Sunday, November 28, 2010
Pelayanan Anak Muda
Saya berasal dari sebuah gereja kecil di Jakarta. Di situ saya melayani sebagai pembimbing remaja. Dan di situ juga saya mulai mengembangkan kesukaan saya melayani anak muda. Pada waktu masuk ke sekolah teologi, saya harus mengakui bahwa sekolah teologi tidak mengembangkan kesukaan saya melayani anak muda. Sebaliknya saya menjadi makin kaku dan ja'im.
Satu tahun praktek pelayanan di gereja tidak mengubah itu. Satu tahun berikutnya melayani di sebuah gereja yang isinya 99% anak muda hanya berhasil mengubah saya sedikit. Satu tahun berikutnya lagi melayani sebagai misionaris juga tidak mengubah apa-apa, kecuali 1 hal yang penting: membuat saya kangen dengan suasana persekutuan yang hangat, khususnya di tengah anak muda seperti yang pernah saya alami. Pelayanan selama lima tahun berikutnya di tengah anak-anak muda GKY Green Ville barulah mengubah segalanya. I always thank God for them.
Saya tidak pernah merasa ahli dalam pelayanan anak muda, bahkan saya merasa kurang sekali belajar melayani anak muda. Saya hanya berusaha menyediakan diri untuk menjadi 'koko' dan 'bapak' rohani mereka walaupun tidak selalu berhasil.
Ada beberapa concern saya akan pelayanan anak muda di gereja-gereja, khususnya gereja Injili:
1. Kebanyakan gereja tidak punya hamba Tuhan yang khusus melayani anak muda, youth pastor. Kalaupun punya, coba lihat siapa yang dijadikan youth pastor? Biasanya mereka yang baru lulus sekolah teologi. Alasannya? Kamu muda, maka ya cocoknya pelayanan anak muda. Dan begitu hamba Tuhan itu makin senior, makin berkembang, dia dipindahkan ke tempat lain. Mungkin menjadi pembina komisi yang lebih dewasa atau bahkan sebagai gembala gereja. Maka pelayanan anak muda selalu sekedar menjadi 'batu loncatan', persiapan menuju pelayanan lain yang 'lebih penting'.
2. Sekolah teologi tidak mempersiapkan orang untuk menjadi youth pastor. Pelayanan anak muda (Youth ministry) biasanya diajarkan hanya sebagai teori. Dan sangat jarang lulusan sekolah teologi yang punya passion untuk pelayanan anak muda. Biasanya (kebanyakan) lulusan sekolah teologi akan mengatakan mereka suka 'pembinaan', suka 'mengajar'. Terus terang saya tidak pernah mengerti apa yang mereka maksud dengan 'pembinaan' dan 'mengajar'. Membina siapa? Mengajar apa? Untuk menjadi seperti apa? Apa yang mau diajarkan (bukan materi yang saya maksudkan)?
Seringkali orang mengatakan "anak muda adalah masa depan gereja". Satu sisi, saya setuju. Mereka adalah masa depan gereja, artinya di masa depan merekalah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin gereja. Tapi di sisi lain, saya tidak setuju. Menjadikan anak muda hanya sebagai "masa depan gereja" membuat mereka tidak penting di "masa ini". Masa ini, hari ini, mereka adalah anak Tuhan yang harus dirangkul dan dituntun karena hari ini pun hidup mereka berharga bagi Tuhan.
Saya bersyukur bahwa sekarang pun Tuhan masih memberikan saya kesempatan melayani anak muda, di GKY Singapore. I also thank God for them. Tapi kesulitan waktu seringkali membuat saya menyesal tidak bisa berbuat lebih banyak untuk mereka.
Saya tidak tahu pelayanan apa yang akan saya lakukan nanti setelah menyelesaikan studi saya di Singapore. Saya tidak merindukan jabatan, saya hanya merindukan fungsi, mengerjakan yang harus saya kerjakan. Tapi kemanapun, saya akan terus membagikan concern akan pelayanan anak muda.
Sunday, November 21, 2010
The Summons
Di dalam kebaktian penutupan semester 12 November yang lalu, ada sebuah lagu yang dinyanyikan: The Summons. Saya pernah mendengar dan menyanyikan lagu itu sebelumnya, tapi hari itu hati saya sangat tersentuh. Saya percaya lagu itu diurapi Tuhan untuk menyentuh hati banyak orang karena saya tahu ada 2 teman yang juga menulis di blognya tentang lagu ini.
Di bawah ini adalah teksnya:
Will you come and follow me if I but call your name?
Will you go where you don’t know and never be the same?
Will you let my love be shown
Will you let my name be known
Will you let my life be grown in you and you in me?
Sejujurnya saya bertanya kepada diri sendiri, "will I ?" Selama beberapa waktu ini saya banyak merenungi hidup rasul Paulus. Paulus adalah orang besar, bukan sekedar karena dirinya, tapi karena ketaatannya pada Tuhan. Saya ingin taat kepada Tuhan seperti dia, tapi maukah saya? It's not easy!
Will you leave yourself behind if I but call your name?
Will you care for cruel and kind and never be the same?
Will you risk the hostile stare
Should your life attract or scare?
Will you let me answer pray’r in you and you in me?
Saya ingat ketika Paulus disalahmengerti bahkan difitnah. Dia tanggung itu bagi Tuhan dan bagi gereja yang sangat berharga bagi Tuhan. Hidup dia menarik banyak orang tapi juga dibenci banyak orang. Ada kalanya dia sangat keras ketika menyangkut prinsip, ada kalanya dia menasihati dengan tegas, dan ada kalanya dia lembut. Tapi dia biarkan Tuhan bekerja melalui dia, merawat gereja Tuhan dan menanggung resiko karenanya.
Will you let the blinded see if I but call your name?
Will you set the pris’ners free and never be the same?
Will you kiss the leper clean
And do such as this unseen,
And admit to what I mean in you and you in me?
Kadang saya bisa melakukan pekerjaan yang tidak dilihat orang, menolong orang yang kesulitan, berdoa bagi banyak hal, menemani mereka yang sedang sedih, menjadi teman di saat kesusahan, mempersiapkan mereka yang akan meninggal, menghabiskan waktu entah berapa banyak untuk menuntun satu orang demi satu orang. Tapi bisakah ketika orang tidak melihat semua itu dan menuduh saya salah, saya hanya berkata dalam hati bahwa saya melakukan maksud Tuhan?
Will you love the “you” you hide if I but call your name?
Will you quell the fear inside and never be the same?
Will you use the faith you’ve found
To reshape the world around
Through my sight and touch and sound in you and you in me?
Pelayanan keluar dari dalam hidup yang ada tatapan, sentuhan, suara Tuhan. Hidup seperti itu akan membentuk sekitarnya. Ketika Tuhan sungguh ada di dalam hati, seperti air yang merembes masuk ke setiap pori-pori hati kita, ah... betapa bedanya hidup kita. Tapi pertanyaannya, seberapa dalam saya menempatkan Tuhan di dalam hati dan hidup saya?
Lord, your summons echoes true when you but call me name
Tuhan, perdengarkanlah lagi panggilanMu. Tunjukkanlah kasih dan jejak langkahMu. Supaya saya bergerak, hidup dan bertumbuh di dalam Engkau dan Engkau di dalam saya. Tolonglah saya yang lemah.
Thursday, November 18, 2010
Kisah Para Rasul 18: Kekuatan
Kis 18 dimulai dengan kalimat: "Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus." Dari Atena, Paulus pergi ke Korintus, dan Lukas tidak menceritakan bagaimana kondisi Paulus. Tetapi di dalam surat 1 Korintus, Paulus menceritakan apa yang dia rasakan waktu dia tiba di Korintus: "Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar." Kenapa? Beberapa penafsir Alkitab mengatakan bahwa mungkin pelayanan Paulus di Atena gagal. Dan itu sebabnya Paulus pergi ke Korintus dengan perasaan yang masih kacau, dengan kelemahan, ketakutan dan gemetar (trembling). Kita tidak tahu pasti mengenai itu.
Apapun penyebabnya, tapi Paulus memberi tahu kita bahwa pada waktu ia tiba di Korintus, ia sedang sangat membutuhkan kekuatan. Paulus sangat lemah waktu itu, ketakutan dan bahkan gemetar. Bagaimana dia bisa meneruskan pelayanannya sebagai misionaris?
Sangat indah ketika Lukas kemudian memberitahu kita bagaimana Tuhan memberikan Paulus apa yang dia butuhkan, kekuatan di saat lemah:
1. Paulus bertemu dengan Akwila dan Priskila (Kis 18:2-3). Akwila dan Priskila adalah sepasang suami istri yang datang dari Roma dan pekerjaan mereka sama seperti Paulus, tukang kemah. Lukas mengatakan bahwa Paulus tinggal bersama-sama mereka dan bekerja bersama-sama mereka. Di tengah keadaan tertekan, pasti sangat menguatkan bagi Paulus bertemu dengan saudara dan saudari seiman, dan saya yakin Paulus menikmati persekutuan dengan mereka ketika ia tinggal dan bekerja bersama mereka.
2. Silas dan Timotius datang (Kis 18:5). Mereka adalah rekan sekerja Paulus yang datang dari Makedonia. Paulus pasti menikmati pertolongan dan kebersamaan dengan mereka. Tetapi Lukas juga mengatakan bahwa ketika mereka datang, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman. Dia tidak perlu lagi bekerja! Mungkin itu karena Silas dan Timotius membawakan bantuan bagi Paulus dari orang Kristen di Makedonia. Di dalam suratnya, Paulus pernah berterima kasih kepada orang Kristen Makedonia karena mengirim bantuan kepadanya berkali-kali ketika ia sedang membutuhkan (Fil 4:15-16) dan kali itu mungkin adalah salah satunya.
3. Buah pekerjaannya (Kis 18:7-8). Banyak orang Korintus yang mendengar khotbah Paulus menjadi percaya dan dibaptis. Sangat menguatkan bagi Paulus ketika dia tahu bahwa pekerjaannya tidak sia-sia karena dia melihat bahwa Tuhan memberkati pekerjaannya. Bagi setiap kita yang melayani, saya percaya kita tahu rasanya melihat pelayanan kita diberkati dan berbuah.
4. Penglihatan surgawi. Yesus sendiri menguatkan dia melalui penglihatan dan berkata: "Jangan takut!... Sebab Aku menyertai engkau..." (Kis 18:9-10)
Betapa baiknya Tuhan! Dia tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Sekalipun Paulus datang ke Korintus dalam kelemahan, ketakutan dan gemetar, ia sangat dikuatkan melalui banyak hal. Tidak heran Lukas kemudian menulis: "Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka" (Kis 18:11). Paulus mampu melanjutkan pelayanannya karena Tuhan menguatkan dan memampukan dia. Dia pasti disegarkan oleh kasih, persahabatan dan pertolongan dari orang Kristen lain. Dia dipenuhi dengan sukacita ketika melihat buah pelayanannya. Dan dia sangat tersentuh ketika Yesus sendiri sekali lagi mengkonfirmasi bahwa Dia bersama dengan Paulus terus menerus. Apa lagi yang dia butuhkan?
Saya percaya bahwa Tuhan juga memberikan kita, setiap kita yang melayani Dia, kekuatan demi kekuatan. Kalau tidak bagaimana kita bisa terus mampu melanjutkan pelayanan kita? Tuhan itu baik dan Dia tahu yang kita perlukan.
Lihatlah kekuatan dari Tuhan! Lihatlah pertolonganNya! Dan biarlah kita selalu memuji Dia karena Dia baik.
Monday, October 25, 2010
Hosana
Seruan "Hosana" di dalam Perjanjian Baru hanya muncul di dalam cerita Yesus memasuki kota Yerusalem. Orang banyak menyambut Yesus sambil berseru-seru: "Hosana! Hosana!"Hosana berasal dari bahasa Ibrani - yang jika dituliskan menjadi - "hoshi'ah na". Di dalam bahasa Yunani dituliskan menjadi "hosanna".
Di dalam Perjanjian Lama, istilah ini muncul beberapa kali di dalam Mazmur (di dalam Alkitab bahasa Indonesia, di Perjanjian Lama tidak ada kata ini karena ia diterjemahkan dan tidak dituliskan langsung). "Hoshi'ah na" adalah seruan kepada Tuhan yang menyatakan doa supaya Tuhan menolong dan memberikan kemenangan. Maka di dalam Alkitab bahasa Indonesia, "hoshi'ah na" itu diterjemahkan menjadi "selamatkanlah", "berikanlah keselamatan", atau "berilah kiranya keselamatan". Lama kelamaan orang Yahudi mengubah seruan minta tolong ini menjadi seruan perayaan, seruan pembebasan. Dan orang Yahudi bahkan kemudian menafsirkan seruan ini sebagai seruan pengharapan mereka akan Mesias.
Itulah sebabnya pada waktu Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggangi keledai muda, orang banyak yang sedang berkobar-kobar mengharapkan Mesias, bersama-sama berseru "Hosana! Hosana!". Perhatikan perkataan mereka "diberkatilah kerajaan yang akan datang, kerajaan bapak kita Daud.." (Markus 11:9). Harapan mereka saat itu sedang sangat tinggi. Dan seruan mereka "Hosana!" adalah seruan "berikanlah keselamatan" atau mungkin seruan pembebasan "inilah pertolongan dari Tuhan, inilah keselamatan dari Tuhan, Tuhan menolong kita, Hosana!"
Hari ini, pada waktu kita juga berseru "Hosana!" atau "Hosiana!", biar kita ingat bahwa seruan kita "selamatkanlah kami" atau "Tuhan menolong kita" sudah digenapi di dalam Yesus. Jadikan ini seruan pembebasan. Tuhan sungguh sudah menolong kita! Hosana!
Wednesday, October 20, 2010
Kecintaan Pada Firman Tuhan
Hari ini kuliah terakhir New Testament Exegesis (kuliah yang saya ikuti sebagai pendengar). Sepanjang kuliah selama 1 semester ini, kami sudah dibuat terkagum2 dengan keahlian Prof. Tan Kim Huat dalam mengeksegesis. Kadang-kadang saya pikir kapan ya bisa seperti itu? Walaupun dia sangat baik dalam memberikan penjelasan tetapi saya dan juga banyak murid lain yang terintimidasi, khususnya karena masalah bahasa Yunani.
Hari ini di akhir dari kuliahnya Prof. Tan menyampaikan final speech yang sangat berkesan bagi kami. Dia menceritakan kerinduannya melihat munculnya orang-orang yang serius mempelajari bahasa untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa masing-masing dan dia menceritakan keinginannya supaya setiap kami terus melakukan eksegesis. Dia tahu bahwa sangat mungkin kami semua dengan cepat melupakan morfologi bahasa Yunani, yang menurut dia tidak terlalu masalah dengan banyaknya tools yang ada sekarang ini, tapi dia tekankan jangan lupakan grammar! Baca Alkitab dalam bahasa Yunani, ingat grammar-nya, pikirkan, eksegesis!
Prof. Tan kemudian juga bercerita tentang Karl Barth. Ketika murid2 Karl Barth bertanya bahwa setelah semua eksegesis, penelitiannya dan kerja kerasnya, apa yang bisa dia simpulkan? Dan Barth berkata: JESUS LOVES ME! Sampai di kalimat itu, kami bisa mendengar suara Prof. Tan bergetar dan kami melihat matanya berkaca-kaca. Semua langsung terdiam.
Karl Barth adalah teolog besar yang berprinsip selalu mulai dulu dari Alkitab. Dia mulai dengan Alkitab, baru belajar teologi dan hal-hal lain yang lebih luas. Tapi selalu kembali ke Alkitab dulu.
Prof. Tan kemudian juga bercerita tentang seorang ahli Perjanjian Lama yang dari muda sudah menetapkan hati untuk mempelajari Perjanjian Lama karena melihat begitu banyak orang mengkritisi Perjanjian Lama dan tidak percaya lagi dengan Tuhan. Orang itu berpikir bahwa dia akan hidup selama 75 tahun, maka dia membagi hidupnya menjadi 3 bagian: 25 tahun pertama hidupnya dia pakai untuk belajar berbagai bahasa yang terkait dengan Perjanjian Lama: Ibrani, Aramaik, Akadian, dan lain-lain. 25 tahun kedua hidupnya dipakai untuk studi dan research mempelajari berbagai macam hal terkait dengan Perjanjian Lama dan seluruh Alkitab. 25 tahun terakhir hidupnya dipakai untuk menulis dan mengajar. Dan dia lakukan itu karena dia mencintai Tuhan. Masih adakah orang-orang seperti ini yang muncul?
Prof. Tan menceritakan bebannya supaya ada orang-orang yang mau belajar keras, mati-matian seperti ahli Perjanjian Lama itu. Dan seharusnya ada orang-orang kaya yang tidak menghabiskan uang untuk kemewahan seperti membeli mobil mewah, tapi memakai uangnya untuk mendukung orang-orang seperti itu belajar.
Sepanjang final speech itu berkali-kali kami mendengar suaranya bergetar lagi dan matanya memerah. Dia katakan bahwa walaupun kami tidak menjadi teolog atau scholar besar, tapi pada waktu kami menggembalakan dan berkhotbah, bukankah seharusnya kami komitmen untuk mempelajari Alkitab sebaik-baiknya? Dan dia ulangi lagi kalimat yang sama: JESUS LOVES ME! Itulah kesimpulan yang didapat pada waktu kita sungguh-sungguh mempelajari Alkitab. Semua orang bisa mengatakan yang sama tapi dengan kedalaman yang berbeda.
Saya sangat tergerak dengan apa yang dia sampaikan. Saya bersyukur untuk orang-orang seperti Prof. Tan yang sangat mencintai Firman Tuhan dan Tuhan pakai untuk menjadi scholar. Saya tahu saya tidak akan menjadi scholar seperti dia, terlambat. Serius! Tapi saya juga punya tugas mengajar dan menggembalakan domba-domba Tuhan dengan Firman Tuhan dan saya masih bisa belajar.
Belajar Alkitab tidak pernah mudah, saya tahu itu. Saya bersyukur diingatkan untuk kembali serius belajar semampu saya supaya saya bisa terus mengkhotbahkan Firman Tuhan. Itu panggilan saya.
Saya sendiri sangat.. sangat.. merindukan ada orang-orang muda yang punya talenta untuk belajar teologi dan punya talenta untuk berkhotbah (dua hal yang jarang), mau mendedikasikan hidupnya untuk belajar dan mengajar Firman Tuhan. Dari semuda mungkin, ketika daya pikir dan daya ingat masih sangat baik, mereka mau mulai. Dan saya juga sedih degan kenyataan bahwa orang-orang muda seperti itu sangat.. sangat.. jarang!
Tuhan, kasihani gereja-Mu! Bagaimana umat-Mu bisa mencintai Firman-Mu kalau tidak ada yang mau belajar dan mengajarkan Firman-Mu dengan penuh cinta?
Tuesday, October 19, 2010
Haleluya
"Haleluya" adalah kata yang sangat akrab bagi orang Kristen. Begitu seringnya kata ini diucapkansehingga bahkan banyak orang bukan Kristen pun tahu bahwa yang menyebut "Haleluya" pasti adalah orang Kristen. Tapi apa arti "Haleluya"? Saya yakin banyak orang Kristen yang tidak tahu artinya.
"Haleluya" adalah kata dari bahasa Ibrani (yang jika ditransliterasi seharusnya menjadi "haleluyah", ada tambahan huruf 'h' di belakangnya). "Haleluyah" akar katanya adalah "halal" (he was praised) dan "yah" (singkatan dari Yahweh) ditambahkan pronoun "u" di tengah-tengah maka terjemahannya adalah "Praise (you) Yahweh", atau terjemahan bebasnya: Kamu semua pujilah TUHAN (Yahweh)!
Kata ini adalah ajakan bagi jemaat untuk memuji Tuhan dan mengharapkan respons. Pemimpin akan berseru: "Kamu semua pujilah TUHAN!" dan jemaat berespon dengan memuji Tuhan.
Lama kelamaan kata ini dipakai secara independen sebagai ungkapan pujian bagi Tuhan. Maka ketika orang ingin memuji Tuhan, dia bisa langsung mengatakan "Haleluya!" (bukan lagi sebagai ajakan). Maka mungkin terjemahannya menjadi: "Puji Tuhan!"
Di dalam Perjanjian Lama, kata "Haleluya" hanya muncul di Mazmur (23X). Tapi kata ini juga muncul di kitab-kitab lain di luar Alkitab yang ditulis sebelum Perjanjian Baru ditulis, menandakan bahwa orang Yahudi terus memakai kata ini dalam ibadah mereka. Di dalam Perjanjian Baru, kata "Haleluya" muncul di Wahyu (4X) dan ini menandakan bahwa kata ini juga biasa dipakai oleh orang Kristen dalam ibadah mereka.
Di kitab Wahyu, semua kata "Haleluya" munculnya adalah di Wahyu 19, berulang-ulang seperti refrain lagu. Dan Wahyu 19 adalah bagian penutup dari kitab Wahyu: nyanyian kemenangan bagi Anak Domba Allah, Yesus Kristus. Saat itu, seluruh dunia akan berseru bersama-sama "Haleluya! Pujilah Yahweh!"
Mari kita ingat, pada waktu kita mendengar kata ini diucapkan "Haleluya!", kita juga bisa berkata "Puji Tuhan! Puji Allah kita! Haleluya!"
Monday, September 06, 2010
Talking In a Different Level
Saya sedang mengalami krisis, sebut saja krisis pengetahuan komprehensif (nggak tahu apakah istilah ini tepat). Maksudnya begini, dulu waktu masih mahasiswa di Trisakti, saya pernah ikut sekolah teologi malam, ikut kelas PA dan memimpin kelompok PA, dan juga membaca buku-buku teologi. Dengan pengetahuan yang saya dapat dari semua itu, saya cukup 'mampu' menjawab berbagai pertanyaan teologis. Saya bahkan berani membuka sesi tanya jawab di depan remaja-remaja yang saya layani.
Pada waktu saya masuk ke sekolah teologi full time, makin banyak belajar, dan kemudian makin banyak melayani, saya merasa makin 'mampu' lagi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis. Saya ingat seorang dosen saya bertanya "siapa yang berani membuka sesi tanya jawab pada waktu berkhotbah?", dan dia yakin tidak ada dari kami yang berani karena sesi tanya jawab berarti siap menjawab pertanyaan apapun yang mungkin muncul. Tapi -dalam hati- saya tidak mengerti kenapa tidak berani karena saya bahkan sudah melakukannya sebelum masuk sekolah teologi. Mungkin saya sombong waktu itu :-(
Tapi setelah sekian tahun melayani, akhirnya saya mulai mengerti. Saya mulai tidak berani dan kadang saya agak bingung "kok dulu saya berani banget ya???" Saya masih berani membuka sesi tanya jawab, tapi ada hal-hal yang saya rasa lain dengan dulu. Saya tidak seberani dan seyakin dulu di dalam beberapa hal. Apa yang terjadi?
Sekarang saya sedang studi di program M.Th. Ada banyak pengetahuan yang masuk di kepala saya. Ada banyak pikiran-pikiran saya yang dipoles dan ditantang. Dan saya menemukan bahwa saya makin tidak berani lagi. Di dalam menjawab, di dalam mengungkapkan sesuatu, saya cenderung sangat berhati-hati karena saya tahu 'lubang-lubang'nya. Saya tahu tidak bisa ngomong begitu, tidak terlalu tepat dirumuskan begini, ada kemungkinan bukan begitu, dst. Apa yang terjadi?
Seorang profesor saya mengatakan, pada waktu kita makin belajar, dari yang 'tahu' bisa menjadi 'tidak tahu'. Sebetulnya bukannya kita jadi tidak tahu, tapi kita berbicara dalam level yang berbeda. We are talking in a different level. Apa yang dulu kita tahu mungkin tidak salah, tapi karena sekarang kita masuk ke dalam level pembicaraan yang berbeda, baru kita temukan bahwa apa yang dulu kita pikir kita tahu ternyata masih banyak kurangnya. Itu sebabnya kita jadi merasa tidak tahu.
Kalau boleh pakai perumpamaan (yang pasti tidak 100% pas): Seperti suatu bangunan. Ide, konsep, berbagai pengetahuan teologis adalah rangka besinya, tapi untuk membuatnya menjadi bangunan yang kuat, kita perlu pasir dan semen yang mengisi ruang di antaranya. Dulu bangunan teologis saya itu sudah jadi, tapi kemudian saya belajar lagi, rangka besi ditambah lagi, ada yang direnovasi lagi, maka in a different level, bangunan itu bolong lagi dan harus kembali diisi dengan pasir dan semen.
Studi teologi memerlukan waktu yang sangat panjang. Kita harus belajar dulu berbagai pengetahuan, lalu meresapinya, memikirkan implikasinya, kaitannya dengan berbagai hal lain, barulah itu menjadi bangunan. Dan ketika kita terus belajar, akan ada lagi rangka besi lain yang ditambahkan dan perlu direnovasi, maka sekali lagi in a different level bangunan itu bolong lagi dan harus kembali diisi dengan pasir dan semen. Demikian seterusnya.
Saya berharap krisis ini tidak berkepanjangan. Saya harap bisa menemukan cara dan kesempatan untuk kembali menata rangka-rangka besi baru ini menjadi struktur yang kuat dan kembali mengisinya menjadi bangunan lagi.
Satu hal terakhir, saya jadi terpikir, alangkah bahayanya kalau kita sudah terlalu lama merasa fine dengan bangunan teologis kita. Karena mungkin itu berarti kita sudah lama berhenti belajar. Tidak ada lagi sesuatu yang ditambahkan dan dibangun disitu. Dan celakanya, bangunan teologis yang berhenti dibangun, bukan berarti tidak akan berubah tingginya tapi justru akan makin rendah.


