Tuesday, September 22, 2015

Sacred Dating - GKY Singapore 19 September 2015

Ini adalah rekaman seminar "Sacred Dating" di Youth Fellowship dan Young Adult Fellowship GKY Singapore, Sabtu 19 September 2015. 

Warning: Sangat panjang! :-) Apalagi ditambah Q&A di belakang.

Sesi 1: At least, dengarkan sampai 1.12.40. 
Sesi 2: At least, dengarkan sampai 1.15.10.


Sacred Dating Part 1 of 2




Sacred Dating Part 2 of 2


Friday, August 21, 2015

My Dissertation Writing - 4

Sudah hampir 2 tahun 2 bulan saya studi di program D.Th ini.

Penulisan disertasi berjalan sangat lambat, jauh lebih lambat dari yang saya harapkan. Sistem studi mandiri seperti ini (tanpa kelas, tanpa target resmi dari sekolah, tanpa dikejar supervisor) menuntut disiplin pribadi yang sangat kuat – dan sayangnya saya sangat tidak kuat :-(

Saya menetapkan sendiri target kapan harus selesai sampai mana; dan menurut target itu saya sudah ketinggalan sekitar 3-4 bulan. #tariknapaspanjang

Hari ini saya baru bertemu dengan supervisor saya mendiskusikan Bab 3 dari disertasi saya. Di dalam Bab 3 ini saya membahas argumentasi Paulus dalam surat Galatia dan bagaimana konsep ethics of Spirit berfungsi di dalamnya. Seperti biasa, setelah bertemu supervisor, semangat saya kembali tinggi. Dia selalu encouraging dan bisa menemukan yang baik dari tulisan saya yang kurang baik.

Cukup banyak revisi yang harus saya lakukan. Saya berharap bisa menyelesaikan revisi Bab 3 ini dan kembali menyerahkannya kepada dia sekitar 3-4 minggu lagi.

Berita baiknya adalah disertasi saya makin jelas arahnya. Saya makin melihat “titik terang di ujung lorong gelap.” Tetapi, perjalanan ke sana masih sangat panjang. Butuh tenaga ekstra dan konsentrasi supeerrr ekstra. Mungkin di waktu ke depan saya harus lebih “mengisolasi” diri dibanding sebelumnya.

Di tengah seringnya muncul rasa frustasi, saya mengingatkan diri bahwa saya studi karena Tuhan dan untuk Tuhan. So help me God.


Monday, August 10, 2015

Fotografer Dalam Ibadah

Sangat sering di dalam ibadah (apalagi yang sifatnya “khusus” seperti Natal, Paskah, HUT gereja, dll), atau di dalam session waktu Retreat, ada fotografer.

Saya tahu bahwa kadang kita ingin ada dokumentasi. Kita ingin mengabadikan suasana events yang khusus. Foto-foto itu kita pikir mungkin akan berguna di masa depan, untuk mengenang apa yang terjadi di gereja kita, seperti apa suasananya dulu, siapa saja yang datang, siapa yang pernah terlibat, dan lain sebagainya.

Tetapi jarang sekali kita berpikir kerugian adanya fotografer di dalam ibadah. Juga hampir tidak pernah kita menimbang seberapa penting foto-foto itu dibanding dengan kerugian yang ditimbulkan.

Mari kita pikirkan ulang beberapa hal:

1. Apakah keberadaan fotografer mengganggu jemaat yang beribadah?
Biasanya fotografer akan berjalan kesana kemari, baik di depan mimbar, kadang bahkan di belakang mimbar menghadap jemaat (!), kadang di baris samping. Kalaupun dia tidak berjalan-jalan, atau bahkan sekalipun dia hanya menggunakan handphone, tangannya yang terangkat jelas mengganggu jemaat di samping dan belakangnya. Bagaimanapun akan sangat mencolok bahwa dia adalah satu-satunya orang di situ yang aktivitasnya beda dengan jemaat lain. Sementara yang lain menyanyi dan mendengar khotbah, dia memegang kamera, mengarahkan kamera, dan memeriksa hasil foto di kamera. Lalu jemaat juga akan mendengar bunyi langkah dia (apalagi waktu berdoa) dan melihat lampu kilat yang menyala berkali-kali. Sulit untuk berkata dia tidak mengganggu.

2. Masih terkait dengan point di atas, sebagian orang menjadi tidak tenang ketika sadar bahwa dia bisa difoto kapan saja. Bagaimana dia bisa sepenuh hati memuji Tuhan ketika dia sadar kamera sedang diarahkan kepadanya (apalagi kalau dia tipe yang sangat sadar kamera). Ditambah lagi ketika dia sedang berdoa, dia mendengar bunyi shutter kamera sangat dekat di depannya. Lalu sambil mengintip dia melihat sang fotografer baru saja berjalan meninggalkan dia! Wah… saya difoto! Bagaimana ya tadi ekspresi saya? :-( 
 
3. Mungkin ini yang terpenting, pernahkah kita berpikir tentang si fotografer sendiri?
Hampir selalu fotografer itu adalah salah satu anggota jemaat. Di saat yang lain memuji Tuhan dengan suara dan alat musik, dia sibuk mencari "the perfect shots". Di saat yang lain mendengar Firman Tuhan, dia sibuk memeriksa hasil foto di kamera. Di saat yang lain mencari wajah Tuhan, dia sibuk mencari wajah yang pas untuk difoto. Apa yang dia dapat dari semuanya? Hanya kepuasan seorang fotografer dan bukan kepuasan seorang anak Tuhan yang berjumpa dengan Bapa sorgawi.

Bisakah kita memperhitungkan semua hal di atas dan memikirkan alternatif yang lebih baik? Kita perlu mencari keseimbangan antara kebutuhan dokumentasi dan meminimalisasi potensi kerugian yang ada.

Mari kita pikirkan dulu betulkah kita membutuhkan dokumentasi? Di zaman sekarang, orang cenderung ingin mendokumentasikan virtually anything and any moment. Tapi pikirkan dulu betulkah di acara itu kita membutuhkan dokumentasi? Pikirkan dulu apa kegunaannya. Banyak foto dokumentasi yang tidak pernah dilihat lagi sama sekali.

Kalau memang jawabannya adalah "ya, kita membutuhkan foto-foto itu", maka coba tanya lagi foto apa dan di bagian mana yang kita butuhkan? Kalau memang kita hanya butuh dokumentasi suasana ibadah, beberapa foto jemaat, lalu pelayan ibadah, maka batasi itu saja yang diambil. Tidak setiap momen dan bagian perlu difoto. Kadang di dalam Retreat, fotografer sibuk mengambil foto di setiap session padahal suasananya selalu sama saja. Dan berapa banyak foto yang kita butuhkan (bukan inginkan!)? Fotografer cenderung restless, terus ingin mengambil foto, menunggu perfect moments dan mendapatkan the perfect shots. Padahal sikap seperti itulah yang mengganggu ibadah. Prinsipnya adalah fotografer harus mengambil foto sesedikit mungkin dan bukan sebanyak mungkin!

Alangkah baiknya kalau ada perencanaan yang sangat baik sebelum ibadah:

- Foto momen apa yang sangat dibutuhkan? Ingat, bukan yang sangat diinginkan.
- Seperti apa acaranya dan dari posisi mana dia harus mengambil foto (yang tidak mengganggu jemaat).
- Uji coba dulu sebelum acara dimulai. Seringkali banyaknya foto yang diambil adalah karena keamatiran si fotografer yang salah setting pencahayaan di kamera.
- Lalu karena fotografer tidak boleh berjalan-jalan pada waktu ibadah, maka berapa fotografer yang dibutuhkan untuk duduk di sudut yang berbeda? Lalu bagi tugas siapa yang mengambil foto untuk momen apa. Bukan semua fotografer sama-sama mengambil foto untuk momen yang sama dengan dalih dari sudut yang berbeda.

Sekali lagi, ingat prinsipnya adalah fotografer harus mengambil foto sesedikit mungkin dan bukan sebanyak mungkin! Saya tahu ini berlawanan dengan keinginan kita yang selalu mau foto sebanyak-banyaknya. Tapi terakhir, mari pikikan berapa keuntungannya dibanding kerugiannya.

Apa keuntungan dari banyaknya foto yang didapat? Apa keuntungan mendapatkan banyaknya perfect moments yang terekam – ekspresi orang yang berdoa dengan khusuk, ekepresi satu keluarga yang bergandengan tangan waktu menyanyi, suasana sukacita jemaat, dst? Foto-foto itu akan jarang dilihat. Hanya akan dipajang sebentar di depan gereja. Atau mungkin akan dipilih untuk dimasukkan ke dalam buku kenang-kenangan nanti. Seberapa keuntungan gereja dengan adanya foto-foto itu? Saya tidak berkata tidak ada gunanya sama sekali, tapi untuk kegunaan itu berapa banyak sih foto yang dibutuhkan?

Sementara itu, apa kerugiannya? Sebagian jemaat akan merasa terganggu. Ada sesuatu yang hilang di dalam momen ibadah bagi mereka. Dan yang paling penting, pikirkan fotografernya! Waktu untuk si fotografer beribadah menjadi hilang. Kalau itu di Retreat, waktu dia untuk retreat – tenang, mundur, menikmati Tuhan, menjadi hilang karena konsentrasi pada foto. Nilai kerugian seperti ini tidak pernah bisa diukur. Kita tidak merasakan kerugian itu. Fotografer itu juga tidak merasa rugi karena kerugian rohani selalu tidak bisa diukur. Tapi kerugian itu jelas ada.

Saya tidak bilang kita sama sekali tidak boleh ada fotografer dalam ibadah, tapi pertimbangkan juga kerugiannya. Carilah keseimbangan antara kebutuhan dokumentasi (ingat lagi: bukan keinginan!) dan meminimalisasi potensi kerugian yang ada.

Wednesday, August 05, 2015

Terus “Tune Up” Dengan Allah

Salah satu sifat yang sangat menonjol dari iblis adalah “oportunis” – pandai mengambil keuntungan dari situasi yang ada.

“…jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau,…” (Kej 4:7)

Pada saat kita melakukan kesalahan, “tidak berbuat baik”, dosa sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda! Iblis menantikan saat kita lemah, saat kita berbuat bodoh, saat kita melakukan yang tidak terpuji. Saat itulah… tinggal tunggu waktu dosa akan menguasai kita karena dia sudah mengintip di depan pintu. Istilah “ia sangat menggoda engkau” mungkin lebih baik diterjemahkan “ia sangat bernafsu untuk memiliki engkau”.

“Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4:13)

Ayat ini muncul tepat di akhir kisah Yesus dicobai Iblis di padang gurun. Tiga kali Iblis mencobai Yesus dan tiga kali pula Yesus melawan dan akhirnya mengusir dia. Yesus menang! Horeee…! Tapi kalimat berikutnya sangat mengerikan: Iblis mundur dari pada Yesus dan menunggu waktu yang baik! Iblis kalah saat itu, tapi dia tidak menyerah. Dia akan datang lagi dan mencobai lagi “pada waktu yang baik.” Kapan itu? Oh, dia sangat tahu kapan waktu yang baik itu.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Pet 5:8)

Petrus menggambarkan Iblis seperti singa – menunjukkan keganasannya. Singa itu mengaum-aum – tanda kebuasan dan kelaparan. Tapi yang sangat mengerikan adalah: Singa yang mengaum-aum itu berjalan keliling dan mencari orang yang dapat ditelannya! Dia tidak tinggal diam. Dia berjalan keliling dan mencari mangsa… siapa saja yang dapat ditelannya.

Waktu kita mulai marah-marah.. dia berkata “Aha!” Waktu hati kita penuh kepahitan… dia berkata lagi “Aha!” Waktu kita kesepian, waktu kita tidak puas dengan hidup kita, waktu kita entertain dosa dalam pikiran kita, dia berkata “Wow.. aha..aha..aha!!!” Apapun keadaan kita, dalam kelemahan kita sebagai manusia, dia akan masuk dan memanfaatkannya untuk menjatuhkan kita.

Kalau Iblis begitu oportunis, apa yang harus kita lakukan?

Satu-satunya yang bisa menjaga kita dari kejatuhan adalah kalau hati kita terus menerus “tune up” dengan Allah. Seperti mobil ketika terus dipakai bisa menjadi tidak pas lagi, mesin mulai kotor, baut mulai kendor, karet mulai aus, maka ia perlu di tune up lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya. Demikian pula hidup kita.

Ada banyak sekali hal yang membuat kita lelah dan letih. Ada banyak sekali godaan di sekitar kita. Ada banyak sekali hal yang membuat kita menginginkan yang tidak benar. Kita perlu di “tune up” lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya – Tuhan sendiri.

Tapi berapa sering kita perlu “tune up”? Sesering mungkin!

Tidak seperti mesin mobil yang bisa bertahan lama tanpa tune up, kita tidak bisa! Dengan sangat mudah dan cepat, keadaan hati kita menjadi berantakan dan siap untuk diterkam oleh iblis. Pagi hari kita bisa membaca Alkitab dan berdoa, bahkan berjanji untuk hidup bagi Tuhan, tapi siang harinya kita bisa lupa semuanya. Maka sesering mungkin, terus menerus, continuously, kita perlu “tune up” hati kita dengan Allah.

Mungkin itu berarti setiap kali muncul pikiran yang tidak baik, kita berhenti sejenak dan berdoa mengingat akan kekudusan Tuhan. Mungkin itu berarti setiap kali kita kuatir, takut, kita berhenti sejenak dan mengingat kebesaran Tuhan. Mungkin itu berarti dalam keadaan “baik” pun kita sering berhenti sejenak untuk menyadari kehadiran-Nya, mengingat janji-Nya dan perintah-Nya.

Orang-orang yang disebut giants dalam kerohanian berdoa. Kita juga berdoa. Tapi perbedaan mereka dengan kita adalah: Mereka berdoa continuously. Bukan berarti mereka tidak bekerja… tapi mereka terus menerus hidup bersama Tuhan. Mereka terus “tune up” dengan Allah.

Hanya dengan demikianlah, kita menutup kesempatan bagi Iblis - si raja oportunis  itu, untuk menerkam kita.

Tuesday, July 21, 2015

NIV (New International Version) Bible: Sesat? Pro LGBT?

Beberapa waktu ini di berbagai kelompok Kristen di Indonesia ramai dibicarakan tentang NIV Bible. Isu ini menjadi ramai karena NIV Bible adalah Alkitab bahasa Inggris yang paling banyak digunakan (mungkin termasuk di Indonesia).

Ada beberapa isu yang diangkat, tetapi dua yang paling besar adalah: Pertama, "ditemukan" banyak ayat yang hilang di dalam NIV. Pembandingnya adalah KJV (King James Version). Ada banyak ayat yang ada di dalam KJV dan Alkitab bahasa Indonesia, yang ternyata tidak ada di dalam NIV. Kedua, NIV diterbitkan oleh Zondervan yang dimiliki Harper Collins yang juga menerbitkan Satanic Bible dan The Joy of Gay Sex.

Awalnya saya enggan meresponi debat seperti ini karena sebenarnya isu ini, khususnya yang pertama, adalah isu yang kunoooo sekali. Meminjam istilah Larry Hurtado, itu adalah isu Zombie – sudah dibunuh tapi bangun lagi, dibunuh bangun lagi, dibunuh bangun lagi. Cape sekali meladeninya. Saya juga tahu bahwa di belakang munculnya isu ini adalah para “pemuja” KJV yang sangat ngotot. Tetapi, apa boleh buat, karena hebohnya isu ini, saya pikir ada baiknya memberi tanggapan singkat untuk menolong orang-orang Kristen yang jadi bingung karena ini.

Berikut ini adalah sedikit sejarah di balik Perjanjian Baru kita, khususnya KJV (King James Version).

Kita tahu bahwa kitab-kitab di dalam Perjanjian Baru ditulis di dalam bahasa Yunani. Tetapi, tidak ada satupun naskah asli hasil tulisan langsung para penulis pertama (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, Petrus, Yakobus, dll) yang masih ada sampai sekarang. Semua mungkin sudah hancur karena pada waktu itu mereka menulis di atas dua macam material: Papirus (kertas yang dibuat dari pohon papirus) dan Perkamen (dari kulit hewan). Maka naskah Perjanjian Baru yang kita miliki adalah hasil salinan.

Orang-orang Kristen mula-mula menyalin hasil tulisan para penulis pertama itu dan menyebarkannya. Naskah itu kemudian disalin lagi dan disebarkan lagi. Demikian seterusnya. Maka kita menemukan banyak sekali naskah Perjanjian Baru tersebar di banyak sekali tempat!

Seiring dengan penyalinan demi penyalinan, sangat wajar terjadi human errors. Ada yang tidak disengaja, misalnya terlompat 1 baris atau terlompat 1 kata. Ada juga yang disengaja, misalnya seorang yang menyalin naskah untuk jemaatnya merasa tulisan sang rasul terlalu sulit untuk dimengerti, maka dia berpikir ada baiknya kalau sedikit dia tambahkan keterangan. Ada beberapa jenis human errors seperti ini yang terjadi. Darimana kita tahu? Dari membandingkannya dengan naskah-naskah lain. Para ahli teks mengerjakan ini (dengan cara yang astaganaga susahnya) dan mempertimbangkan setiap kemungkinan. Satu hal lagi yang perlu diketahui: Hampir semua naskah yang kita miliki tidak lengkap Matius-Wahyu, tetapi terpisah-pisah, ada yang 1 kitab saja, dan ada yang berisi beberapa kitab.

Ketika gereja semakin tersebar, dirasakan perlu adanya terjemahan Alkitab di dalam bahasa-bahasa lain. Salah satu terjemahan yang paling terkenal waktu itu adalah Vulgate (bahasa Latin).

Singkat cerita, pada abad ke 16, setelah penemuan mesin cetak, seorang bernama Erasmus memutuskan untuk menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani (waktu itu naskah yang dipakai secara luas adalah Vulgate - Bahasa latin). Tetapi, dia tidak bisa menemukan naskah kuno yang berisi lengkap seluruh Perjanjian Baru. Ditambah lagi waktu itu dia diburu waktu untuk menyelesaikan proyek penerbitan itu. Maka dia menggunakan dua naskah bahasa Yunani yang adalah salinan dari abad 12 dan tergolong inferior (kurang reliable), satu hanya berisi Injil dan satu lagi hanya berisi Kisah Para Rasul dan surat-surat. Erasmus membandingkan naskah itu dengan 2-3 naskah lain dan mengoreksinya sesuai pendapatnya sendiri. Untuk kitab Wahyu, dia hanya menemukan 1 naskah Yunani saja dari abad 12 yang, celakanya, halaman terakhirnya hilang (berisi 6 ayat). Maka untuk mengisi 6 ayat itu dan juga beberapa ayat lain di Perjanjian Baru yang Erasmus rasa kurang jelas, dia mengambil Vulgate (bahasa Latin) dan menerjemahkannya ulang ke bahasa Yunani! (Bayangkan, dulu orang terjemahkan naskah Yunani ke Latin (Vulgate), sekarang dia terjemahkan ulang dari Latin ke Yunani, seakan-akan ini naskah aslinya). Hasil akhir karya Erasmus adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang sangat tidak reliable! Edisi hasil karya Erasmus ini disebut Textus Receptus (Received Text).

Belakangan, ada naskah-naskah lain yang ditemukan lagi oleh Erasmus. Maka dia membuat beberapa perbaikan pada Textus Receptus. Edisi terakhir Textus Receptus versi Erasmus diterbitkan pada tahun 1535. Tetapi, sampai edisi akhir itu, Erasmus hanya menggunakan beberapa naskah saja dan naskah tertua yang dia gunakan berasal dari abad 10 saja. Textus Receptus kemudian direvisi lagi oleh Robertus Stephanus (sampai 4 edisi) dan Theodore Beza (sampai 9 edisi). Setiap revisi berusaha memperbaiki kekurangan yang ada berdasarkan penemuan naskah-naskah lain.

Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang disebut Textus Receptus inilah yang digunakan untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Alkitab KJV. Sekalipun KJV yang sekarang kita miliki tidak diterjemahkan dari Textus Receptus edisi pertama, tetapi KJV pada dasarnya dibuat berdasarkan naskah Yunani yang kurang reliable karena relatif "muda". Harus diakui bahwa KJV adalah terjemahan bahasa Inggris yang sangat indah. Tetapi, dalam banyak ayat, dia tidak reliable. KJV ini juga mengalami beberapa kali revisi.

Kalau ada yang tertarik mempelajari mengenai ini, boleh membaca buku Bruce Metzger, The Text of the New Testament, 4th edition. 

Setelah Textus Receptus, ada ribuan naskah Yunani lain yang ditemukan yang jauh lebih tua dan jauh lebih reliable. Naskah-naskah itu dikumpulkan, diteliti, dibandingkan, dengan berbagai cara yang asataganaga susahnya. Kemudian para ahli merekonstruksi naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani yang mendekati aslinya. Seorang ahli Perjanjian Baru berani mengatakan naskah hasil rekonstruksi modern ini bisa dikatakan 99% sama dengan naskah asli tulisan para penulis pertama. Perbedaannya, kalaupun ada, hanya di tempat-tempat yang tidak signifikan dan tidak akan mempengaruhi doktrin apapun. Sekarang ini, teks Perjanjian Baru bahasa Yunani yang standar diterima adalah Nestle-Aland Greek New Testament (sekarang edisi ke-28) atau juga disebut United Bible Societies Greek New Testament. Alkitab bahasa Inggris versi modern, termasuk NIV, diterjemahkan dari naskah hasil rekonstruksi ini.

Tentu setiap versi Alkitab akan menggunakan teks hasil revisi terakhir pada waktu ia diterbitkan. Para penterjemah KJV menggunakan teks Yunani hasil revisi terakhir yang tersedia waktu itu yaitu Textus Receptus. Para penterjemah NIV (dan juga versi Alkitab lainnya) juga menggunakan teks Yunani hasil revisi terakhir di zaman masing-masing. Singkat kata, KJV diterjemahkan dari Textus Receptus yang berisi naskah-naskah Yunani yang ratusan tahun lebih muda dari yang digunakan NIV. Artinya KJV mengumpulkan kesalahan penyalinan yang jauh lebih banyak. Sementara NIV diterjemahkan dari naskah Yunani hasil perbandingan ribuan naskah kuno dan adalah hasil karya ratusan orang selama puluhan tahun.

Sekarang saya bisa mulai menjawab mengenai ayat-ayat yang “hilang” dari NIV, seperti Mat 17:21, 18:11, 23:14, Mark 7:16, 9:44, 9:46, Luk 17:36, Yoh 5:4, dst. Ayat-ayat itu bukan hilang tetapi memang tidak ada di dalam naskah asli! Saya sederhanakan ceritanya menjadi begini: Textus Receptus menggunakan naskah Yunani dari abad ke-10 dan ke-12. Di dalam naskah-naskah itu, ditemukan ayat-ayat itu. Maka KJV yang diterjemahkan dari Textus Receptus memasukkan ayat-ayat itu. Tetapi, kemudian ditemukan naskah-naskah Yunani yang jauh lebih tua dan reliable yang ternyata tidak ada ayat-ayat itu! Maka terjemahan yang lebih modern seperti NIV tidak memasukkannya. Alkitab bahasa Indonesia, karena pertimbangan tertentu, memasukkan ayat-ayat itu tetapi diberi tanda kurung (walaupun tidak semua, karena pertimbangan yang saya tidak tahu). Beberapa versi Alkitab bahasa Inggris menempatkannya di catatan kaki. Apapun cara yang dipakai, maksudnya jelas, ayat-ayat itu ada pada beberapa naskah, tetapi tidak ada pada naskah-naskah Yunani yang lebih tua dan reliable.

Tuduhan lain yang juga disebutkan adalah hilangnya beberapa kata “penting” di dalam NIV. Saya sebutkan dua contoh saja: “only begotten” di Yohanes 1.14,18; 3.16,18 dan “sodomite” di Ulangan 23.17. Khusus untuk kata “sodomite,” dikaitkan dengan Dr. Marten Woudstra yang dulu menjadi ketua komite penerjemahan Perjanjian Lama dari NIV yang dituduh adalah seorang gay.

Frase “only begotten” dari “monogenes” (Yunani) diterjemahkan oleh NIV menjadi “one and only”. Permisi tanya, salahnya dimana?? Setiap terjemahan pasti bergumul bagaimana menerjemahkan dengan setia, artinya tidak merubah arti tapi bisa dimengerti dengan jelas dan tidak disalah mengerti oleh pembaca modern. That is translation! Tidak salah monogenes diterjemahkan "one and only". Istilah “begotten” dalam KJV juga tidak salah (Catatan: istilah ini justru lebih mudah disalah mengerti seakan Yesus dicipta oleh Allah - dan ini yang dipakai oleh Saksi Yehuwa).

Mengenai kata “sodomite” dalam KJV di Ulangan 23.17, untuk jelasnya bisa dibandingkan dengan terjemahan lain:

There shall be no whore of the daughters of Israel, nor a sodomite of the sons of Israel. (KJV)

None of the daughters of Israel shall be a cult prostitute, and none of the sons of Israel shall be a cult prostitute. (ESV)

Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti. (LAI)

No Israelite man or woman is to become a shrine prostitute. (NIV)

Di zaman itu di kuil-kuil penyembahan berhala ada pelacur-pelacur, pria dan wanita, yang melayani orang yang datang. Orang-orang itu menyembah berhala melalui berhubungan seks dengan pelacur-pelacur itu. Istilah ini yang muncul di dalam teks bahasa Ibrani. Maka ESV memperjelasnya dengan istilah “cult prostitute” untuk pria dan wanita. Alkitab bahasa Indonesia menggunakan istilah “pelacur bakti” untuk wanita dan “semburit bakti” untuk pria. NIV menggunakan istilah “shrine prostitute” untuk pria dan wanita. Kalau dibandingkan dengan teks bahasa Ibrani, justru KJV yang salah. Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan terhadap Dr. Marten Woudstra, saya tidak melihat hubungannya dengan hilangnya kata “sodomite” di dalam NIV.

Terakhir, mengenai Zondervan yang dimiliki oleh Harper Collins. Karena Harper Collins juga menerbitkan Satanic Bible dan The Joy of Gay Sex, maka NIV dituduh juga mendukung yang sama. Ini logika yang sangat aneh.

Pada tahun 1987, perusahaan News Corporation milik konglomerat Rupert Murdoch membeli Harper & Row (berdiri tahun 1817). Tahun 1990, mereka membeli William Collins & Sons (berdiri tahun 1819). Gabungan dua perusahaan itu membuat nama divisi penerbitan di bawah News Corporation itu menjadi Harper Collins. Zondervan sendiri dibeli pada tahun 1988. Harper Collins adalah raksasa dunia penerbitan dengan banyak sekali “anak perusahaan” - berbagai penerbit yang berada di bawahnya. Salah satu anak perusahaan di bawah Harper Collins adalah Avon yang menerbitkan Satanic Bible. Anak perusahaan lainnya adalah Harper Resource yang menerbitkan The Joy of Gay Sex. Seberapa besar pengaruh CEO Avon dan CEO Harper Resource terhadap CEO Zondervan? Kita tidak tahu. Mereka sama-sama anak perusahaan di bawah Harper Collins. Masing-masing penerbit di bawah Harper Collins mungkin saja mandiri, selama menghasilkan keuntungan, di bawah payung perusahaan konglomerat News Corporation.

Yang pasti, proyek penerjemahan NIV dimulai tahun 1965 dan diterbitkan pertama kali tahun 1978. Versi yang populer digunakan adalah hasil revisi tahun 1984. NIV kemudian direvisi menjadi TNIV yang terbit tahun 2005. Pada tahun 2011, muncul edisi revisi lagi yang menggantikan semua edisi yang terdahulu.

Apakah NIV Bible (tahun 1984) yang sangat populer itu pro LGBT karena Zondervan dimiliki oleh Harper Collins? Padahal Zondervan baru dibeli oleh Harper Collins di tahun 1988!

Apakah NIV edisi 2011 pro LGBT seperti yang dituduhkan? Saya bahkan bingung darimana asalnya tuduhan ini! TNIV (2005) ditolak oleh sebagian kalangan Injili karena mengganti beberapa istilah menjadi gender-inclusive. Misalnya “God created man” menjadi “God created human beings” walaupun istilah Allah sebagai “Father” tetap tidak diganti. Perubahan ini bukan atas dorongan kaum LGBT, tetapi kaum feminis yang mengeluh bahwa terjemahan Alkitab terlalu patriarkis. Maka di ayat-ayat yang artinya memang bukan "pria saja" tetapi "pria dan wanita", NIV merubah terjemahannya. Versi revisi 2011 sudah mempertimbangkan berbagai masukan lagi dan, walaupun tetap mengalami penolakan sebagian orang, dipuji oleh banyak kalangan.

Perlu diketahui bahwa teks NIV bukan dimiliki oleh Zondervan tetapi oleh Biblica (dulu: International Bible Society). Zondervan hanya diberikan lisensi oleh Biblica untuk menjadi distributor NIV Bible di USA. Untuk di UK, Biblica memberikan lisensi kepada Hodder & Stoughton.

Kembali ke tuduhannya, apakah karena Zondervan (distributor NIV di USA) dimiliki oleh Harper Collins yang juga memiliki Avon (yang menerbitkan Satanic Bible) dan Harper Resource (yang menerbitkan The Joy of Gay Sex), maka NIV pro LGBT dan juga satanic? Saya hanya bisa mengelus dada :-( Bukan karena saya ingin membela Zondervan, apalagi Harper Collins, tetapi tuduhan itu tidak berdasar dan tidak masuk akal sama sekali.

Saya juga tidak mengatakan NIV Bible adalah terjemahan yang sempurna! Tidak! Tidak ada terjemahan yang sempurna. Semua pasti ada kekurangan di sana sini. Tetapi, menuduh bahwa NIV sengaja menghilangkan ayat tertentu atau kata tertentu karena sesat, pro LGBT, atau satanic, hanya bisa dimunculkan oleh orang-orang aneh – dalam hal ini para “pemuja” KJV.

Committee on Bible Translation (CBT) yang bertanggung jawab untuk teks NIV Bible berisi orang-orang Injili yang sangat committed kepada Alkitab sebagai Firman Tuhan. Silakan cek nama-nama mereka.


Catatan akhir:

Sekalian membahas isu ini, belakangan ada berita muncul Alkitab kaum LGBT: Queen James Bible. Dari apa yang saya baca, Alkitab ini tidak ada bedanya dengan KJV, hanya ada 8 ayat yang diganti supaya lebih LGBT -friendly. Tidak ada dasar sama sekali untuk penggantian ayat-ayat itu selain untuk mencocokkan dengan agenda si penerbit. Alkitab ini diterbitkan oleh Queen James – tidak jelas siapa. Maka anggap saja ini hasil karya orang iseng atau orang aneh, that’s it.

Saturday, July 11, 2015

Jesus Loves You

Kemarin malam saya teringat sebuah reffrain lagu dalam bahasa Mandarin.  Kata-katanya sangat menyentuh saya:

Yesu ai ni (Yesus mencintaimu)
Yesu teng ni (Yesus menyayangimu)
Yesu neng zao yi ge quan xin de ni (Yesus mampu menciptakan dirimu yang seluruhnya baru)

Setiap kali saya menyanyikan kalimat yang kedua “Yesu teng ni” saya terharu...

Kata “teng” (dibaca: theng – “e” nya seperti dalam “sebab”) dalam bahasa Mandarin punya 2 arti: Pertama adalah “kesakitan” (ache, have a pain). Kedua adalah “sayang” (love dearly, be fond of, dote on), maka bukan sayang biasa tapi sayang banget, suka banget, demen banget.

Tidak bisa tidak, setiap kali mengatakan “Yesu teng ni” saya membayangkan Yesus begitu sayang, begitu suka, begitu demen, banget banget... sampai “kesakitan” saking sayangnya kepada kita. Sayang yang sampai sakit.

Cepat-cepat saya cari di youtube dan mendengarkannya sambil meresapi kata-katanya. Lirik lagunya seperti ini (saya terjemahkan bebas):

Engkau berkata hari mendung mewakili perasaanmu
Hari hujan lebih lagi mencerminkan reaksimu atas kehidupan
Engkau bilang setiap hari kehidupan sama saja datar
Tidak ada sedikitpun keyakinan akan masa depan
Kawan terkasih, pernahkah engkau memperhatikan bintang yang memenuhi langit
Berharap ada seseorang yang mampu mengerti hatimu
Mampu mencintaimu, memperbarui kekuatanmu

Yesus mampu menjadikan semuanya baru
Yesus mampu mengerti perasaanmu
Yesus mampu mengubah (transformasi) masa lalumu
Yesus mencintaimu
Yesus menyayangimu
Yesus mampu menciptakan dirimu yang seluruhnya baru

Coba baca lagi!

Engkau melihat hidup sangat suram, mendung, hujan, datar, tidak ada keyakinan. Engkau merenung, bertanya-tanya "darimanakah akan datang pertolonganku?" (Mazmur 121:1).

Bolehkah saya berkata seperti lagu ini?

Kawan terkasih... Yesus mengerti perasaanmu.
Yesus mampu mengubah semuanya.
Dia mencintaimu.
Dia menyayangimu banget banget... sampai sakit!
Yesus mampu menciptakan dirimu yang baru, bukan tanggung-tanggung tapi SELURUHNYA baru!

Yesu ai ni!
Yesu teng ni!


Ini link lagunya di youtube, coba dengarkan sampai selesai:
https://www.youtube.com/watch?v=lgzsjo-ZML4

Thursday, July 02, 2015

Memasuki "Second-Half" Tahun 2015

Saya ingat di akhir tahun 2014, saya berkhotbah di GKY Green Ville dari kisah Daud dan Goliat.
Waktu itu saya mengajak jemaat menatap ke depan, ke tahun 2015, bersama dengan seluruh Goliat-nya di sana. Menatapnya, menghadapinya dan memenangkannya bersama dengan Tuhan.

Sekarang setengah tahun 2015 sudah berlalu. Saya merenungkan apa yang saya pribadi alami dan saya sadar bahwa selama setengah tahun ini saya sendiri sudah bertemu dengan  Goliat, bukan 1, bukan 2, tetapi banyak. Saya pun ngos-ngosan dibuatnya. Maka saya merenungkan kembali kisah Daud dan Goliat dan Firman Tuhan kembali berbicara kepada saya.

Saya yakin selama setengah tahun ini, bukan hanya saya tetapi banyak dari kita yang sudah kelabakan menghadapi Goliat demi Goliat. Itu sebabnya, minggu ini di dalam kebaktian GKY Singapore, di minggu pertama di paruhan kedua tahun 2015, saya akan kembali berkhotbah dari kisah Daud dan Goliat. Saya berdoa supaya Tuhan sekali lagi mengajar saya dan juga jemaat.

Pagi ini di dalam saat teduh pribadi, saya begitu ingin mendapat kekuatan dari Tuhan, saya ingin merasakan Tuhan menopang saya, dan tiba-tiba saya ingin menyanyi. Saat itulah saya teringat akan lagu ini:

Tuhan, hanya kepadaMu,
ku dapat s’lalu berharap
Kau takkan pernah membiarkan
ku bergumul sendirian

Di dalam kelemahanku,
kuasaMu jadi sempurna
Kau takkan pernah tinggal diam
untuk memberi pertolongan

Reff:
Tuhanku berkuasa untuk melakukan perkara yang besar

Dia ajaib bagiku
Tuhanku berkuasa untuk memberikan kemenangan besar
di dalam hidupku

Maka saya pun berkata: "Amin!"