Thursday, November 12, 2015

Cara Berpikir - Part 4: Don't Focus on the Symptoms, Address the Cause

Ini bagian yang keempat dalam tulisan seri “Cara Berpikir”. Saya pernah menulis di blog ini tentang
cara berpikir:
Cara Berpikir – Part 1: Apa sih Masalahnya? 
Cara Berpikir – Part 2: Benarkah Begitu?
Cara Berpikir - Part 3: Seeing Both the Forest and Tress

Semua masalah selalu ada “penyebab”nya di belakangnya. Kadang “penyebab”nya ada satu , dua, tiga, atau bahkan lebih. Setiap “penyebab” itu juga ada lagi “penyebab” di belakangnya. Demikian seterusnya… Kalau ditarik terus ke belakang…terussss ke belakang…lama-lama penyebabnya adalah dosa Adam. Artinya nariknya udah kejauhan!

Sederhananya begini, ada penyebab yang masih bisa kita rubah, ada penyebab yang tidak bisa kita rubah lagi alias harus diterima. Maka kita perlu mencari ke belakang dan bertanya terus “apa penyebabnya” sejauh ke penyebab yang masih dalam batas kemampuan kita untuk merubah.

Saya menggunakan dua istilah untuk menolong kita berpikir: “Symptoms” dan “Cause.” 

Symptoms” (gejala, keluhan, sesuatu yang muncul dan kelihatan) adalah sesuatu yang muncul ke permukaan yang diakibatkan oleh “cause” (penyebab). Ketika seorang pasien datang ke dokter, seringkali dia tidak tahu apa penyakitnya. Dia hanya akan datang dengan menceritakan symptoms yang dialami dan dokter juga menggali data dari symptoms yang diceritakan. Misalnya kalau dia demam, sudah berapa lama, sampai berapa suhunya. Lalu apakah perutnya sakit ketika ditekan, apakah lidahnya berwarna putih, apakah ada bintik merah di tangan, dst. Yang dilakukan seorang dokter adalah mencari sebanyak mungkin symptoms, lalu menebak apa cause nya. Dia tidak boleh hanya menangani symptoms; demam dikasih pereda panas, sakit perut dikasih panadol, dst. Itu dokter ngaco! Dia harus mencari cause-nya dan menyelesaikan akar masalahnya.

Kesulitannya adalah masalah selalu muncul dalam bentuk symptoms dan kecenderungan kita adalah mencoba menyelesaikan symptoms itu. Praktis. Cepat. Ada masalah ada jawaban. Tapi celakanya, kalau cause nya tidak dibereskan, maka masalah akan terus muncul. Bahkan kadang muncul dalam bentuk symptoms yang lain.

Di dalam pelayanan, berkali-kali saya melihat ini terjadi.

Jemaat mengeluh khotbah membosankan (symptoms). Kalau ditanya apa masalahnya, maka jawabannya adalah terlalu dalam, tidak praktis, terlalu “doktrinal” (analisa symptoms yang salah). Maka dicarilah tema yang lebih praktis, lalu pengkhotbah dipesankan untuk tidak membawakan yang dalam tapi yang ringan-dan-lucu saja. Padahal masalahnya bukan itu! Masalahnya justru mungkin karena pengkhotbah tidak membawakan dengan mendalam dan relevan (cause)! Justru Alkitab perlu diajarkan dengan sangat mendalam (jauh lebih mendalam dari yang kebanyakan hari ini terjadi di banyak gereja), tetapi tetap harus relevan.

Di beberapa gereja diterapkan jam kantor “9 to 5” untuk hamba Tuhan. Seringkali alasannya adalah: Jemaat aja ngantor.. ngapain aja hamba Tuhan kerjanya? Supaya yakin hamba Tuhan juga kerja, maka buat jam kantor (symptoms). Padahal di kebanyakan kasus, cause-nya adalah karena jemaat merasa tidak puas dengan pelayanan hamba Tuhan di gerejanya. Mungkin itu masalah relasi, leadership, khotbah, arah gereja, macam-macam. Kalau symptoms dibereskan dengan dibuatkan jam kantor, apakah masalah beres? Tidak, akan muncul symptoms yang lain.

Demikian pula dengan seruan beberapa orang untuk membuat program ini dan itu, untuk membuat perubahan di sini dan situ, dst. Alasannya? Jemaat perlu! Ini bagus untuk pertumbuhan gereja! Macam-macam sih alasannya. Jangan cepat-cepat! Karena kalau ditelusuri, seringkali bukan itu yang diinginkan dan dibutuhkan. Maka perlu discernment untuk melihat apa sebetulnya yang terjadi, apa penyebabnya, lalu apa yang betul-betul harus dilakukan.

Saya juga melihat ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Anak yang selalu menangis, ngambek, ngotot, minta untuk dibelikan mainan (symptoms), belum tentu sebetulnya menginginkan mainan itu. Mungkin yang dia inginkan adalah perhatian orang tuanya (cause). Satu-satunya yang dia bisa adalah menangis dan minta dibelikan mainan karena saat itulah, untuk sesaat, dia merasa diperhatikan. Tapi apakah masalahnya selesai? Tidak. Dia tetap butuh perhatian. Maka dia akan menangis lagi minta dibelikan mainan.

Beberapa anak menunjukkan prestasi yang buruk di sekolah. Sebagian orang tua berpikir sederhana, prestasi buruk, kurang rajin belajar, maka solusinya diberikan les tambahan. Padahal mungkin bukan itu masalahnya. Mungkin dia punya masalah dengan teman-teman atau guru di sekolah? Mungkin dia tidak cocok dengan cara belajar seperti itu? Mungkin dia tidak tertarik dengan pelajarannya?

Demikian pula dalam kehidupan kita. Ketika kita kesepian, kita memikirkan segala cara untuk mengisi kesepian dan kekosongan itu, dari mulai shopping, nonton, jalan-jalan, dugem, apa saja. Tapi ujungnya tetap sepi. What’s wrong? Karena kita fokus hanya di symptoms: kesepian. Kita tidak addressing the cause: hati kita yang membutuhkan Tuhan.

Maka pola pikir ini bisa menolong kita dalam banyak hal. Jangan melihat sesuatu hanya di permukaan. Jangan melihat masalah hanya dari symptoms-nya dan jangan fokus memberekan hanya symptoms karena tidak akan beres. Address the cause!

2 comments:

T. Gunawan said...

Just saying my opinion ya Pak..
Perihal pelayanan, untuk menemukan cause dari symptoms yang ada mungkin perlu dengan cara "blusukan" ke akar rumput, Pak, IMHO jangan hanya mengandalkan masukan dari pengerja atau pemerhati saja.

Demikian sama halnya perihal parenting, orang tua perlu sering memantau kondisi lingkungan anak langsung di "TKP" sekolahnya, jangan hanya melihat indikator nilai atau catatan guru di agendanya.

Jeffrey Siauw said...

Setuju pak :-)