan suaranya tetapi kesaksiannya. Maka kita tidak bisa memakai kisah-kisah seperti itu untuk membenarkan diri “biarpun jelek, tetapi Tuhan bisa pakai”.

Saya harap contoh di atas tidak membuat anda salah mengerti. Saya percaya dengan kalimat "biarpun jelek, tetapi Tuhan bisa pakai" (kalau tidak bagaimana Tuhan pakai saya!). Tapi jangan jadikan itu alasan untuk tetap memberikan yang jelek kepada Tuhan.

Banyak orang tidak sadar dimana tempatnya dalam tubuh Kristus. Komunitas Kristen, tubuh Kristus, gereja lokal, dimana kita berada, akan menolong kita mengerti dimana seharusnya tempat kita. Jangan sampai komunitas Kristen malah membantu mengaburkan tempat kita atas alasan kasih yang palsu. Itu bukan yang Tuhan mau!





Wednesday, July 23, 2008

Sense of Belonging


Di dalam salah satu buku yang sedang saya baca (Komunitas Alternatif: Hidup Bersama Menebarkan sense of belonging, penerjemah buku tersebut memberikan catatan kaki: “Biasanya sense of belonging diterjemahkan secara keliru dengan rasa memiliki. Sebenarnya, sense of belonging adalah rasa dimiliki, artinya seseorang merasa dirinya diterima dalam dan diakui sebagai bagian dari suatu komunitas hidup”.
Kasih, Penerbit Kanisius), ketika sampai pada kalimat

Secara terjemahan, memang itulah terjemahan yang tepat! Hal yang saya tidak mengerti adalah mengapa selama ini setiap kali melihat kata sense of belonging, yang langsung terpikir oleh kita adalah rasa memiliki? Darimana ide itu muncul?

Saya sangat tertarik dengan catatan kaki dari penerjemah tersebut karena terjemahan yang berbeda itu akan merubah cara berpikir kita.

Seringkali ketika membicarakan tentang komunitas atau persekutuan, kita menyebut istilah rasa memiliki. Maksudnya adalah perasaan mengasihi persekutuan tersebut, perasaan bahwa dia punya tanggung jawab atas persekutuan tersebut, perasaan bahwa dia tidak rela persekutuan itu hancur. Karena apa? Karena dia punya rasa memiliki. Maka kita ingin supaya orang-orang dalam persekutuan punya rasa memiliki persekutuan tersebut supaya mereka mau berjuang untuk persekutuan itu. Bagaimana caranya? Entahlah. Mungkin kita melibatkan mereka dalam berbagai aktifitas (supaya mereka merasakan berjuang untuk persekutuan itu), mungkin melibatkan mereka dalam acara kebersamaan (supaya mereka akrab dan senang dengan persekutuan itu) atau mungkin mengajak mereka berdoa untuk persekutuan itu (supaya persekutuan itu lekat dalam hati mereka). Pada intinya kita berjuang supaya mereka menjadikan persekutuan itu sebagai milik mereka.

Tetapi ketika kita mengubah terjemahan sense of belonging menjadi rasa dimiliki. Seluruh arti menjadi berbeda. Kita bukan berjuang supaya setiap orang dalam persekutuan merasa memiliki persekutuan, tetapi supaya mereka merasa dimiliki oleh persekutuan itu. Mereka merasa dianggap bagian dari persekutuan itu, merasa dikasihi, merasa dijadikan anggota keluarga.

Mungkin kegiatan yang kita lakukan tetap sama, tetapi seluruh arah akan menjadi berbeda.

Monday, July 21, 2008

Yang Penting Tuhan Mau - 1


Dari sejak remaja, saya sering mendengar orang berkata “pelayanan yang penting mau bukan
mampu”. Kalimat ini seringkali diucapkan pada waktu mendorong (kadang memaksa) seseorang untuk ambil bagian dalam pelayanan. Maksudnya jelas, asalkan kita mau kita pasti bisa dipakai oleh Tuhan. Kemampuan itu dari Tuhan maka yang penting, sekali lagi, adalah kita mau.

Setiap kita memang tidak ada yang mampu mengerjakan pekerjaan Tuhan. Sesungguhnya terlalu agung, terlalu besar, terlalu impossible bagi siapapun untuk membantu pekerjaan Tuhan! Itu yang pernah diungkapkan Paulus di dalam surat 2 Korintus. Setelah dia menyatakan peran yang sangat mulia dari seorang pelayan Tuhan yaitu “menyebarkan bau yang harum dari Kristus” (2 Kor 2:15), dia bertanya “Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?” (2 Kor 2:16). Dan jawabannya “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah” (2 Kor 3:5).

Maka kita mungkin bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang terlihat seperti pekerjaan Tuhan. Kita bisa mengorganisir suatu acara, membuat desain untuk publikasi, memasak, memainkan musik atau bahkan berkhotbah, tetapi semua itu mungkin bukan pekerjaan Tuhan. Tidak ada dari kita yang mampu menyebarkan bau yang harum dari Kritus, itu adalah pekerjaan Allah. Dengan kekuatan sendiri, kita hanya mampu melakukan christian work dan bukan pekerjaan Tuhan.

Tetapi apakah betul “pelayanan yang penting mau bukan mampu?” Saya kira juga tidak terlalu tepat. Bukankah Tuhan memberikan tempat bagi masing-masing anggota tubuh? Bukankah Tuhan memberikan talenta yang berbeda bagi pelayan-pelayanNya?

Dalam konteks praktis, apakah kita perlu membujuk orang yang suaranya agak ‘lari’ untuk ikut paduan suara (karena paduan suara kekurangan anggota) dengan alasan “pelayanan yang penting mau”? Saya kira tidak. Atau apakah karena kita kekurangan guru sekolah minggu, maka siapa saja kita bujuk untuk menjadi guru sekolah mingu dengan alasan “pelayanan yang penting mau”? Lebih parah lagi, apakah kita harus membiarkan seseorang menempati jabatan tertentu dalam pelayanan hanya karena “dia mau”?

Banyak kekacauan dalam gereja karena banyak orang Kristen yang ingin mengambil tempat yang bukan bagiannya. Dan juga ada banyak kelemahan dalam pelayanan karena banyak orang yang ambil bagian di dalamnya hanya karena merasa bersalah jika dia tidak mau. Konsep bukankah “yang penting mau” membuat banyak orang merasa keterlaluan jika tidak mau. Padahal tiap anggota tubuh harus berada pada tempatnya, bukan sekedar mau berada di mana.

Mungkin lebih baik kita katakan “pelayanan yang penting adalah Tuhan mau”. Kalau pelayanan bukan kesanggupan kita tetapi Tuhan, maka biar Tuhan yang menunjukkan apa yang harus kita lakukan. Talenta yang Tuhan berikan kepada kita bisa menjadi petunjuk bagi kita. Situasi pelayanan di hadapan kita juga bisa menjadi petunjuk bagi kita. Pada intinya, masing-masing kita harus dengan hati yang jujur bertanya kepada Tuhan, apa yang Tuhan mau kita lakukan. Kalau Tuhan mau, walaupun kita tidak mampu (dan memang kita tidak akan mampu), Tuhan akan pakai kita. Sebaliknya, sekalipun kita mau, kalau Tuhan tidak mau (bukan tempatnya kita), kita hanya akan mengerjakan christian work dan bukan pekerjaan Tuhan.

Tuesday, July 15, 2008

Pengalaman Bersama Tuhan


Saya mengamati bahwa sebagian besar gereja-gereja dari kalangan Injili di Indonesia, entah
mengapa, menganggap tabu atau paling tidak menghindari pembicaraan mengenai perasaan-perasaan bersama dengan Tuhan atau pengalaman-pengalaman rohani.

Begitu ada orang yang bicara tentang perasaan-perasaan atau pengalaman seperti demikian, banyak orang yang langsung merasa ‘anti’ atau paling tidak waspada. Misalnya jika ada orang berkata:

“Saya merasa Tuhan menyentuh saya”
“Tiba-tiba saya merasa sangat damai dan ada perasaan hangat di dalam hati”
“Saya melihat seperti ada cahaya dan tiba-tiba saya menangis”
“Saya seperti mendengar Tuhan berkata…”

Kalimat-kalimat itu langsung membuat ‘radar teologi’ kita naik ke atas dan kita siap untuk membom jatuh ‘pesawat musuh’. Mungkin radar anda sekarang juga mulai naik ke atas dan anda siap untuk membom saya?

Saya sangat mengerti ‘bahaya’nya kalimat-kalimat seperti di atas, dan saya sangat tahu penyimpangan-penyimpangan yang selama ini dilakukan oleh orang-orang dengan kalimat-kalimat seperti di atas. Tetapi kalau kemudian kita tabu dengan hal tersebut, kita anti dengan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan seperti itu, saya kira kita "membuang air dalam baskom sekaligus dengan bayi di dalamnya"!

Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus adalah pusat dari kehidupan rohani kita. Dan kalau iman kita adalah iman kepada Tuhan yang hidup, maka kita pasti mengalami perasaan dan pengalaman bersama dengan Dia. Kita tidak berhubungan dengan Tuhan yang hanya jauh di sana, tetapi Tuhan yang juga dekat dengan kita. Tiap hari Dia bersama kita, dan tiap saat ada yang Dia lakukan terhadap kehidupan kita. Tidak mungkin tidak ada perasaan dan pengalaman bersama dengan Dia.

Di sisi lain, iblis memang bisa menyamar menjadi malaikat terang. Artinya iblis bisa meniru berbagai hal yang dikerjakan oleh Allah sedemikian rupa sehingga orang mengira itu adalah pekerjaan Allah. Maka Iblis bisa meniru dengan memberikan perasaan dan pengalaman yang mirip seperti yang bisa diberikan Allah kepada kita. Dia bisa memberikan perasaan seperti damai, perasaan seperti adanya kehadiran Tuhan, bahkan pengalaman-pengalaman ‘rohani’ yang sangat personal.

Tetapi karena iblis bisa meniru, apakah kalau begitu kita boleh anti dengan perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang memang diberikan oleh Tuhan? Bukankah Tuhan memang berbicara kepada kita? Bukankah Tuhan memang menjamah hidup kita? Bukankah kehadiranNya memang seringkali bisa dirasakan dengan jelas oleh anak-anakNya? Lalu mengapa kita anti dengan semua itu? Bukankah seharusnya kita bahkan mengingini pengalaman bersama dengan Tuhan? Itu yang diingini oleh Musa (melihat kemuliaan Tuhan), itu juga yang Elisa doakan supaya bujangnya alami (melihat ada tentara malaikat Tuhan), itu juga yang diberikan Yesus kepada para rasul (memperlihatkan kemuliaanNya dengan berubah rupa bersama dengan kehadiran Musa dan Elia), dan itu juga yang dialami oleh orang-orang percaya di sepanjang Alkitab!

Saya tahu sebagian orang akan berkata “kami tidak anti, tetapi kami selalu harus menguji berdasarkan Firman”. Saya 100% setuju dengan kalimat itu. Tetapi mari kita jujur, apakah selama ini kita memang ‘menguji’ atau sebetulnya cenderung takut dan akhirnya tidak peduli apakah kita mengalami Tuhan atau tidak?

Mengapa kita hanya ‘belajar’ tentang Tuhan dan ‘bekerja’ untuk Dia tetapi kita miskin ‘pengalaman’ bersama dengan Dia?