Wednesday, August 21, 2013

The Marks of a Spiritual Leader

Saya baru selesai membaca tulisan John Piper: The Marks of a Spiritual Leader. Mungkin tulisan ini lebih cocok disebut booklet daripada buku karena isinya hanya 43 halaman. Saya kira Piper memang tidak bermaksud menulis buku yang berbobot dibarengi dengan riset yang memadai. Dia hanya menuliskan perenungannya, tentunya berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadinya, tentang kepemimpinan rohani. 

Apa yang dia tuliskan adalah sesuatu yang umum - seperti hal yang "semua-orang-sudah-tahu". Tetapi gaya tulisan Piper dan kaliber pelayanannya memberi bobot tersendiri pada nasehat-nasehatnya. 

Di bawah ini adalah sebagian dari nasehat Piper yang saya beri garis bawah: 

A spiritual leader must be a person who has strong confidence in the sovereign goodness of God to work everything together for his good. Otherwise, he will inevitably fall into the trap of manipulating circumstances and exploiting people in order to secure for himself a happy future which he is not certain God will provide. 

The spiritual leader must be a person who meditates on the Scriptures and prays for spiritual illumination. Otherwise, his faith will grow weak and his love will languish, and no one will be moved to glorify God because of him. 

There will be no successful spiritual leadership without extended seasons of prayer and meditation on the Scriptures. Spiritual leaders ought to rise early in order to meet God before they meet anybody else. 

It is unthinkable that we should be content with things the way they are in a fallen world and an imperfect church. Therefore, God has been pleased to put a holy restlessness into some of his people, and those people will very likely be the leaders. 

Criticism is one of Satan’s favorite weapons to try to get effective Christian leaders to throw in the towel. 

Lazy people cannot be leaders...He loves to be productive. And he copes with the pressure and prevents it from becoming worrisome with promises like Matthew 11:27–28 and Philippians 4:7–8 and Isaiah 64:4. 

If we are to lead people to see and reflect God’s glory, we must think theologically about everything. 

O how we need people who will devote just five minutes a week to dream of what might possibly be. 

My dad once told me that the reason he thought many pastors fail to see revival in their churches is that they leave just before it is about to happen. The long haul is hard, but it pays. The big tree is felled by many, many little chops.

Monday, August 12, 2013

Masalah Sosial: Kelaparan

Banyak dari kita yang hidup berkecukupan secara materi dan bahan makanan. Jujur seringkali kita
mengambil dan menyimpan makanan secara berlebihan. Ujungnya adalah kita banyak membuang makanan yang tidak termakan. Lihat saja di restoran, berapa banyak makanan yang terbuang setiap harinya. Coba hitung berapa banyak sisa makanan yang kita buang setiap harinya baik dari piring kita maupun lemari kita. Sementara, sangat ironis, banyak orang yang kekurangan makanan dan kelaparan.

Situasi ini membuat “membuang makanan” seringkali dikaitkan dengan “masalah kelaparan”. Logikanya bukan saja kita harus bersyukur bahwa kita bisa makan padahal banyak orang yang kekurangan makanan, tapi juga karena kita membuang makanan MAKA ada orang lain yang jadi kekurangan makanan.

Saya setuju kita harus belajar tidak membuang-buang makanan. Saya setuju kita harus bersyukur bahwa kita bisa makan – dengan limpah. Tapi saya selalu merasa ada yang salah dengan cara kita berpikir dalam hal ini. Apakah dengan saya menghabiskan makanan di piring dan lemari saya maka itu akan menolong orang lain yang kelaparan? Atau dengan saya mengambil makanan tidak berlebihan maka itu akan membuat orang yang kelaparan mendapatkan makanan?

Point saya adalah betapa orang Kristen, termasuk saya, sangat dangkal memikirkan masalah ini.

Baru-baru ini saya mendengar sebuah khotbah di TTC tentang masalah kelaparan. Si pengkhotbah membandingkan betapa berlimpahnya kami yang di Singapore dibanding mereka yang kelaparan di negara lain. Karena seringkali mahasiswa yang single (yang berkeluarga masak sendiri) mengeluh dengan kualitas makanan di asrama, maka pengkhotbah itu menegur dengan berkata “kalian harus mengerti kami tidak bisa menyediakan makanan buffet dengan menu internasional, bukankah kita harus belajar bersyukur?”. Di akhir dari khotbahnya dia menampilkan sebuah video tentang orang-orang yang membeli makanan berlebih dan tidak menghabiskannya, lalu datanglah seorang bapa miskin yang mengambil sisa makanan itu lalu membawa pulang untuk keluarganya yang menyambutnya dengan gembira. Anak-anak yang kurang makan itu tertawa, gembira, bersyukur, untuk sisa bakmi, sisa ayam, dsb. Dan pertanyaan di video itu kira-kira begini: “Bagaimana mungkin tertawa mereka membuatku sedih?”

Saya sangat tersentuh dengan video itu. Tawa anak-anak itu membuat saya sedih. Tapi yang membuat saya tidak setuju adalah dia mengajak mahasiswa bersyukur bisa makan menu apapun yang disediakan sekolah. Padahal adalah tanggung jawab sekolah untuk memperbaiki itu. Tidak ada yang minta makanan buffet dengan menu internasional! Cukuplah dengan sedikit variasi menu. Tapi ok lah. Yang membuat saya lebih tidak setuju lagi karena dia menggunakan video itu untuk menyadarkan kita akan masalah kelaparan dannn…. mengajak kita tidak membuang makanan? Padahal logikanya –tanpa bermaksud kasar- anak-anak itu jadi bisa makan dan tertawa karena orang-orang membuang makanan bukan? Video itu sangat baik, tapi penggunaannya yang tidak tepat.
Seolah kita beranggapan kalau kita bersyukur untuk makanan kita, mencukupkan diri apa adanya, dan menghemat makanan maka entah dengan cara mukjizat apa, kita bisa menolong mereka yang kekurangan. Atau dengan kata lain, kalau kita tidak mengambil makanan secara berlebih, maka yang tidak kita ambil itu bisa sampai ke orang yang membutuhkan. Betulkah? Kita hanya berhenti di perasaan bersalah!

Udo Middelmann di dalam bukunya Christianity Versus Fatalistic Religions in the War Against Poverty mengajak kita berpikir lebih dalam. Pernahkah kita memikirkan masalah distribusi makanan? Kita tahu ada orang yang kelaparan di sana dan kita berlebihan secara materi dan bahan makanan di sini, seharusnya kita tidak berhenti dengan sekedar merasa bersalah karena makan kebanyakan, terlalu enak dan membuang sisa makanan. Kita harus memikirkan lebih jauh bagaimana mendistribusikan makanan kepada mereka yang memerlukannya. Distribusi!

Selangkah lebih jauh lagi adalah bagaimana orang yang kelaparan itu bukan hanya menerima pertolongan darurat – bahan makanan –, tetapi juga bisa hidup dengan tidak lagi dibantu. Distribusi makanan adalah pertolongan darurat, tapi perlu selangkah lebih jauh lagi. Ini bukan sekedar masalah “jangan kasih ikan tapi kasih pancingnya” tapi ini masalah membangkitkan keinginan untuk pergi memancing. Dan bagi Udo Middelmann, satu-satunya yang mengajarkan manusia pola pikir untuk berjuang dalam dunia ciptaan Tuhan yang sudah jatuh ke dalam dosa ini adalah Alkitab.

Alkitab mengajarkan kita untuk bekerja. Dunia memang “menghasilkan semak duri” sejak kejatuhan dalam dosa, tapi kita harus dan bisa berjuang. Alam tetap harus diusahakan. Dan Tuhan memberkati pekerjaan kita. Itu wawasan Kristen.

Saya berharap banyak orang Kristen, termasuk saya, bisa lebih sungguh lagi memikirkan masalah ini dan tidak hanya berhenti di perasaan bersalah.

Friday, August 02, 2013

My Dissertation Writing - 1

Sudah hampir satu bulan studi saya berjalan. Jujur saya kurang siap memulai studi D.Th. Biasanya dalam sistem UK (seperti di TTC), mahasiswa memulai program Ph.D/D.Th dengan proposal yang semi siap (tidak harus sepenuhnya siap). Ketika mendaftar di TTC memang saya harus menjelaskan topik disertasi saya – tetapi hanya secara ringkas dan berupa wilayah yang masih sangat luas. Tadinya saya pikir selama enam bulan di Jakarta, saya bisa melakukan penelitian lebih dalam tapi ternyata tidak bisa. Maka saya memulai program D.Th ini hanya dengan modal bayangan yang kabur, dan itu sebabnya selama satu bulan ini saya harus keleyengan nggak jelas.

Saya tertarik dengan masalah kehidupan Kristen, pertumbuhan rohani, pergumulan dengan dosa, dsb. Karena thesis M.Th saya berkaitan dengan Paulus dan saya yakin Paulus banyak berhadapan dengan jemaat yang bermasalah, maka saya ingin menulis tentang konsep Paulus tentang kehidupan Kristen. Tapi itu wilayah yang amat sangat astaga luasnya.

Saya tahu harus dipersempit, tapi masalahnya dipersempit kemana? Ada dua hal yang menjadi kunci pertimbangan: Pertama, disertasi artinya saya harus menulis sesuatu yang belum pernah ditulis orang (padahal tidak ada yang baru di bawah matahari). Paling tidak saya harus menulis sesuatu dengan cara yang belum pernah ditulis orang atau harus bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Kedua, saya harus suka sekali topik itu karena selama tiga tahun saya akan putar-putar, bolak-balik, memikirkan topik itu. Bisa dibayangkan blenek-nya kalau saya tidak menyukainya.

Akhirnya saya menemukannya! Mudah-mudahan tidak berubah banyak lagi. Saya akan menulis tentang Flesh-Spirit antithesis in Paul. Monograf/Disertasi terakhir yang saya temukan tentang ini ditulis tahun 1991 di Westminster Theological Seminary dan diterbitkan tahun 1997. Ada beberapa kesimpulan dia yang menurut saya tidak tepat (betapa senangnya menemukan kesalahan dia! hehe.. ). Mungkin ada disertasi lain yang ditulis setelah itu dan saya tidak tahu, tapi ternyata ini topik yang jarang disentuh dengan serius. Tahun 2007, sebuah disertasi lain di London School of Theology yang diterbitkan tahun 2010, masih menyebutkan bahwa ini adalah isu yang belum terjawab. Maka kelihatannya ini bisa saya kerjakan.

Masih belum jelas akan mengarah kemana, apakah saya akan fokus di surat Galatia atau surat lainnya, apakah saya akan fokus meneliti cara Paulus menggunakan antithesis ini atau memperluasnya dengan melihat implikasinya pada kehidupan Kristen, dsb.

Paling tidak, saya bersyukur dulu untuk ‘kemajuan’ kecil ini. Saya diberi waktu satu bulan lagi untuk merumuskan lebih detil topik ini dan berbagai isu di sekitarnya.

God help me.

Tuesday, June 11, 2013

Sickness and Spirituality

Blaise Pascal berdoa supaya Tuhan menggunakan dengan baik penyakitnya di tahun-tahun terakhir dan tergelap dalam hidupnya:

Lord, whose spirit is so good and so sweet in all things, and who are so merciful that not only the blessings but also the misfortunes that come upon your elect are the fruit of your mercy, grant me the grace not to question as a heathen might the state to which your justice has reduced me. You gave me health so that I might serve you, and I made a wholly profane use of it. Now you send me sickness in order to correct me; do not allow me to use this as an excuse to irritate you by my impatience. I have used my health badly, and you have justly disciplined me for it; do not allow that I use badly now your instructions. And since the corruption of my nature is so profound that it spoils even your favors, see to it, oh my God, that your all-powerful grace makes your chastisements salutary to me; and that, having lived undisturbed, in the bitterness of my sins, I taste the heavenly sweetness of your grace during the beneficial illnesses with which you have afflicted me.

Tuhan, yang Roh-Nya begitu baik dan manis dalam segala sesuatu, dan begitu murah hati sehingga bukan hanya berkat-berkat tetapi juga kemalangan-kemalangan yang dialami orang pilihan-Mu adalah buah dari kemurahan-Mu, karuniakanlah anugrah kepadaku untuk tidak mempertanyakan keadaanku yang disebabkan keadilan-Mu ini, seperti yang mungkin dilakukan orang kafir. Engkau memberi aku kesehatan supaya aku bisa melayani-Mu, dan aku menggunakannya dengan penuh kecemaran. Sekarang engkau mengirim penyakit kepadaku untuk meluruskanku; jangan biarkan aku menggunakan ini sebagai alasan untuk membuat-Mu jengkel dengan ketidaksabaranku. Dan karena kerusakan naturku begitu dalam sehingga bahkan merusak kebaikan-Mu, jagalah, oh Tuhanku, sehingga anugrah-Mu yang mahakuasa menjadikan penyucian-Mu ini bermanfaat bagiku; dan supaya, setelah sekian lama aku hidup dalam kepahitan dosa-dosaku tanpa gangguan, sekarang aku merasakan manisnya anugrah-Mu selama sakit yang bermanfaat ini yang kau timpakan kepadaku.

Saya sama sekali tidak yakin apakah saya bisa mengucapkan doa yang sama seperti Pascal. Kita cenderung menjauh dari penyakit dan melihatnya sebagai musuh. Ketika mengalaminya, dalam bentuk ekstrim kita marah kepada Tuhan dan bertanya kenapa, dalam bentuk lebih normal kita berdoa supaya cepat sembuh. Pendek kata, penyakit itu hanyalah sebuah gangguan dan kejahatan yang harus segera dilenyapkan.

Benar bahwa Allah menciptakan dunia bebas penyakit. Tapi sejak kejatuhan dalam dosa, penyakit tidak terhindarkan. Dan Tuhan kemudian memakainya juga untuk maksud-maksud-Nya.

Maka Pascal tidak melihat penyakit hanya sebagai gangguan atau musuh, tetapi sebagai alat anugrah Tuhan. Penyakit bisa dipakai Tuhan untuk meluruskan dia. Penyakit bisa menjadi alat menyucikan dia. Penyakit bisa dipakai Tuhan untuk membuat dia mengalami manisnya anugrah Tuhan.

Satu hal penting untuk diingat: Tuhan tidak bekerja dengan sistem ‘pembalasan’ - dosamu apa maka hukumannya apa. Kadang kita memang harus menanggung konsekuensi dari perbuatan kita yang dulu. Mis: dulu kita makan sembarangan lalu kena kolestrol tinggi. Tetapi Tuhan tidak memberi kolestrol dengan tujuan menghukum kita! Itu adalah konsekuensi. Kalau kita percaya bahwa segala hukuman dosa kita sudah ditanggung oleh Kristus, maka kita harus percaya bahwa Tuhan tidak bekerja dengan sistem ‘pembalasan’ seperti itu.

Lebih jauh lagi, kalau kita terus menerus menyesali kesalahan kita di masa lampau, kita hanya akan berputar-putar di penyesalan. Maka Pascal, sebaliknya, mengajak kita fokus pada bagaimana Tuhan bekerja melalui apa yang kita alami – apapun itu (dalam hal ini penyakit yang dialami).

Sikap seperti ini akan membuat siapapun yang mengalami penyakit atau kelamahan atau cacat, atau keadaan lain yang tidak menyenangkan, ketika pulih, disegarkan oleh anugrah Tuhan. Dan ketika tidak pulih pun, dikuatkan untuk menerima batasan yang baru dan bekerja lagi.

Sekali lagi saya tidak yakin bisa seperti itu! Ah.. kiranya Tuhan beranugrah.

Friday, June 07, 2013

Menyelidiki Kesejarahan Yesus (Investigating Jesus) - John Dickson

Pertama kali mengetahui tentang John Dickson adalah melalui membaca disertasinya ketika saya
sedang menulis thesis. Dia seorang sejarahwan Kristen, ahli Perjanjian Baru, dan menulis disertasi yang sangat bagus (walaupun saya tidak seluruhnya setuju dengan kesimpulan dia).

Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata dia terkenal di antara komunitas Kristen di Australia. Dia bukan hanya scholar tapi juga ‘selebriti’ presenter televisi dan menulis buku yang juga populer. Buku ini adalah salah satunya.

Judul asli buku ini adalah Investigating Jesus. Di Indonesia diberi judul Menyelidiki Kesejarahan Yesus. Buku ini secara format bisa dikategorikan buku populer karena banyaknya foto dan lukisan di dalamnya.  Tetapi isi buku ini sebetulnya tidak terlalu sederhana. Dickson mencoba menjelaskan bagaimana menilai kesejarahan kehidupan Yesus. Apakah Yesus betul-betul pernah ada sebagai manusia? Bagaimana menilai bukti-bukti yang ada? Apakah dokumen Perjanjian Baru bisa dipercaya?

Dickson membahas sejarah pencarian terhadap Yesus dari masa awal sampai sekarang ini. Bagaimana Yesus dan kesejarahannya dipandang dari perspektif berbagai zaman? Lalu dia membahas mengenai berbagai sumber untuk mengetahui tentang Yesus dari Injil Gnostik, dokumen-dokumen non Kristen lainnya dan dari Perjanjian Baru. Apa yang dia bahas seperti meringkaskan banyak hal yang berkaitan dengan studi Perjanjian Baru.

Maka buku ini tidak terlalu 'enteng' walaupun juga tidak terlalu 'berat'. Tapi saya kira buku ini tidak akan terlalu menarik (kecuali gambar dan fotonya) bagi mereka yang tidak menyukai topik ini. Tapi bagi mereka yang menyukai masalah akademis, buku ini memberikan ringkasan yang menarik tentang kesejarahan Yesus dan juga sebagian studi Perjanjian Baru.

Sepanjang buku ini, Dickson mencoba memberikan argumennya bukan dari sisi iman
tapi dari sisi sejarah. Dia mengajak kita berpikir secara logis dengan didukung bukti dan pendapat para ahli. Dan dia berkesimpulan bahwa inilah elemen-elemen inti kehidupan Yesus yang telah diketahui:

seorang guru (dan menurut laporan) penyembuh dari Galilea yang bernama Yesus pernah memproklamasikan kedatangan Kerajaan Allah, minum anggur dan makan bersama “para pendosa”, memilih dua belas rasul, bersitegang dengan pemuka-pemuka agama, mencela bait Allah di Yerusalem, dan menderita sampai mati di kayu salib Romawi; yang sesaat setelah-Nya para pengikut-Nya menyatakan bahwa mereka telah melihat-Nya bangkit kembali, mengumumkan bahwa ialah Sang Mesias yang lama ditunggu itu, dan berusaha semampu mereka untuk memelihata dan menyebarkan (awalnya secara lisan, kemudian dalam tulisan) kisah kehidupan tuan mereka yang layak dikenang.

Thursday, May 30, 2013

Mengulang Khotbah

Beberapa jemaat memperhatikan ketika pengkhotbah menyampaikan khotbah yang pernah mereka dengar sebelumnya. Dan berbagai komentar pun bermunculan:
 “Perasaan udah pernah dengar khotbah yang ini!”
“Lho, kok khotbahnya sama seperti yang dulu di gereja itu?”
“Diulang ya khotbahnya?”

Beberapa jemaat berpendapat bahwa pengkhotbah seharusnya tidak mengulang khotbahnya. Seakan-akan itu haram. Kurang persiapan. Tidak orisinil. Hanya comot naskah khotbah. Kesannya gampang. Beberapa pengkhotbah juga merasa gengsi mengulang khotbahnya. Sangat bangga rasanya bisa berkata “saya tidak pernah mengulang khotbah saya!” (*dengan muka bangga*). Rasanya pandai.

Saya tidak setuju! Saya tidak melihat alasan mengapa mengulang khotbah itu tidak baik.

Pertama, sebuah khotbah adalah usaha menjelaskan sebagian Firman Tuhan. Pikiran kita sebagai manusia sangat terbatas. Kretifitas kita terbatas, apalagi ketika usia semakin tua. Menggali Firman Tuhan, merenungkannya, dan kemudian menyusunnya menjadi suatu khotbah adalah sebuah seni. Sangat sulit menuntut si pengkhotbah untuk mengkhotbahkan bagian Alkitab yang sama dengan cara yang terus berbeda-beda. Maka alternatif lainnya adalah bagian Alkitab yang pernah dikhotbahkan tidak boleh dikhotbahkan lagi oleh dia. Tapi mengapa si pengkhotbah tidak boleh menjelaskan bagian Firman Tuhan itu dengan cara yang sama kepada pendengar lain? Mengapa khotbah itu hanya boleh eksklusif didengar oleh jemaat di gereja itu tanggal itu?

Kedua, sebuah khotbah yang baik memerlukan waktu persiapan yang panjang. Perlu usaha yang sangat besar untuk membaca, menggali, dan merenungkan bagian Firman Tuhan yang akan dikhotbahkan. Setelah si pengkhotbah melakukannya, mengapa dia tidak boleh mengkhotbahkannya lebih dari 1X?

Ketiga, berita yang baik yang pernah didengar oleh jemaat di gereja A, sayang sekali jika tidak boleh didengar di gereja B hanya karena “tidak mau mengulang khotbah”.

Saya sendiri sering mengulang khotbah. Tapi saya tidak pernah mengulangnya sama persis. Sederhananya, persiapan khotbah itu ada bagian penggaliannya, ada bagian merenungkan signifikansinya bagi jemaat, dan ada bagian menyusunnya menjadi presentasi khotbah. Saya mungkin tidak mengulang mempersiapkan bagian penggaliannya, tapi saya selalu memikirkan lagi apakah signifikansi/berita yang dulu pernah saya pikir untuk gereja A juga cocok dengan gereja B ini. Dan kadang saya mengubah susunannya atau pengkalimatannya. Maka walaupun diulang, khotbah itu selalu fresh. Karena khotbah bukan mengajar – menyampaikan materi, tapi khotbah itu memberitakan – dengan hati dan kesungguhan. Dan itu tidak mungkin dilakukan dengan hanya mencomot naskah khotbah lama. Khotbah lama itu perlu “dipanaskan” lagi sebelum disajikan.

Menghibur bagi saya ketika menemukan bahkan Jonathan Edwards, pengkhotbah dan teolog besar abad ke-18 itu, juga sering mengulang khotbahnya. Kadang dia mengulang persis. Kadang dia menggabungkan beberapa naskah khotbah menjadi naskah khotbah yang baru.

Sebetulnya masalahnya adalah banyak jemaat yang pindah-pindah gereja atau “mengejar” pengkhotbah. Kadang mungkin ada pengkhotbah yang lupa bahwa dia pernah mengkhotbahkan naskah itu di gereja yang sama. Untuk menghindari hal itu, saya sendiri punya catatan lengkap tentang kapan, dimana, dan naskah khotbah mana yang saya khotbahkan. Tapi bagi jemaat yang pindah-pindah gereja, tidak terhindari dia mungkin akan mendengar khotbah yang sama.

Tetapi kalaupun itu terjadi, kita perlu ingat bahwa mendengar khotbah bukanlah mendengar seminar atau bahan kuliah. Mendengar khotbah adalah momen dimana kita berhadapan dengan kebenaran. Pada waktu mendengar khotbah, kita bukan sekedar berhadapan dengan naskah khotbah dan si pengkhotbah, tetapi dengan Tuhan yang Firman-Nya sedang diuraikan dan diberitakan. Maka khotbah yang sama persis pun bisa dipakai Tuhan bicara lagi kepada kita. Apalagi kita itu pelupa. Ketika mendengar khotbah yang sama dengan yang pernah kita dengar lima tahun lalu, mungkin sedikit pun kita tidak ingat. Lalu mengapa kita tidak boleh diingatkan lagi akan berita itu?

Tuesday, May 21, 2013

M.Th – de jure dan D.Th – hesito

Walaupun berita kelulusan sudah saya terima sejak awal Desember 2012 – dan saya sudah M.Th de facto sejak itu, tapi saya baru diwisuda tiga hari yang lalu – dan baru menjadi M.Th de jure. Upacara wisuda sebetulnya sangat biasa. Dibilang senang, ya senang juga. Tapi itu hanya upacara. Tidak hadir pun, kenyataannya saya tetap sudah lulus.

Yang membuat wisuda menjadi berkesan justru adalah situasi ketidakpastian mengenai rencana studi D.Th ke depan. Saya pernah menulis mengenai kebingungan apakah harus mengambil D.Th atau tidak di sini. Saya tidak menulis tentang hasil akhir pergumulan itu, tapi akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar dan melihat bagaimana hasilnya. Ternyata hasilnya adalah saya diterima sebagai mahasiswa program D.Th di TTC. Semuanya sepertinya lancar. Tiba-tiba saya mendapat berita bahwa student pass saya ditolak. Banyak kemungkinan alasan di balik penolakan itu. Apapun itu, kenyataannya adalah saya tidak diberikan izin untuk studi di Singapore.

Dulu saya tidak punya ambisi untuk studi D.Th/Ph.D. Saya tahu saya bukan scholar-type. Itu sebabnya saya bergumul apakah harus mengambil D.Th atau D.Min saja. Studi adalah persiapan untuk melayani di depan. Dan Tuhan yang tahu pelayanan apa yang akan Dia percayakan, tentunya tahu studi apa yang cocok untuk mempersiapkan saya. Tapi karena waktu itu kesempatan terbuka untuk mengambil D.Th di TTC dan sekian bulan saya mengarahkan hati ke program itu, tanpa sadar muncul ambisi dalam diri. Dan kemungkinan untuk tidak bisa mengambil D.Th membuat saya terkejut – padahal harusnya tidak!

Satu hari sebelum wisuda, saya mampir ke TTC, masuk ke perpustakaan, melihat lorong-lorong penuh buku dan meja-meja perpustakaan, tempat saya berputar-putar dan duduk memeras otak selama bertahun-tahun. Saya bernostalgia dan bertanya apakah Tuhan mengizinkan saya untuk melakukannya lagi? Ataukah tidak ada lagi kesempatan? Pada waktu wisuda, melihat dosen pembimbing saya, saya bertanya bisakah saya belajar lagi di bawah dia dan nanti diwisuda sebagai D.Th? Pada waktu berkeliling Singapore dan bertemu dengan jemaat GKY Singapore, saya bertanya apakah Tuhan akan memberikan saya waktu untuk mengalami semuanya lagi? Maka yes… a bit emotional. Tapi di balik semua itu, saya sadar semua keberatan untuk tidak studi D.Th hanyalah bersifat ambisius.

Sekarang saya sedang dalam proses banding memohon ke pihak imigrasi Singapore dan saya tidak tahu bagaimana nanti hasilnya. Mungkin diterima tapi mungkin juga tidak. Tapi bagi saya peristiwa ini adalah kesempatan untuk saya memurnikan hati lagi. Bahwa saya studi harus bukan untuk ambisi pribadi tapi untuk melayani Tuhan. Dan saya membuka hati lagi bahwa Tuhan yang empunya pelayanan, tahu apa yang terbaik untuk mempersiapkan saya. Maka bisa studi D.Th - berarti memberi yang terbaik untuk Tuhan melaluinya, tidak bisa studi D.Th - berarti memberi terbaik melalui program studi lain atau pelayanan lain.

Saat ini saya hanya mau bersyukur untuk studi M.Th yang sudah lalu dan mempercayakan apa yang ada di depan hanya kepada Tuhan. To God be the glory!


 @TTC's Library




With my supervisor: Dr. Tan Kim Huat... what a privilege!


 With some friends from GKY Sg