Friday, July 16, 2021
Don't Waste Your Suffering
Thursday, July 08, 2021
Covid dan Iman
berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Wednesday, June 23, 2021
Selalu Butuh Yesus
orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Markus 2:17)
Suatu kali
Yesus sedang duduk makan bersama dengan para pemungut cukai dan "orang-orang berdosa
lainnya." Yang dimaksud dengan "orang-orang berdosa" adalah mereka yang oleh para pemimpin agama Yahudi dianggap
tidak menjalankan kewajiban agama, atau berhubungan akrab dengan orang-orang non-Yahudi, atau yang pekerjaannya dianggap kotor seperti pelacur
atau bahkan penyamak kulit yang selalu berurusan dengan bangkai hewan. Yesus
duduk makan bersama dengan kelompok orang-orang yang seperti itu.
Kemudian beberapa pemimpin
agama, yaitu ahli Taurat dari golongan Farisi, yang terkenal paling ketat,
melihat hal itu dan protes: "Mengapa Yesus makan bersama-sama dengan pemungut
cukai dan orang berdosa?" Mereka menyalahkan Yesus. Jikalau Dia rabi, guru agama
Yahudi, jikalau Dia orang benar, bagaimana mungkin Dia mau duduk makan bersama
dengan orang-orang seperti itu?
Yesus yang mendengar itu kemudian
berkata: “Bukan orang yang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku
datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Apa maksud
kalimat itu?
Di satu sisi, kalimat ini berarti
Yesus menegaskan bahwa Dia datang justru untuk orang2 yang dikelompokkan
sebagai orang berdosa itu. Karena mereka inilah yang sakit, merekalah yang
berdosa, maka merekalah yang memerlukan Yesus. Dan Yesus memang datang untuk
mereka.
Tetapi, di sisi lain, kita tahu bahwa tidak ada orang yang benar. Karena di hadapan Tuhan sesungguhnya tidak ada orang yang tidak berdosa sehingga tidak memerlukan Yesus. Maka yang ada sebetulnya hanyalah orangorang yang merasa dirinya benar. Mereka merasa mereka mampu hidup tanpa Juruselamat. Mereka merasa sanggup untuk berjalan sendiri. Mereka merasa tidak membutuhkan Yesus. Tapi betulkah mereka tidak membutuhkan Yesus? Karena bukankah sebetulnya mereka juga orang berdosa?
Disinilah masalahnya. Semua orang membutuhkan Yesus. Tetapi kenyataannya, tidak semua orang mau mengaku dirinya membutuhkan Yesus.
Dan ayat ini bukan hanya
bicara soal keselamatan. Tetapi juga memberikan prinsip untuk kehidupan
Kristen.
Ironis sekali! Karena pada
waktu kita percaya, bukankah kita sudah mengakui kelemahan kita, keberdosaan
kita, maka kita datang kepada Tuhan Yesus dan berseru memohon anugerah-Nya?
Kita meletakkan percaya kita pada Yesus. Alangkah bodohnya ketika kita
sudah percaya dan tinggal di dalam Yesus, lalu kita mulai meletakan percaya kita
pada diri kita. Kita rasa sekarang kita mampu sendiri. Kita rasa kita adalah
orang benar dan baik. Kita merasa tidak membutuhkan Yesus lagi.
Sebaliknya, alangkah bodohnya
juga ketika kita terus merasa diri berantakan, lemah, berdosa, tanpa mau
meletakkan beban itu semuanya di kaki Yesus yang sudah tinggal di dalam kita.
Kita lupa bahwa kita dulu memang sudah mengaku bahwa kita orang yang seperti
itu, berantakan, lemah, berdosa, tapi bukankah kita sudah datang kepada Yesus
dan meletakkan percaya kita pada Yesus? Mengapa tidak percaya lagi?
Kita membutuhkan pertolongan,
anugerah, kemurahan Tuhan Yesus, bukan hanya pada waktu kita menerima
keselamatan, tetapi juga setiap saat di dalam hidup Kristen kita, sampai kita
bertemu dengan Dia dalam kekekalan.
Friday, June 04, 2021
Social Media: A Heart Check
Salah satu cara kita menggunakan social media adalah dengan membagikan banyak hal tentang kehidupan pribadi kita atau pendapat pribadi kita. Tetapi banyak orang tidak sadar bahwa jikalau kehidupan kita diumpamakan seperti sebuah film, maka apa yang kita post di social media sebetulnya hanya menampilkan satu potongan adegan saja di satu momen. Seperti ketika kita menonton film kemudian kita screenshot satu momen lalu kita tampilkan itu. Jelas apa yang akan terlihat hanyalah sebuah potongan momen kecil dari film itu dan tidak mewakili keseluruhan film itu!
Masalahnya, orang yang melihatnya seringkali menganggap satu potongan momen itu mewakili seluruh film! Padahal jelas tidak.
Misalnya saja ketika kita pergi dengan keluarga, sebetulnya
sambil pergi kita mengalami banyak masalah, orang tua yang membuat repot,
pertengkaran dengan suami/istri, anak-anak yang bandel. Pokoknya suasana sangat
bikin BT. Lalu kita sampai di depan air mancur. Dengan terpaksa untuk
mencairkan suasana lalu kita bilang “ayo foto”. Waktu foto, semua langsung
pasang muka senyum untuk foto… cheeerrsss… Ketika kita tampilkan itu di social media, komentar yang bermunculan adalah: “wah seneng ya jalan-jalan!”,
“lucu ya anaknya”, “keluarga bahagia nih”, dst. Padahal apa yang terjadi
sangat jauh berbeda. Tapi itulah social media!
Social media hanya menampilkan potongan-potongan, momen-momen, dari hidup kita. Tetapi orang yang melihatnya mengira itu melukiskan keseluruhan, atau paling tidak sebagian besar, dari hidup kita.
Maka betapa pentingnya kita bijak dalam menggunakan social media. Saya kira prinsip yang disampaikan rasul Paulus di dalam 1 Korintus 10 bisa membantu kita.
Pertama, apakah ini diperbolehkan? Di dalam 1 Korintus 10, rasul Paulus sedang bicara soal makanan dan dia berkata semua diperbolehkan. Tetapi dalam hal kita posting sesuatu, kita perlu bertanya apakah diperbolehkan. Standar kita bukan hanya masalah hukum negara tetapi juga hukum Tuhan, standar moral Tuhan.
Kedua, apakah berguna? Ketiga,
apakah membangun? Karena tidak segala sesuatu berguna dan membangun, dan untuk
apa kita menghabiskan waktu kita dan juga waktu dari orang yang melihat apa
yang kita post itu, untuk sesuatu yang tidak berguna dan membangun.
Maka saya mengusulkan sebelum kita posting sesuatu kita perlu bertanya dulu kepada diri kita:
Dalam hal apa postingan saya berguna dan membangun orang lain? Apakah postingan ini menolong orang misalnya untuk mengevaluasi diri, memikirkan hidup dengan lebih bijak, memberikan informasi yang dibutuhkan, atau mendorong mereka hidup lebih baik di dalam dunia ciptaan Tuhan ini? Apakah postingan itu bisa menolong orang yang sedang lemah, atau memberikan inspirasi untuk berbuat kebaikan, atau mendorong mereka untuk bertumbuh?
Pertanyaannya adalah
bagaimana ini bisa berguna? Bagaimana ini bisa membangun?
Sebaliknya kita perlu bertanya juga apakah postingan saya berpotensi membuat orang lain menjadi semakin berantakan. Misalnya, kita post humor kotor, atau keluhan dan kemarahan kita yang mengajak orang lain ikut marah bersama kita, atau mungkin kegiatan kita yang terkesan “nakal”. Untuk apa kita post itu?
Karena media sosial hanya menampilkan potongan-potongan momen-momen yang tidak mewakili keseluruhan, kita juga perlu berpikir dengan menampilkan potongan momen itu, dampak apa yang dihasilkan? Misalnya kita post foto selfie kita, atau ketika memakai pakaian sexy, atau foto jalan2 kita, pikirkan dampak apa yang dihasilkan. Apakah ada gunanya dan membangun? Kalau tidak, apalagi kalau itu memberi pengaruh negatif, lalu untuk apa kita post itu?
Pertanyaan yang penting bagi kita sebagai orang Kristen dalam menggunakan social media adalah "what message that I share through this?" Pesan apa yang kita bagikan melalui ini. Karena hidup kita harus membawa message dari Tuhan. Dan itu bukan berarti hanya share firman Tuhan, tapi pesan yang baik dan membangun untuk kehidupan di dalam dunia ciptaan Allah ini.
Maka pertanyaan yang juga penting adalah apa motivasi kita ketika posting sesuatu? Apakah untuk kemuliaan saya, supaya orang memuji saya, atau untuk kemuliaan Tuhan?
Salah satu yang juga ingin saya singgung adalah cara kita menuliskan caption atau comment. Saya merasa banyak orang Kristen ketika berkomentar menunjukkan apa yang disebut oleh seorang teolog sebagai the age of outrage, sebuah zaman kemarahan. Banyak orang yang menuliskan caption dan comment dengan nada marah, kasar, atau mungkin berupa sindiran dengan tujuan agar yang disindir marah, atau sinisme maupun sarkasme, yang jelas tidak berguna dan tidak membangun. Maka kita perlu betul-betul bertanya apa motivasi kita ketika menuliskan sesuatu? Sekali lagi, apakah membangun dan berguna?
Saya juga ingin mengingatkan dari sisi kita yang melihat berbagai postingan di social media. Kita perlu bijak dalam memilah nilai-nilai yang kita terima melalui social media, apa yang benar dan salah, nilai apa yang perlu kita pelajari atau yang perlu kita abaikan. Kita juga perlu mengevaluasi perasaan yang muncul dalam hati kita ketika melihat berbagai postingan itu. Misalnya apakah kita iri? Sangat mudah untuk kita kemudian membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Bukan saja itu salah, karena sekali lagi media sosial hanya menampilkan potongan momen dan bukan keseluruhan hidup orang itu, tetapi saya yakin itu juga tidak berkenan kepada Tuhan.
Tuhan mau kita bersyukur untuk apapun, termasuk kekuatan, penyertaan dan berkat Tuhan yang dialami di dalam keadaan apapun di hidup kita. Tuhan mau kita mengerjakan hidup kita menjadi lebih baik bersama Tuhan. Sekedar tidak puas karena membandingkan hidup kita dengan orang lain tidak akan membawa kita kemana2.
Terakhir, jebakan besar di media sosial, termasuk mereka yang menggunakannya untuk pelayanan, adalah membandingkan jumlah likes, viewers, followers, subscribers, dst. Bukan saja itu tidak ada gunanya, tetapi itu juga menghasilkan motivasi yang tidak baik, dan mungkin mendorong kita melakukan hal yang tidak baik. Hidup kita bukanlah untuk mencari popularitas dan kemuliaan diri tetapi kemuliaan Tuhan.
Seharusnya kita hanyalah membagikan apa yang berguna dan membangun dan biarlah kepuasan kita didapatkan dari Tuhan yang bersuka melihat apa yang kita lakukan.
Monday, April 20, 2020
Gereja Setelah Covid-19
Buku The Trellis and The Vine
baru-baru ini mendapat perhatian khusus karena di bagian penutupnya, penulis
buku itu membayangkan terjadinya pandemi.Saya meringkasnya di bawah ini:
Bayangkan terjadi pandemi di seluruh bagian dunia anda dan pemerintah melarang orang berkumpul lebih dari tiga orang, untuk alasan kesehatan dan keamanan. Dan kondisi itu terjadi selama 18 bulan.
Kalau ada 120 jemaat di gereja anda, bayangkan bagaimana gereja tetap bisa berfungsi – tanpa ada pertemuan persekutuan rutin apapun, dan tidak ada persekutuan rumah tangga, kecuali hanya tiga orang yang berkumpul.
Kalau anda adalah pendetanya, apa yang akan anda lakukan?
Mungkin anda bisa kirim email atau menelpon mereka, atau membuat rekaman audio. Tetapi bagaimana bisa tetap mengajar dan menggembalakan mereka? Bagaimana mendorong mereka untuk tetap mengasihi dan melakukan hal yang baik di tengah situasi ini? Dan bagaimana dengan penginjilan? Bagaimana menjangkau orang baru dan melakukan follow up?
Anda perlu bantuan. Anda harus mulai dengan 10 orang jemaat pria yang dewasa secara iman, lalu bertemu secara intensif dengan mereka, bergantian dua orang demi dua orang selama dua bulan. Anda harus melatih mereka bagaimana membaca Alkitab, bagaimana berdoa dengan satu atau dua orang lain, dan dengan anak-anak mereka. Maka ada dua tugas mereka: Pertama, menggembalakan keluarga mereka dengan secara rutin membaca Alkitab dan berdoa. Kedua, mencari orang lain untuk dilatih dan didorong melakukan yang sama. Maka dalam waktu beberapa bulan gerakan ini akan meluas dengan cepat. Tugas anda adalah memberikan support kepada mereka sambil mencari orang lain lagi.
Akan ada banyak sekali kontak pribadi dan pertemuan kelompok kecil yang harus dilakukan. Tetapi ingat bahwa tidak ada kebaktian yang harus dijalankan, tidak ada seminar, tidak ada kerja bakti, tidak ada persekutuan rumah tangga, tidak ada acara apapun untuk diorganisir. Semuanya hanyalah mengajar dan memuridkan secara pribadi dan melatih orang untuk menjadi pembuat murid.
Ini pertanyaan yang menarik: Setelah 18 bulan seperti itu, ketika larangan akhirnya dicabut dan kita bisa kembali berkumpul untuk ibadah, persekutuan, dan melakukan semua aktivitas lainnya, apa yang akan berubah? Bagaimana program, pelayanan, dll, akan berubah?
Kita memang berharap bahwa pandemi Covid-19 ini tidak berlangsung sampai 18 bulan. Tetapi pertanyaan terakhir itu sangat menggelitik. Kalau selama 18 bulan, kita memelihara kehidupan rohani jemaat melalui kelompok kecil dengan Firman dan doa. Lalu selama 18 bulan itu juga kita menghasilkan orang-orang yang terjun menjadi pembuat murid – mereka mengajar orang membaca Alkitab dan berdoa untuk orang-orang itu. Kemudian selama 18 bulan itu juga kita melihat buahnya – bahwa orang-orang ternyata bertumbuh dengan Firman dan doa. Setelah 18 bulan berlalu dan kita terbiasa mencurahkan energi dan waktu pada pelayanan yang satu itu dan kita melihat bahwa pertumbuhan terjadi tanpa semua kegiatan dan acara yang rutin dilakukan gereja, apakah tidak ada yang akan berubah ketika keadaan normal?
Saya percaya bahwa salah satu tujuan Tuhan mengizinkan kita mengalami krisis adalah untuk menggoncangkan kita. Mungkinkah ada sesuatu yang harus berubah?
Buku The Trellis and The Vine menggunakan perumpamaan pohon anggur dan terali untuk menggambarkan pekerjaan sesungguhnya dari gereja dan terali pendukungnya. Buku itu mengkritisi gereja karena membangun terlalu banyak terali pendukung sehingga tidak fokus mengerjakan pekerjaan anggur. Pekerjaan anggur bisa dengan sederhana dijelaskan sebagai pekerjaan dalam empat tahapan dengan tujuan masing-masing:
- “mengajak orang”
- “memberitakan Injil”
- “mempertumbuhkan”
- “memperlengkapi”
Di setiap tahap, kita melakukannya dengan Firman dan doa untuk mencapai tujuannya. Itulah pekerjaan anggur.
Sementara itu, kalau program adalah terali, maka kita perlu mengevaluasi seluruh program yang dilakukan di gereja kita dengan dua cara:
Pertama, program apa yang menunjang untuk kita mengajak orang? Untuk kita memberitakan Injil? Untuk kita mempertumbuhkan? Untuk kita memperlengkapi? Tidak perlu banyak program untuk setiap tujuan itu. Program adalah terali penunjang yang jelas dibutuhkan tapi yang penting adalah pekerjaan anggurnya berjalan.
Kedua, seberapa efektif program itu untuk tujuan itu? Berikan skala 1-5. Kita sering berpikir program ini bagus, program itu ada gunanya, yang ini penting, kalau tidak ada yang itu nanti bagaimana, dst. Kita akan dengan cepat berargumen bahwa ini "program mengajak orang baru lho" atau ini "program doa kok.. pasti doa penting kan" atau yang lainnya. Tapi mari jujur mengevaluasi bahwa banyak program yang, walaupun bisa disebutkan gunanya, sebetulnya efetivitasnya rendah untuk tujuan itu. Kita hanya perlu mempertahankan program yang sangat efektif.
Tenaga, waktu, dan perhatian kita terbatas. Ada orang beranggapan bahwa lebih banyak program lebih baik. Kalau kurang hamba Tuhan ya dicari lagi. Kalau kurang pelayan ya dicari lagi dari jemaat. Tapi sebagai organisasi, ini bukan masalah kurang orang tapi masalah fokus. Semakin banyak hal yang dilakukan oleh sebuah organisasi, semakin dia tidak bisa fokus mengerjakan yang terpenting yang seharusnya dilakukan. Yang celaka, jemaatpun tidak bisa digerakkan sepenuhnya menuju ke arah tertentu karena terlalu banyak arah.
Sekali lagi kita berharap pandemi Covid-19 ini berakhir sebelum 18 bulan. Kondisi kita juga tidak persis sama seperti pandemi yang dibayangkan oleh buku itu. Tapi saya yakin kita perlu menggumuli jawaban atas pertanyaan yang menggelitik ini: Setelah Covid-19 berakhir, apa yang akan kita ubah? Seperti apa gereja kita nanti? Kalau gereja kita tidak fokus mengerjakan pekerjaan anggur, lalu nanti setelah Covid-19 tetap tidak ada yang berubah dan semua berjalan kembali persis seperti dulu, pasti ada yang salah.
Mari kita gelisah. Mari coba berpikir dan mau berubah. Perubahan pastilah tidak nyaman dan banyak orang yang akan menentang. Tapi kalau kita betul mengerjakan yang terpenting yang harus dilakukan – dengan tenaga, waktu dan perhatian yang terfokus, kita berada pada jalur yang tepat.
Ketidaknyamanan perubahan mungkin akan membuat sebagian orang meninggalkan kita (mungkin jumlah jemaat akan berkurang?), tetapi yang paling penting adalah kita mengerjakan tugas sesungguhnya dari gereja dengan setia. Tuhan pasti memberkati.
Tuesday, February 18, 2020
Kerendahan Hati
Semakin lama saya semakin mengerti apa yang dikatakan
oleh Bernard of Clairvaux:"The three most important virtues are: Humility, humility, and humility."
(Tiga kebajikan/sifat kebaikan yang terpenting adalah: Kerendahan hati, kerendahan hati, dan kerendahan hati).
Tanpa kerendahan hati, di dalam pelayanan kita tidak akan mau belajar dan membuka wawasan lagi. Padahal berapapun banyaknya yang sudah kita tahu, ada jauh lebih banyak yang kita tidak tahu. Celakanya, kita yakin diri kita pasti benar.
Tanpa kerendahan hati, kita juga tidak akan bisa melayani orang lain dengan baik. Kita akan memandang orang sebagai objek yang bisa dimanfaatkan untuk sebuah tujuan, atau sebagai saingan yang perlu kita kalahkan, atau sebagai beban yang menyusahkan. Tetapi, kita tidak memandang mereka sebagai orang yang perlu dikasihi.
Tanpa kerendahan hati, kita akan selalu memandang diri sendiri lebih baik, lebih hebat, lebih tinggi, dari yang sebenarnya. Pandangan kita tentang diri sendiri selalu lebih baik daripada pandangan orang tentang kita karena kita cenderung mengecilkan kekurangan dan membesar-besarkan kelebihan kita sendiri.
Tanpa kerendahan hati, kita akan selalu memikirkan kepentingan diri sendiri. Apa yang saya dapatkan? Apakah saya diuntungkan atau dirugikan? Apakah saya dihormati? Apakah orang melihat betapa hebatnya saya? Apakah orang tahu apa yang sudah saya lakukan?
Tanpa kerendahan hati, kita tidak bisa menghargai orang lain. Bahwa orang lain punya kesulitannya sendiri. Bahwa orang lain perlu didengar. Bahwa orang lain perlu ditolong dan dilayani. Kita selalu merasa tahu yang terbaik dan kita ingin “pokoknya… dengar saya”.
Kerendahan hati tidak bisa dipisahkan dari kesadaran kita tentang relasi kita dengan Allah. Siapa kita di hadapan Allah? Seperti apa kita di mata Allah? Darimana asalnya semua yang kita bisa dan kita punya kalau bukan dari Allah? Apa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah? Kesadaran tentang relasi kita dengan Allah inilah yang menjadi dasar kerendahan hati.
Tetapi, betapa sulitnya ini karena kita seringkali lupa siapa kita di hadapan Allah. Itu sebabnya, di dalam hidup kita, seringkali yang muncul bukanlah kerendahan hati tapi kesombongan. Kita merasa diri hebat. Kita merasa diri layak. Kita merasa diri bisa. Kita merasa diri lebih dari orang lain. Kita merasa sudah tahu semuanya, sehingga tidak perlu mendengar dan mengerti orang lain dan tidak perlu belajar lagi.
Maka, tanpa kerendahan hati, sesungguhnya kita tidak bisa menjadi hamba yang baik dari Tuhan.
Tuesday, January 07, 2020
Jangan "Hakuna Matata"

“Hakuna Matata” adalah frase dari bahasa Swahili dari Tanzania yang secara literal berarti “no problem” (saya nyontek ini dari Wikipedia). Frase ini menjadi judul lagu yang dinyanyikan oleh Simba dan kawan-kawannya. Perhatikan lirik lagunya:
Hakuna matata…
It means no worries, for the rest of our days
It’s our problem-free philosophy
Hakuna matata…
Artinya tidak ada kuatir, sepanjang hidup kita
Itu adalah filosofi bebas-masalah
Saya perlu cerita sedikit alur film ini untuk menyampaikan maksud saya, apalagi untuk yang belum menonton.
Kalau ini adalah kisah nyata (dan Simba bukan anak singa tapi anak manusia) saya bisa membayangkan betapa hancurnya orang yang berada dalam situasi Simba. Waktu itu Simba baru saja lari dari pengalaman yang mengerikan. Dia mengira bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya, the Lion King. Pamannya yang jahat, yang menginginkan takhta, membuat dia lari meninggalkan segalanya. Maka Simba meninggalkan posisinya sebagai the new Lion King, mengabaikan keluarganya, rakyatnya, dan tanahnya.
Dalam keadaan seperti itulah dia bertemu dengan kawan-kawan baru yang kemudian mengajarkan filosofi “hakuna matata” kepadanya. Simba menerima filosofi itu dan hidup bersenang-senang di tempat yang baru, bersama lingkungan yang baru, tanpa terpikir untuk kembali.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan Rafiki (monyet Mandrill) yang menuntunnya bertemu dengan roh ayahnya. Di situlah ayahnya menegur dia: “Simba, you must remember who you are!” Siapa Simba? Dia adalah anak raja. Simba harus kembali ke tanahnya dan menjadi raja di sana untuk kesejahteraan keluarga serta rakyatnya. Sekalipun ada banyak tantangan dan kesulitan, dan lebih nyaman berada di lingkungan barunya, dia harus ingat siapa dirinya. Tempatnya bukan di situ tetapi di tanahnya dan ada panggilan hidup yang harus dia jalani. Remember who you are!
Ok, cukup cerita The Lion King. Sekarang mari kita pikirkan mana dari dua kalimat itu yang lebih cocok untuk menjadi filosofi kita?
Alkitab memang mengajarkan kita untuk tidak kuatir akan apapun. Tetapi ketidakkuatiran itu adalah karena kita percaya Tuhan memelihara hidup kita sekalipun ada banyak masalah. “Hakuna matata”, sebaliknya, mengajarkan kita untuk lari dari realita. Oleh karena kehidupan yang benar itu mengerikan, maka lupakan, jangan pikirkan, tidak perlu kuatir, bersikaplah seperti tidak ada masalah. Oleh karena kehidupan yang seharusnya dijalani itu sulit, maka tidak perlu dijalani.
Tetapi kita harus ingat siapa kita. Siapa kita? Anak Tuhan yang sudah ditebus dan terus menerus diberikan anugerah! Siapa kita? Orang yang sedang diubahkan menjadi serupa Kristus! Siapa kita? Orang yang diberikan misi oleh Tuhan!
Apa tantangan hidup kita? Banyak! Ada godaan untuk berdosa. Ada karakter, kebiasaan, kecenderungan, yang masih dipengaruhi oleh kelemahan dan keberdosaan kita. Lalu juga ada ketakutan, kemalasan, dan keinginan untuk menyenangkan diri dan bukan Tuhan. Maka “hakuna matata” sangatlah menghibur. Tapi ingatlah siapa kita! Tuhan dengan anugerah-Nya mengampuni dan terus mengubahkan kita. Jangan menyerah! Jangan kemudian hidup seperti bukan anak Tuhan! Tuhan juga terus memanggil kita untuk mengerjakan pekerjaan baik bagi kemuliaan-Nya. Jangan abaikan itu! Jangan hidup untuk kesenangan diri! Remember who you are!
Saya sadar tahun 2020 bukan tahun yang mudah untuk kita. Tapi bukankah tidak pernah ada tahun dimana Tuhan tidak sanggup untuk mengampuni, mengubahkan, dan memakai kita?
Remember who you are!


