Tuesday, February 18, 2020

Kerendahan Hati

Semakin lama saya semakin mengerti apa yang dikatakan oleh Bernard of Clairvaux:

"The three most important virtues are: Humility, humility, and humility."
(Tiga kebajikan/sifat kebaikan yang terpenting adalah: Kerendahan hati, kerendahan hati, dan kerendahan hati).

Tanpa kerendahan hati, di dalam pelayanan kita tidak akan mau belajar dan membuka wawasan lagi. Padahal berapapun banyaknya yang sudah kita tahu, ada jauh lebih banyak yang kita tidak tahu. Celakanya, kita yakin diri kita pasti benar.

Tanpa kerendahan hati, kita juga tidak akan bisa melayani orang lain dengan baik. Kita akan memandang orang sebagai objek yang bisa dimanfaatkan untuk sebuah tujuan, atau sebagai saingan yang perlu kita kalahkan, atau sebagai beban yang menyusahkan. Tetapi, kita tidak memandang mereka sebagai orang yang perlu dikasihi.

Tanpa kerendahan hati, kita akan selalu memandang diri sendiri lebih baik, lebih hebat, lebih tinggi, dari yang sebenarnya. Pandangan kita tentang diri sendiri selalu lebih baik daripada pandangan orang tentang kita karena kita cenderung mengecilkan kekurangan dan membesar-besarkan kelebihan kita sendiri.

Tanpa kerendahan hati, kita akan selalu memikirkan kepentingan diri sendiri. Apa yang saya dapatkan? Apakah saya diuntungkan atau dirugikan? Apakah saya dihormati? Apakah orang melihat betapa hebatnya saya? Apakah orang tahu apa yang sudah saya lakukan?

Tanpa kerendahan hati, kita tidak bisa menghargai orang lain. Bahwa orang lain punya kesulitannya sendiri. Bahwa orang lain perlu didengar. Bahwa orang lain perlu ditolong dan dilayani. Kita selalu merasa tahu yang terbaik dan kita ingin “pokoknya… dengar saya”.

Kerendahan hati tidak bisa dipisahkan dari kesadaran kita tentang relasi kita dengan Allah. Siapa kita di hadapan Allah? Seperti apa kita di mata Allah? Darimana asalnya semua yang kita bisa dan kita punya kalau bukan dari Allah? Apa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah? Kesadaran tentang relasi kita dengan Allah inilah yang menjadi dasar kerendahan hati.

Tetapi, betapa sulitnya ini karena kita seringkali lupa siapa kita di hadapan Allah. Itu sebabnya, di dalam hidup kita, seringkali yang muncul bukanlah kerendahan hati tapi kesombongan. Kita merasa diri hebat. Kita merasa diri layak. Kita merasa diri bisa. Kita merasa diri lebih dari orang lain. Kita merasa sudah tahu semuanya, sehingga tidak perlu mendengar dan mengerti orang lain dan tidak perlu belajar lagi.

Maka, tanpa kerendahan hati, sesungguhnya kita tidak bisa menjadi hamba yang baik dari Tuhan.

Tuesday, January 07, 2020

Jangan "Hakuna Matata"

Semua yang menonton film The Lion King pasti tahu “hakuna matata”. 

“Hakuna Matata” adalah frase dari bahasa Swahili dari Tanzania yang secara literal berarti “no problem” (saya nyontek ini dari Wikipedia). Frase ini menjadi judul lagu yang dinyanyikan oleh Simba dan kawan-kawannya. Perhatikan lirik lagunya:

Hakuna matata…
It means no worries, for the rest of our days
It’s our problem-free philosophy

Hakuna matata…
Artinya tidak ada kuatir, sepanjang hidup kita
Itu adalah filosofi bebas-masalah

Saya perlu cerita sedikit alur film ini untuk menyampaikan maksud saya, apalagi untuk yang belum menonton.

Kalau ini adalah kisah nyata (dan Simba bukan anak singa tapi anak manusia) saya bisa membayangkan betapa hancurnya orang yang berada dalam situasi Simba. Waktu itu Simba baru saja lari dari pengalaman yang mengerikan. Dia mengira bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya, the Lion King. Pamannya yang jahat, yang menginginkan takhta, membuat dia lari meninggalkan segalanya. Maka Simba meninggalkan posisinya sebagai the new Lion King, mengabaikan keluarganya, rakyatnya, dan tanahnya.

Dalam keadaan seperti itulah dia bertemu dengan kawan-kawan baru yang kemudian mengajarkan filosofi “hakuna matata” kepadanya. Simba menerima filosofi itu dan hidup bersenang-senang di tempat yang baru, bersama lingkungan yang baru, tanpa terpikir untuk kembali.

Sampai akhirnya dia bertemu dengan Rafiki (monyet Mandrill) yang menuntunnya bertemu dengan roh ayahnya.  Di situlah ayahnya menegur dia: “Simba, you must remember who you are!” Siapa Simba? Dia adalah anak raja. Simba harus kembali ke tanahnya dan menjadi raja di sana untuk kesejahteraan keluarga serta rakyatnya. Sekalipun ada banyak tantangan dan kesulitan, dan lebih nyaman berada di lingkungan barunya, dia harus ingat siapa dirinya. Tempatnya bukan di situ tetapi di tanahnya dan ada panggilan hidup yang harus dia jalani. Remember who you are!

Ok, cukup cerita The Lion King. Sekarang mari kita pikirkan mana dari dua kalimat itu yang lebih cocok untuk menjadi filosofi kita?

Alkitab memang mengajarkan kita untuk tidak kuatir akan apapun. Tetapi ketidakkuatiran itu adalah karena kita percaya Tuhan memelihara hidup kita sekalipun ada banyak masalah. “Hakuna matata”, sebaliknya, mengajarkan kita untuk lari dari realita. Oleh karena kehidupan yang benar itu mengerikan, maka lupakan, jangan pikirkan, tidak perlu kuatir, bersikaplah seperti tidak ada masalah. Oleh karena kehidupan yang seharusnya dijalani itu sulit, maka tidak perlu dijalani.

Tetapi kita harus ingat siapa kita. Siapa kita? Anak Tuhan yang sudah ditebus dan terus menerus diberikan anugerah! Siapa kita? Orang yang sedang diubahkan menjadi serupa Kristus! Siapa kita? Orang yang diberikan misi oleh Tuhan!

Apa tantangan hidup kita? Banyak! Ada godaan untuk berdosa. Ada karakter, kebiasaan, kecenderungan, yang masih dipengaruhi oleh kelemahan dan keberdosaan kita. Lalu juga ada ketakutan, kemalasan, dan keinginan untuk menyenangkan diri dan bukan Tuhan. Maka “hakuna matata” sangatlah menghibur. Tapi ingatlah siapa kita! Tuhan dengan anugerah-Nya mengampuni dan terus mengubahkan kita. Jangan menyerah! Jangan kemudian hidup seperti bukan anak Tuhan! Tuhan juga terus memanggil kita untuk mengerjakan pekerjaan baik bagi kemuliaan-Nya. Jangan abaikan itu! Jangan hidup untuk kesenangan diri! Remember who you are!

Saya sadar tahun 2020 bukan tahun yang mudah untuk kita. Tapi bukankah tidak pernah ada tahun dimana Tuhan tidak sanggup untuk mengampuni, mengubahkan, dan memakai kita?

Remember who you are!

Wednesday, April 10, 2019

Di Bawah Sayap Tuhan

“TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung." (Rut 2:12)

Ayat ini menarik perhatian saya.

Beberapa waktu ini saya banyak memikirkan tentang hidup dan pelayanan. Saya teringat pada banyaknya kesalahan di masa lalu yang saya sesali. Saya juga menyadari ada banyak ketidakpastian di masa depan yang membuat saya gentar. Maka ketika membaca Alkitab, dan sampai pada bagian ini, mata saya terhenti dan hati saya terharu. Ayat ini menjadi sebuah oasis bagi saya hari itu.

Kita tahu kisah Rut. Dia adalah seorang perempuan Moab yang menikah dengan seorang Israel. Naomi, mertua perempuannya, adalah seorang yang dirundung kemalangan. Suaminya meninggal. Lalu dua orang anaknya (salah satunya adalah suami dari Rut) juga meninggal. Maka Naomi hanya tinggal sebatang kara bersama dengan dua orang menantu perempuannya. Tetapi ketika Naomi memutuskan untuk kembali ke Israel, Rut mengambil keputusan untuk mengikuti mertuanya itu kembali ke Israel. Bagaimanapun dibujuk, ia ngotot untuk ikut Naomi ke Israel. Dengan sangat yakin ia berkata kepada mertuanya: “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah allahku.” Kalimat yang sama sekali tidak main-main!

Keputusannya untuk mengikuti Naomi membuat Rut menjalani kehidupan yang sangat sulit. Dia pindah ke tempat yang sama sekali asing bagi dia. Dia harus berusaha diterima menjadi bagian dari bangsa Israel. Dia tidak ada prospek untuk menikah kembali – sesuatu yang dianggap sangat buruk di zaman itu. Ditambah lagi, karena mertuanya tidak punya kemampuan ekonomi, dia harus bekerja kasar. Kehidupan menjadi sangat sulit baginya.

Tetapi, dengan tindakannya menemani Naomi, dengan datang ke tanah dan umat milik Allah, dengan berkomitmen “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah allahku”, Rut sebetulnya menempatkan diri berlindung di bawah sayap Tuhan. Rut memilih Allah!

Sekalipun itu berarti dia kehilangan banyak hal, mengalami banyak kesulitan, dan seperti tidak punya pengharapan. Tetapi di saat yang sama, justru dengan demikianlah, Rut sedang menempatkan dirinya sepenuhnya di bawah perlindungan sayap Allah. Allah digambarkan seperti induk burung yang menawarkan sayapnya untuk melindungi anak-anaknya yang tidak berdaya dan kepada siapa yang datang untuk berlindung di bawah sayap-Nya, Allah tidak akan pernah mengecewakan!

Saya tidak membayangkan diri saya seperti Rut… tetapi saya membayangkan diri sebagai orang yang berlindung di bawah sayap Tuhan. Di tengah banyaknya kesulitan dan tekanan, tiap hari saya memohon anugrah Tuhan. Saya mau berlindung, berjongkok, mengkerut, tiarap, terlentang, atau apapun, di bawah sayap Tuhan.

Maka doa berkat Boas untuk Rut itu mengharukan saya: “TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

Saya tidak mengklaim berbuat apapun yang pantas untuk menerima upah dari Tuhan. Sama sekali tidak. Tuhan menyatakan perlindungan-Nya saja, itu sudah lebih dari cukup bagi saya.

Tapi doa Boas bahwa Tuhan bukan saja akan melindungi melainkan juga akan membalas orang yang datang berlindung di bawah sayapnya, membuat saya terharu akan kemurahan Tuhan.

Under the wings of God, I come to take refuge!

Wednesday, January 02, 2019

Jangan Membuat Resolusi

Ada sangat banyak orang yang hampir selalu membuat resolusi di awal tahun yang baru. Saya salah satunya. Tapi tahun ini tidak.

Mengapa sangat banyak orang yang membuat resolusi di tahun baru? Saya kira ada 2 alasan besar.

Pertama, pergantian tahun adalah “tonggak waktu” yang Tuhan berikan untuk menandai hidup kita. Bahwa “satu bab” sudah berlalu dan kita membuka “bab yang baru”. Maka pergantian tahun mendorong kita untuk mengingat “bab yang lalu”, mengevaluasinya, dan mengharapkan “bab yang baru.”

Kedua, kita sangat sadar bahwa hidup kita belum cukup baik di tahun yang lalu. Kita tahu segala kelemahan dan kegagalan kita. Berat badan yang tidak ideal. Kehidupan keluarga yang kurang harmonis. Pembagian waktu yang berantakan. Gaya hidup yang kurang baik. Maka kita ingin berubah.

Maka tahun baru, resolusi baru. Kita berharap segalanya lebih baik. Kita bertekad menjadi lebih baik.

Tetapi, resolusi cenderung fokus pada hasil (tidak selalu, tapi biasanya begitu). Kita ingin menjadi orang yang lebih ramah. Kita ingin turun 8kg. Kita ingin sehat. Kita ingin berhasil dalam pekerjaan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi, tidak ada hasil tanpa proses! Kita sering membuat resolusi tanpa memikirkan bagaimana mencapainya. Maka tidak heran pada bulan Februari banyak orang yang meninggalkan resolusi yang dibuat pada bulan Januari!

Resolusi juga cenderung fokus pada kesimpulan tanpa memberikan detil apa yang dimaksudkan. Misalnya "saya mau lebih banyak menolong orang" tidak akan berhasil tanpa diperjelas apa sebetulnya yang ingin kita lakukan. Untuk bisa lebih banyak menolong orang, perlu ada kebiasaan baru yang kita bentuk. Kebiasaaan apa? Kapan? Apa komitmennya? Tanpa semua itu, resolusi akan percuma.

Maka menjelang akhir 2018, saya mencoba membuat aturan bagaimana saya mau hidup di tahun 2019. Aturan itu seperti proses. Saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, walaupun seharusnya kalau prosesnya benar maka hasilnya pasti baik. Saya tidak ingin fokus dan hanya memimpikan hasil, tetapi saya ingin fokus mengerjakan proses.

Di akhir tahun 2018 dan di awal tahun 2019, saya membaca dua artikel tentang resolusi yang sangat baik dan menegaskan apa yang ingin saya lakukan:
https://www.thegospelcoalition.org/article/skip-resolutions-make-rule-life/
https://www.thegospelcoalition.org/article/make-habits-not-resolutions/

Di dalam artikel yang pertama, penulis menyarankan untuk kita membuat aturan hidup yang mencakup lima wilayah kehidupan kita: (1) Relasi dengan Tuhan, (2) Kehidupan/kesehatan pribadi, (3) Relasi dengan orang di sekitar, (4) Gereja, (5) Pekerjaan.

Misalnya kita bisa membuat aturan hidup:

1. Setiap hari Senin-Jumat: Saya akan bangun jam 05.15, olah raga selama 45 menit. Setelah sarapan, saya akan saat teduh selama 30 menit. Kemudian berangkat kerja.
2. Saya akan tidur paling lambat jam 22.30.
3. Setiap hari Minggu saya akan mengevaluasi kehidupan selama 1 minggu dan merencanakan minggu yang akan datang (jam 14.00-15.00).
4. Setiap hari senin malam, saya akan membaca buku rohani selama 1.5 jam.
5. Setiap hari Minggu malam saya akan mengajak orang tua makan bersama.
6. Setiap akhir bulan saya akan mengevaluasi kondisi keuangan saya dan mendiskusikannya dengan suami/istri.
7. Selain perpuluhan yang saya berikan, saya akan menyisihkan 2% lagi dari pendapatan saya untuk menolong orang yang membutuhkan.
8. Dst…


Mulailah dengan berdoa bagian mana dalam hidup kita yang harus berubah. Pikirkan baik-baik apa yang ingin kita capai di tahun 2019. Kemudian pikirkan bagaimana kita bisa mencapainya. Kebiasaan apa yang harus kita mulai? Komitmen apa yang harus kita jalani untuk membentuk kebiasaan itu?

Komitmen akan membentuk kebiasaan dan kebiasaan pasti akan mengubah. The power of commitment. The power of habits. 

Selamat membuat aturan hidup dan membentuk kebiasaan yang baru.

Friday, October 05, 2018

Sudahkah Mendengar Berita Injil - hari ini?

“Kita bukan saja harus memberitakan Injil kepada orang lain. Kita juga harus mendengar dan menerima berita Injil, bukan hanya satu kali waktu percaya, tetapi terus menerus. Kita harus mengkhotbahkan Injil terus menerus kepada diri kita sendiri.”

Sudah lama saya mendengar pernyataan itu. Saya mengamininya. Tetapi berita Injil seperti apa yang harus kita khotbahkan?

Injil pertama-tama adalah tentang keselamatan. Berita Injil adalah tentang Yesus yang “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (Galatia 1:4). Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan kita.

Tetapi Injil juga memiliki dimensi yang lain.

Injil juga adalah berita bahwa Tuhan sudah merobohkan tembok pemisah (Efesus 2:11-18). Tidak ada lagi pemisahan suku, yang jauh dan yang dekat dengan Allah. Suku bangsa dan bahasa tidak boleh lagi menjadi pemisah di antara umat Allah. Kita semua dijadikan manusia baru yang diperdamaikan dengan Allah oleh salib. Maka setiap orang yang percaya kepada Allah diterima sebagai kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah.

Satu catatan yang penting: Tidak berarti ini adalah keluarga yang tanpa aturan – semua, asalkan percaya, tidak peduli bagaimana “percaya”nya dan “kelakuan”nya, harus diterima tanpa ada teguran dan koreksi. Paulus berkata keluarga ini “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Efesus 2:20) dan menjadi sebuah bangunan “bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan… tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Efesus 2:21-22). Jelas ada pekerjaan rumah yang besar untuk keluarga ini. Tetapi, bagaimanapun, suku bangsa dan bahasa tidak boleh menjadi pemisah atau pembeda di dalam Kristus.

Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?

Injil adalah berita bahwa Tuhan peduli kepada setiap orang, khususnya mereka yang lemah dan tertindas (Lukas 4:18-19). Berita Injil adalah berita bahwa Tuhan sedang bekerja menjadikan dunia baru, yang penuh keadilan, belas kasihan, dan kebenaran. Tuhan tidak akan tinggal diam dan membiarkan segala ketidakbenaran di dalam dunia terus berjalan. Hari ini, gereja, harus memberitakan ini kepada dunia dan mengerjakannya.

Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?

Injil juga adalah berita bahwa Tuhan menerima kita apa adanya, tanpa syarat (Roma 5:10). Tuhan mengasihi kita bukan pada waktu kita baik tapi pada waktu kita masih seteru. Bagaimana mungkin hari ini, ketika kita sudah menjadi anak-anakNya, Dia tidak mengasihi kita ketika kita melakukan kesalahan? Sebesar apapun kesalahan kita, tidak akan membuat Dia membatalkan kasihNya bagi kita. Sebesar apapun kebaikan kita, tidak akan membuat Dia lebih mengasihi kita.

Sebuah kalimat di dalam film The Greatest Showman sangatlah baik: “You don’t need everyone to love you, just a few good people.” Engkau tidak perlu dikasihi semua orang, cukup beberapa orang yang baik saja. Bukankah yang terbesar di antara “beberapa yang baik” itu adalah Yesus? Jika Yesus mengasihi kita, itu sudah lebih dari cukup. Bonusnya adalah beberapa orang di sekitar kita yang melaluinya Tuhan berbisik: Aku mengasihimu.

Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?

Kalau Injil adalah Tuhan menerima kita apa adanya, maka Injil juga adalah Tuhan menerima dan mengasihi saudara-saudara seiman kita apa adanya. Mereka mungkin punya banyak kelemahan yang mengganggu kita. Mereka mungkin tidak cocok dengan kita. Bahkan mereka mungkin menyakiti kita. Tetapi, kalau Tuhan mengasihi mereka, bukankah kita harus mengasihi mereka juga? Kalau Tuhan mengampuni mereka, bukankah kita harus mengampuni mereka juga?

Injil juga adalah pengharapan bahwa hidup kita sedang menuju kepada sebuah keadaan dimana Tuhan akan menghapuskan segala yang jahat di dunia ini dan menyempurnakan segala yang masih menunggu (Wahyu 20:1-5). Bukan hanya sakit dan penderitaan yang akan dihapuskan, tetapi kasih yang sulit di tengah keluarga yang tidak sempurna, relasi yang berantakan karena kesalahan, dan pelayanan yang seperti tidak ada hasilnya, akan menemui kesempurnaannya.

Sejujurnya, saya sering tidak mengkhotbahkan Injil itu kepada diri sendiri. Di tengah tekanan kehidupan, saya sering berjuang sendiri dan gagal sendiri. Akhirnya saya tidak mengingat dengan kuat siapa Tuhan, siapa saya, siapa orang lain, dan untuk apa saya hidup. Maka betapa saya perlu lagi dan lagi datang kepada salib Kristus, dan mendengar berita InjilNya. Hanya dengan itu saya punya kekuatan untuk hidup dan melayani.

Sudahkah mendengar berita Injil, hari ini?

Wednesday, July 11, 2018

The Conviction to Lead–Albert Mohler

Albert Mohler, The Conviction to Lead: 25 Principles for TheConvictionToLeadMohlerLeadership that Matters (Minneapolis: Bethany House, 2012), 220 pages.

Saya tertarik membaca buku ini karena dua hal.

Pertama, karena saya sadar bahwa menjadi gembala GKY Green Ville is no joke. Saya perlu mencari pertolongan dari orang lain untuk mengajari saya bagaimana memimpin. Tetapi, saya memilih untuk belajar dari orang yang saya percaya kualitas dan keyakinannya. Albert Mohler memenuhi kriteria itu.

Kedua, karena kisah dramatis di awal kepemimpinan Albert Mohler. Dia dipercaya untuk menjadi presiden dari Southern Baptist Theological Seminary pada usia 33 tahun di tahun 1993. Saat itu SBTS sudah berusia 144 tahun! Mohler sendiri baru empat tahun sebelumnya lulus dengan PhD dari sekolah itu. Dia diminta untuk membalikkan total arah dari seminari itu kembali kepada keyakinan iman semula dan dia harus menghadapi tentangan luar biasa dari mahasiswa dan hampir semua dosen yang ada. Sejak hari pertama dia memimpin, mahasiswa sudah berkumpul untuk demonstrasi dan setiap saat ada wartawan di depan kantornya. Hampir semua dosen kemudian mengundurkan diri. Tetapi, Mohler kemudian berhasil menjadikan SBTS kembali menjadi sekolah yang besar.

Buku ini berisi 25 bab pendek, masing-masing hanya sekitar 6-8 halaman. Setiap bab bisa dibaca dalam waktu singkat. Bahkan saya merasa buku ini sebaiknya dibaca sedikit demi sedikit daripada sekaligus. Tentu tidak semua bab itu bisa diterapkan di dalam semua konteks. Tetapi, banyak di antaranya yang memberikan inspirasi.

Hal paling penting yang menjadi dasar dari semua bab di dalam buku ini adalah seorang pemimpin harus memimpin berdasarkan keyakinan. Kepemipinan dimulai dengan tujuan dan bukan rencana. Keyakinan dan tujuan itulah yang harus terlihat dari seorang pemimpin dan menginspirasi orang yang dipimpinnya. Kemudian dia membahas banyak hal mengenai tantangan, kesempatan, dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Berikut adalah beberapa judul bab dalam buku ini untuk memberikan gambaran:
Leaders Understand Worldviews
Leaders Are Thinkers
Leaders Are Teachers
The Leader and Power
Leaders Are Managers
The Leader as Writer
The Digital Leader

Sejujurnya dia meletakkan standar yang sangat tinggi – yang membuat saya ngeri. Tetapi, dia bukan menulis dari menara gading. Jelas bahwa apa yang dia tulis sudah dan sedang dia jalankan. He walks the talk.

Saya merasa perlu waktu lebih lama untuk membuat merenungkan apa yang dia tulis.

Recommended!

Friday, July 06, 2018

Penggambaran Sikap Doa

Dari sekian banyak penggambaran sikap orang ketika berdoa, saya tidak tahu mengapa dua gambaran di bawah ini paling menggerakkan hati saya.

Pertama, orang yang berlutut berdoa sambil menengadahkan tangannya.


Kedua, orang yang berdoa sambil mengulurkan tangannya ke atas.


Seringkali ketika melihat penggambaran seperti itu saya merasakan ada koneksi dengan hati saya.

Mungkin karena menengadahkan tangan sebagai sikap berdoa menunjukkan sikap seseorang yang membutuhkan Tuhan dan memohon supaya Tuhan memberikan kekuatan di tengah pergumulan hidupnya. Seakan-akan dia sedang memohon, berulang kali, “Tuhan, berkatilah aku… berkatilah aku!”

Mungkin juga karena mengulurkan tangan ke atas sebagai sikap berdoa menunjukkan sikap seseorang yang dalam keadaan tertekan dan berusaha menggapai ke Tuhan. Saya ingat Mazmur 77:3 “Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu…” Istilah terulur berarti menggapai ke atas. Pemazmur bercerita bahwa di dalam usahanya mencari Tuhan pada hari kesusahannya, tangannya terulur tanpa lelah! Seakan-akan dia memohon, berulang kali, Tuhan, kasihanilah aku.... kasihanilah aku!

Saya tidak bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa dua penggambaran di atas lebih menggerakkan saya dibanding yang lainnya. Pergumulan hidup dan kesusahan yang saya alami sangatlah tidak berarti dibanding banyak orang kudus lain. Tetapi sebagai orang yang penuh dengan kelemahan, semakin lama semakin saya merasakan kebutuhan akan belas kasihan Tuhan dan berkat Tuhan. Saya membutuhkan Tuhan!

Beberapa waktu lalu saya menemukan gambar di bawah ini dari Logos dan saya jadikan sebagai wallpaper di laptop saya.


Saya tahu bahwa di dalam anugrahNya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya dan jauh dari saya. Tetapi, pertolongan Tuhan diberikan kepada mereka yang menantikannya dengan rendah hati. So I want to pray like that!