Thursday, February 14, 2013

Lent

Hidup kita terbentuk oleh pergantian tahun. Ada tahun-tahun dimana kita masih kecil, remaja, pemuda, dewasa, setengah baya dan menjadi tua. Kalender dipakai untuk menandai peristiwa-peristiwa itu, dimulai pada 1 Januari dan diakhiri pada 31 Desember. Setiap tahun hidup kita berjalan dalam kalender itu.

Kalender liturgi gereja (liturgical year) tidaklah sama dengan kalender biasa. Kalender liturgi gereja berpusat pada misteri hubungan Allah dan manusia. Waktu ditandai bukan dengan tanggal tapi dengan peristiwa-peristiwa penting bagi iman kita. Maka kalender liturgi gereja tidak dimulai pada 1 Januari, tapi pada minggu pertama Advent, mempersiapkan kita menyambut Natal. Tonggak berikutnya adalah masa Lent, mempersiapkan kita memasuki Jumat Agung dan Paskah. Berikutnya adalah Kenaikan Yesus, Pentakosta, dan akhirnya kembali ke masa Advent.

Tahun demi tahun, kalender liturgi gereja membawa kita tenggelam lagi dan tenggelam lagi dalam makna kehidupan Kristen. Kita bukan hanya mengingat: Yesus lahir, mati dan bangkit untuk kita, tapi kita dibawa untuk mencocokkan diri kembali dengan apa yang Allah kerjakan bagi kita. Tahun ini kita merenungkan Natal, lalu minta ampun dosa waktu Jumat Agung dan Paskah, tahun depan kita kembali melakukan yang sama. Tapi tiap tahun, kita diajak untuk melihat apakah kita makin mengikuti Yesus? Apakah kita bertumbuh makin mencintai Yesus? Kalender liturgi gereja mengajar kita arti mengikut Yesus.

Dua bulan lagi kita akan merayakan Jumat Agung dan Paskah. Sebelum itu, ada masa Lent. Masa ini adalah masa merendahkan diri di hadapan Tuhan. Masa ini mengajak kita sadar bahwa kita adalah manusia yang berdosa dan hina. Tanpa kasih Tuhan, kita semua pasti binasa! Maka selama masa ini, kita banyak berdoa, berpuasa, dan memohon ampun dosa. Secara khusus kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang mengalihkan perhatian kita dari Tuhan. Seperti masa Advent mempersiapkan kita menyambut Natal, demikianlah masa Lent mempersiapkan kita menyambut Jumat Agung dan Paskah.

Masa Lent diawali pada hari Rabu yang sering disebut sebagai Rabu Abu (Ash Wednesday). Di banyak gereja, biasanya waktu itu jemaat akan diberikan tanda salib di dahinya dengan abu. Di dalam Alkitab, abu di kepala adalah tanda berkabung. Tapi abu juga adalah simbol dari kefanaan kita, bahwa kita dicipta dari debu dan akan kembali menjadi debu.

Makna dari seluruh upacara tersebut adalah merendahkan diri, berduka atas dosa, dan mengingat bahwa kita adalah manusia yang fana. Kita hanya manusia, diciptakan dari debu dan akan kembali menjadi debu! Dan setelah itu bertanggung jawab kepada Tuhan.

Banyak orang Kristen di Indonesia yang berpikir bahwa Rabu Abu - dan juga Lent - adalah ‘milik’ gereja Katolik. Tetapi ini bukan tradisi milik gereja Katolik. Gereja mula-mula mulai memasukkan Lent di dalam kalender gereja mungkin sejak abad ke-2 atau ke-3, sekitar 1800 tahun yang lalu (sebelum ada pembedaan Katolik dan Protestan). Dan sekarang ini berbagai gereja di dunia dari Katolik, Lutheran, Presbiterian, Reformed, Methodis, Anglikan, dan Baptis, melakukannya.

Tahun ini, GKY Green Ville akan ikut menjalankan tradisi ini. Sesuai kalender gereja seluruh dunia, masa Lent akan dimulai pada hari Rabu tanggal 13 Februari. Maka di dalam Persekutuan Doa hari Rabu itu, kita akan bersama memulai masa Lent dengan Rabu Abu. Kita akan merenungkan kehidupan kita yang fana dan membutuhkan Tuhan. Setelah itu minggu demi minggu menjadi masa kita mempersiapkan diri memasuki Jumat Agung dan Paskah.

Tepat satu minggu sebelum Paskah nanti adalah Minggu Palem - Minggu memperingati Yesus masuk ke Yerusalem dan kemudian mati disalibkan di sana. Minggu Palem mengajak kita menyadari betapa bedanya menyembah Yesus “di mulut” dan “di hati”, seperti orang banyak yang bersorak “Hosana” dan “salibkan Dia”.

Minggu itu juga disebut sebagai Minggu Sengsara karena di situ Yesus bergumul dengan berat menjelang naik ke kayu salib. Di minggu itu, seluruh kuasa kegelapan bersatu melawan Allah. Dia pasti mati! Tapi bukan kematian biasa karena Yesus sendiri yang memilih untuk sengsara dan mati bagi kita. Selama minggu sengsara itu kita akan berpuasa dan berdoa lebih lagi, sampai akhirnya tiba Jumat Agung dan Paskah.

Mari siapkan diri kita untuk memasuki masa Lent ini. Jumat Agung dan Paskah sudah dekat!

Monday, February 04, 2013

David Brainerd - John Thornbury

Buku yang aslinya berjudul “Five Pioneer Missionaries” ini diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit
Momentum di dalam lima jilid. Salah satunya diberi judul “David Brainerd: Misionaris Bagi Suku Indian Amerika”.

David Brainerd lahir pada tanggal 21 April 1718. Orang tuanya mempunyai 5 orang putra, 4 di antaranya menyerahkan hidup untuk memberitakan Injil dan 3 orang dari mereka meninggal pada usia muda. Yang satu meninggal pada usia 27 tahun. Satu lagi meninggal 6 tahun kemudian ketika masih mahasiswa. Dan David Brainerd sendiri meninggal pada usia 29 tahun. Ada 3 kisahnya yang sangat berkesan bagi saya:

Pertama, kisah pertobatannya. Sekalipun sudah lama menjadi orang Kristen, tapi ia merasa belum sungguh2 diselamatkan. Ia sering berjalan sambil berdoa dengan perasaan tertekan karena merasa terancam hukuman kekal. Ia berpikir bahwa kalau ia bisa merasa hancur luluh karena dosa, rendah hati, penuh kasih dalam berdoa, tunduk pada apa pun yang dilakukan Tuhan pada dirinya, dan menerima sepenuhnya ajaran Alkitab, barulah ia yakin telah diselamatkan. Sampai ia menyadari bahwa keselamatan berada di luar kemampuannya sendiri dan semua kegiatannya seperti berdoa, berpuasa, dan lain-lain adalah sia2 karena untuk kepentingan diri sendiri. Akhirnya pada usia 21 tahun, ketika sedang berjalan dan berdoa, tiba2 terang surgawi memancar dalam jiwanya. Ia tidak melihat cahaya, tapi suatu pandangan yang baru tentang Allah muncul dalam hatinya: kemuliaan Ilahi. Dia diam, tertegun, kagum! Dia merasa ditelan seluruhnya ke dalam Tuhan sampai hampir tidak menyadari ada makhluk seperti dirinya! Dan karena peristiwa itu, Brainerd memiliki kerinduan kuat untuk mempermuliakan Tuhan.

Membaca kisah pertobatannya membuat saya berpikir betapa “gampangan”nya dan sembarangannya banyak orang Kristen hari ini! Kita menawarkan keselamatan yang gampangan (cukup sebut “saya mau percaya Yesus”) dan orang2 menerima keselamatan yang gampangan! Hasilnya tidak ada keseriusan mengikut Tuhan, tidak ada kerinduan untuk mempermuliakan Tuhan. Saya tidak bilang “mari kita mempersulit Injil” tapi kita sering membuat Injil terlalu murahan.

Kedua, kisah pendidikannya. Ia belajar sangat keras selama menjadi mahasiswa di Yale dan menjadi mahasiswa terbaik di kelasnya. Tetapi ketika hampir lulus, sesuatu terjadi (kisahnya panjang) dan Brainerd dikeluarkan dari Yale. Di salah satu gedung asrama mahasiswa di Yale hari ini, terpampang inskripsi “David Brainerd, angkatan 1743”. Gedung ini dibangun oleh Yale untuk menghormati Brainerd yang pernah dipermalukan dan dikeluarkan dari universitas itu.

Orang pandai ini bisa menikmati penghormatan dengan prestasi akademiknya, tapi dengan cara yang ajaib Tuhan mengarahkan dia pada jalan hidup yang lain. Dan nama Brainerd hari ini dikenal karena pekerjaan misinya dan bukan prestasi akademisnya.

Ketiga, kisah komitmennya. Ia melayani orang2 Indian di ladang yang sangat sulit. Penderitaan fisik bertubi2 ia alami sampai akhirnya ia meninggal di usia muda. Penderitaan batin ia terima - kesepian luar biasa, penolakan, kesedihan. Dan saya tidak bisa tidak terharu membaca tulisannya di titik balik terakhir hidupnya. Ia sudah sakit2an, ia tahu akan mati kalau terus hidup seperti itu, dan ia juga ingin menikah (ia menjalin hubungan dekat dengan anak dari Jonathan Edwards). Dia membayangkan hidup yang bahagia kalau ia menetap dan membangun keluarga, tapi akhirnya dia menulis:

Namun kini pemikiran2 ini hancur berkeping2, bukan dengan paksa, melainkan dengan pilihan sukarela; sebab saya merasa bahwa Allah telah bekerja dalam hidup saya untuk mempersiapkan saya untuk hidup dalam kesendirian dan penderitaan, dan bahwa saya tidak akan kehilangan apa2 dalam hal yang terkait dengan dunia, jadi saya tidak rugi apa pun bila saya melepaskan semua keinginan itu.

Bagi saya adalah baik bila saya miskin, tanpa rumah dan keluarga, tanpa kenyamanan hidup yang dinikmati umat Allah yang lain, untuk mana saya bersukacita bagi mereka. Namun bersamaan dengan ini saya melihat begitu banyak kemuliaan kerajaan Kristus dan begitu kuat kerinduan untuk memperluasnya di dunia, sehingga hal ini menelan semua pemikiran saya yang lain, dan membuat saya rela, ya bahkan bersukacita, untuk menjadi musafir yang sendirian di padang belantara sampai akhir hayat saya, asalkan saya boleh mengambil bagian dalam pekerjaan yang indah dari Penebus saya yang agung.

Sekarang saya berikrar untuk mempersembahkan jiwa saya kepada Allah untuk melayani Dia sepenuhnya. Segenap pikiran dan kerinduan saya menyerukan, “Ini saya, Tuhan, utuslah saya, utuslah saya sampai ke ujung bumi, utuslah saya kepada bangsa kafir yang liar dan ganas di padang belantara, utuslah saya menjauhi segala sesuatu yang dinamakan kenyamanan di bumi, atau kenyamanan duniawi, utuslah saya bahkan kepada maut sekalipun, bila itu dalam pelayanan bagi-Mu dan untuk memperluas kerajaan-Mu…

Perkampungan yang tenang, tempat tinggal yang tetap, persahabatan yang lembut, yang saya harap akan saya nikmati bila saya memilih keadaan itu, kelihatan sangat berharga bagi saya bila dipertimbangkan secara tersendiri, namun bila dipandang dalam perbandingan, ini seolah-olah tak ada artinya… Kendati itu berarti saya akan kehilangan semua yang lain, saya tak dapat berbuat yang lain, sebab saya tidak dapat dan tidak mau memilih yang lain.

Atas pilihan saya sendiri, saya terpaksa mengatakan, “Selamat berpisah, teman2 dan kenyamanan duniawi, juga yang paling saya kasihi, bila Tuhan memintanya: selamat tinggal, selamat tinggal; saya rela menghabiskan hidup saya sampai saat terakhir, dalam gua2 dan celah2 gunung di bumi, bila dengan demikian kerajaan Kristus dapat di perluas”.

Kalau anda tidak tergerak dengan tulisan di atas, maka mungkin ada yang salah!

Brainerd bukan saja mempertobatkan banyak orang Indian, tetapi pelayanannya dan tulisannya mempengaruhi sangat banyak misionari2 Kristen, Dan dengan tulisan di atas, Brainerd memutuskan menghabiskan sisa hidupnya di ladang misi. Ia berikan dirinya sepenuhnya sampai habis untuk Tuhan.

Buku ini cukup kecil dan cukup tipis, hanya 121 halaman. Secara penulisan, saya kira cukup baik. Saya hanya kurang menikmatinya karena ini versi terjemahan. Tapi kisah Brainerd sendiri membuat saya speechless.

Saturday, January 26, 2013

Spiritualitas dan Etika

Philip Yancey di dalam tulisannya yang berjudul “Nietzsche Was Right” mengutip sebuah cerita tentang seorang Kristen yang “sungguh-sungguh” – a committed Christian. Orang itu sedang berencana untuk meninggalkan suaminya. Sementara di saat yang sama, orang itu berkata bahwa dia biasa bangun sangat pagi “untuk satu jam bersama dengan Bapa”. Ketika Yancey bertanya apakah di dalam satu jam itu Tuhan mengatakan sesuatu tentang keputusannya meninggalkan suaminya, orang itu berkata, “Bapa dan saya berada dalam sebuah relasi, bukan moralitas. Relasi berarti sepenuhnya supportive dan berdiri di sisi saya, bukan menghakimi saya”.

Kisah di atas makin familiar hari ini. Banyak orang yang menganggap dirinya dekat dengan Tuhan, relasinya dengan Tuhan tidak ada masalah, tapi sengaja dan terus hidup dalam dosa. Ketika semua menegur, dia merasa “hanya Tuhan satu-satunya yang mengenal dan mengerti diriku, yang lain tidak”.

Mengapa bisa terjadi hal seperti ini?

Pertama, khususnya gerakan Injili sangat menekankan sisi Allah yang adalah kasih. Allah adalah sahabat kita, Allah mengerti hati kita, Allah menolong di saat kita susah, dst. Beberapa orang (mis: Marva Dawn, Philip Yancey, N.T. Wright – walaupun dengan dasar yang mungkin berbeda) mengklaim bahwa penekanan Alkitab bukanlah God loves tapi God rules. Allah itu memerintah, berkuasa, harus disembah, dalam hidup kita. Saya setuju dengan itu.

Tapi yang membuat penekanan pada God loves menjadi salah adalah karena hari ini konsep tentang ‘love’ sangat berbeda dengan Alkitab. Dalam Alkitab, kasih akan menghajar yang dikasihi karena ingin yang dikasihi menjadi benar. Tapi konsep tentang kasih hari ini sangat kekanak-kanakkan: Kasih berarti memberi apa saja yang saya mau dan perlu, dan selalu memaklumi mengapa saya memerlukannya! Persis seperti anak kecil yang marah, nangis, teriak, ketika tidak dibiarkan makan permen terlalu banyak. Maka spiritualitas dan etika terpisah: “Saya mengasihi dan dikasihi Tuhan” dengan “Saya mentaati Tuhan yang memerintah saya”.

Kedua, banyak gerakan spiritualitas memberikan penekanan terlalu berlebihan pada sisi perasaan – peromantisan hubungan dengan Tuhan. Tulang pengajaran yang kuat diabaikan sementara perasaan akan kehadiran Tuhan ditekankan. Saya percaya Tuhan adalah Tuhan yang hidup yang harusnya kita alami. Ketika kita ‘tahu’ tentang Dia, pengetahuan itu harus berubah menjadi pengenalan akan Dia dan pengalaman dengan Dia. Masalahnya celaka sekali kalau kita tidak ‘tahu’ tentang Dia, siapa yang mau kita kenal? Tanpa sadar akhirnya konsep kita tentang Tuhan adalah berhala buatan kita sendiri. Marva Dawn berkata ketika gereja gagal mengembangkan tulang doktrin, sangat mungkin terjadi pemisahan antara spiritualitas dan etika (kelakuan, moralitas): “Saya dekat dengan Tuhan” dan “Saya harus mentaati Dia”.

Maka betul kata Paulus kepada Timotius: Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2 Tim. 4:3-4). Mereka bukan tidak mau mendengar khotbah yang keras. Silakan khotbah yang keras, menegur dosa, atau apapun juga, tapi semua akan lewat di atas kepala. Tapi silakan khotbah yang ‘mengena’, tentang Allah yang peduli, mengasihi, maka telinga mereka dengan gatal menerima perkataan itu.

Saya tahu sulit untuk berdiri di tengah-tengah, jangan terlalu ke kiri atau ke kanan. Kita bisa jatuh ke ekstrim kiri atau kanan. Tapi bukankah itu tugas kita untuk selalu memeriksa kekurangan dan kesalahan ajaran kita, lengkap dengan segala bahaya di dalamnya?

Friday, January 18, 2013

Thesis Acknowledgements

Ketika semua selesai dan thesis akan diserahkan untuk dijilid, saya menambahkan kata-kata ‘Acknowledgements’ di dalamnya. Di bawah ini adalah apa yang saya tuliskan di situ:

The writing of this thesis has taken longer time than I have earlier expected, but the process has been rewarding. This topic grew out of my curiosity after observing the confusion among today’s church members about mission obligation. On the one hand, some people assert that only some are called to be the evangelists while the rest need only to support them, thus the drive for mission in the church is weakened. On the other hand, some people assert that each individual believer has the responsibility to do the active evangelization, i.e. go and preach, thus induces unnecessary “guilty feeling” in those who think that they are not called nor gifted to do so. It was this curiosity that has provided energy for me to finish this thesis.

I would like to express my gratitude to my supervisor, Prof. Tan Kim Huat. I remember that when, for some reasons, I withdrew from the college in my second semester, he invited me to keep attending his lectures although they should be held at the Coffee Bean because of me! His kindness and his commitment to teach have deeply touched me. Moreover, this thesis will not be as it is without his critical comments and helpful suggestions. If the final result of this thesis is deemed unsatisfactory, the responsibility for that rests solely on my shoulder.

My gratitude also goes to the leaders and members of my church back in Jakarta, Gereja Kristus Yesus - Jemaat Green Ville. They allowed me to pursue further study and supported me all the way. Thanks, too, are due to the leaders and members of Gereja Kristus Yesus – Singapore, whom I ministered during my study. They have been very understanding and supportive though many times they found that their pastor was not able to do more due to his long hours of research in the library. Their prayer and loving support will always be remembered.

I must also thank my family. My parents in Indonesia have been very supportive, though never did they fully understand why their son should go to study theology in Singapore. My brother and sister have always been supportive too. My brother in law has set aside his time to read the draft of this thesis and gave many helpful suggestions to make it more readable.

Last, but not least, the lion’s share of my gratitude must go to my wife, Yudith. This thesis often took time which could have been spent with her. She was always there to be my “prayer-warrior” and constant source of encouragement during that hectic period of full-time study and full-time pastoring. And so I dedicate this thesis to her with the prayer that the Lord may grant us many more opportunities ahead to work hand in hand in His mission field.

To God be the glory!

Friday, January 04, 2013

Ibadah dan Misi

Sebagian orang Kristen melebih-lebihkan hubungan gereja dengan misi. Mereka mengatakan “Gereja ada untuk misi” atau “Gereja kalau tidak bermisi bukan gereja”, dst. Kalimat-kalimat seperti itu salah! Gereja ada bukan untuk misi! Gereja ada untuk menyembah Allah!

Maka kalimat Piper di dalam bukunya sangat tepat: Mission begins and ends in worship. Orang-orang yang menyembah Allah akan bermisi di dalam dunia seperti Allah. Dan tujuan dari semua misi adalah supaya ada lebih banyak lagi penyembahan kepada Allah. Maka benar: Mission begins and ends in worship!

Ketika gereja tidak bermisi, mungkinkah kesalahannya adalah pada ibadah kita? Ibadah seperti apa yang selama ini kita lakukan, yang tidak menyebabkan jemaat rindu melakukan sesuatu di dunia untuk Tuhan? Ibadah seperti apa yang selama ini kita lakukan, yang hanya membuat orang Kristen nyaman?

Jangan cepat mengambil kesimpulan dulu. Tidak berarti gereja yang bermisi pasti dimulai dari ibadah yang baik. Banyak gereja dan orang Kristen menjalankan misi tanpa mengerti ibadah yang sesungguhnya dan tanpa penyembahan yang mendalam kepada Allah. Maka mereka melakukan misi mulai dari starting point yang salah dan juga untuk tujuan yang salah.

Banyak orang melakukan misi tanpa kedekatan dengan Allah, tidak dimulai dari ibadah tapi hanya dari kesukaan akan aktifitas misi atau dari kewajiban. Dan misi seperti inilah yang nantinya menghasilkan kedangkalan iman Kristen di ladang misi.

Mari bangun ibadah yang benar, yang akan mendorong orang bermisi sesuai kehendak Tuhan, dengan tujuan lebih banyak lagi orang beribadah kepada Allah yang hidup.

Wednesday, January 02, 2013

Pelayanan Apa?

We ought not to worry if after many years of service we still are asking how best we can serve God and fulfill our call; it is worrisome if we have stopped asking – Marva Dawn, The Sense of the Call, p.30.

Ini kalimat yang sangat bijak! Paling tidak ada tiga dasar yang membenarkan kalimat itu:

Pertama, dunia kita dinamis. Kondisi, tantangan, kebutuhan, terus berubah. Kalau kita sungguh ingin melayani Tuhan di dunia ini, maka tidak mungkin kita puas dengan apa yang kita lakukan di masa lalu. Apa yang dulu dibutuhkan dunia, atau apa yang dulu tepat menjawab tantangan dunia, belum tentu sama dengan hari ini atau hari depan.

Kedua, diri kita juga terus berubah: fisik berubah makin lemah, pengalaman bertambah, pemikiran dan kerohanian –harusnya- bertumbuh. Apa yang dulu bisa kita lakukan belum tentu bisa kita lakukan hari ini. Sebaliknya apa yang dulu tidak bisa kita lakukan mungkin bisa kita lakukan hari ini.

Ketiga, Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup! Pelayanan adalah mengikuti panggilan dari Tuhan yang hidup. Dia berjalan di depan, kita mengikut di belakang. Pelayanan adalah berjalan mengikut dengan ketaatan. Tapi dengan sangat mudah pelayanan berubah menjadi ‘rumah’. Kita nyaman di situ, kita membangun istana di situ, dan kita berhenti mengikut Dia

Maka kita memang harus terus bertanya dan terus bertanya… bagaimana hari ini saya memenuhi panggilan saya dan bagaimana hari ini saya memberikan yang terbaik untuk melayani Tuhan? Semua orang Kristen, apalagi para hamba Tuhan, harus terus mempertanyakan itu secara periodik.

Mungkin kita perlu bertanya lagi soal lokasi kita melayani? Atau bidang kita melayani, haruskah masih di situ? Atau kelompok orang yang kita layani? Atau mungkin caranya, adakah yang perlu diubah? Atau konsepnya, adakah yang lebih tepat? Atau kesempatan apa yang sekarang terbuka? Atau pelayanan apa yang membuat karunia rohani kita dipakai dengan lebih baik? Atau mungkinkah Tuhan sedang memberi arah yang baru? Atau…?

Ketika kita tidak lagi mempertanyakan semua itu, mungkin itu berarti kita tidak peduli lagi dengan kehendak Tuhan. Atau mungkin itu berarti kita tidak peka lagi dengan keadaan dunia. Atau mungkin itu berarti kita tidak bertumbuh sama sekali. Pelayanan kita mungkin sudah tanpa arah, tanpa maksud, dan tanpa makna, kita hanya melakukan Christian job. Maka betul kata Dawn: It is worrisome if we have stopped asking.

Silakan bergumul dan selamat tahun baru!

Friday, December 28, 2012

Rumah Doa Bethel

(Revisi 7 Jan 2015)

Saya ingin merekomendasikan Rumah Doa Bethel.

Beberapa tahun lalu, hampir setiap bulan saya mengajak sekitar 15 orang pemuda dari GKY Green Ville untuk retreat di Rumah Doa Bethel. Biasanya kami sampai di sana malam hari, lalu istirahat. Besok paginya masing-masing berdoa pribadi di kamar-kamar doa atau pondok-pondok doa. Ada bahan yang saya sediakan jika mereka merasa membutuhkan bantuan. Setelah sarapan, kami sharing, lalu ada beberapa session bicara tentang doa dan kemudian berdoa lagi. Siang hari istirahat – sesuatu yang jarang di Jakarta. Sore hari duduk-duduk ngobrol di teras dengan suasana yang sejuk dan teduh. Lalu setelah berdoa lagi, malam hari kami ke Kampung Daun (mungkin hanya 100m lebih dari situ). Paginya masing-masing berdoa pribadi lagi, lalu pulang. Retreat seperti itu sangat meneduhkan.

Rumah Doa Bethel tidaklah besar. Kapasitasnya hanya 8 kamar @max. 3 orang. Alamatnya di Bandung di Kompleks Triniti Kav. C1-C3A, satu kompleks dengan Kampung Daun. No. telpon: 022-2784580. Sekarang ini (Januari 2015), biayanya Rp.250.000/kamar (tidak dihitung per orang). Untuk makan boleh mencari sendiri atau minta disiapkan dengan biaya sekali makan Rp.36.000/orang untuk makan siang dan malam dan Rp. 21.000/orang untuk makan pagi. Tinggal telpon untuk reservasi.

Setiap kita membutuhkan waktu untuk tenang, berdoa, dan mencari wajah Tuhan. Kita membutuhkan waktu dan tempat untuk itu. Untuk ke Rumah Doa Bethel, tidak perlu beramai-ramai, bisa pergi sendirian kesana. Baru-baru ini saya kesana, istri saya menemani satu malam lalu saya melanjutkan satu malam lagi sendirian.

Jika anda belum pernah Retreat pribadi atau Retreat kecil, cobalah lakukan (dimanapun, tidak harus di Rumah Doa Bethel). Jika anda sudah pernah, cobalah lakukan lagi. Kita semua perlu itu.

Additional notes (7 Jan 2015):
Saya baru saja kembali dari sana di awal tahun 2015. Ada beberapa hal yang menjadi masukan saya bagi pengelola. Sekarang ini Rumah Doa Bethel dikelola secara lebih "profesional". Saya beri tanda kutip karena profesional mungkin di dalam arti lebih rapih, lebih teratur, lebih ada sistem-nya, tapi bukan berarti lebih nyaman. Saya sendiri merasa ada beberapa hal yang menjadi lebih tidak nyaman sekarang ini, paling tidak adalah hilangnya suasana kekeluargaan.

1. Dulu ketika ke sana saya bisa dengan mudah minta tambah 1 malam atau mengurangi 1 malam. Tergantung suasana hati dan kebutuhan rohani saya. Sekarang sulit, profesionalisme menuntut manajemen seperti hotel, booking harus pasti berapa orang, berapa kamar, tanggal berapa sampai tanggal berapa, pembayaran harus didahului uang muka, dst.

2. Dulu saya tinggal bilang mau pesan makan untuk pagi atau siang atau malam dan berapa porsi. Menu terserah. Belakangan saya harus pilih menu, masih ok. Sekarang bahkan saya harus menghadapi "marketing" seperti mengapa tidak ambil paket saja, mengapa tidak pesan makan malam sekalian, nanti susah keluar lho di sana, dst.

3. Dulu (satu setengah tahun yang lalu) biaya menginap Rp.150.000/kamar (untuk 1-3 orang), sekarang Rp.250.000. Entah salah dimana, tadinya waktu reservasi saya diberitahu bahwa harganya Rp.300.000/malam dan bahkan akan naik lagi! Rumah Doa menjadi berkat bagi orang-orang yang ingin sendirian menenangkan diri di sana tetapi bagi yang dari Jakarta (ada biaya bensin dan tol) jika ke sana sendirian biayanya menjadi cukup mahal. Saya mengerti bahwa biaya operasional Rumah Doa juga besar, tetapi mengelola sebuah tempat untuk melayani dengan sebuah wisma memang berbeda.

Dulu ketika melakukan pembayaran saya selalu disodori amplop persembahan yang bisa diisi jika saya mau. Sekarang saya terkejut dengan kalimat: "Jangan lupa ada amplop persembahan yang HARUS diisi."

4. Sistem penggunaan ruang doa, walaupun maksudnya supaya lebih teratur malah jelas tidak baik. Saya terganggu dengan kebijakan mereka yang tidak mengizinkan kami menggunakan semua ruang doa dengan bebas dengan alasan "reserved" untuk tamu lain yang mungkin tiba-tiba datang. Kami yang sudah datang duluan, menginap di sana, harus selalu mengalah jika ada tamu lain yang tiba-tiba datang... bagi saya itu sangat tidak masuk akal. Ada banyak ruang doa dan pondok doa, mengapa tidak dibiarkan natural saja, ada yang pakai ya sudah, ada yang kosong ya silakan masuk.

5. Saya kaget melihat ada TV di ruang tengah/ruang makan. Ruang itu berada persis di depan kamar dan menjadi ruang yang nyaman tempat sharing dan membaca buku. Bagaimana jika ada tamu yang memutar TV di situ? Sewaktu kami di sana memang tidak ada yang memutar TV, tapi waktu rombongan teman saya ke sana, ada keluarga lain yang berada di situ dan memutar TV. Sangat mengganggu. Rumah Doa tidaklah besar dan suara TV akan sangat mengganggu.

Saya harap ada rekan-rekan yang punya akses ke pengelola untuk menyampaikan masukan-masukan di atas. Di luar keluhan-keluhan di atas, suasana Rumah Doa tetap baik dan menjadi berkat bagi kami. Saya tidak tahu dimana bisa menemukan tempat seperti ini lagi yang tidak terlalu jauh dari Jakarta. Maka saya menulis bukan untuk menjelek-jelekkan tetapi saya ingin tempat ini terus menjadi berkat bagi saya dan banyak orang lain.

 Bangunan utama berisi kamar, ruang makan dan ruang pertemuan. Di depan terlihat teras tempat duduk-duduk waktu pagi atau sore. 

 Di tengah adalah aula, di kiri kanan adalah bangunan berisi kamar-kamar doa, sayang saya tidak punya fotonya.

 Kamar

Pondok doa, ada beberapa yang seperti itu