Thursday, January 12, 2012

Life is Short

Apa yang penting untuk kita lakukan dalam hidup ini? Pertanyaan ini baru sangat kuat berbicara
ketika kita tahu bahwa hidup kita tidak akan lama lagi.

Dalam Retreat Young Adult Fellowship di GKY Singapore bulan Agustus lalu, kami menonton bersama “The Bucket List”. Film itu berkisah tentang dua orang yang menderita kanker dan tahu hidup mereka tidak lama lagi. Mereka membuat daftar apa yang ingin mereka lakukan dalam sisa hidup mereka. The list of things that you want to do before you kick the bucket (ungkapan yang artinya meninggal dunia). Pesannya sangat kuat: Jika hidup itu singkat, apa yang sebenarnya penting untuk kita lakukan?

Beberapa waktu yang lalu saya berkenalan dan melayani seorang yang sedang berobat di Singapore karena menderita kanker. Selama di Singapore, dia yang belum Kristen ini, banyak dilayani oleh orang Kristen dan akhirnya dia menjadi percaya dan dibaptis. Semua sepertinya berjalan baik, kemoterapi selesai dan kankernya dinyatakan bersih. Kami semua sangat bersukacita. Tapi tidak lama setelah dia kembali ke Indonesia, datanglah berita yang mengejutkan. Kankernya kambuh kembali dan kali ini jauh lebih ganas. Dokter hanya menawarkan satu alternatif: kemoterapi dengan obat yang sangat keras. Kemungkinan sembuh tidak besar sementara resiko pengobatan adalah pendarahan di otak dan koma. Apa yang akan terjadi jika dia menolak pengobatan? Dokter menjawab: 6 bulan! Dia bertanya ke dokter lain, jawabannya lebih membuat pesimis: 3-6 bulan! Dia memutuskan untuk tidak menjalani pengobatan itu dan menerima resiko untuk meninggal dalam waktu yang diperkirakan oleh dokter. Waktu saya mendengar itu, saya mengunjungi dia. Kami menangis bersama.

Berita itu bukan hanya membuat dia tergoncang tapi juga saya. Setelah pulang dari rumah sakit hari itu, saya jadi berpikir apa yang akan saya lakukan kalau dokter mengatakan yang sama kepada saya? Saya yakin saat itu, seperti dia, saya akan berpikir apa yang penting yang harus saya lakukan dalam waktu yang tersisa. Sekarang sudah 5 bulan berlalu dan dia baru saja dipanggil Tuhan. Saya mendengar bahwa dalam waktu 5 bulan itu, keluar masuk rumah sakit, dia bukan saja mengatur keuangan keluarga tapi dia juga banyak memakai waktu untuk berdoa dan mendengar Alkitab dibacakan.

Ada satu orang lagi yang saya kenal sebagai orang Kristen lama. Dia tidak banyak terlibat pelayanan karena kesibukan bisnis, tetapi dia selalu menyempatkan diri datang kebaktian. Ketika dia divonis dokter menderita kanker, seluruh hidup menjadi berubah. Dia harus lepaskan semua bisnisnya dan diam di rumah untuk pengobatan. Dalam keadaan itu, dia mengingat… “Dulu saya ingin aktif pelayanan tapi tidak pernah sempat. Lalu usia makin tua dan sudah masuk usia manula. Saya ingin pelayanan di komisi manula, tapi juga tidak sempat karena kesibukan bisnis. Sekarang tiba2 bisnis harus dilepas.” Sekarang dia punya waktu! Tapi tubuhnya tidak mengizinkan. Apakah dia menyesal? Mungkin.

Life is short! Kita semua tahu itu. Tapi betapa sulitnya kita hidup dengan kesadaran itu! Hidup itu singkat. Mari hidupi dengan baik, lakukan yang baik, yang mulia, yang bernilai kekal. Lakukan lebih banyak lagi hal2 seperti itu! Cintai orang2 di sekitar kita yang Tuhan berikan untuk kita, orang tua, suami atau istri, anak2, teman2. Mengapa menghabiskan waktu untuk saling membenci, sebal, marah? Mengapa tidak mengasihi lebih lagi? Bahkan pikirkan bagaimana lebih dari itu, lebih berani lagi menyerahkan diri untuk dipakai Tuhan, melayani lebih lagi, mencintai yang Tuhan cintai, mengarahkan hati kepada hadiah surgawi, mengambil resiko untuk mengasihi sesama. Hidup itu singkat, bagaimana kita menghidupinya?

Jangan sampai tiba waktunya kita menengok ke belakang dan berkata, "sudah terlambat". Kita tidak pernah terlambat untuk bertobat selama kita masih hidup. Tapi kita bisa terlambat untuk melakukan yang baik, yang Tuhan inginkan. Mari mulai sekarang juga. Ingat: Hidup itu singkat!

Wednesday, January 11, 2012

Pendeta vs Penginjil


Foto waktu saya ditahbiskan menjadi Penatua Khusus SInode GKY - Juni 2009

Seringkali saya ditanya, “apa sih bedanya pendeta dengan penginjil?” Pertanyaan sederhana tapi serius karena menunjukkan betapa banyaknya orang Kristen yang tidak mengerti tentang gereja – yang dia datangi tiap minggu.

Saya belum pernah mendengar ada yang memberi penjelasan tentang itu. Maka pertanyaan itu akhirnya menggantung di pikiran jemaat (dan mungkin juga hamba Tuhan?). Satu-satunya jawaban yang tersedia adalah dari fenomena yang terlihat: ‘Pendeta boleh membaptis, memimpin perjamuan kudus, memimpin pemberkatan nikah’ sementara penginjil tidak boleh. ‘Penginjil ditahbis menjadi pendeta’ sementara pendeta tidak ditahbis menjadi penginjil. Itu fenomenanya. Dan karena dunia mengajarkan bahwa yang lebih pastilah lebih tinggi. Kesimpulannya pendeta lebih tinggi dari penginjil dan pentahbisan berarti kenaikan jabatan. Benarkah begitu? Ada beberapa masalah disini:

Pertama, saya perlu luruskan dulu masalah istilah. Istilah ‘penginjil’ yang umumnya dikenal di gereja sekarang, sebetulnya tidak sama dengan pengertian di Alkitab. Di Alkitab tidak ada indikasi bahwa ‘penginjil’ (atau pemberita Injil di dalam Alkitab) lebih rendah daripada ‘pendeta’ (atau ‘gembala’ di dalam Alkitab). Keduanya adalah fungsi atau panggilan dari Tuhan, karunia yang Allah berikan untuk gerejaNya. Sulit membedakan dengan saklek. Mungkin sederhananya: Mereka yang melayani di gereja disebut ‘pendeta’ dan mereka yang pelayanannya mengabarkan Injil di luar gereja disebut ‘penginjil’.

Kesalahannya di gereja sekarang adalah: Pokoknya mereka yang belum ditahbis menjadi ‘pendeta’ disebut ‘penginjil’. Maka istilah ‘penginjil’ bukan lagi menunjuk pada panggilan dan karunia Tuhan, tapi pada keadaan sebelum ditahbis!! Ini salah kaprah yang sudah sangat meluas.

Kedua, tidak ada sedikitpun indikasi di dalam Alkitab ada orang Kristen yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang ada hanyalah fungsi. Lalu apa itu pendeta? Pendeta adalah orang2 yang Tuhan panggil untuk melayani umat Tuhan, menggembalakan, mengajar Firman Tuhan. Panggilan mereka adalah dari Tuhan. Tapi tidak bisa setiap orang yang mengaku menerima panggilan Tuhan lalu menjadi pendeta. Panggilan itu harus dikonfirmasi oleh jemaat Tuhan.

Jemaat perlu waktu untuk melihat dan yakin bahwa orang itu sungguh dipanggil Tuhan untuk melayani Firman Tuhan full time di gereja itu. Setelah yakin, maka gereja mengkonfirmasi panggilan dia dalam pentahbisan. Jadi pentahbisan bukan kenaikan jabatan, tapi konfirmasi. Pendeta bukan lebih tinggi, tapi sudah dikonfirmasi.

Pertanyaannya mereka yang belum dikonfirmasi disebut apa? Di gereja2 Tionghoa di Indonesia, mereka biasa disebut ‘Penginjil’ atau ‘Guru Injil’. Dan inilah sumber salah kaprahnya.

Maka yang disebut ‘penginjil’ atau ‘guru Injil’ di dalam gereja saat ini adalah orang2 yang merasa dipanggil Tuhan untuk melayani Firman Tuhan full time di gereja, tapi belum ditahbiskan karena gereja masih perlu waktu untuk melihat dan mengkonfirmasi pelayanan mereka.

Pertanyaan terakhir, lalu bagaimana dengan mereka yang lamaaaaaa… melayani di gereja tapi tidak ditahbis? Terus-terusan menjadi ‘penginjil’ selama puluhan tahun?

Setiap gereja seharusnya punya kriteria untuk mengenali panggilan menjadi pendeta di dalam diri seseorang. Standar kriterianya bisa berbeda untuk setiap gereja. Tetapi jelas tidak cukup dan tidak boleh kriterianya hanya masalah waktu pelayanan (sudah pelayanan sekian tahun maka harus ditahbis) dan kebutuhan gereja (kalau jumlah pendeta kurang maka dilakukan penahbisan). Mungkin ada orang yang terpanggil untuk mengerjakan jenis pelayanan tertentu di gereja tetapi tidak tidak terpanggil khusus untuk pelayanan Firman Tuhan dan sakramen (sebagai pendeta) atau mungkin dianggap tidak mampu untuk kepemimpinan sebagai pendeta di gereja itu. Tetapi kriterianya harus jelas dulu.

Saya tahu masalahnya tidak sesederhana itu. Tapi yang saya mau adalah konsepnya dulu yang dipikirkan, praktisnya dan teknisnya belakangan. Jangan sekedar berpikir praktis: Hamba Tuhan masuk – pelayanan – kalau ‘bagus’ dan ‘diperlukan’ ya jadi pendeta, kalau nggak ya sudah terus saja jadi penginjil.

Friday, January 06, 2012

My Ordination 1 Jan 2012 - Part 2



Photo credit: Willy Siauw (www.willysiauw.com)

Di dalam kebaktian pentahbisan pendeta sinode GKY, biasanya salah satu orang yang ditahbiskan diminta untuk menyampaikan khotbah sulung mewakili rekan2 yang lain. Beberapa hari sebelum pentahbisan, saya diberitahu bahwa saya yang diminta untuk menyampaikan khotbah sulung tersebut. Saya diberi waktu maksimal 10 menit, maka saya mencoba untuk menyampaikan apa yang menurut saya paling esensial dan penting untuk disampaikan. Di bawah ini adalah khotbah singkat yang saya sampaikan waktu itu:

Saya punya waktu 10 menit untuk menyampaikan pikiran, janji dan tekad saya. Pada waktu saya diminta untuk menyampaikan khotbah sulung mewakili rekan2 yang lain, saya mencoba untuk flash back ke belakang dan mengingat2.

Salah satu pergumulan yang saya alami pada waktu masih di sekolah teologi adalah, saya bertanya2, apa artinya menjadi hamba Tuhan? Semua orang melayani Tuhan, tapi apa yang membedakan pelayanan semua orang Kristen dengan sekelompok orang Kristen yang disebut hamba Tuhan? Saya tahu istilah ini kurang tepat karena sebetulnya semua orang adalah hamba Tuhan. Tapi kita terlanjur menggunakan istilah ini.

Saya bergumul cukup lama untuk memikirkan dan menemukan apa sebetulnya panggilan kami, tugas kami, yang Tuhan bebankan, sehingga kami dipisahkan dan disebut sebagai hamba Tuhan?

1 bagian Alkitab di dalam Kis 6:1-6 memberikan petunjuk yang sangat penting apa yang dipikirkan oleh para rasul tentang tugas utama mereka, fokus utama mereka sebagai hamba Tuhan.

Pada waktu itu orang Kristen baru berkumpul bersama sebagai gereja. Gereja PB baru dimulai, dan siapa yang melayani? Para rasul melayani segala hal di dalam jemaat. Saya bisa membayangkan bahwa segala urusan, apapun juga di dalam gereja, ditangani oleh mereka. Dan bagian ini memberitahu kita bahwa para rasul akhirnya sadar mereka bukanlah superman. Mereka kewalahan. Sementara jemaat bersungut-sungut karena ketidakberesan dalam pengaturan pembagian makanan bagi janda2 miskin. Atau boleh kita sebut jemaat complain dengan kurang rapihnya administrasi, kurangnya perhatian kepada jemaat, kurangnya pelayanan sosial.

Maka para rasul mengambil keputusan untuk menceritakan pergumulan mereka kepada jemaat. Dan menarik, para rasul berkata bahwa yang paling mereka khawatirkan adalah mereka tidak memuaskan Tuhan karena “kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja”. Karena itu mereka meminta supaya jemaat memilih 7 orang untuk mengerjakan tugas pelayanan meja, pelayanan diakonia, pelayanan administrasi, pelayanan pemerhati itu sementara mereka “dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman”. Dan ini berlanjut dalam sejarah gereja. Orang yang memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Itulah yang disebut hamba Tuhan!
 
Pelayanan Firman bisa dikerjakan oleh semua orang Kristen. Tetapi seriusnya pelayanan itu menuntut adanya orang-orang yang mengkhususkan waktu untuk mempelajari Firman Tuhan dan mengajarkannya dengan setia. Dan karena pelayanan mereka menuntut kepekaan mengenal kehendak Tuhan, kebutuhan manusia, dan memohon anugrah Allah, maka doa adalah bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan Firman.

Maka saya percaya menjadi hamba Tuhan berarti selalu mengingatkan diri akan hal ini. Dia bukan seorang event organizer, mengatur berbagai acara yang wah. Dia bukan seorang CEO gereja, yang bisa mengatur strategi bagaimana gereja bertumbuh. Dia bukan seorang administrator ulung, yang kerjanya menangani administrasi. Dia adalah seorang pelayan Firman. Dengan belajar, menyampaikan Firman, berdoa dan memimpin sakramen. Sekalipun dia melakukan berbagai kegiatan, tapi tugas utamanya adalah belajar Firman dan mengajarkan Firman. Berdoa dan mengajak jemaat berdoa. Itu hamba Tuhan.

Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan mengerjakan semua urusan gereja karena berpikir bahwa tugas hamba Tuhan adalah menjalankan gereja (running the church). Selama kegiatan terorganisir, ada program yang inovatif, maka dia hamba Tuhan yang baik. Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan pokoknya banyak membesuk, banyak memperhatikan. Tidak peduli apa yang dia lakukan, apa yang dia bicarakan, sudut pandang apa yang dia sampaikan, pokoknya asal dia datang, membesuk, berdoa, dia hamba Tuhan yang baik. Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan pokoknya khotbah, apapun khotbahnya, berapapun sedikitnya dia persiapan dan merenungkan Firman, pokoknya dia khotbah. Saya kira Alkitab tidak ajarkan itu. Dan banyak hamba Tuhan lupa panggilannya yang utama, mereka sibuk lakukan banyak hal yang mengalihkan perhatian mereka dari doa dan pelayanan Firman.

Kalau sdr perhatikan jubah pendeta Protestan hampir selalu berwarna hitam. Jubah ini sangat mirip seperti toga yang dipakai pada waktu seseorang diwisuda. Dan memang itulah artinya.

Gereja di abad pertengahan menekankan pelayanan sakramen untuk tiap orang yang ditahbis menjadi pastur. Tapi para reformator mengubah itu, jubah pendeta Protestan adalah jubah akademis. Jubah ini melambangkan orang yang belajar dan diangkat oleh gereja untuk menjadi pengajar Firman.

Maka hari ini, di hadapan Tuhan dan di hadapan saudara, jemaat Tuhan, saya mewakili rekan2 yang lain berjanji untuk seumur hidup menjadi pelayan Firman: Belajar Firman Tuhan sedalam mungkin dan berusaha mengajarkannya sebaik mungkin. Berdoa dengan sungguh2, mengalami Tuhan dalam doa dan mengajak jemaat berdoa. Dan terakhir, untuk melakukan semuanya tidak demi keuntungan pribadi, tidak demi apapun, tapi demi kasih kepada Tuhan dan kepada saudara, jemaat Tuhan. Dan kami berjanji untuk menaruh jemaat Tuhan di dalam hati kami.

Demi nama Tuhan, saya minta, ingatkanlah kami para hamba Tuhan untuk menjadi pelayan Firman. Tegurlah kami ketika kami sibuk mengerjakan segala sesuatu yang lain tapi mengabaikan pelayanan Firman Allah. Mintalah untuk kami belajar dan mengajarkan Firman. Dan doakanlah kami agar urapan Tuhan dan kuasa Tuhan sungguh dicurahkan untuk kami. Dan kiranya berkat Tuhan dicurahkan untuk gerejaNya. Amin.

Thursday, January 05, 2012

My Ordination 1 Jan 2012 - Part 1


  Photo Credit: Willy Siauw (www.willysiauw.com)

Di awal tahun ini saya ditahbiskan menjadi pendeta sinode Gereja Kristus Yesus, tepat setelah 7 tahun 3 bulan saya melayani full time di GKY. Ada beberapa hal yang ingin saya sharingkan dari pentahbisan tersebut dan saya akan menuliskannya dalam beberapa bagian.

Berkaitan dengan itu, masing-masing kami yang ditahbiskan diminta untuk menuliskan kesaksian pelayanan kami untuk dimuat dalam buku acara pentahbisan. Di bawah ini adalah tulisan saya:

Saya percaya bahwa menjadi Pendeta adalah panggilan Tuhan. Itu bukan panggilan dari manusia atau dari gereja, tapi dari Tuhan. Dan panggilan itu saya dengar bukan hari ini, tapi lebih dari lima belas tahun yang lalu. Dan panggilan itu sudah saya jawab “ya” lebih dari lima belas tahun yang lalu. 
 
Ketika itu saya masih kuliah di Universitas Trisakti. Melalui berbagai peristiwa dan beberapa hamba Tuhan, saya yakin Tuhan memanggil dan menunggu jawaban saya. Maka waktu itu saya menjawab “ya” untuk melayani Tuhan sepenuh waktu seumur hidup saya. Saya menjawab “ya” untuk belajar Firman Tuhan dan memberitakannya. Saya menjawab “ya” untuk menaruh umat Tuhan di dalam hati saya. 
 
Kemudian tahun 1998 saya masuk ke Institut Reformed untuk dipersiapkan disana. Sekian tahun masa persiapan di sekolah teologi dan kemudian sekian tahun pelayanan membuat saya makin jelas melihat kemana Tuhan membawa saya. Ada kerinduan-kerinduan khusus yang Tuhan tanamkan dalam hati saya. Saya rindu melihat gereja yang belajar Firman Tuhan, orang-orang Kristen mau berpikir tentang imannya, mau mengerti kebenaran dengan mendalam. Saya rindu melihat gereja yang anggotanya saling mengasihi, begitu rupa sehingga berani untuk berkorban dan menderita untuk kebaikan saudaranya. Saya rindu melihat gereja yang beribadah kepada Tuhan dengan segenap hati, menikmati relasi dengan Tuhan dan berusaha hidup menyenangkan Tuhan. Saya rindu melihat gereja yang bersaksi, setiap orang Kristen sesuai dengan karunianya masing-masing, mengambil bagian untuk membawa orang percaya kepada Tuhan. Saya berharap itulah yang akan terus menjadi kerinduan saya.
 
Selama lebih dari lima belas tahun ini, tidak pernah sekalipun saya meragukan panggilan Tuhan ataupun menyesali jawaban saya. Saya hanya menyesali kekurangan saya, dalam segala hal, dalam melayani Dia. Saya menjalani panggilan itu kadang dengan tegap, kadang dengan terseok-seok, kadang hampir terjerembab. Tapi anugrah Tuhan selalu menopang saya sehingga tidak pernah tergeletak dan Tuhan sangat bermurah hati untuk terus memakai saya. 
 
Saya bersyukur untuk hak istimewa bisa melayani di GKY Green Ville dan GKY Singapore. Saya bisa melayani mereka karena mereka mengasihi, mendoakan, dan melayani saya. Melalui bersama dengan mereka, saya makin mengerti arti panggilan Tuhan yang saya jawab “ya” lebih dari lima belas tahun yang lalu itu. Untuk mereka, saya tidak henti-hentinya bersyukur.
 
Secara khusus, saya berterima kasih kepada beberapa hamba Tuhan yang secara istimewa Tuhan pakai untuk membentuk pola pikir, arah pelayanan, dan terutama kerohanian saya: Pdt. Yung Tik Yuk, Pdt. Dr. Stephen Tong, Pdt. Dr. Hendra G. Mulia, dan Pdt. Yohan Candawasa. Melalui mereka, Tuhan sudah sangat memberkati saya.
 
Dan terakhir, saya sangat berterima kasih kepada istri saya yang menyetujui jawaban “ya” saya sejak kami belum menikah. Sampai hari ini dia selalu siap menjadi penghibur, pengkritik dengan kasih, dan pendoa yang paling setia bagi saya.
 
Maka bagi saya hari ini, tidak lain tidak bukan, adalah peneguhan dari mereka dan dari gereja dimana Tuhan tempatkan saya untuk melayani, bahwa betul lima belas tahun yang lalu saya dipanggil Tuhan dan saya sudah, masih, dan akan terus menjawab “ya” kepada Tuhan.

Sunday, December 18, 2011

Melayani Tuhan: Sumber Kebebasan

William H. Willion di dalam bukunya: Pastor: TheTheology and Practice of Ordained Ministry mengatakan:

To believe that we are in ministry as God’s idea, rather than our own sense of occupational advancement; this is the submission, the yoking that is the source of true freedom (2 Cor. 3:17). Time and again, the main thing that keeps our ministry specifically Christian is to be able to assert with conviction, “We must obey God rather than any human authority” (Acts 5:29).

Saya menemukan bahwa itu sangat..sangat.. benar! Percaya bahwa kita berada dalam pelayanan sebagai idenya Tuhan dan bukan kemauan kita, bukan karir, bukan profesi, berarti tunduk kepada Tuhan, memikul kuk yang justru menjadi sumber kebebasan.

Sejak lulus sekolah teologi, saya ingin studi lanjut, tapi kesempatan sepertinya belum terbuka. Beberapa tahun lalu saya mengingatkan diri sendiri: Untuk apa sih saya studi? Untuk saya atau Tuhan? Kalau untuk Tuhan, dan untuk melayani di ladang Tuhan, maka bukankah terserah Tuhan? Kalau menurut Tuhan baik, maka jalan akan terbuka. Kalau menurut Tuhan tidak baik, maka tidak studi adalah yang terbaik. Sebagai manusia, menurut saya, studi adalah hal yang baik tapi belum tentu menurut Tuhan. Maka saya sangat tenang dan tidak ‘ngotot’, tidak panik, tidak kenapa-napa. Tapi begitu saya yakin Tuhan bilang “ya”, maka saya mulai ngotot. Dan kesadaran seperti itu sangat membebaskan!

Banyak orang juga ngotot, ingin ini dan itu. Dalam pelayanan, ingin jabatan, ingin hormat, ingin posisi, ingin lokasi, dst. Dengan cara itu kita justru memikul kuk yang sangat berat, yang tidak seharusnya kita pikul. Pelayanan adalah idenya Tuhan! Maka sangat menolong jika kita sering-sering mundur sedikit, lalu melihat semuanya dari sudut pandang yang lebih luas, sudut pandangnya Tuhan. Sangat membebaskan!

Willimon berkata, hal utama yang nenjaga pelayanan kita tetap menjadi pelayanan Kristen adalah untuk mampu menegaskan dengan yakin bahwa : Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Kadang sangat sulit untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Kita punya keinginan, ada tekanan dan masalah dari orang di sekitar kita, ada suara-suara yang menuntun kita ke arah lain, ada pujian yang terus diberikan untuk kita jangan kesana, atau cemoohan yang menghalangi kita untuk tetap disini. Saat itu, dengan yakin kita harus berkata, saya ikut Tuhan dan bukan manusia.

Keyakinan bahwa pelayanan kita adalah dari Tuhan, untuk Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan (terbalik dengan dari kita, untuk kita dan bagi kemuliaan kita), membuat kita bebas melangkah. Dan kuk itu sungguh ringan. Tidak mudah, tidak asal-asalan, tidak senang-senang, tapi ringan dibanding kuk yang kita buat sendiri.

Willimon kemudian melanjutkan:

We fear loss of control. We have anxiety over what life is like to be accountable to someone rather than ourselves. It is somewhat frightening to construe our lives in such a theonomous cast, to have our lives lived in constant reference to the purposes of God. But it is also invigorating to receive the freedom and the dissonance of living the called life in a world where too many people are answerable to nothing more than their own ill-formed desires.

Kita selalu ingin pegang kendali. Kita takut berserah kepada Tuhan, takut selalu ikut maunya Tuhan. Cukup lah ikut 1X, tapi jangan terus2an! Tapi justru ketika semua orang hanya mengikuti keinginannya sendiri yang ngaco, mengikuti panggilan Tuhan memberikan kebebasan bagi kita. Kebebasan yang sejati - karena jiwa yang dijepit oleh nafsu dibebaskan dengan mengikut Penciptanya.

Tuesday, December 13, 2011

Hidupku Adalah Pelayanan BagiMu?

Kalau kita mau coba definisikan, apa sih pelayanan? Kalau kita definisikan pelayanan sebagai sibuk2 dekor, rapat, paduan suara, liturgis, maka kita salah. Semua itu hanyalah aktifitas dalam rangka pelayanan. Maka PELAYANAN itu sendiri pasti lebih besar dari semua itu. 

Ada memang yang mendefinisikan dengan sangat besar, bahwa pelayanan adalah hidup kita. Tema yang banyak dipakai: “Hidupku Adalah Pelayanan BagiMu”. Betul sekali, tapi makna pelayanan jadi buram. Apa artinya “hidupku adalah pelayanan bagiMu”? Semua orang punya hidup. Apakah kalau dalam hidup itu kita melayani dalam aktifitas gereja, hidup jujur dalam pekerjaan, mungkin kadang mengajak orang ke gereja, lalu pasti “hidupku adalah pelayanan bagi Tuhan”?

Mungkin lebih baik kita melihat ‘big picture’ nya dulu.

Allah punya kehendak, maksud, tujuan di dunia ini. Allah punya hati, apa yang Dia senang dan tidak senang. Allah harus ditinggikan, dimuliakan oleh ciptaanNya. Maka melayani Tuhan berarti menjalankan kehendak, maksud, tujuan Allah. Pelayanan berarti melakukan apa yang Allah senang. Pelayanan berarti meninggikan Allah, memuliakan Allah dan menjadikan dunia juga meninggikan Allah, memuliakan Allah.

Dengan cara apa? Allah tidak kenal yang namanya part time. Allah tidak kenal yang namanya ‘kalau sempat’. Allah mau seluruh hidup. Seperti yang Yesus ajarkan: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, akal budimu, kekuatanmu.

Mungkin gambaran prajurit akan menolong kita. Paulus bilang, seorang prajurit hanya berpikir bagaimana menyenangkan komandannya. Dunia dan hidup seorang prajurit adalah berperang. Dia hanya punya satu arah, satu tujuan, satu hati, melayani perintah komandannya dalam berperang. 

Bagi prajurit ‘big picture’ nya adalah: perang. Tapi prajurit hidupnya tidak cuma perang. Dia juga harus urus makan, dia harus bersihkan senjata, dia harus cuci baju, dll. Tapi dalam pikirannya harus tetap dia adalah prajurit. Dia masak, makan, cuci baju, bersihkan senjata, karena dia prajurit yang baik. Walaupun yang dia lakukan banyak macamnya, tapi pikirannya hanya satu: saya adalah prajurit. Ada big picture.

Dan apalagi waktu harus perang sungguhan, dia harus pergi perang. Itulah hidupnya. Walaupun dalam hidupnya dia tidak hanya perang, karena ada banyak yang terkait yang harus dia lakukan: makan, cuci baju, dll. Tapi sambil lakukan apapun juga, pikirannya tetap: saya adalah prajurit. Hidupnya adalah perang.

Sama. Bagi kita ada big picture: Maksud Tuhan, hati Tuhan. Ingin supaya dunia meninggikan Allah, memuliakan Allah. Ini perangnya.

Memang kita juga harus makan, harus urus ini dan itu, harus lakukan banyak hal. Kita punya macam2 tanggung jawab sosial di masyarakat, dengan keluarga, teman, dengan lingkungan kita, dsb. Tapi big picture itu tidak boleh hilang. Kita harus ingat bahwa kita lakukan itu semua dalam rangka hidup bagi Tuhan, menjalankan maksud Tuhan, kehendak Tuhan, menyenangkan Tuhan dan ingin orang meninggikan Allah.

Pada waktu ada panggilan untuk ikut perang yang lebih real, mungkin bersaksi kepada teman, mungkin lakukan aktifitas pelayanan di gereja, mungkin pergi ke ladang misi, atau apapun itu, kita harus ikut. Tapi kita ikut bukan karena kita sempet, “ya bantu dikit2”, “ya saya suka sih seru”. Ini perang! Kita sedang menjalankan maksud Tuhan, supaya orang meninggikan Tuhan, memuliakan Tuhan.

Maka kita perlu evaluasi hidup kita dengan cara ini.

Apakah kita sedang mengerjakan maksud Tuhan? Apakah kita sedang perang untuk Tuhan?

Hidupku adalah pelayanan bagiMu. Betul. Tapi bagaimana menjadikan hidup pelayanan bagi Tuhan? Semua pekerjaan asal kita lakukan baik2, berarti pelayanan? Punya waktu bantu2 dikit di gereja, berarti pelayanan? Tidak.

Kita harus tanya apa yang Tuhan mau? Kemana, atau pakai gambaran perang tadi, di front mana Tuhan mau kita berperang? Kita harus taat dan berperang di situ. Kalau ada hal-hal terkait lain yang kita perlu lakukan, bekerja, ikut ini itu, tanggung jawab ini itu, semua tetap kita lakukan dalam rangka berperang. Big picture tidak hilang!

Banyak orang bekerja, ikut kelompok hobby ini itu, ikut aktifitas sosial ini itu, tanpa pernah berpikir semua dalam rangka perang bagi Tuhan, semua dalam rangka melayani Tuhan. Maka dia memisahkan hidupnya menjadi dua: pelayanan dan bukan pelayanan.

Dan ironisnya banyak orang yang melakukan aktifitas pelayanan, sibuk ini dan itu, juga tanpa pernah berpikir bahwa itu adalah perang bagi Tuhan. Tidak pernah pikir apa yang Tuhan mau, suka, inginkan. Tidak pernah pikir bahwa dia harus sekuat tenaga, segenap jiwa, hati dan akal budi, mengasihi Allah. Maka mungkin dia melakukan aktifitas pelayanan yang bukan PELAYANAN.

Satu pemikiran terakhir. Kita perlu proporsi. Tidak mungkin kita prajurit tapi kerjanya hanya cuci baju terus. Apa betul Tuhan tidak panggil untuk perang lebih real? Berapa proporsi antara waktu yang kita pakai untuk bekerja, ikut kegiatan ini dan itu, dengan perang yang lebih real? Tanya Tuhan!

Kadang saya kecewa melihat orang yang mau habiskan waktu banyak sekali untuk pekerjaan. Tidak apa kalau itu bagian yang harus dia lakukan. Tapi di luar pekerjaan, dia ambil lagi kegiatan lain yang adalah hobby. Ok kalau memang harus. Lalu dia ambil lagi kegiatan lain, aktif disini dan disana karena suka. Dan akhirnya pelayanan yang langsung, perang yang lebih real, sedikit saja. Alasannya? Bukankah “Hidupku adalah pelayanan bagi Tuhan”? Benarkah? Coba pikir lagi!

Saya tidak mengatakan bahwa yang pelayanan full time pasti lebih baik karena dia berperang real terus. Hidup kita adalah mengikuti panggilan Tuhan, apapun itu. Maka apapun panggilan Tuhan, itu medan perang kita. Tapi saya mau kita bertanya, benarkah kita berpikir begitu? Benarkah yang sekarang saya lakukan adalah panggilan Tuhan? Benarkah hati saya terbakar untuk lebih lagi meninggikan Tuhan, memuliakan Tuhan dan mengajak orang lain juga meninggikan Tuhan dan memuliakan Tuhan?

Wednesday, December 07, 2011

Bless the Lord, my soul

Bless the LORD, O my soul, and do not forget all his benefits-- (Psalms 103:2)
Bless the LORD, O my soul. O LORD my God, you are very great. You are clothed with honor and majesty, (Psalms 104:1)
I will bless the LORD at all times; his praise shall continually be in my mouth. (Psa 34:1)

Ayat-ayat di atas diambil dari New Revised Standard Version. Di dalam terjemahan Indonesia, istilah ‘bless’ diterjemahkan menjadi ‘pujilah’. ‘Pujilah’ tentu lebih akrab bagi kita dan lebih mudah diterima.
Kesulitannya adalah ketika kita menjumpai istilah ‘bless the Lord’ di dalam lagu2 bahasa Inggris. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti apa artinya ‘bless the Lord’, bagaimana mungkin kita memberkati Tuhan? Tulisan singkat di bawah ini dari John Piper mungkin bisa menolong (saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, artikel aslinya bisa dilihat disini).
Pendapat saya adalah di dalam Alkitab ketika Allah “memberkati” manusia maka mereka tertolong dan dikuatkan dan menjadi lebih baik dari sebelumnya, tetapi ketika manusia “memberkati” Allah, Dia tidak terotolong atau dikuatkan atau menjadi lebih baik. Tetapi manusia memberkati Allah adalah “ekspresi dari memuji bersyukur”, ketika PL menyebut “memberkati Allah” ia tidak “menunjuk pada proses yang bertujuan meningkatkan kekuatan Allah”. Tetapi ia berarti “pernyataan syukur dan kekaguman”.  
Ini sama sekali bukan fenomena semantik yang aneh. Jika Allah adalah “pemberi berkat” yang paling pertama dan sumber yang tidak pernah habis, maka dia haruslah melampaui semuanya dalam keadaan “terberkati” – kepenuhan dan sumber segala “berkat”. Dan jika demikian, maka letupan pujian yang paling natural adalah “Engkau diberkati!” Bahwa pengakuan dan pernyataan sukacita tentang terberkatinya Allah  kemudian digambarkan dengan “memberkati Allah” bukanlah sesuatu yang tidak biasa. Analogi lain, sekalipun tidak persis, adalah ekspresi kita seperti: “Aku membesarkan Tuhan” atau “Mari kita meninggikan namaNya”. Kedua eksresi ini dengan tepat mengakui dan memberikan ekspresi sukacita kepada status Allah yang besar dan tinggi. Kalimat itu tidak bermaksud menjadikan Allah lebih besar atau lebih tinggi. Maka memberkati Allah berarti mengakui betapa besar kekayaanNya, kekuatanNya, dan kemurahanNya dan untuk mengekspresikan rasa syukur dan sukacita kita ketika melihat dan mengalaminya.
Di bawah ini adalah salah satu lagu dari Taize yang saya suka:

Bless the Lord, my soul, and bless God’s holy name. Bless the Lord, my soul, who leads me into life.