Thursday, June 11, 2015

Bangga Akan Dosa

Dulu saya ini orang yang sangat jahat sampai akhirnya suatu hari saya dengar khotbah dan jadi Kristen. Puji Tuhan, saya bertobat dan kenal Tuhan. Sekarang saya melayani di gereja. Dulu itu saya bukan cuma suka mabuk-mabukan, judi. mencuri, tapi saya bahkan juga berani merampok dan membunuh. Tidak ada orang yang berani dengan saya. Wah.. kalau pas minum, saya ini kuat sekali, minum berbotol-botol brandy juga tidak mabuk. Kalau pas judi, saya hampir selalu menang. Uang saya banyak dari hasil judi. Kalau diterusin, bisa kaya sekali saya ini. Terus kalau berkelahi, lawan 5 orang sekaligus juga saya tidak takut. Orang mau tusuk saya, nggak mempan, saya terlalu jago, dia yang saya tusuk duluan. Kalau saya merampok, saya punya ilmu yang bikin orang ketakutan dan cepet sekali serahkan semua barang. Kalau saya nggak jadi orang Kristen, mungkin sekarang saya sudah terkenal banget di dunia kejahatan…
Ok, mungkin cerita imajiner di atas agak ekstrim. Tapi pernahkah mendengar kesaksian yang kira-
kira nadanya mirip seperti di atas?

Sebuah kesaksian mengenai pertobatan dan anugrah keselamatan yang Tuhan berikan, tetapi yang isinya jauh lebih banyak tentang betapa “hebat”nya dia di dalam berbuat dosa. Tidak ada penyesalan di wajahnya ketika menceritakan dosanya. Sebaliknya dia cenderung bangga akan apa yang pernah dia perbuat.

Mendengar kesaksian seperti demikian membuat saya jadi bertanya-tanya: Apakah dia sungguh bersyukur untuk keselamatannya? Apakah dia sungguh menangis, memukul diri dan menyesali dosa-dosanya? Apakah dia tersentuh oleh kasih Yesus yang menderita karena dosa-dosanya? Apakah dia bangga akan salib Yesus? Jika “ya”, lalu mengapa dia begitu bangga akan dosa?

Di dalam percakapan sehari-hari, saya sering menjumpai “kesaksian” yang serupa – tentu tidak se-ekstrim di atas. Tapi sungguhan, ada banyak orang “Kristen” (apakah benar dia orang Kristen, saya tidak tahu) yang bangga akan dosanya di masa lalu. Dia bangga bahwa dulu dia berangasan, kasar, galak, sadis. Dia bangga bahwa dulu dia jagoan berantem. Dia bangga bahwa dulu dia pemabuk. Dia bangga bahwa dulu dia sudah “mencicipi” berbagai dosa seksual yang menjijikkan – pornografi, free sex, pelacuran, dan sebagainya.

Yang selalu paling jelas adalah mimik wajahnya waktu menceritakan semua itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, malu, “memukul diri,” tetapi seakan berkata: “Semua itu gua udah pernah… apa sih yang gua nggak tau… orang mau sombong pernah gini gitu? alaahh… gua juga pernah… kalo dulu ya, gua nih…”

Maka saya bertanya-tanya: Apakah sikap seperti itu adalah sikap Kristen? Atau lebih jauh lagi, mungkinkah orang Kristen bersikap seperti itu?

Mungkinkah sikap seperti itu sebenarnya berakar pada dosa “kesombongan” – pride? Dia ingin membanggakan DIRI-nya. Seperti anak kecil yang ingin tampil hebat dan dilihat orang. Dia tidak bisa membanggakan kerendahan hati dan tidak mungkin membanggakan penyesalan! Maka apa yang mau dibanggakan? Dosa.

Atau mungkinkah sikap seperti ini menunjukkan dosa yang mulai mencengkeram lagi hatinya? Seperti seorang pelacur yang sudah ditebus, dikeluarkan dari perbudakan, dilimpahi dengan kasih sayang yang suci, tetapi sekarang mulai main mata lagi dengan pelacuran! Dia mengingat-ingat kembali betapa enaknya hidup melacur. Dia mulai tidak bangga dengan penebusan, pembebasan dan kasih sayang suci yang dinikmatinya. Dia tidak berpikir betapa memalukan dan menjijikkan “pelacuran” yang dia banggakan itu di mata Tuhan. Dosa sudah mengintai, mengajaknya bermain mata dan dia mulai tertarik lagi.

Atau mungkinkah lebih serius lagi, dia memang tidak mengenal Allah!? Dia tidak mengenal Allah dengan segala keindahan-Nya, kesucian-Nya, dan kecemburuan-Nya. Oh, dia mungkin ke gereja, pelayanan, tetapi dia tidak mengenal Allah. Itu sebabnya dia tidak menganggap dosa sebagai sampah yang memalukan, tetapi malah menganggapnya sebagai permata yang bisa dibanggakan. Apa yang dibenci Allah, disukai oleh dia. Bukankah itu tanda dia tidak mengenal Allah?

Saya tidak tahu yang mana.

Tetapi, setiap kali seseorang mulai membanggakan dosa, mari kita tidak kagum tapi waspada. Mari kita melihatnya sebagai tanda yang sangat jelas bahwa dosa sedang bekerja di dalam diri orang itu. Dan mari kita bertanya: Apakah dia mengenal Allah?

Kalau kita sendiri lah yang suka membanggakan dosa… setiap kali kita sadar, bertobatlah! Karena “dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau” (Kej 4:7).

Tuesday, June 02, 2015

Pemudi Kekasih Yesus

(Dipersembahkan bagi para pemudi Kristen)

Aku pernah mendengar sebuah khotbah yang terngiang-ngiang di telingaku sampai sekarang:
“Pemudi Kristen adalah pemudi kekasih Yesus!”

Sebagai seorang pemudi Kristen, aku pun tersentak. Betapa benarnya itu! Betapa bahagianya para pemudi Kristen karena dikasihi oleh Yesus! Tetapi, berkali-kali aku tertunduk sedih, sakit hati dan marah, ketika menyadari bahwa seringkali kami sendiri, para kekasih Yesus, yang membiarkan diri dirusak.

Aku dulu bertemu dengan dia di gereja. Seorang pemuda yang baik, rajin ke gereja dan terlibat pelayanan. Awalnya biasa saja bagiku, tetapi perhatiannya, kelembutannya, humornya, makin lama makin memikat hatiku. Akhirnya aku berkata "ya" menyambut cintanya. Awalnya pacaran kami sangat sehat. Kami bahkan banyak bicara tentang pelayanan. Tetapi kadang kami pergi berdua dan di saat sepi dia suka membelaiku. Jujur aku sangat menikmatinya. Lama kelamaan sentuhan, belaian, ciuman, menjadi semakin agresif. Hubungan kami makin lama makin jauh dan kami pun jatuh dalam dosa seksual yang paling dalam. Aku menangis dan dia pun meminta maaf. Kami berdoa dan meminta ampun ke Tuhan. Perasaanku tidak karuan setiap kali mengingat hal itu. Tapi entah mengapa, kami mengulanginya lagi.. dan lagi… Aku benar-benar ingin berhenti. Aku jijik dengan diriku. Aku marah dengan dia. Tapi aku tidak berani memutuskan hubungan itu. Hubungan kami dengan Tuhan pun semakin menjauh. Di hadapan banyak orang, kami adalah pasangan yang baik. Tetapi, itu justru membuatku semakin tertekan karena aku tahu, kami sangat munafik.

Sekian tahun aku bersama dengannya dan akhirnya… kami pun menikah. Tidak ada yang tahu kepedihan yang kurasakan pada waktu mengenakan cadar tanda kesucian, mendengar dia mengucapkan janji nikah yang sulit untuk kupercaya, dan menerima berkat dalam pernikahan kudus. Seperti apa hidupku nanti?

Itu sebabnya sangat sakit hatiku ketika baru-baru ini aku mendengar seorang pemudi kekasih Yesus bercerita:
“Dia diperkenalkan kepadaku oleh seorang teman. Dia terlihat dewasa dan bertanggung jawab. Dari perkenalan, lalu mulai sering chatting, pergi bersama teman, dan akhirnya kami pacaran. Sama seperti semua hubungan lainnya, setelah beberapa lama berpacaran, masalah di antara kami mulai muncul. Sebenarnya hampir semua hanyalah masalah kecil, kesalahpahaman, dan yah… seputar itu lah. Tapi yang membuatku terkejut adalah ketika marah, dia sering mengucapkan kata-kata kasar kepadaku. Waktu aku menegurnya, kadang dia meminta maaf, tetapi lebih sering dia membela diri. Aku tidak bisa mengerti emosinya yang meledak-ledak dan mudah marah. Belakangan ini, ternyata bukan saja mulut tapi tangan juga ikut berbicara. Sakit hatiku lebih sakit dari bekas tamparannya. Tetapi dia meminta maaf, dengan bersujud dia mohon ampun kepadaku dan berjanji tidak akan mengulanginya. Aku percaya kepadanya, apalagi kemudian dia berubah menjadi sangat baik kepadaku. Tapi ternyata peristiwa itu bukan yang pertama kali, bahkan bukan yang kedua kali… Tapi aku masih percaya dia akan berubah nanti walaupun entah kapan.”
Oh.. ingin aku berteriak kepadanya untuk memutuskan hubungan itu dan tidak membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu.

Seakan masih belum cukup, aku mendengar juga seorang pemudi kekasih Yesus lainnya bercerita:
“Aku baru baru saja putus dengan pacarku. Sakit hati, kesedihan, membuat kesepian makin menjadi. Lalu datanglah seorang pemuda ke hidupku. Dia terlihat percaya diri, pandai bicara, dan menarik. Awalnya hanya chatting, lama kelamaan… dia makin terlihat menarik. Ah, perasaan ini melambung setiap kali dia memberi perhatian. Kesepianku tidak lagi terasa. Maka tanpa pikir panjang, dengan senang hati kuterima cintanya. Beberapa minggu berpacaran, aku terkejut ketika dia mencium bibirku. Rasanya aneh, terlalu cepat, dan ah… tidak benar. Tapi dia terlihat tenang dan yakin. Aku pun membiarkannya. Tetapi, aku lebih kaget lagi ketika tangannya semakin berani menggerayangi tubuhku. Aku tahu itu salah, tapi aku tidak berani menolak. Kami memang tidak meneruskannya lebih jauh tetapi hampir setiap kali berduaan dia akan melakukannya. Aku merasa direndahkan dan dilecehkan. Aku ingin dia berhenti melakukannya tapi aku juga menikmatinya dan itu makin membuatku merasa bersalah. Di sisi lain, aku takut dia marah lalu memutuskan hubungan ini dan aku akan merasa kesepian lagi. Apa yang harus aku lakukan?”
Cerita-cerita seperti ini yang dituturkan beberapa pemudi kekasih Yesus, dan juga dialami olehku, ya… cerita-cerita seperti inilah yang membuat aku Yesus sedih dan marah. Ingin rasanya aku berteriak kepada mereka “Jangan bodoh! Jangan hancurkan hidupmu!”

Aku ingat lagi kalimat-kalimat di dalam khotbah pendeta itu:
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidakkah kamu mengerti betapa Yesus mengasihimu? Mengapa kamu biarkan seorang pria menghinamu, merusakmu, mengambil keuntungan darimu?
Tidak pernahkah kamu baca di Alkitab, perintah Tuhan kepada para suami adalah: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” (Efesus 5:25-27)
Yesus begitu mengasihimu, sehingga DIA MATI BAGIMU, demi untuk MENGUDUSKANMU dan menjadikanmu TIDAK BERCELA! Maka demikianlah Ia memerintahkan para suami untuk memperlakukanmu dan demikianlah juga kamu harus memilih dan menilai pria yang pantas untuk menjadi pasanganmu!
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidak tahukah kamu bahwa dengan membiarkan dirimu menjadi tidak kudus dan bercela, itu mendukakan Yesus yang mengasihimu?
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidak tahukah kamu bahwa tidak ada alasan untuk kamu mencari kasih yang palsu, bobrok dan bukan-kasih hanya karena kamu kesepian?
Yesus mengasihimu dan itu lebih dari cukup. Yesus menginginkan yang terbaik bagimu. Yesus menginginkan kamu hidup KUDUS dan TAK BERCELA, dengan atau tanpa pendamping seorang pria! DIA MATI BAGIMU untuk itu!
Izinkan aku memberikan nasihat kepadamu pemudi-pemudi kekasih Yesus. Waktu akan berlalu. Relasimu dengan dia mungkin tidak berlanjut ke jenjang pernikahan. Tetapi, luka yang ditimbulkannya kepadamu akan membekas.

Ya, waktu akan berlalu. Sekalipun relasimu dengan dia berlanjut ke pernikahan, seperti yang kualami, luka itu tetap akan membekas.  Luka itu akan terasa waktu kamu mengingat semuanya. Luka itu akan terasa waktu kamu bertemu dengan pemudi lain yang mengalami hal serupa sepertimu. Luka itu akan terasa waktu kamu sulit percaya kepada pasanganmu. Luka itu akan terasa waktu dia kasar dan tidak mempedulikan perasaanmu, apalagi waktu dia memukulimu. Luka itu akan terasa waktu dia meninggalkanmu mengejar wanita lain. Luka itu akan terasa waktu kamu menyadari bahwa dia terikat dengan pornografi, dan itulah yang membuat dia dulu begitu agresif kepadamu. Luka itu akan terasa waktu kamu harus mendidik anakmu sendiri untuk hidup dalam kekudusan.  Luka itu akan sangat terasa, waktu dia memperlakukanmu dengan tidak hormat karena kamu dulu begitu mudah dilecehkan.

Oh, aku bersyukur… Walaupun sekian lama aku juga harus menanggung bekas luka itu, Yesus sungguh mengampuni dan memulihkan aku dan suamiku. Anugrah-Nya begitu besar. Tetapi tidak semua pemudi mengalami itu.

Aku sangat mengerti bahwa kasih Tuhan tidaklah bisa dibandingkan dengan kasih manusia. Kasih Tuhan itu sempurna dan kasih manusia itu cacat. Maka tak mungkin kita menemukan kasih yang sempurna dari sesama manusia. Tetapi mengapa kita memilih kasih yang bukan sekedar cacat, tetapi rusak, bobrok, najis, bahkan sama sekali bukan-kasih!? Mengapa kita biarkan itu?

Oh, pemudi kekasih Yesus, aku berdoa supaya kamu hidup kudus dan tak bercela. Sekalipun kamu tidak menemukan pasangan di dunia ini, ingatlah bahwa kamu terikat dengan kekasihmu yang sejati di sorga. Dan jikalau kamu menemukan pasangan di dunia ini, dia haruslah orang yang MENGINGINKAN kamu hidup kudus dan tak bercela bahkan RELA MENGORBANKAN DIRI untuk menjagamu kudus dan tak bercela.

Seperti Yesus, ya… seperti Yesus.

Wahai pemudi kekasih Yesus, demi kebaikanmu sendiri, demi kasih Allah, janganlah kecewakan Yesus yang mengasihimu. Engkau adalah pemudi kekasih Yesus, carilah pasangan yang mengasihimu… seperti Yesus mengasihimu.

Monday, May 25, 2015

Here I Am, Lord; Is it I, Lord? - Sebuah Refleksi

Sudah lebih dari 20 tahun berlalu sejak pertama kali saya mendengar Tuhan memanggil untuk
menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Setelah sekitar 2 tahun bergumul, akhirnya saya mengatakan “ya” kepada panggilan itu. Saya ingat ada 2 gambaran sangat kuat yang dipakai Tuhan untuk memanggil saya:

Pertama, gambaran “lilin yang terbakar”. Saya membayangkan hidup saya seperti lilin yang terbakar untuk Tuhan. Seperti lilin yang dibakar, cair, habis, memberikan dirinya untuk menerangi sekitarnya. Maka selama masih ada umur, masih ada waktu, masih ada tenaga, saya ingin hidup dipakai sepenuhnya bagi Tuhan. Saya berjanji waktu itu untuk memberikan hidup saya dibakar seperti lilin itu bagi pekerjaan Tuhan, bagi jemaat Tuhan, bagi kemuliaan Tuhan.

Kedua, gambaran “jemaat yang ditaruh di dalam hati saya”. Sekian lama lagu “Here I Am” menjadi favorit saya. Syairnya sangat menyentuh hati saya:

I, the Lord of sea and sky. 
I have heard my people cry. All who dwell in dark and sin, My hand will save. 

I who made the stars of night, 
I will make their darkness bright. Who will bear my light to them? Whom shall I send?

Here I am Lord, Is it I, Lord?
I have heard You calling in the night.
I will go Lord, if You lead me.
I will hold Your people in my heart.


Berulang-ulang saya nyanyikan lagu itu, tidak jarang sambil menangis. Berulang-ulang lagu itu menguatkan dan meyakinkan saya untuk melangkah menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Janji di dalam syair lagu itu “I will hold Your people in my heart” menjadi janji saya. And so the journey began.

Ketika ditahbis menjadi pendeta lebih dari 3 tahun lalu, saya mengingat lagi janji itu. Maka sekali lagi janji itu saya ulangi di depan umum di dalam khotbah sulung sebagai pendeta. Mewakili para pendeta yang ditahbis waktu itu, saya berkata: “kami berjanji untuk menaruh jemaat Tuhan di dalam hati kami”.

Dua gambaran ini dipakai Tuhan untuk memanggil saya. Dua gambaran ini menjadi janji saya kepada Tuhan. Maka, walaupun saya juga sering lupa akan apa yang saya janjikan, tetapi saya merasa tahu dan mengerti apa artinya menjadi “lilin yang dibakar” dan “menaruh jemaat Tuhan di dalam hati”. Sampai beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba saya tertegun.

Saya tertegun ketika menyadari: Mungkinkah sebetulnya selama ini saya tidak terlalu sadar apa yang saya janjikan? Mungkinkah sebetulnya saya tidak terlalu mengerti apa yang saya janjikan? Saya tidak berbohong kepada Tuhan, tetapi naif.

Beberapa waktu ini saya mengalami kelelahan luar biasa, secara fisik maupun emosi. Saya memeras otak, saya kurang tidur, saya tertekan dengan begitu banyak hal, lebih dari yang pernah saya alami selama ini. Saya melihat bagaimana dosa mencengkeram kehidupan manusia. Saya juga terluka melihat jemaat yang terluka. Selama beberapa tahun ini, Tuhan seperti membuka mata saya sedikit demi sedikit tentang dukacita-Nya, dan sampai di titik ini saya sudah hampir tidak tahan. Saya terlalu berduka. Saya mempertanyakan ulang seluruh pelayanan yang dilakukan saya dan gereja. Saya menangis, berteriak, kadang sambil putus asa tangan saya menggapai-gapai ke atas memohon pertolongan Tuhan (Mazmur 77:3).

Saya tidak mengalami seperti Paulus. Saya tidak mengalami apa yang dialami para misionaris di zaman dulu. Masih terlalu jauh. Saya juga tidak sampai seperti Yeremia yang mempertanyakan panggilannya: “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk”. Tetapi saya teringat lagi akan dua gambaran yang dipakai Tuhan memanggil saya dan menjadi janji saya. “Tuhan, inikah artinya menjadi lilin yang terbakar? Tuhan, inikah artinya menaruh jemaat Tuhan di dalam hati saya?”

Saya tidak menyangka akan seberat ini. Saya baru sadar bahwa “lilin yang terbakar” dan “menaruh jemaat Tuhan di dalam hati” ternyata terlalu berat untuk ditanggung oleh siapapun. Padahal semua yang sudah saya alami barulah sepersekian! Maka saya bertanya lagi, “Tuhan, inikah yang dulu Engkau maksudkan ketika memanggil saya? Inikah yang dulu saya janjikan dengan naif di hadapan-Mu?”

Saya makin mengerti bahwa menjadi hamba Tuhan adalah mengalami dukacita-Nya Tuhan dan sukacita-Nya Tuhan - di dalam batas tertentu. Lihat saja kehidupan Hosea yang menikah dengan seorang perempuan sundal dan mengalami dukacita Tuhan karena umat yang dikasihi-Nya bersundal. Atau lihat Yehezkiel yang menyampaikan pesan Tuhan bukan hanya dengan perkataan tapi juga tubuhnya, ia mengerang, ia makan dengan menggigil dan cemas, ia membakar rotinya di atas kotoran manusia, ia tidak boleh menangis ketika istrinya meninggal – karena Tuhan berbagi kemarahan dan dukacita-Nya kepada dia. Sebagai manusia saya memang tidak akan sanggup sepenuhnya mengalami apa yang Tuhan “rasakan”, tetapi Tuhan membagikan sukacita dan dukacita-Nya kepada saya sampai batas tertentu. Saya jadi bertanya sampai berapa jauh Tuhan akan berbagi ini dengan saya? Saya jadi ngeri. Maka saya juga berpikir kalau dulu saya mengerti ini, masih beranikah saya berkata “ya” kepada panggilan Tuhan?

Sejujurnya, saya tidak berani. Tetapi saya mau. Here I am, Lord. Walaupun keraguan dan ketakutan tetap menghantui saya. Is it I, Lord? Saya makin sadar this is not a game.

Maka saya akan tetap berkata “ya” kepada panggilan Tuhan untuk menjadi “lilin yang terbakar” dan “menaruh jemaat Tuhan di dalam hati” – dengan amat sangat gentar. Saya akan berkata “ya” dengan lebih sungguh, lebih mengerti, dan lebih beriman.

Sekarang saya tidak tahu apa lagi yang Tuhan sediakan di depan, yang harus saya jalani, tapi dua hal saya mohon kepada Tuhan: pakai saya dan jangan tinggalkan saya.

Friday, April 24, 2015

Adoniram Judson - oleh John Piper

Di dalam pesawat di tengah perjalanan panjang setelah pelayanan, saya membaca biografi singkat

tentang Adoniram Judson yang ditulis oleh John Piper. Berikut beberapa hal berkesan yang saya baca.

Adoniram Judson memasuki Burma (sekarang Myanmar) pada bulan Juli 1813, negara yang waktu itu sangat mengerikan. Beberapa bulan sebelum tiba di sana, Adoniram bertemu dengan William Carey di India yang memperingatkan dia untuk tidak pergi ke Burma. Negara itu penuh dengan kekerasan, dalam keadaan perang, resiko penyerbuan, pemberontakan terus menerus, dan tidak ada toleransi agama sama sekali. Semua misionaris yang ke sana sudah pergi meninggalkan Burma atau mati di sana. Tetapi Adoniram yang berusia 24 tahun tetap pergi ke sana dengan istrinya yang berusia 23 tahun dan baru menikah denganya selama 17 bulan. Adoniram akhirnya melayani di Burma selama 38 tahun sampai dia meninggal di usia 61 tahun, dan hanya satu kali pulang ke rumahnya di Amerika.

Harga yang dia bayar sangatlah besar. Piper menggambarkan dia seperti “benih yang jatuh ke tanah dan mati”. Tetapi, buah yang Tuhan berikan sangatlah besar. Adoniram Judson adalah seorang Calvinis dari gereja Baptis. Hari ini diperkirakan ada 3.700 gereja Baptis di sana dengan 617.781 anggota dan 1.900.000 pengunjung – buah dari benih yang mati ini.

Adoniram Judson adalah seorang anak yang sangat cerdas. Ibunya mengajarinya membaca hanya dalam satu minggu pada waktu dia berusia tiga tahun. Pada usia 16 tahun dia masuk Brown University dan tiga tahun kemudian lulus sebagai lulusan terbaik. Selama di universitas dia berteman dengan Jacob Eames yang adalah seorang Deist (kepercayaan bahwa sekalipun ada Tuhan pencipta, Dia sudah meninggalkan dunia berjalan sendiri). Adoniram Judson sangat terpengaruh dengan temannya ini dan akhirnya dia pun meninggalkan iman Kristen. Dia pergi ke New York untuk menjadi penulis teater. Tetapi di sana kehidupannya berantakan. Suatu hari dia pergi mengunjungi pamannya, dan di sana dia bertemu dengan seorang pemuda Kristen yang sangat teguh imannya. Itu membuat dia tertegun. Keesokan harinya dia menginap di sebuah penginapan kecil di sebuah desa. Pemilik penginapan meminta maaf karena orang di sebelah kamarnya sedang sakit parah dan mungkin akan mengganggu tidurnya. Betul, sepanjang malam itu dia mendengar orang di sebelah kamarya merintih dan terengah-engah. Dia sangat terganggu dan dia berpikir bahwa orang itu pasti tidak siap untuk mati. Tetapi kemudian dia berpikir tentang dirinya sendiri dan dia juga takut memikirkan kematiannya. Dia merasa bodoh karena seorang Deist tidak seharusnya takut dengan kematian (sebagian Deist percaya pada kehidupan setelah kematian, sebagian lagi tidak). Keesokan paginya dia bertanya kepada pemilik penginapan tentang orang di sebelah kamarnya. Pemilik penginapan berkata, “Dia sudah mati”. Adoniram tersentak lalu bertanya, “Tahukah siapa dia?” Pemilik penginapan itu berkata nama orang itu adalah Jacob Eames! Shocking! Berjam-jam lamanya Adoniram merenung tentang kematian temannya. Perlahan-lahan Adoniram bertobat dan dia masuk ke sebuah seminari.

Pada tanggal 28 Juni 1810, Adoniram menyerahkan diri menjadi misionaris. Hari yang sama dia bertemu dengan Ann dan jatuh cinta. Mereka menikah dan berangkat ke India 12 hari setelah menikah. Dari India mereka menuju Rangoon dan tiba di sana tanggal 13 Juli 1813. Penderitaan dimulai sebelum tiba di sana, anak mereka yang pertama meninggal dalam perjalanan menuju Burma. Di sana kemudian mereka berjuang melawan kolera, malaria, disentri, dan berbagai penderitaan dan penyakit lainnya. 

Setelah enam tahun di ladang pelayanan, mereka membaptis orang Burma pertama yang bertobat melalui pelayanan mereka. Pada tahun ke delapan, Ann sakit parah dan harus kembali ke Amerika. Dia baru kembali setelah dua tahun empat bulan! Sebelum dia tiba, berita terakhir tentang Ann yang diterima oleh Adoniram adalah sepuluh bulan yang lalu! Anak mereka yang kedua hidup selama 17 bulan dan kemudian juga meninggal.

Dua tahun kemudian mereka pindah dari Rangoon ke Ava, ibukota Burma. Pada tahun itu tentara Inggris mulai menyerang Burma dan semua orang kulit putih dianggap mata-mata oleh pemerintah Burma. Adoniram masuk penjara. Kakinya dibelenggu dan pada malam hari, kaki yang terbelenggu itu digantung pada sebilah bambu panjang sehingga hanya kepala dan bahunya yang menyentuh lantai. Ann sedang mengandung anak mereka yang ketiga waktu itu, tetapi tiap hari dia berjalan 3km ke istana memohon supaya Adoniram dilepaskan. Hampir setahun kemudian, Adoniram dipindahkan ke penjara lain yang lebih jauh. Tubuhnya kurus kering, matanya kosong, pakaiannya compang-camping, timpang karena penyiksaan, dan di sana gigitan nyamuk dari sawah hampir membuat para tahanan menjadi gila. Anaknya sudah lahir waktu itu dan Ann hampir sama sakitnya dan kurusnya seperti Adoniram, tetapi dia masih berusaha merawat bayinya dan juga Adoniram semampunya. Air susunya menjadi kering dan dia harus memohon kepada wanita lain di desa untuk menyusui bayinya.

Pada tanggal 4 November 1825, Adoniram dibebaskan karena pemerintah membutuhkan penerjemah untuk bernegosiasi dengan Inggris. 17 bulan dalam penjara berakhir! Tetapi kesehatan Ann memburuk dan 11 bulan kemudian dia meninggal. Lalu 6 bulan kemudian anak ketiga mereka juga meninggal.

Selama kurang lebih 3 tahun, Adoniram hidup dalam keadaan depresi. Dia membuang gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Brown University yang pernah diterimanya. Dia memberikan semua hartanya di Amerika kepada gereja. Dia meminta gajinya dikurangi menjadi seperempat. Dia pergi membangun pondok di hutan dan hidup sendirian. Dia menggali kubur di sebelah pondok dan merenungi tahapan tubuh membusuk ketika menjadi mayat. Dia merasa sangat hancur dan berkata: “Allah bagiku adalah the Great Unknown. Aku percaya kepada-Nya, tetapi aku tidak menemukan-Nya”.

Titik balik bagi Adoniram adalah ketika adiknya meninggal pada tanggal 8 May 1829. Karena adiknya yang dia tinggalkan 17 tahun sebelumnya, dulu tidak percaya Kristus, tetapi meninggal sebagai orang percaya. Adoniram keluar dari kegelapan.

Pada tahun 1831, Adoniram melaporkan kebangunan mulai terjadi. Dia melihat dimana-mana orang ingin tahu tentang kekristenan. Dia dan teman-temannya membagikan hampir 10.000 traktat kepada orang yang meminta. Sebagian orang bahkan berjalan dua atau tiga bulan hanya untuk bertemu dengan dia dan bertanya tentang Injil. Penuaian besar-besaran dimulai.

Tetapi, penderitaannya untuk Injil belum selesai. Adoniram menikah lagi dengan Sarah pada tahun 1834, delapan tahun setelah Ann meninggal. Mereka memperoleh delapan anak dan hanya lima yang hidup sampai dewasa. Sebelas tahun kemudian, Sarah sakit parah dan mereka kembali ke Amerika. Tetapi, di tengah perjalanan Sarah meninggal. Sampai di Amerika, Adoniram meninggalkan tiga orang anaknya yang besar di sana, lalu kembali ke Burma.

Adoniram kemudian menikah lagi pada usia 57 tahun dengan Emily yang berusia 29 tahun. Mereka punya satu orang anak. Dan Tuhan memberi mereka empat tahun yang sangat bahagia dalam hidup mereka. Ketika Adoniram sakit, sementara Emily mengandung anak yang kedua, seorang temannya menemani Adoniram pergi berobat ke Perancis. Tetapi di tengah perjalanan, Adoniram meninggal pada usia 61 tahun.

Sepuluh hari kemudian, Emily melahirkan anak mereka yang kedua yang langsung meninggal saat itu juga. Baru empat bulan kemudian Emily menerima berita bahwa Adoniram sudah meninggal. Dia pun kembali ke Amerika dan meninggal tiga tahun kemudian karena tuberculosis pada usia 37 tahun.

Kisah pelayanan mereka di Burma berakhir. Tetapi pada waktu Adoniram dan Emily meninggal, terjemahan Alkitab sudah selesai, kamus Inggris-Burma sudah selesai dan sudah ada ratusan orang Burma yang menjadi pemimpin gereja. Hari ini, ada sekitar 3700 gereja Baptis di Myanmar yang kalau ditelusuri jejaknya berasal dari pekerjaan kasih satu orang ini.

Saya tersentuh sekali membaca kisah Adoniram Judson, “benih yang jatuh ke tanah dan mati” ini. Beberapa waktu ini, dalam kelelahan, dalam kesulitan, saya mengingat lagi kisahnya dan saya tidak berani mengeluh. Bagaimana saya, di posisi saya, juga bisa menjadi “benih yang jatuh ke tanah dan mati” seperti dia?

Piper menutup buku pendek ini dengan berkata: “Pertanyaannya bagi kita bukanlah apakah kita akan mati, tetapi apakah kita akan mati dengan cara yang menghasilkan banyak buah”.

Buku singkat ini bisa di-download gratis di: http://www.desiringgod.org/books/adoniram-judson

Saturday, March 14, 2015

"Choosing" - Memilih Untuk Menginginkan Allah

Pagi ini saya membaca sebuah renungan dari buku The Strength of a Man tulisan David Roper berjudul “Choosing”. Saya ingin mengecapnya lebih lama dengan meringkas, menerjemahkan dan menuliskan ulang renungan ini dengan kata-kata saya sendiri.


CHOOSING 
-David Roper-

Saya menerima sebuah surat dari seorang teman lama saya di Kenya. Ia adalah seorang pastor bagi para pastor. Surat yang pedih – sebuah permintaan tolong.

“Aku ingin mengenal Tuhan,” tulisnya. “Aku ingin mencintai-Nya. Aku ingin mengenal kehadiran Yesus Kristus melalui perantaraan Roh Kudus. Aku ingin... tetapi mengapa aku seperti tidak terlalu menginginkannya!? Aku seperti orang yang hanya berdiri di pinggiran sambil melihat tanpa menginginkan! Dunia dipenuhi terang kemuliaan Allah, dan hanya mereka yang melihat kemuliaan itu yang akan membuka sepatunya, seperti Musa dulu melihat semak terbakar lalu membuka kasutnya dan menyembah! Tetapi bahkan aku tidak tahu bagaimana membuka sepatuku! Aku tidak tahu bagaimana tergetar dan ingin menyembah! Tolonglah aku, paling tidak untuk membuka tali sepatuku ini saja!”

Reaksi saya awalnya adalah seperti reaksi Yohanes Pembaptis kepada Yesus. Siapa saya ini sehingga boleh mengikat, apalagi membuka, sepatu teman saya? Melihat pelayanannya bagaimana mungkin saya meragukan cintanya kepada Kristus? Tetapi saya tahu apa yang dia rasakan karena saya sendiri bergumul dengan sampah dalam pikiran saya dan kekerasan hati saya.

A.W. Tozer pernah menulis, “Allah adalah pribadi yang bisa dikenal, semakin lama semakin intim, jika kita mempersiapkan hati kita untuk mengagumi keintiman itu.” Itu realita. Allah adalah pribadi yang hidup yang bisa dikenal. Tetapi, ah... tidak semudah itu! Kita merindukan keintiman, tetapi kita sering tidak cukup menginginkannya. Allah berespon ketika kita mendekatkan diri kepada-Nya - sekecil apapun, tetapi kita hanya bisa mendekat kepada Dia sejauh yang kita inginkan.

Allah tidak bermain petak umpet. Dia tidak sulit untuk ditemukan, tetapi Dia tidak akan memaksakan kasih-Nya kepada kita. Seperti yang dijanjikan oleh Musa, “di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Ulangan 4:29). Maka seberapa dekatnya kita dengan Allah bergantung pada seberapa kita menetapkan hati untuk mengenal dan mencintai Dia. Ini masalah pilihan.

Maka, pertama-tama, kita harus sangat menginginkan Tuhan, seperti dikatakan pemazmur:

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN,
itulah yang kuingini:
diam di rumah TUHAN seumur hidupku,
menyaksikan kemurahan TUHAN
dan menikmati bait-Nya (Mazmur 27:4)

Selama kita hanya merasa “samar-samar tidak puas” dengan jalan hidup kita sekarang dan juga tidak terlalu menginginkan hal-hal rohani; selama kita hanya seperti itu maka hidup kita hanya akan berhenti menjadi melankolis. Kita sering berkata, “Saya tidak bahagia; saya tidak terlalu sukacita atau penuh damai. Mungkin memang beginilah hidup.” Pikiran seperti itulah yang menghalangi kita untuk BERUSAHA mencari kehidupan dari Allah. Maka tugas pertama kita adalah menghalau perasaan “samar-samar tidak puas” itu dan jujur dengan diri sendiri. Apakah kita menginginkan Allah ATAU tidak?

Kalau kita menginginkan Allah, kita harus tekun mengejar Allah melalui renungan pribadi dan ibadah, teratur membaca Firman Tuhan dan menyiraminya dengan doa, pujian, penyembahan, dan meditasi siang dan malam.

Kalau kita menginginkan Allah, kita juga harus rela untuk menghadapi dosa kita. Dosa yang sekarang, yang terus membandel, menghalangi penglihatan kita akan Allah. Seperti yang dikatakan Yesus, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka [dan hanya mereka] akan melihat Allah” (Matius 5:8). Dosa hanya menggantikan kehausan yang satu dengan kehausan yang lain. Dosa membatasi keintiman kita dengan Allah.

Dan kalau kita menginginkan Allah, kita harus menunggu. Allah akan menyatakan diri kepada kita. Penundaan adalah bagian yang tidak bisa dihindarkan dari proses ini. Paulus mendorong kita untuk tidak jemu-jemu berbuat baik, “karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Tuaian tidak datang di penghujung hari ini. Ia akan datang nanti.

Allah tidak akan membiarkan kita menunggu hanya untuk terus memeriksa diri, menganalisa hati dan pikiran, lalu menjadi lelah dengan semuanya. Tidak! Janji Tuhan itu baik, "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8).

Ini masalah pilihan!

Wednesday, March 11, 2015

"Boros" dan "Pelit"

Beberapa hari lalu, saya membaca bagian ini dari kitab Ulangan versi parafrase dari The Message:

When you happen on someone who’s in trouble or needs help among your people with whom you live in this land that God, your God, is giving you, don’t look the other way pretending you don’t see him. Don’t keep a tight grip on your purse. No. Look at him, open your purse, lend whatever and as much as he needs. Don’t count the cost. Don’t listen to that selfish voice saying, “It’s almost the seventh year, the year of All-Debts-Are Canceled,” and turn aside and leave your needy neighbor in the lurch, refusing to help him. He’ll call God’s attention to you and your blatant sin. Give freely and spontaneously. Don’t have a stingy heart. The way you handle matters like this triggers God, your God’s, blessing in everything you do, all your work and ventures. There are always going to be poor and needy people among you. So I command you: Always be generous, open purse and hands, give to your neighbors in trouble, your poor and hurting neighbors. (Deuteronomy 15:7-11)

The Message memberi beberapa nuansa yang menarik (walaupun tidak mengubah arti) jika dibandingkan dengan terjemahan bahasa Indonesia:

Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan. Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu." (Ulangan 15:7-11)

Banyak orang “boros” untuk dirinya sendiri. Boros untuk makan di tempat mahal, boros untuk membeli gadget, boros untuk membeli barang mewah, semua untuk dirinya sendiri. Tetapi sebaliknya “pelit” untuk orang lain.

Banyak juga orang yang “boros” untuk orang lain, tetapi untuk orang yang bisa memberi keuntungan kembali bagi dirinya – baik ekonomi atau penghormatan. Banyak juga orang yang “boros” untuk orang lain karena hobi. Aneh? Nggak! Misalnya dia hobi membeli baju, maka dia membeli banyak baju yang mahal hanya untuk dipakai satu atau beberapa kali lalu “disalurkan kepada yang membutuhkan”. Itu bahkan menjadi excuse untuk dia bisa terus beli baju karena tokh disalurkan dan “menjadi berkat”. Atau misalnya dia hobi belanja, maka dia akan belanja apa saja yang dia mau tanpa berpikir banyak tentang kegunaannya. Setelah sekian lama tidak dipakai… baru berpikir mau diberikan kepada siapa.

Ulangan 15:7-11 mengingatkan kita supaya “boros” untuk orang lain. Tetapi bukan karena semua motivasi yang salah tetapi karena “orang itu membutuhkan” dan “Tuhan memerintahkan”. That simple!

Lihat orang yang membutuhkan. Lihat sesamamu yang miskin dan terluka. Jangan pura-pura tidak melihat. Jangan tahan dompetmu. Jangan pelit. Beri apa yang dia butuhkan. Beri pinjaman sekalipun dia tidak mampu membayar. Bagi orang Israel waktu itu, setiap tahun ketujuh, semua hutang kepada sesama orang Israel harus dibebaskan. Perintah Tuhan adalah, sekalipun besok adalah tahun ketujuh dan hutang orang itu besok dihapus, TETAP berikan! That simple!

Orang yang miskin dan membutuhkan akan selalu ada di sekitar kita. Tidak akan pernah habis. Ulangan 15:7-11 tidak mengajarkan supaya kita tidak memakai harta yang Tuhan berikan untuk kepentingan diri sendiri. Tidak. Kita boleh memakainya. Tetapi, alangkah indahnya jika kita terbiasa untuk tidak “boros” bahkan cenderung “pelit” jika itu untuk diri sendiri, sebaliknya “boros” untuk orang yang miskin dan membutuhkan.

Mungkin istilah saya kurang baik. Bukan “boros” tapi “murah hati”. Bukan “pelit” tapi “sederhana”.

Maka saya parafrase lagi:
“Alangkah indahnya jika kita terbiasa hidup lebih “sederhana” supaya kita bisa lebih “murah hati” memberi kepada orang yang miskin dan membutuhkan.”

Di dalam konteks lain, Tuhan Yesus berkata: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat 25:40)

Monday, March 09, 2015

Redefining "Romantic" - Mr.Brown - Sweet Eighteen

Just bumped into this post from Mr.Brown http://www.mrbrown.com/blog/2015/03/18-years.html (for those who have never heard about him: Mr.Brown is known for his commentary of Singapore's socio-political scene and has been given the affectionate title of Singapore's "blogfather", and he is a Christian with a family with three kids). This post is about how he celebrated his 18th anniversary day with his wife.

I think he writes it so well and, in a way, compels us to redefine the meaning of "romantic". Enjoy the reading!

Mr. Brown: Sweet Eighteen



It was our 18th wedding anniversary. Or as we like to call it in our family, Sunday.

We had a most romantic day celebrating our 18 years of marital bliss.

Breakfast was a romantic affair of me grabbing a quick beehoon alone downstairs at the coffee shop while Joy was tasked with buying prata for my wife, as the wife got Faith and the rest of the kids ready for Sunday service.

Then lunch was another romantic meal at the Block 105 Market & Food Centre, the highlight of which was I managed to get my wife her favourite nasi lemak without too much queuing, while she fed Faith with chicken rice that Isaac queued up for (children after 10 years of age are excellent for food buying duties).

Then the wife had the romantic duty of doing the laundry plus keeping an eye on Faith, while I took Isaac with me to the office because I had work to complete. Joy had maths tuition so we had one less kid in the house, for an hour or so, which was a very welcome and romantic feeling.

At the office, I spent my Sunday working while Isaac did the English assessment book that the wife assigned him to do. Then he read a little from his book "The One and Only Ivan", that his younger sister had already completed reading some days ago. He also got to play with some of the toys in my office. This father and son briefly discussed the merits of the Suzuki Swift Bumblebee from the Takara Tomy Transformers: Alternity series of toys.

After two hours at the office with my son, I locked up the office and took him to Funan Mall, where I needed to buy some DDR3 1066 RAM for the used 2009 27-inch iMac I bought for the wife to replace her aging 2006 20-inch iMac.

That 2006 iMac was still working, but I thought she deserved something that could handle HD YouTube videos, that had a bigger screen, and a speaker that didn't go pffffft when there was just a whiff of bass.

Memory is really expensive these days, $75 for one piece of 4GB. I bought a pair (wincing at the $150 bill) so I could bump the memory in the "new" iMac from 4GB to 12GB. The wife would never know the difference but I would.

I picked up the RAM and the basic wired keyboard the wife asked for and as a treat, I let Isaac browse the toy stores at the fifth level of Funan Mall. "See only," I said to my son, "Not buy ah."

He complained a little about it but was content to look at the toys on display.

Then my Mom called and said she needed a ride home from her mahjong session, and I called my wife to let her know I would be picking Mom home then we could all have dinner together when I drove back. My wife romantically managed an "OK", the kind of distracted "OK" that came from having to deal with laundry, still-wet school shoes, and a bottle of ketchup broken by Faith. My autistic firstborn likes ketchup too much, and knows where we keep it in the kitchen.

We then took the kids and my Mom out for a romantic dinner at the kopitiam. We usually have dinner at my wife's parents' place on a Sunday but my in-laws were at some RC dinner so no 夜市人生 to watch and tweet about this time.

Halfway through the romantic family dinner, Faith spilled grape soda on herself, and we had to clean her up. The wife gave a loud "Tsk!"

And then Isaac complained a little about the lack of fries in his Fish and Chips (but ate all of it anyway). As usual, Joy could not finish her meal (it was spaghetti with Irish meatballs), and got a mild chiding from my mom about it.

"Look at you," Mom said, "So skinny and short! You are still wearing your school uniform from Primary One! In Primary Four! How are you going to grow taller without eating enough?"

"Hey, I am not a midget, ok?" Joy replied.

"Hahahahaha!" my Mom laughed heartily.

Mom went for her Sunday Qigong session and we went home after dinner. The wife started preparing the kids' school uniforms because the next day was Monday. Then I watched an older episode of local animated series, Heartland Hubby, with the kids because they are my biggest fans (I voice one of the characters, the arch enemy of the hero).

We tucked the kids into bed, then the wife said she can't seem to find her ezlink card, so I offered to change out of my pajamas, and go downstairs to look for it in the car.

While at the car, I decided to make a late night grocery run to Sheng Siong. I picked up the cereal that Joy likes, plus some toilet rolls, and a 2-litre bottle of Meiji fresh milk (because the one currently in the fridge was already past the due date. How did I know? My stomach told me a few days ago).

I know, very romantic things to buy, right? I also picked up a little something extra for the wife.

When I got home, the wife was already done with the remaining housework and was watching Luke kiss Lorelai at the gazebo in Gilmore Girls.

"I couldn't find your ezlink card in the car, dear. But I did buy some groceries. And your favourite ice-cream."

"Oooh, Magnum!" she said, and got one for herself and one for me, and we continued watch Gilmore Girls together.

Then, just as we finished our TV show and ice-creams, Faith came out of her bedroom.

"She wet herself and her bed, aiyoh," the wife said, with a tired sigh.

"You clean her up and change her pajamas, I will clean her bed and change the bedsheets, and soak the stained sheets in the kitchen toilet," I said.

It was almost midnight, a few minutes before the end of our wedding anniversary.

"That wasn't the most romantic wedding anniversary day hor?" she laughed.

"Who said?" I reply, and gave her a quick peck.

We lay in bed, staring at the ceiling lit by our bedside lamp, the room aglow with faint yellow light.

The wife turned to me and said, "There is a young lizard on the ceiling."

"It won't kachao you lah."

"But what if trips and falls on me? Like wahoohoohoooooo!"

"Don't be silly. Hanging upside down is what lizards do all day."

Then we both laughed.

Married for eighteen years, together for twenty six. This is what it comes down to. Juggling three kids, changing the adult diaper of our fourteen-year-old, and talking about a lizard on the ceiling at night.

Wouldn't trade it for anything in the world.