Saturday, March 17, 2007

Dosa Sengaja dan Tidak Sengaja

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar khotbah seorang pendeta yang menegur orang Kristen yang suka mengatakan “Ampunilah dosa yang kami lakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja” ketika berdoa minta pengampunan dosa. Pendeta tersebut tidak setuju dengan kalimat itu karena menurut dia “Dosa tidak pernah disengaja”. Alasan yang diberikan adalah “Kalau sengaja, namanya menghujat Roh”. Lalu dia menyambung “Dosa itu keluar dari rel, tergelincir, meleset. Dosa tidak pernah sengaja karena tidak ada orang yang sengaja keluar rel, sengaja tergelincir”.

Saya ingin membahas pandangan pendeta itu karena kalimat itu memang sering diucapkan dan didengar oleh kita. Ada baiknya kalau kita memikirkan kalimat itu sebelum kita mendengar atau mengucapkannya lagi.

Kehendak selalu mendahului tindakan. Untuk melakukan sesuatu, kita harus punya kehendak untuk melakukannya. Kita tidak mungkin tidak punya kehendak apa-apa. Tidak melakukan apa-apa pun adalah karena kita berkehendak untuk tidak melakukan apa-apa.

Berdasarkan itu, kita bisa mengatakan ‘melakukan dosa dengan sengaja’ artinya adalah dengan kehendak atau kemauan sendiri kita melakukan dosa. Ada kehendak dan kemauan, ada pilihan, lalu dengan sadar kita memilih pilihan yang berdosa sesuai kehendak atau kemauan kita itu. Misalnya, contoh klasik, menonton film porno. Ada banyak langkah yang harus diambil untuk menonton film porno dan di setiap langkah kita punya pilihan, seperti mengambil film itu atau tidak, memasukkannya ke player atau tidak, menekan tombol play atau tidak, dan menonton atau tidak. Maka ketika kita sampai menonton film itu, jelas kita ‘melakukan dosa dengan sengaja’.

Kalau begitu apa yang disebut dengan ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’?

Sebenarnya jika dilihat dari kacamata ‘kehendak-mendahului-tindakan’, semua dosa pasti kita lakukan dengan sengaja. Apapun yang kita lakukan pasti ada kehendak dan kemauan untuk melakukannya Kita memilih untuk melakukan sesuatu, berarti kita melakukannya dengan sengaja!
Maka kalimat pendeta di atas justru terbalik. Mustinya ‘tidak ada dosa yang dilakukan dengan tidak sengaja’. Dosa memang bisa digambarkan seperti tergelincir dari rel. Tetapi kita memang sengaja menggelincirkan diri dari rel!

Sebelum kita percaya kepada Tuhan, rasul Paulus katakan keadaan kita adalah mati (Ef 2:1). Keadaan mati rohani ini menyebabkan kita tidak punya kemampuan untuk melakukan apapun juga yang tidak tercemar dosa. Tetapi pada waktu percaya kepada Tuhan, kita dihidupkan kembali dari kematian rohani kita, kita diberikan kemampuan untuk tidak berbuat dosa. Dengan kata lain, kita diberikan kehendak untuk tidak memilih dosa. Tetapi dalam kelemahan kita, dan di tengah-tengah dunia yang penuh dosa dan godaan berdosa ini, seringkali kita memilih lagi untuk berdosa.

Tidak tepat kalau kita katakan itu ‘menghujat Roh’. Kalau itu dikatakan menghujat Roh Kudus, maka semua orang Kristen menghujat Roh Kudus! Arti menghujat Roh Kudus adalah ketika kita dengan sengaja menolak pekerjaan Roh Kudus yang menerangi hati kita, dan kita lakukan itu bukan satu kali, tetapi terus menerus sampai kita mati. Itu disebut sebagai dosa yang tidak bisa diampuni, karena kita sudah menolak Dia sampai akhir dan tidak punya lagi kesempatan untuk diampuni.

Maka kembali ke pertanyaan di atas, apa yang dimaksud dengan ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’?

Mungkin contoh di bawah ini bisa mewakili apa yang sering kita bayangkan sebagai ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’. Misalnya kita menegur seseorang karena melakukan kesalahan. Teguran kita benar dan bahkan kita lakukan dengan kasih, tetapi ternyata ada kalimat kita yang bukan membangun dia melainkan menyakiti dia. Kita tidak pernah punya kehendak atau kemauan untuk menyakiti dia, tetapi itu terjadi. Maka kita ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’.

Tetapi bukankah kita bisa memilih untuk mengucapkan atau tidak mengucapkan kalimat yang menyakiti itu? Kita tetap memilih untuk mengucapkannya berdasarkan kehendak kita. Dan itu berarti sengaja!

Tunggu dulu, saya tahu ada yang langsung tidak setuju dengan saya. Saya tahu bahwa bagaimanapun kita tidak bermaksud menyakiti orang itu, dan kita tidak terpikir bahwa kalimat kita akan berdampak buruk kepada dia. Itu sebabnya saya setuju bahwa perbuatan seperti contoh di atas bisa disebut ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’. Tetapi kita harus mengerti bahwa yang disebut dosa tidak sengaja hanyalah satu ungkapan ‘murah hati’ untuk menyebut ‘melakukan dosa dengan sengaja’ dalam dunia yang berdosa ini.

Kita tetap bertanggung jawab untuk dosa itu, karena kita memilih untuk melakukannya. Di balik pilihan kita mungkin ketidak-pedulian kita mengerti latar belakang orang itu, tetapi sudah ingin cepat memberi nasihat. Atau mungkin kita terbawa emosi kita sehingga tidak memikirkan matang-matang dampak kalimat kita. Apapun alasannya, kita sengaja memilih untuk melakukannya. Tetapi inilah kita! Sulit sekali untuk betul-betul tidak melakukan dosa. Kita lemah sekali, dan kelemahan emosi kita, kelemahan hati nurani kita yang tercemar dosa, kelemahan rasio kita yang terpengaruh dosa, menyebabkan kita sulit sekali untuk memilih tidak melakukan dosa. Itu sebabnya kita mengatakan, dengan murah hati, kita ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’.

Alangkah kita membutuhkan kemurahan Tuhan hari demi hari mengampuni dosa kita, yang kita lakukan dengan sengaja maupun ‘tidak sengaja’!

Wednesday, March 14, 2007

Kejadian 1-11

Kitab Kejadian pasal 1-11 bercerita tentang sejarah awal umat manusia. Di dalamnya kita menemukan kisah bagaimana dunia dan manusia diciptakan, bagaimana manusia jatuh ke dalam dosa, bagaimana dosa itu menyebar, bagaimana air bah diturunkan oleh Tuhan, dan seterusnya.
Kejadian 1-11 sebetulnya bukan satu-satunya literatur yang menceritakan sejarah awal umat manusia. Hampir semua dunia beradab di daerah Timur Dekat kuno (Timur Tengah sekarang) mempunyai literatur yang juga menceritakan sejarah awal umat manusia. Tetapi ketika literatur-literatur itu dibandingkan dengan kitab Kejadian, maka kita menemukan perbedaan yang besar.

Di bawah ini adalah perbandingan beberapa ciri-ciri mereka:

Literatur lain
  1. Ada kisah penciptaan para dewa
  2. Politheisme (ada banyak dewa)
  3. Ada perang kosmik antar dewa dalam peristiwa penciptaan
  4. Manusia dicipta untuk jadi budak dewa
  5. Ketika penciptaan selesai, dunia tidak sempurna, tetapi perlahan-lahan makin baik
Kejadian 1-11
  1. Allah tidak diciptakan
  2. Monotheisme (hanya 1 Allah yaitu Allah yang Esa)
  3. Allah mencipta hanya dengan Firman dan semua jadi
  4. Manusia dicipta dalam gambar dan rupa Allah. Allah malah memberikan mandat kepada manusia untuk berkuasa atas alam semesta. Bahkan ketika manusia diciptakan, bukan manusia yang menyediakan manakan Allah tetapi justru Allah yang menyediakan keperluan manusia
  5. Ketika penciptaan selesai, semuanya sangat baik, tetapi kemudian justru menjadi rusak karena dosa manusia
Salah satu contoh literatur yang mirip dengan Kejadian 1-11 adalah Enuma Elish (dari milenium pertama sebelum Masehi), yang merupakan catatan paling lengkap dari daerah Mesopotamia tentang penciptaan. Di dalamnya dikisahkan bahwa dewa Marduk mengalahkan dewi Tiamat (seorang dewi yang kejam). Lalu dengan menggunakan mayat Tiamat, ia menciptakan langit dan bumi. Lalu ia menciptakan juga manusia untuk melakukan segala pekerjaan di dunia yang dibenci oleh para dewa, seperti menyediakan makanan. Dan para dewa kemudian membuat kota Babel untuk menghormati Marduk.

Contoh lain adalah Gilgamesh Epic (ditulis sekitar 2600 SM). Di dalamnya berisi cerita pengalaman dari seorang bernama Utnapishtim. Dia pernah diberitahu oleh dewa mengenai rencana akan adanya banjir besar yang melanda seluruh bumi. Utnapishtim ini kebetulan menyembah dewa yang tidak setuju dengan rencana air bah itu, maka ia diberitahu oleh dewa itu untuk membuat bahtera dan masuk bersama keluarganya dan pasangan-pasangan binatang. Setelah air bah mulai, ternyata para dewa pun ketakutan karena merasa air bah itu sudah di luar kontrol mereka. Setelah badai berlangsung 7 hari, air mulai surut dan bahtera itu mendarat di puncak gunung. Utnapishtim lalu melepaskan burung merpati, layang-layang, gagak, dan ketika gagak itu tidak kembali dia tahu air sudah surut. Maka ia keluar dan mempersembahkan kurban kepada para dewa dan para dewa langsung mengerumuni kurban itu seperti lalat karena sudah sangat ingin makan daging. Enlil (dewa yang paing kuat) kaget ketika mengetahui Utnapishtim selamat, tetapi ia senang dengan persembahan Utnapishtim. Akhirnya Utnapishtim diubah menjadi dewa, dan dewa berjanji tidak akan memberikan lagi air bah.

Jelas ada kemiripan sekaligus perbedaan antara kisah dalam literatur-literatur ini dengan kisah dalam Kejadian 1-11.

Sekalipun beberapa literatur itu lebih tua dari kitab Kejadian, kemiripan yang ada bukan berarti Musa mencontek literatur-literatur itu. Ini hanya menunjukkan bahwa Kejadian 1-11 menjawab pertanyaan yang sama yang sering dipertanyakan manusia zaman itu. Tetapi jawabannya sangat berbeda karena Kejadian 1-11 adalah wahyu dari Tuhan, cerita yang sesungguhnya, cerita yang asli dari Sang Pencipta.

Kita boleh yakin pada waktu itu ada kisah yang beredar baik dalam bentuk oral maupun tulisan mengenai sejarah awal manusia. Seluruh manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, maka kisah-kisah mengenai taman Eden, kejatuhan dalam dosa, dsb, pasti terus disampaikan turun temurun sampai zaman Nuh. Setelah air bah terjadi, semua manusia kemudian adalah keturunan Nuh juga (karena hanya Nuh dan keluarganya yang masih hidup). Maka ketika mereka menyebar (dicatat dalam Kejadian 11), mereka pasti juga membawa kisah mengenai peristiwa-peristiwa sebelum air bah dan kisah air bah itu sendiri dari nenek moyang mereka yaitu Nuh dan keluarganya.

Tetapi ketika kita membaca literatur-literatur kuno tersebut, ternyata kita melihat sudah terjadi distorsi yang besar sekali, cerita sudah menjadi sangat berbeda dengan cerita asli seperti yang diwahyukan Tuhan. Penyebabnya? Selain mungkin disebabkan oleh penyampaian yang tidak akurat, pasti juga disebabkan karena dosa, manusia tidak lagi menyembah Allah yang benar.
Dari kacamata ini, kita melihat Kejadian 1-11 sangat luar biasa. Di tengah-tengah zaman yang menerima, secara mutlak, konsep politheisme dan manusia adalah budak para dewa, tiba-tiba muncul kisah dengan konsep yang total berbeda, totally different world view. Tidak ada konsep seperti itu di zaman itu.

Dan dari kacamata ini juga, kita melihat betapa baiknya Tuhan memberitahu pada kita kebenaran yang sesungguhnya. Allah memberitahu kebenaran supaya manusia kenal Allah yang sejati. Darimanakah kita mengetahui semuanya kalau bukan dari wahyu Tuhan? Sungguh, wahyu Tuhan adalah penyingkapan apa yang tak mungkin manusia ketahui. Kalau begitu, bagaimana mungkin ada manusia yang sok tahu sesuatu yang Allah tidak singkapkan?

Monday, February 05, 2007

Keluaran 23:3 - Memihak

“Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya” (Kel 23:3)

Di dalam dunia ini, yang kuat menindas yang lemah kita anggap hal biasa. Tetapi yang lemah menindas yang kuat, nah itu baru kita anggap luar biasa. Tetapi apa benar itu terjadi?

Ayat di atas menarik perhatian saya. Biasanya kita mengira Alkitab mengajarkan supaya kita memihak kepada yang lemah: orang miskin, janda, anak yatim, dsb. Tetapi mengapa dalam bagian ini Tuhan justru katakan jangan memihak kepada orang miskin?

Sebetulnya kalau kita teliti, Alkitab tidak pernah mengajarkan supaya kita memihak kepada mereka yang lemah. “Jangan menindas mereka”, “belalah hak mereka”, itulah yang diajarkan Alkitab. Artinya yang Tuhan mau adalah “jangan mentang-mentang mereka lemah, lalu mereka ditindas dan tidak dibela haknya”. Tetapi dengan kalimat yang sama, Tuhan juga bisa mengatakan “jangan mentang-mentang mereka lemah, lalu dibela dan dimenangkan”.

Sebetulnya prinsipnya sederhana: Keadilan! Tuhan benci kalau ada orang menindas yang lemah. Tuhan juga benci kalau ada orang menindas yang kuat.

Ada orang yang berjalan kaki menyeberang jalan secara sembarangan dan menyebabkan pengendara motor kehilangan keseimbangan dan menabraknya sampai mati. Siapa yang disalahkan? Biasanya pengendara motor! Ada pengendara sepeda motor yang ngebut, selap-selip kiri kanan semaunya, lalu menabrak mobil yang sedang berjalan perlahan sampai dia sendiri terpelanting dan luka parah. Siapa yang disalahkan? Biasanya pengendara mobil. Minimal dia akan diminta utk membayar semua biaya pengobatan. Ternyata dalam masyarakat kita juga berlaku ‘memihak si lemah’ ini, walaupun tentunya dengan berbagai latar belakang dan motivasi.

Saya jadi berpikir bagaimana yah di gereja? Apakah sama dengan dunia, bahwa ada hal-hal tertentu dimana yang 'kuat' menindas yang 'lemah', dan ada hal-hal tertentu dimana yang 'lemah' dibela secara tidak adil, walaupun kalau di gereja, mungkin in the name of love.

Ah, sulitnya untuk adil sekaligus kasih!

Tuesday, January 02, 2007

Mazmur 34:9


Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya! (Mzm 34:9)

Mazmur ini diucapkan Daud "pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi" (Mzm 34:2). Keadaan dia waktu itu sangat berbahaya. Ia sedang melarikan diri dari Israel, karena ingin dibunuh oleh raja Saul. Tetapi kemudian di daerah Filistin, musuh Israel, mereka mengenali dia sebagai seorang pejuang Israel. Maka ia berpura-pura gila, menggores-gores pintu gerbang, membiarkan ludahnya menetes dari janggutnya. Ia begitu merendahkan diri karena takutnya. Dan ia kemudian tidak dibunuh tetapi diusir.

Dalam keadaan itu, dia memuji Tuhan. Daud mengaku dia gentar, dia mengalami kesesakan-kesesakan (bentuk jamak), dia tersiksa dengan keadaannya. Tetapi dia merasakan bagaimana Tuhan melepaskan dia dari kegentarannya itu. Seperti satu perasaan yang sangat bebas, lepas dari tekanan yang berat. Ini sangat indah bagi Daud. Itu sebabnya hatinya penuh pujian kepada Tuhan.

Lalu dia mengatakan “Kecaplah, dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!”. 

Seakan ia ingin mengatakan, "Cobalah dan rasakan bahwa Tuhan itu sungguh baik. Aku sudah mengalaminya! Silakan datang kepadaNya dan rasakan juga kebaikanNya. Hai orang-orang yang sesak, orang-orang yang gentar, berlindunglah padaNya, lihatlah dan kecaplah kebaikanNya!". Daud tidak hanya katakan ‘lihat’, tetapi ‘kecap’, mirip seperti sesuatu yang bisa dirasakan oleh indra kita, "dilihat" dan "dikecap", begitu nyata.

Mengapa orang percaya perlu didorong untuk mengecap kebaikan Tuhan? Tuhan sudah menyatakan kebaikanNya kepada setiap kita. Tetapi banyak orang Kristen yang tidak menikmatinya. Kita menganggap Tuhan itu jauh, Tuhan itu tidak peduli pada kita, kita curiga pada Tuhan, kita mencari pertolongan kemana-mana tetapi tidak berharap kepada Tuhan.

Daud mengatakan:
Ay. 5: Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.
Ay. 6: Tujukanlah pandanganmu kepadaNya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.
Ay. 7: Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkannya dari segala kesesakannya.
Ay. 8: Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.
Ay. 9: Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya.

Kalimat-kalimat itu melukiskan pengalaman Daud. Dia mencari Tuhan, menujukan pandangan kepada Tuhan, berseru kepada Tuhan, takut akan Tuhan, berlindung pada Tuhan. Dan dia mengalami kebaikan Tuhan! Seakan-akan Daud ingin mengatakan ‘mencari TUHAN, menujukan pandangan pada TUHAN, berseru kepada TUHAN, takut kepada TUHAN, berlindung pada TUHAN, semua itu menjadi piring kosong yang disiapkan untuk menerima kebaikan Tuhan... Tuhan berikan itu di atas piring kita dan kemudian bisa kita kecap...cap..cap...

Ahhh.... nikmatnya... TUHAN itu baik!

Tuesday, November 14, 2006

Sibuk Yang Pas

Tidak jarang ketika diminta untuk melayani pemberitaan Firman Tuhan, saya menjawab “tidak bisa”. Dan reaksi yang sering saya terima adalah “oh sudah penuh ya Pak?”.

Terus terang saya sulit menjawab reaksi seperti itu, karena saya tidak tahu apa yang dimaksud ‘penuh’. Kalau yang dimaksud adalah setiap hari saya sudah ada pelayanan khotbah, maka jawabannya adalah tidak. Kalau maksudnya tepat hari itu, jam itu, saya ada pelayanan khotbah lain, maka jawabannya juga tidak. Kalau yang dimaksud adalah saya sangat sibuk dan “tidak ada waktu”, ini agak mendekati walaupun juga tidak tepat. Karena kalau “tidak ada waktu” artinya saya sangat banyak pelayanan, sampai tidur pun kurang, tidak punya waktu makan dengan tenang, tidak punya waktu berenang atau jalan-jalan di mal, jawabannya juga tidak.

Saya akan menyebutkan apa yang saya maksudkan dengan “tidak bisa”:
1. Saya membutuhkan waktu lama untuk mempersiapkan khotbah. Sebagai contoh, untuk khotbah di kebaktian, saya membutuhkan 5-8 jam persiapan non stop. Artinya waktunya akan menjadi lebih panjang jika ditambah dengan istirahat, ke kamar mandi, makan, dsb. Lagipula, tidak setiap saat saya ‘in the mood’ untuk persiapan. Ada kalanya saya harus melakukan kegiatan-kegiatan lain terlebih dahulu dan baru bisa kembali pada persiapan saya. Maka total waktu real yang dibutuhkan sangat panjang.

2. Sebagai pembina komisi, pelayanan saya bukan hanya berkhotbah, tetapi juga memikirkan strategi pelayanan, mengerti kondisi yang terjadi, atau menguatkan teman-teman. Dan semua itu perlu waktu.

3. Selain melayani, saya harus memperhatikan hal-hal yang esensial bagi hidup saya seperti: doa, tenang dan berdiam diri, membaca buku, olah raga, rekreasi, menjalin relasi keintiman dengan keluarga dan teman-teman.

Dengan kondisi seperti di atas, sekalipun jadwal saya ‘kosong’, seringkali saya harus berkata “tidak bisa”.

Saya tidak bermaksud menulis artikel ini untuk berkeluh kesah. Tetapi apa yang saya alami, saya yakin banyak juga dialami oleh kita yang sibuk melayani. Orang-orang terus minta kita mengerjakan ini dan itu. Mereka mungkin hanya melihat apa yang kita kerjakan berdasarkan jumlah berapa bidang pelayanan yang kita ambil, tanpa mempedulikan ‘serba-serbi’ yang berkaitan dengan bidang pelayanan itu. Mereka mungkin juga tidak tahu ‘kemampuan’ kita. Mereka juga tidak tahu kondisi kita secara pasti, kondisi fisik kita, keluarga kita apalagi kerohanian kita.

Ada 2 hal yang mempengaruhi cara saya mengatur jadwal pelayanan saya:
1. Khotbah Pdt. Yohan Candawasa di dalam bukunya yang berjudul Ambillah Aku Melayani Engkau. (Teman-teman pengurus KP 1 GKY Green Ville 2005-2006 mungkin masih ingat saya pernah minta kalian membaca seluruh bab itu sebagai bahan saat teduh waktu pembinaan pengurus tahun 2005). Point yang sangat saya ingat adalah: Orang banyak mencari Yesus dan Yesus berkata “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota yang berdekatan supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itulah aku telah datang”. Orang banyak mencari Dia! Mereka sedang membutuhkan pelayananNya, mungkin ada yang sakit keras, mungkin ada yang hampir mati (dan jadi mati betulan karena tidak dilayani Yesus), mungkin ada yang kerasukan setan, mungkin ada yang ingin dengar khotbahNya, tapi YESUS PERGI! Pasti banyak yang kecewa dan memaki-maki Dia. Tapi Dia tahu untuk apa Dia datang ke dunia, bukan melayani semua kemauan orang, tapi ada misi khusus yang Dia terima dari Bapa. Kita masing-masing juga punya panggilan dari Bapa.

2. Saya sadar seringkali kesibukan hanyalah untuk memuaskan kedagingan, supaya kita terlihat penting, dipercaya banyak hal, disukai dan dibutuhkan orang. Mungkin kita bisa merasa bangga punya banyak pelayanan, apalagi sampai semuanya bergantung pada kita. Tetapi itu dosa!

Maka kesibukan kita seharusnya diatur sesuai karunia dan panggilan kita!

Dalam masa beberapa tahun pelayanan, saya menemukan bahwa kesibukan yang pas akan menghasilkan pertumbuhan. Tidak sibuk berarti kemalasan dan itu membuang karunia Tuhan. Tetapi kesibukan yang terlalu sibuk sampai panik akan menghancurkan kerohanian.

Tidak sibuk adalah banyak bermalas-malasan dan tidak menggunakan waktu dengan baik. Saya ingin tekankan ini, saya sama sekali tidak setuju dengan kemalasan yang menggunakan alasan kesibukan. Kita bisa terlihat seperti banyak kegiatan dan sibuk, padahal malas. Hanya kita dan Tuhan yang tahu itu.

Kesibukan yang pas artinya adalah sangat sibuk tetapi tetap mengerjakan semua hal yang esensial bagi kehidupan. Kerohanian pribadi dibangun, keluarga diperhatikan, kondisi fisik dijaga, teman-teman ditolong.

Kesibukan yang terlalu sibuk sebenarnya sama sibuknya dengan kesibukan yang pas tapi mengabaikan banyak hal yang esensial dalam kehidupan.

Kenapa bisa sama sibuknya? Karena waktu kita sama-sama 24 jam. Ini bukan tentang orang yang malas, tapi tentang orang yang rajin. Sama-sama 24 jam, kalau sama-sama rajin, maka pasti sama-sama ‘habis-habisan’. Tapi bagaimana cara pakainya? Sibuk yang pas atau terlalu sibuk?

Beberapa pertanyaan perenungan buat setiap kita:
1. Apakah engkau sudah pakai waktumu dengan baik? Jangan ukur dari jumlah kegiatanmu tapi tanya sungguh-sungguh apakah engkau sudah pakai waktumu dengan baik untuk Tuhan?

2. Kalau engkau sibuk, untuk apa engkau sibuk? Apakah engkau jelas kemana arah kesibukanmu?

3. Apakah hal-hal yang esensial dalam hidupmu engkau kerjakan? Apakah dalam kesibukanmu, ada ketenangan dan kedamaian dalam hati?

Tuesday, November 07, 2006

Ke Gereja Harus Memberi Bukan Menerima?

Saya mengajak kita memikirkan satu konsep lagi tentang hidup bergereja yang juga sudah diterima secara umum: “Ke gereja harus memberi bukan hanya menerima”.
Kita harus ‘memberi’: memberi tenaga, waktu, uang, bahkan perasaan. Kita tidak boleh hanya mau ‘menerima’: menerima khotbah yang baik, suasana yang baik, persekutuan yang baik. Maka kalau kita menemukan suatu gereja dalam keadaan yang ‘kurang baik’, kita tetap harus bertahan dan memberi.

Perhatikan kata hanya di atas. Kalau ada kata hanya, kalimat di atas sangat tepat. Tetapi sayangnya ketika diaplikasikan, yang terdengar di telinga kita adalah kalimat yang tanpa hanya: “Ke gereja harus memberi bukan menerima”.

Dampak dari kalimat ini adalah:

1. Kita yang melayani, tidak terlalu peduli apakah jemaat ‘menerima’ sesuatu di gereja kita. Kita anggap bagaimanapun mereka harus setia, harus datang, harus melayani.

Entah darimana datangnya konsep seperti ini. Konsep Alkitab jelas berbeda.

"Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul… gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus…" (Efesus 4:11-16)

Paulus bicara ini dalam konteks hidup bergereja. Untuk apa Tuhan memberikan rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar? Supaya jemaat yang bersekutu itu, diperlengkapi untuk melayani membangun tubuh Kristus dan bertumbuh makin dewasa dalam iman.

Maka kalau jemaat merasa kering, tidak ‘menerima’ apa-apa, tidak diperlengkapi, tidak bertumbuh, bagaimana mungkin kita mengharapkan mereka datang? Alangkah bersalahnya kita yang tidak ‘memberikan’ apa-apa tapi mengharapkan mereka datang.

2. Banyak orang yang ke gereja sudah tidak 'menerima' apa-apa, tetapi tetap memaksakan diri karena merasa harus setia, harus datang, harus melayani.

Ini yang menyebabkan banyak gereja masih tetap punya jemaat yang ‘setia’. Jemaat merasa “this is my church”, dan apapun yang terjadi saya tetap datang. Padahal mereka sudah ‘hancur-hancuran’ secara rohani. Mereka tidak ‘menerima’ apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Tiap orang Kristen harus melihat lagi kenapa ke gereja: supaya bertumbuh! Bagaimana bisa bertumbuh di gereja? Atau kenapa bertumbuh itu di gereja? (lihat artikel “Ke Gereja Cari Tuhan?” – 1 Nov 2006) Ada 2 hal: Pertama lewat pengajaran Firman. Kedua lewat persekutuan umat Tuhan, yang bersama melayani, bersama beribadah, bersama mengasihi Tuhan dan sesama.

Pertumbuhan adalah sesuatu yang sangat Tuhan rindukan terjadi pada seluruh umatNya. Maka sama seperti gereja bertanggung jawab pada pertumbuhan jemaatnya, kita juga bertanggung jawab untuk pertumbuhan diri kita.

Kita memang tidak boleh hanya mau menerima. Tetapi kita juga harus berjuang untuk ‘menerima’, demi pertumbuhan rohani kita yang dirindukan Tuhan.

Kalau kita tahu kita sudah ‘sakit’ dan sudah tidak bisa menolong diri sendiri, lalu masih berpikir kita bisa, mungkin kita hanya tunggu waktu sampai kita betul-betul collapse.

Wednesday, November 01, 2006

Ke Gereja Cari Tuhan?

Saya mengajak kita memikirkan ulang konsep yang sering kita dengar dan bahkan sudah diterima secara umum: “Ke gereja cari Tuhan bukan cari manusia”

Kita ke gereja memang untuk mencari Tuhan dan berjumpa dengan Dia. Alangkah tidak dewasanya kalau kita ke gereja karena kebiasaan, karena teman, karena pacar. Maka saya setuju dengan kalimat di atas.

Tetapi bukankah kita ke gereja juga cari manusia? Kalau hanya untuk cari Tuhan, kenapa harus di gereja? Bukankah Tuhan ada dan bisa ditemui di kamar kita? Dan bukankah semua yang dilakukan di gereja bisa kita lakukan di rumah? Mau menyanyi? Tidak ada masalah. Mau dengar khotbah? Ada banyak kaset khotbah. Mau persembahan? Bisa transfer. Semua tidak ada bedanya.

Perjanjian Lama mengajarkan umat Allah untuk mencari Dia di bait suci. Tempat itu adalah simbol kehadiran Tuhan di tengah-tengah umatNya. Tetapi di dalam Perjanjian Baru, kita disebut sebagai bait Roh Kudus karena Roh Allah berdiam di dalam kita. Kitalah gereja! Maka apa bedanya kita ke gedung gereja dan tidak ke gedung gereja, kalau ‘hanya’ untuk mencari Tuhan?

Kita ke gereja adalah untuk mencari Tuhan bersama-sama dengan manusia yang lain, bersehati menyembah Tuhan sebagai satu kumpulan umat Tuhan, yaitu gereja lokal.

Maka kita ke gereja bukan hanya cari Tuhan tetapi juga cari manusia! Kita ingin mencari orang-orang dimana kita bersama bisa bersehati menyembah Dia. Kita ingin mencari orang-orang dimana kita bisa saling menarik lebih dekat kepada Tuhan, lewat persekutuan yang intim, lewat saling menasihati, lewat melayani bersama. Seperti yang dikatakan oleh Dietrich Bonnhoefer “Kita memerlukan saudara-saudara kita untuk ditarik kepada Kristus”.

Maka betapa salahnya kalau kita ke gereja tanpa peduli kepada orang di sekitar kita. Kita tidak saling menyapa, tidak berbicara. Bahkan waktu menyanyi juga tidak merasa menyanyi sebagai satu kumpulan umat Allah. Waktu berdoa kita juga tidak merasa kita sedang berdoa sebagai satu kumpulan umat Allah.

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Mzm 133:1)

Simbol dan cara kehadiran Tuhan boleh berubah. Dulu di bait suci, sekarang dalam diri kita. Tetapi kerinduan Tuhan tidak berubah: melihat umatNya bersama-sama, dengan rukun, dengan saling mengasihi, dengan saling menguatkan, dengan saling menasihati, dengan saling menolong, datang menyembah Dia, sebagai kumpulan umat.

Dan Tuhan katakan “kesanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Mzm 133:3b).