Wednesday, September 26, 2012

Setan = Lucifer?

Sebutlah: “Lucifer”! Dan orang Kristen akan langsung mengkaitkannya dengan setan. Setan = Lucifer dan Lucifer = Setan.

Tetapi benarkah begitu? Darimana munculnya nama “Lucifer”?

Istilah “Lucifer” berasal dari bahasa Latin untuk menerjemahkan kata Ibrani הֵילֵ֣ל (baca: helel) di dalam Yes. 14:12, yang secara harfiah berarti “a shining one” atau diterjemahkan “Day star” (NRSV) atau “Morning star” (NIV) atau “Bintang Timur” (LAI).

Gereja di daerah Barat yang berbahasa Latin memakai istilah “Lucifer” untuk menyebut “Bintang Timur” ini karena memang itulah terjemahannya dalam bahasa Latin. Dan ketika muncul Vulgate (Alkitab berbahasa Latin dari abad ke-4), disitu istilah helel dalam Yes.14:12 pun diterjemahkan menjadi “Lucifer”.

Maka “Lucifer” awalnya bukanlah nama untuk setan. “Lucifer” artinya adalah “Bintang Timur”. “Lucifer” adalah istilah yang dipakai untuk menterjemahkan helel dalam Yes. 14:12.

Lalu bagaimana “Lucifer” bisa menjadi nama untuk setan?

Kita tidak tahu persisnya siapa yang memulai, tetapi tulisan paling awal yang kita temukan menafsirkan seperti demikian adalah dari Tertullian (c. AD 160-220) dalam Against Marcion 5.11, 17 dan Origen (c. AD 184-254) dalam De Principiis 1.5.5. Origen, khususnya, melihat kaitan Yes. 14:12-15 ini dengan Lukas 10:18 dimana Yesus mengatakan, “Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit”.

Tafsiran ini, dan juga karena Vulgate, menjadi populer di abad pertengahan. Tapi para reformator sepakat menolak tafsiran ini. Dan hampir seluruh penafsir modern juga menolak tafsiran itu.

Yes.14:12-15 berada di dalam konteks penghukuman Allah bagi bangsa-bangsa. Yesaya 13 membicarakan bagaimana Allah menghancurkan kesombongan manusia, dan Yesaya 14 menjadikan Babel sebagai contohnya. Babel dan raja babel adalah contoh yang paling tepat menggambarkan kesombongan manusia. Banyak literatur kuno tentang dongeng orang Kanaan memakai bahasa yang mirip, dimana dewa yang satu menantang dewa yang lain di dalam kesombongannya. Tetapi di dalam Yesaya, yang terjadi adalah manusia menantang Allah. Dan dengan kemiripan bahasa ini, Yesaya ingin mengatakan bahwa adalah sangat bodoh menjadikan diri kita sebagai Allah dan menantang Allah! Tapi tidak ada sedikit pun indikasi bahwa ayat ini berbicara tentang setan.

Lalu mengapa tafsiran bahwa “Lucifer” adalah setan dan Yes.14:12-15 membicarakan tentang setan, tetap populer? Saya kira salah satu penyebabnya adalah King James Version. Alkitab King James Version mempertahankan istilah “Lucifer” (bahasa Latin bukan bahasa Inggris!) untuk menterjemahkan helel dalam Yes. 14:12. Dengan kata lain, King James Version mengklaim bahwa “Lucifer” bukan sekedar istilah yang berarti “Bintang Timur” tapi merupakan sebuah nama.
How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations! (Isa 14:12)
Maka berapapun populernya pendapat bahwa “Lucifer” adalah setan, itu tidak ada dasarnya di dalam Alkitab.

Wednesday, September 19, 2012

My Thesis Writing - 5

Ini mungkin salah satu periode hiatus terpanjang selama saya menulis blog. Sejak Juli saya sudah sedikit mengurus blog ini karena pontang-panting menyelesaikan thesis di tengah kesibukan pelayanan.

Berita baiknya, thesis saya sudah selesai. Saya sangat bersyukur untuk itu. Kemarin sore dan tadi pagi saya menyelesaikan seluruh proses printing (yang tidak diduga jadi suliiiitttt banget gara2 printer dan compatibility). Setelah selesai, saya tidak ingin tunda lagi, cepat2 saya ke tempat photocopy, dan balik lagi ke kampus menyerahkan tiga set thesis untuk diperiksa dan dinilai oleh para penguji.

Tidak ada sidang thesis di TTC. Untuk level M.Th, thesis akan dibaca oleh dua orang, yang satu adalah dosen Perjanjian Baru di TTC, dan yang satu lagi adalah dosen dari luar TTC (entah darimana, saya juga belum diberi tahu). Jika dua-duanya mengatakan lulus, maka saya lulus. Jika dua-duanya mengatakan tidak lulus, saya tidak lulus. Jika yang satu mengatakan lulus dan yang satu lagi tidak, maka akan dicari penguji yang ketiga. Saya berharaaaapppp… yang terjadi adalah yang pertama. Jangan sampai yang ketiga apalagi yang kedua!

Setelah berjuang selama lebih dari 1 tahun, sekarang tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain menunggu pemberitahuan mengenai hasilnya.

Saya belum bisa santai, walaupun sudah sangat kepengen nyantai. Masih harus membuat pre-pre-proposal untuk apply ke program D.Th. Sampai akhir Desember ini, di agenda saya masih ada 12X khotbah, 7X katekisasi, 2X perjamuan kudus, 1X baptisan, 3X khotbah dan pemberkatan nikah, 5X pergi ke luar Singapore, dan banyak rapat serta urusan lainnya. Saya benar-benar perlu istirahat.

Friday, August 31, 2012

Membaca Biografi Kristen

Beberapa kali saya menulis di blog ini tentang buku biografi Kristen yang saya baca. Sudah cukup lama saya tidak membaca buku biografi Kristen lagi. Sampai saya membaca sepotong tulisan dari John Piper dalam buku: Brothers, We Are Not Professionals, terjemahan The Boen Giok (Bandung: Pionir Jaya, 2011):

Teologi yang hidup. Orang-orang suci yang tidak sempurna dan inspiratif. Kisah-kisah anugerah. Inspirasi mendalam. Penghiburan terbaik. Saudaraku, itu layak memperoleh waktu berhargamu. Ingatlah kitab Ibrani pasal ke-11. Dan bacalah biografi Kristen.

Piper benar. Buku-buku biografi Kristen sangat berguna. Mereka membuka mata kita untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup berbagai manusia dengan berbagai kondisi. Dan kita baru sadar “wow, Tuhan bisa bekerja begitu”. Mereka membuka wawasan kita bahwa dunia itu luas dan cara Tuhan bekerja itu lebih luas lagi. Mereka menolong kita untuk melihat bahwa kita bukan satu-satunya orang yang mengalami hal seperti itu. Kadang kita merasa pengalaman kita unik, tapi ternyata tidak. Mereka memberikan pelajaran berharga tentang iman, keberanian, dan hikmat dari saudara-saudara seiman. Kita tidak sendirian! Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 12:1:

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita

Maka sekarang saya mulai lagi membaca buku-buku biografi Kristen. Buku biografi adalah buku ‘ringan’ yang bisa dibaca dengan santai. Bagi saya waktu santai itu adalah di waktu pagi. Setiap hari 8-10 halaman cukup memberikan inspirasi kepada saya :)

Wednesday, August 29, 2012

Bilangan 9 – Ketaatan Total

Kitab Bilangan menceritakan bagaimana Tuhan membentuk Israel menjadi tentara Allah. Pemuda yang mampu berperang dari setiap suku dihitung. Urutan lokasi perkemahan diatur. Urutan berbaris diatur. Cara meniup terompet untuk memanggil berkumpul dan bergerak ditetapkan. Teriakan perang juga diserukan setiap kali akan bergerak dan berkemah: “Apabila tabut itu berangkat, berkatalah Musa:

Bangkitlah, TUHAN, supaya musuh-Mu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu." Dan apabila tabut itu berhenti, berkatalah ia: "Kembalilah, TUHAN, kepada umat Israel yang beribu-ribu laksa ini. (Bil 10:35-36).

Dan jelas sekali dari awal, pemimpin tertinggi mereka adalah: TUHAN.

Bilangan 9:17-23 sangat menarik:

Setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah. Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah.

Kelihatannya mudah? Coba lihat lagi kalimat berikutnya:

Apabila awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci, maka orang Israel memelihara kewajibannya kepada TUHAN, dan tidaklah mereka berangkat.

Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat.

Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, merekapun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, merekapun berangkatlah.

Berapa lamapun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat.

Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.

Masih kelihatan mudah? Pasti karena kita tidak mengalaminya!

Bayangkan berapa repotnya memasang tenda. Ini bukan camping! Ini tinggal, lengkap dengan membawa keluarga, anak-anak, orang tua, bahkan ternak. Mereka harus unpacking, membongkar baju, peralatan masak, perlengkapan tidur, dan sebagainya. Dan… tanpa tahu kapan harus packing lagi! Kalau kita tinggal di hotel dan kita tahu hanya akan tinggal tiga hari, maka kita akan memilih apa yang dibawa dari rumah, apa yang dikeluarkan di hotel dan apa yang dibiarkan di koper. Tapi orang Israel tidak tahu itu.

Mereka sampai di suatu tempat, mereka harus unpacking. Dan kapan mereka packing lagi? Tidak tahu. Bisa lama sekali, bisa sebulan, bisa dua hari, bahkan bisa tidak sampai 24 jam!

Tapi Bilangan 9 menceritakan ketaatan yang luar biasa dari orang Israel. Mereka berangkat, mereka berkemah, sesuai titah Tuhan. Mereka berjalan ketika diperintahkan. Mereka tidak berjalan ketika tidak diperintahkan. Mereka tentara Tuhan!

Tuhan tidak bermaksud membuat mereka susah. Tuhan tidak bermaksud membuat hidup mereka tidak tenang. Tapi Tuhan bermaksud mengajar mereka ketaatan total. Mereka tentara Tuhan dan ketaatan mereka kepada Tuhan harus total.

Maukah kita diajar Tuhan seperti itu? Maukah kita ikut pimpinanNya, berjalan atau berkemah? Maukah kita taat total?

Wednesday, August 08, 2012

Pemudi Kesayangan Allah

Tulisan ini saya temukan di blog ini (dalam versi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diedit). Saya meminta versi bahasa Indonesianya yang ternyata dia temukan dalam sebuah milis. Dari ciri-ciri tulisannya, saya kira aslinya tulisan ini memang dibuat dalam bahasa Inggris. Entah darimana asalnya. Tapi saya menemukan bahwa tulisan ini menyampaikan pesan yang sangat kuat. Saya hanya mengedit secukupnya. Selamat membaca!

(Dipersembahkan bagi para lajang Kristen)


Pemudi kesayangan Allah, ketika aku memperhatikanmu malam ini, aku berharap dapat memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap denganmu. Aku memperhatikan wajahmu yang cantik sementara engkau menyanyi dan menyembah. Engkau mengingatkanku akan diriku sendiri tujuh tahun yang lalu.

Sehabis kebaktian, aku memperhatikan bagaimana engkau masuk ke dalam mobil dengan seorang pemuda yang tak mengenal Allah. Memang benar dia berada di gereja malam ini, dia bahkan maju ke depan dan menitikkan sedikit air mata.

Tujuh tahun silam aku berada di dalam keadaan seperti dirimu. Aku telah mengenal Allah sejak awal masa remajaku dan bertumbuh di bawah khotbah dan pengajaran yang diurapi Allah. Aku tak kekurangan teman-teman pemuda maupun mereka yang mengajakku pergi, seperti yang seringkali terjadi di dalam gereja dimana para pemudi jumlahnya lebih banyak dari para pemuda. Beberapa pemuda yang amat baik dan penuh pengabdian mencoba mendekatiku, namun iblis yang tak pernah lalai memperhatikanku, menunggu dengan sabar untuk menjerat jiwaku, dan ia melihatku ketika aku sedang suam-suam kuku. Aku memang masih pergi ke gereja dan memainkan accordionku dan menyanyi dan melakukan semua hal-hal yang tampak benar secara lahiriah. Namun aku tak pernah lagi punya waktu-waktu khusus dengan Allah dimana kehendakNya dan kehendakku menjadi satu.

Aku berjumpa dengan pemuda itu di tempat kerjaku. Dan tak lama kemudian, tanpa ada yang mengetahuinya, aku merasa seakan-akan aku tak dapat hidup tanpa dia. Dia tahu tentang gerejaku dan ketika ia hadir bersama denganku, ia maju ke depan, menangis, dan akhirnya aku menikahinya, padahal keluargaku dan mereka yang mengasihiku menangis dan merasakan kepedihan. Baru enam bulan kemudian aku menjadi sadar bahwa jiwaku berada di dalam bahaya dan bahwa aku membutuhkan jamahan Allah. Aku berdoa dan menemukan Allah. Lalu pertikaianpun dimulai. Dia tak mau ke gereja lagi. Aku dapat menghitung dengan jari-jariku saat-saat dimana ia pergi ke gereja selama tujuh tahun terakhir ini!

Sebelum menikahinya, pemikiran untuk hidup tanpa dia sungguh tak tertahankan. "Betapa sepinya!" pikirku. Namun sekarang ini aku baru tahu apa arti kesepian yang sesungguhnya, dan aku ingin menceritakannya kepadamu.

Kesepian itu adalah ketika aku menerima berkat Allah dan pulang ke rumah kepada seorang pria yang tak dapat berbagi rasa tentang hal itu denganku. Dia tak menaruh minat; dia sedang menonton televisi.

Kesepian itu adalah ketika aku pergi ke suatu kegiatan gereja seorang diri dan memperhatikan pasangan-pasangan muda lainnya menikmati berkat Allah bersama-sama. Aku boleh memilih, pergi sendiri atau tinggal di rumah sendiri; sebab dia punya minat yang lain.

Kesepian itu adalah merasakan adanya urgensi akan kedatangan Kristus yang sudah semakin dekat dan tahu bahwa orang yang paling engkau kasihi di bumi ini belum siap, bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepedulian.

Kesepian itu adalah melihat dua anak dilahirkan dan tahu bahwa untuk dapat memiliki pengaruh atas mereka yang bisa melebihi pengaruhnya merupakan suatu mujizat.

Kesepian itu adalah pergi menghadiri suatu Konferensi dan melihat pasangan-pasangan muda yang benar-benar bersatu dan mempunyai dedikasi terhadap pekerjaan Allah dan kemudian melihat... itu dia pemuda yang dulu mengasihimu dan berniat menikahimu! Ia sedang berkhotbah dan masih tetap belum menikah. Oh Tuhan! Tolonglah aku! Aku tak boleh memikirkannya!

Kesepian itu adalah berbaring di ranjang tanpa dapat memejamkan mata oleh karena dihantui perasaan bahwa dia telah mengkhianati kesetiaanmu. Dan kemudian datanglah kepedihan yang tak tertahankan karena mengetahuinya secara pasti. Ia tak peduli kalau aku mengetahuinya. Wanita itu bahkan meneleponku. Setelah beberapa lama, ia berusaha memutuskan hubungan dengan wanita itu. Aku bersumpah bahwa aku akan melakukan apa saja yang dapat dilakukan oleh seorang manusia untuk mempertahankan pernikahan ini. Aku akan lebih banyak mengasihi dia dan lebih banyak berdoa baginya.

Kemudian, tujuh tahun telah berlalu! Sekarang ada dua anak kecil: perempuan dan laki-laki!

Kesepian itu adalah sekarang. Anak-anakku dan aku akan pulang ke apartemen yang gelap, kosong, yang akan merupakan tempat tinggalku sampai tiba saatnya pengacara memutuskan bahwa segala sesuatu telah berlalu. Aku, yang dulunya paling takut hidup sendirian, sekarang ini menyongsong datangnya ketenangan dan kesunyian itu. Ketika aku bercermin, aku melihat bahwa tujuh tahun tidaklah terlalu mengubah wajahku namun di dalam diriku aku telah menjadi tua, dan sesuatu yang dulunya hidup dan indah sekarang sudah mati.

Tentu saja ini bukanlah kisah yang tak lazim. Namun yang istimewa adalah bahwa aku masih tetap hidup bagi Allah. Aku bersyukur bagi keluargaku dan doa-doa syafaat mereka bagiku. 

Oh, aku berdoa bagimu, pemudi kesayangan Allah! Percayalah kepadaku, sebaik apapun dia itu, betapapun dia penuh kasih dan kelembutan, engkau takkan dapat membangun suatu kehidupan yang berbahagia di atas ketidaktaatan kepada Firman Allah. Engkau lihat, apapun yang tersedia bagiku di masa mendatang, aku telah kehilangan kehendakNya yang sempurna bagi hidupku. Aku takkan pernah berhenti membayar harganya oleh karena melanggar perintah Allah! Jangan sampai hal itu terjadi padamu!

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (II Korintus 6:14)

(Diambil dari majalah Vanguard)

Monday, August 06, 2012

Kelas Katekisasi

Banyak gereja mengadakan kelas katekisasi sebagai kelas persiapan untuk dibaptis/sidi. Sayang
sekali kelas ini sering dianggap kelas ‘terpaksa’ yang harus diikuti karena mau dibaptis/sidi. Padahal kelas katekisasi, kelas pembinaan, atau kelas apapun untuk belajar kebenaran seharusnya bukanlah kelas membosankan yang terpaksa harus diikuti. Belajar kebenaran itu menyenangkan, menarik dan membebaskan. Mungkin apa yang pernah saya lakukan dengan kelas katekisasi bisa membantu memberikan ide, khususnya bagi anda yang majelis atau hamba Tuhan.

Di GKY Singapore saya mengajar kelas katekisasi dengan Pengakuan Iman Rasuli, dan kemudian ditambah dengan topik2 lain. Sangat disayangkan, banyak gereja yang walaupun mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli setiap minggu, banyak jemaatnya yang tidak mengerti maknanya dengan baik. Padahal Pengakuan Iman Rasuli adalah alat yang sangat berharga untuk mengajar jemaat. Apa yang kita percaya tentang Allah Tritunggal? Apa artinya 'dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria’? Apa artinya ‘gereja yang kudus dan am’? Apa yang kita percaya dengan ‘kebangkitan tubuh’? dst.

GKY sebetulnya memiliki buku panduan katekisasi yang terdiri dari 16 bagian. Tetapi karena di GKY Singapore saya pontang-panting mengajar sendirian kelas katekisasi, kelas pra nikah, dsb, maka saya memutuskan untuk memadatkan kelas katekisasi menjadi hanya 8X pertemuan. Tidak ada topik yang dikorbankan tapi saya memilih hal-hal yang penting dan menjadikan kelas katekisasi sangat padat. Berikut adalah urutannya:

Pertemuan 1: Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi (Apa artinya percaya kepada Allah, siapa Allah, dan konsep Allah Tritunggal)

Pertemuan 2: Aku percaya kepada Yesus Kristus… (Nama Yesus Kristus, Dwi Natur Yesus dan maknanya bagi kita, Kesengsaraan, Kebangkitan, Kenaikan dan Kedatangan Yesus yang kedua kali)

Pertemuan 3: Aku percaya kepada Roh Kudus (Karya Roh Kudus, Karunia Roh Kudus dan berbagai kesalahmengertian tentang Roh Kudus)

Pertemuan 4: Aku percaya kepada Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus (Pengertian tentang gereja)

Pertemuan 5: Aku percaya kepada pengampunan dosa, kebangkitan tubuh dan hidup yang kekal (Manusia diciptakan Allah, jatuh dalam dosa, jalan keselamatan dan jaminan keselamatan)

Pertemuan 6: Alkitab (Alkitab adalah Firman Allah, Memberiklan ringkasan benang merah Alkitab, Saran praktis bagaimana bersaat teduh)

Pertemuan 7: Ibadah dan Sakramen (Konsep ibadah, Perjamuan Kudus dan Baptisan Kudus)

Pertemuan 8: Kisah Gereja, Kisahku (Sejarah gereja singkat, Sejarah GKY, Peranku sebagai anggota GKY: kebaktian, doa, persembahan, pelayanan)

Saya sedang berpikir bahwa seharusnya tambah Pertemuan 9 untuk membahas bagaimana hidup sebagai orang percaya, bagaimana bertumbuh, berdoa, dan membaca Alkitab. Menurut saya 9X pertemuan itu sudah mencakup hal-hal paling dasar dalam kekristenan.

Tema-tema di atas berguna bukan hanya untuk mereka yang baru akan dibaptis/sidi tapi bagi semua orang Kristen. Saya sangat concern dengan banyaknya orang Kristen yang tidak lagi mengerti hal-hal paling dasar dalam kekristenan, mengenai pokok-pokok iman yang seharusnya mereka pegang. Salah satu cara yang bisa tapi jarang kita ‘pergunakan’ adalah kelas katekisasi. Maka di GKY Singapore, kelas itu kami buka untuk umum. Tentunya ada kewajiban hadir bagi yang ingin dibaptis/sidi, tapi bagi yang sekedar ikut mereka bebas untuk datang/tidak datang, bebas memilih untuk datang di pertemuan yang mana. Maka kelas katekisasi itu kami sebut sebagai Basic Christianity Class.

Ada satu tambahan ide lagi. Sejak tahun 2004 saya mengajar kelas katekisasi untuk remaja di GKY Green Ville (di sana kelas katekisasi dibagi dua: untuk yang usia remaja dan dewasa). Setelah beberapa kali memimpin kelas itu, sekitar tahun 2005 atau 2006 saya menambahkan ‘pertemuan kelompok’ di dalam kelas katekisasi. Kalau tidak salah ide ini saya dapatkan dari membaca buku “Post Modern Youth Ministry”. Setiap selesai pertemuan, peserta akan masuk ke dalam kelompok dengan pembimbingnya untuk mendiskusikan lebih lanjut apa yang sudah dibahas dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan. Saya melihat pola ini sangat baik. Dan akhirnya pola ini juga dipakai juga oleh kelas katekisasi umum (dewasa) di GKY Green Ville sampai sekarang.

Banyak hal bisa kita lakukan dengan kelas katekisasi. Kita bisa mengadakan Retreat di akhir kelas katekisasi. Tidak perlu banyak khotbah, tapi minta mereka banyak berdoa dan bersekutu dengan Tuhan. Kita bisa, seperti gereja awal, mengingatkan betapa seriusnya baptisan dengan meminta mereka berpuasa sebelum menerima baptisan/sidi. Tentunya banyak ide lain yang tidak semuanya bisa diterapkan di semua tempat. Tapi sungguh, kelas katekisasi, tidak seharusnya menjadi kelas ‘terpaksa’ tapi kelas mengajarkan kebenaran yang menarik, menyenangkan, dan membebaskan.

Thursday, July 19, 2012

Doctoral Study: Pro dan Kontra

Tulisan ini menyambung tulisan saya di post sebelumnya disini. Berikut ini adalah beberapa hal yang membuat saya berpikir bolak-balik, apakah saya harus mengambil studi D.Th?

Kontra: Senada seperti peringatan dari Piper, beberapa orang memperingatkan saya bahwa studi D.Th/Ph.D tidak ada gunanya untuk penggembalaan. Beberapa orang yang mendengar rencana saya untuk studi D.Th langsung bertanya apakah saya yakin ingin menjadi dosen di sekolah teologi? Pertimbangannya, kalau tidak maka untuk apa?

Pro: Sebagian orang mendorong saya untuk go ahead karena berbagai hal. Ada yang melihat ‘kesukaan’ saya belajar (padahal rasanya saya nggak suka2 amat dibanding orang lain). Ada yang melihat ‘kemampuan’ saya (ini apalagi, dari dulu saya bahkan yakin saya tidak mampu kuliah doktoral karena saya bukan scholar type). Ada juga yang melihat kebutuhan pelayanan di masa depan dan berpikir bahwa M.Th tidak akan cukup, maka kalau bisa, sekali lagi kalau bisa, teruskan sampai D.Th.

Ada dua kalimat dari dua orang dosen berbeda di TTC yang menambah ‘ramai’ pergumulan saya:

Ketika saya bertanya perlukah saya studi D.Th jika hanya melayani di gereja dan bukan seminari? Dia menjawab: “Kamu tidak akan pernah too qualified for the church of God. Kalau memang bisa, teruskan sampai di ujung (sampai D.Th).” Kalimat itu terngiang2 di telinga, GR banget berpikir kalau D.Th over qualified untuk ‘sekedar’ di gereja!

Dalam percakapan santai, seorang dosen lain berkata (tanpa ditanya): “Kalau kamu suka belajar walaupun sudah di ladang pelayanan. Kalau kamu suka untuk memikirkan hal2 yang akademis. Jangan tanya saya apakah studi lanjut adalah kehendak Tuhan, karena itu pasti kehendak Tuhan! Dari sekian banyak hamba Tuhan, tidak banyak yang suka untuk terus belajar dan memikirkan hal2 yang akademis, apalagi setelah sekian tahun melayani. Kalau kamu seperti itu, pergi studi”

Saya tetap optimis bahwa apa yang akan saya pelajari dalam studi D.Th berguna untuk pelayanan baik di sekolah teologi maupun gereja. Dan saya berpikir kalaupun andaikata jikalau… apa yang saya pelajari dalam studi D.Th itu tidak terlalu relevan dengan kehidupan penggembalaan, maka pola berpikir kritis, teologis, akademis, yang terbentuk karena studi itu pasti akan berguna.

Kontra: Tapi kemudian dosen yang sama bercerita tentang seorang Ph.D yang dia kenal. Menurut dia orang itu sama sekali tidak kelihatan ‘Ph.D’ nya. Cara berpikirnya, cara berkhotbahnya, semua tidak menunjukkan dia pernah kuliah Ph.D. Maka orang itu, menurut dia, hanya kuliah demi selembar kertas. Artinya adalah mungkin untuk kuliah Ph.D tanpa guna!

Dan kemudian saya mendengar cerita serupa dari seorang dosen sebuah seminari di Indonesia. Ada orang dengan Ph.D dari universitas terkemuka, tidak kelihatan sama sekali sisa2 ‘Ph.D’nya! Lalu apa gunanya dulu dia kuliah Ph.D? Confirmed, ternyata mungkin untuk kuliah Ph.D tanpa guna.

Pro: Saya berpikir, “tapi itu kan mereka”. Saya sudah merasakan manfaatnya kuliah M.Th, bukan soal pengetahuan tapi cara berpikir. Maka saya pikir saya tidak akan kuliah D.Th tanpa guna dan rasanya bisa.

Kontra: Mengapa tidak ambil D.Min saja? M.Th sudah memberi bekal pola akademis, maka sekarang cukup D.Min sebagai refleksi ulang seluruh pelayanan dan konsep teologi. M.Th + D.Min adalah kombinasi yang baik, bahkan berguna karena lebih ‘siap pakai’ untuk pelayanan. Waktu studi tidak terlalu panjang, beban tidak terlalu berat, dan saya bisa terus self-study dalam hal yang akademis.

Pro: Mungkinkah terbalik? Saya seharusnya studi yang akademis, lalu self-study mengenai bagaimana penerapannya.

Sudah selesai pikir bolak-baliknya? Belum!

Kontra: Beberapa kali dalam waktu dekat ini saya bertemu atau mendengar tentang orang2 yang meninggal pada usia yang cukup muda. Pengalaman itu membuat saya bertanya2, kalau saya tahu waktu saya tinggal sebentar lagi apakah saya masih mau studi? Saya yakin tidak. Dalam hati, saya lebih ingin meninggal di tengah pelayanan dan bukan di tengah studi. Banyak cerita tentang orang yang selesai studi Ph.D tidak lama kemudian meninggal. Maka ada yang berkata Ph.D = Permanent Head Damage. Dan Th.D = Thoroughly Dumb :-)

Pro: Tapi saya pikir balik lagi, saya bukan Tuhan. Saya tidak tahu umur saya. Maka dalam ketidaktahuan ini, yang harus saya lakukan adalah memilih yang terbaik yang saya tahu. Kalau saya tahu umur tidak panjang lagi, maka yang terbaik adalah tidak perlu studi. Untuk apa studi? Tapi karena saya tidak tahu, MUNGKIN yang terbaik adalah studi untuk mempersiapkan diri bagi pelayanan masa depan.

Masih banyak pikiran lain: Saya mulai lelah dengan proses studi, mampukah saya untuk meneruskannya? Saya ingin cepat bisa kembali ke Indonesia. Saya juga memikirkan keluarga. Tapi saya juga melihat bahwa betul kebutuhan pelayanan akan makin besar, dan mungkin saya perlu studi D.Th. Lagipula kesempatan studi ini now or never untuk saya. Tapi bagaimana kalau saya tidak mampu? Atau mungkin saya mampu tapi sudah lelah? Atau jangan2 lelah karena sekarang ini studi sambil pelayanan dan akan beda kalau hanya studi saja. Dan seterusnya… dan seterusnya…

Pergumulan belum selesai dan kisah saya juga belum selesai :-) Saya kira setiap kita akan bergumul pro dan kontra untuk setiap keputusan besar yang akan kita jalani. Dan rekan-rekan yang memutuskan untuk mengambil atau tidak mengambil D.Th/Ph.D mungkin bergumul yang sama seperti saya. Ada masukan lagi untuk menambah ramai pergumulan saya? Adakah yang belum saya pikirkan?