Friday, February 03, 2017

Lakukanlah Kepadaku Apapun Juga

Saya menaruh buku The Imitation of Christ (Thomas A. Kempis) di atas meja belajar saya. Kadang saya mengambilnya, membaca satu bagian singkat, merenung sebentar, dan disegarkan atau ditantang olehnya. Hari ini saya membaca sebuah bagian berupa doa dari seorang murid Kristus:

Lord, what You say is true. Your care for me is greater than all the care I can take of myself. For he who does not cast all his care upon You stands very unsafely. If only my will remain right and firm towards You, Lord, do with me whatever pleases You. For whatever You shall do with me can only be good. 

If You wish me to be in darkness, I shall bless You. And if You wish me to be in light, again I shall bless You. If You stoop down to comfort me, I shall bless You, and if You wish me to be afflicted, I shall bless You forever.

Saya terjemahkan bebas:

Tuhan, perkataanMu benar adanya. PemeliharaanMu bagiku melebihi apapun yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri. Karena barangsiapa yang tidak meletakkan segala kekuatirannya padaMu berdiri dengan sangat tidak aman. Kalau saja kehendakku tetap benar dan teguh terarah kepadaMu, Tuhan, lakukanlah kepadaku apapun yang menyukakanMu. Karena apapun yang akan Kau lakukan kepadaku hanyalah kebaikan semata. 

Jika Engkau menginginkanku berada dalam kegelapan, aku akan memujiMu. Dan jika Engkau menginginkanku untuk berada dalam terang, juga aku akan memujiMu. Jika Engkau membungkuk untuk menghiburku, aku akan memujiMu, dan jika Engkau menginginkanku menderita kemalangan, aku akan memujiMu selamanya. 

Saya membaca doa ini beberapa kali. Ada dua hal yang kemudian terpikir oleh saya: Pertama, saya tahu apa yang dia tuliskan di dalam bentuk doa itu sangatlah tepat. Itulah doa seorang Kristen yang mencintai Tuhannya - doa seorang murid Kristus. Tetapi, yang kedua, saya ngeri untuk mengucapkannya dengan sungguh.

Sangat jarang sebetulnya kita berdoa kepada Tuhan dengan sikap "lakukanlah kepadaku apapun juga." Hampir tidak pernah kita berdoa "Tuhan berikanlah kepadaku apapun juga, kegelapan, terang, penghiburan, penderitaan... apapun juga... dan aku tetap akan memujiMu!" Wow...

Kalau doa ini menyebutkan dua sisi, A dan B, senang dan susah, sehat dan sakit, kaya dan miskin, maka kita selalu minta yang A. Lebih celaka lagi kalau sikap kita: "Berikan aku yang A, karena itu sudah seharusnya. Berikan aku yang B, maka aku marah."

Kalau kita perhatikan, dia berani berdoa seperti di paragraf kedua it karena ada paragraf pertama. Dia berani berdoa minta "apapun juga" karena dia percaya kepada Tuhan. Dia percaya akan kasih dan pemeliharaan Tuhan. Dia percaya Tuhan mampu dan mau memelihara dia bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Apapun yang baik yang dia inginkan bagi dirinya, Tuhan lebih ingin! Itu sebabnya dia percaya apapun yang dilakukan Tuhan kepadanya adalah kebaikan semata. Maka "Bring it on, Lord! Lakukanlah kepadaku apapun juga! Aku akan memujiMu!"

Saya jadi berpikir betapa bedanya hidup rohani kita kalau kita sering berdoa seperti ini.

Betapa kita, termasuk saya, perlu terus belajar berdoa. Karena bagaimana kita berdoa - berbincang dengan Tuhan, akan menentukan kerohanian kita.

Monday, November 14, 2016

Glittering Vices - Rebecca Konyndyk DeYoung

Rebecca Konyndyk DeYoung, Glittering Vices: A New Look at the Seven Deadly Sins And Their Remedies (Grand Rapids: Brazos Press, 2009), 205 pages.


Secara tidak sengaja, saya melihat buku ini dijual sangat murah di sebuah perpustakaan sekolah teologi. Saya lihat topiknya, penulisnya, dan karena murahnya, saya putuskan untuk membelinya. Di luar dugaan, buku ini sangat bagus.

Buku ini membahas apa yang sering disebut sebagai “Tujuh Dosa Maut (Seven Deadly Sins)”. DeYoung sebetulnya lebih setuju dengan istilah capital vices daripada deadly sins. Ada dua alasan: Pertama, “vice”menunjukkan kebiasaan (habit) atau tipe karakter (character trait). Artinya bukan sekedar perbuatan dosa tetapi sebuah kebiasaan dosa di dalam diri kita yang sudah lama kita kembangkan dan sudah mengakar. Kedua, “capital” artinya adalah “kepala” atau “sumber”. Dari tujuh vices inilah muncul berbagai vices yang lain, dan itulah sebabnya mereka disebut “deadly”.

DeYoung memulai pembahasannya dengan menjelaskan asal usul pemahaman akan capital vices itu dalam tradisi Kristen mulai dari zaman “the desert fathers” (sekitar abad ke-3 dan ke-4). Banyak penjelasannya juga diambil dari Thomas Aquinas (abad ke-13). Lalu dia menjelaskan mengapa tujuh vices ini yang dimasukkan dan mengapa mereka begitu kuat mempengaruhi hidup manusia.

Dengan sangat baik, dia kemudian menjelaskan satu persatu “Seven Capital Vices” itu:

Envy: Feeling Bitter When Others Have It Better
Vainglory: Image Is Everything
Sloth: Resistance to the Demands of Love
Avarice: I Want It All
Anger: Holy Emotion or Hellish Passion
Gluttony: Feeding Your Face and Starving Your Heart
Lust: Smoke, Fire, and Ashes

Buku ini bukan hanya mengajak kita mengerti arti setiap vice, tetapi dengan tajam memperlihatkan bagaimana vice itu mungkin ada di dalam hati kita. Kemudian di setiap akhir pembahasan salah satu vice, dia akan mengusulkan sebuah disiplin rohani untuk mengubah kebiasaan dosa itu. Karena vice bersifat kebiasaan, maka kita perlu mematahkan kebiasaan itu dan menggantinya dengan kebiasaan lain, begitu rupa, sampai itu mengakar dalam diri kita. Maka dari vice berganti menjadi virtue.

Berikut adalah beberapa kutipan dari buku ini:

“If we think about the people we envy, and we envy them in particular, a pattern emerges. Enviers don’t usually envy those who are far removed from their lives and lifestyles, or who are vastly more talented or successful than they are. They tend to envy people to whom they might actually be compared unfavorably, that is, those who are just like them – only better.” (p.49).

“If we step back for a moment, it is disconcerting to think how much of our lives are spent keeping up appearances to impress lots of other people on the basis of qualities that we don’t have or that don’t really matter.” (p.65).

“Acedia’s (Sloth) greatest temptations are escapism and despair – when we don’t feel like being godly or loving anymore, to abandon ship and give up, to drift away inwardly or outwardly toward something more comfortable or immediately comforting… Thus, its greatest remedy is to resist the urge to get out or give up, and instead to stay the course, stick to one’s commitments, and persevere.” (p.97).

Buku ini bukanlah buku yang “berat” tetapi juga bukan buku yang “ringan”. Dia tidak menulis buku ini untuk kalangan akademis maka istilah-istilah yang dipergunakan juga sederhana dan bukan teknis teologis. Tetapi, buku ini bukan buku yang bisa dibaca dengan cepat dan sambil lalu. Perlu ketelitian dan ketenangan untuk membacanya. Kita perlu membacanya dengan cermat sambil memeriksa diri – satu kali. Lalu, sambil bergumul dengan kehidupan, kita perlu membacanya lagi dan memeriksa diri lagi.

Highly recommended!

Monday, October 31, 2016

Mimpi Untuk "Young, Restless, Reformed Movement"

Sepuluh tahun yang lalu, Collin Hansen, seorang jurnalis, menulis sebuah artikel di majalah Christianity Today dengan judul “Young, Restless, Reformed”.

Di akhir abad ke-20 muncul sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “Emerging Church.” Gerakan itu adalah reaksi, di satu sisi terhadap tradisionalisme gereja yang sangat kaku, dan di sisi lain terhadap gerakan “Church Growth” yang menjadikan gereja seperti perusahaan yang produknya adalah pertambahan anggota dan caranya adalah marketing dan entertainment.

Gerakan “Emerging Church” ini sangat beragam dan sulit didefinisikan. Tetapi, pada dasarnya, mereka mencoba membangun bentuk gereja yang baru, ibadah yang tidak dibatasi oleh norma lama, meniadakan pembedaan clergy-laity (hamba Tuhan-awam), menekankan pengalaman sekaligus tradisi, cenderung meniadakan perbedaan teologi, dan berbagai karakteristik lainnya.

Tetapi, di saat yang bersamaan, muncul sebuah gerakan lain. Mereka juga bereaksi terhadap kondisi gereja yang sama tetapi tetapi ke arah yang berbeda. Gerakan ini tidak sebombastis “Emerging Church” yang banyak dibahas di dalam buku maupun penelitian. Gerakan ini luput dari perhatian tetapi, secara perlahan namun pasti, gerakan ini bahkan diduga lebih besar dari “Emerging Church”.

Fenomena inilah yang diamati oleh Hansen. Dia menemukan munculnya sebuah ketertarikan di antara orang Kristen di Amerika, khususnya anak muda, kepada teologi Reformed.

Hansen memutuskan untuk menyelidikinya dan hasilnya menegaskan bahwa ada kebangunan teologi Reformed khususnya di anak muda Kristen di Amerika. Anak-anak muda itu gelisah (restless) dan mereka mencari sesuatu yang tidak mereka temukan di gereja. Beberapa tokoh Kristen (khususnya John Piper) membuat mereka menemukan kembali doktrin yang agung dari iman Kristen. Mereka lelah dengan gereja yang hanya menghibur dan tidak mengajar. Mereka lelah dengan gereja yang memberikan khotbah dan pengajaran yang dangkal. Mereka mengejar pemahaman Alkitab dan teologi yang dalam dan mereka menemukan itu pada teologi Reformed, dengan penekanannya akan kedaulatan, anugrah dan kemuliaan Allah. Maka Collin Hansen menyebut gerakan ini sebagai “Young, Restless, Reformed Movement” (YRMM).

Pengamatan Collin Hansen sama sekali tidak salah. Tahun 2009, majalah Time menyebut gerakan itu sebagai New Calvinism dan menobatkannya sebagai salah satu dari “10 Pemikiran yang Merubah Dunia Saat Ini”.

Saya sempat membaca beberapa cerita tentang dampak gerakan ini: Persekutuan anak muda yang membahas buku Systematic Theology dari Wayne Grudem; mahasiswa-mahasiswa yang sering mengutip kalimat John Piper; Passion Conference yang diadakan oleh Louie Giglio (seringkali John Piper menjadi pembicaranya) menarik 50.000-60.000 mahasiswa setiap tahunnya (kalau belum tahu siapa Louie Giglio, pasti tahu salah satu worship leader di gerejanya: Chris Tomlin); berbagai konferensi serupa (yang isinya selalu sangat biblikal dan dalam) dibanjiri oleh anak-anak muda.

John Piper menyebutkan beberapa ciri dari New Calvinism ini yang membuatnya berbeda dengan older Calvinism. Beberapa di antaranya: gerakan ini menerima bentuk ibadah dan musik yang kontemporer, ada banyak gereja Baptis dan Kharismatik yang menjadi Reformed dalam teologinya, Jonathan Edwards menjadi tokoh yang sangat penting, dan penekanan yang kuat bahwa gereja harus multi-etnis dan adanya kerinduan akan keharmonisan rasial.

Mereka bukanlah orang-orang yang besar di kepala, penuh pengetahuan, tetapi kosong hidupnya. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang bersemangat hidup buat Tuhan. Tidak heran, tokoh-tokoh Puritan (gerakan Reformed di Inggris abad ke-16 dan 17) khususnya Jonathan Edwards, menjadi idola baru mereka. Pada tokoh-tokoh itu ada penekanan kuat dalam hidup kerohanian, mengasihi Kristus, kehidupan yang baik dalam keluarga dan pekerjaan, dan juga bersaksi serta menginjili.

Gerakan ini masih berlangsung saat ini, dan masih kuat, walaupun tidak seheboh waktu awal kemunculannya dengan besarnya gelombang anak muda yang mendadak tertarik kepada teologi Reformed.

Ketika membaca cerita di atas, hati saya menjadi gelisah. Saya menginginkan hal yang sama terjadi di Indonesia!

Sejauh yang saya amati, pikirkan, dan rasakan, anak muda di Indonesia seperti gandum yang siap dituai untuk menjadi "Young, Restless, Reformed". Tetapi sampai sekarang saya belum melihat adanya penuaian yang besar terjadi.

Gereja dan juga sekolah teologi di dalam tradisi Reformed, ketika bicara soal anak muda, sering terjebak hanya kepada program yang menarik, musik yang wah, kreatifitas yang berani, dan sebagainya. Tetapi belum mengarah pada pengajaran yang mendalam, doktrin yang mencerahkan, pengertian yang menantang intelektualitas, dan kecintaan mendalam pada Firman Tuhan. Di sisi lain, ada yang sudah menekankan pengajaran yang mendalam, tetapi gagal membentuk karakter dan menghasilkan orang yang sombong. Padahal kesombongan banyak orang Reformed (older Calvinism) itulah batu sandungan besar untuk banyak orang.

Hari ini adalah peringatan hari reformasi yang ke-499. Saya ingin bermimpi dan berdoa.

Saya bermimpi dan berdoa supaya di Indonesia muncul gerakan di antara jemaat kecintaan kepada Firman Tuhan, kesukaan belajar doktrin-doktrin yang agung dalam kekristenan, kehidupan rohani yang mendalam, dan kesaksian yang kuat akan berita anugrah Injil.

Saya bermimpi dan berdoa supaya gereja-gereja, sekolah-sekolah teologi, para pengkhotbah, yang berlatar belakang tradisi Reformed, ambil bagian dalam gerakan ini.

Saya bermimpi dan berdoa supaya Tuhan juga memakai saya, dalam segala kelemahan yang ada, ikut mengerjakan penuaian ini.

Sola Scriptura – hanya oleh (dasar) Alkitab
Sola Gratia – hanya oleh anugrah
Sola Fide – hanya oleh iman
Solus Christus – hanya oleh Kristus
Soli Deo Gloria – kemuliaan hanya bagi Tuhan

Friday, September 30, 2016

Rasul Paulus: Kitab dan Pedang di Tangan

Rasul Paulus dulu bukan rasul favorit saya (kalau boleh bermain favoritisme). Saya selalu pusing membaca tulisan-tulisannya yang sangat padat dan seperti berputar-putar. Saya juga kurang suka dengan sifatnya yang terkesan garang. Maka, lagi-lagi kalau boleh bermain favoritisme, saya lebih menyukai rasul Yohanes. Tulisannya sangat indah dan menyentuh. Dia menulis dengan mendalam tetapi seringkali misterius sehingga membuat saya perlu merenung untuk mengertinya.

Saya masih menyukai rasul Yohanes. Itu sebabnya dulu pada waktu studi program M.Th, saya ingin membuat thesis dari tulisan rasul Yohanes. Tetapi jalan saya akhirnya berbeda. Saya menulis thesis M.Th mengenai konsep misi dari rasul Paulus dan sekarang saya menulis disertasi D.Th tentang surat Galatia. Setelah bertahun-tahun saya duduk di bawah kaki rasul Paulus, mempelajari tulisannya, argumennya, dan lebih mengenal dia, saya semakin menyukai dan mengagumi dia.

Entah anda pernah memperhatikan atau tidak, seringkali rasul Paulus dilukiskan sedang memegang sebuah kitab dan sebuah pedang.

 

Saya menyukai dua lukisan di atas. Keduanya menggambarkan kelembutan raut wajah dari rasul Paulus, walaupun yang di atas juga menampilkan sedikit sisi kegarangannya.

Kitab atau buku yang dibawanya melambangkan berita Injil yang disampaikannya. Orang yang serius mempelajari tulisan rasul Paulus tidak akan ragu bahwa dia sangat berkomitmen untuk berita Injil. Hidupnya sepenuhnya dia curahkan untuk memberitakan Injil. Hatinya dan air matanya tercurah untuk jemaat yang dikasihinya. Berbagai penderitaan fisik, yang tidak bisa kita bayangkan, dia tanggung. Bukan hanya itu. Saya berkali-kali tertegun melihat rasul yang luar biasa ini mengalami ditolak, ditinggalkan, diragukan motivasinya, tidak dipercaya ajarannya, oleh jemaat yang dia dirikan sendiri! Hanya Tuhan yang tahu berapa besarnya penderitaan emosi yang dia pikul. Semua hanya untuk Injil.

Pedang di tangannya melambangkan kematian yang akan ditempuhnya. Menurut tradisi, khususnya dari tulisan Eusebius (abad ke-3-4), rasul Paulus mati dipenggal kepalanya pada pemerintahan kaisar Nero. Lukisan ini menggambarkan, seakan-akan, rasul Paulus menjalani kehidupannya dengan kesadaran akan kematiannya bagi Kristus yang di depan mata. "Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu." (2 Kor 4.11-12).

Rasul Paulus menjadi inspirasi yang tidak habis-habisnya bagi saya. What's not to love about him? Kitab dan pedang di tangan.

Relakah saya menjalani hidup seperti itu? Rasul Paulus mengingatkan saya akan arti jalan salib.

Wednesday, September 21, 2016

My Dissertation Writing - 5

Saya baru saja menyerahkan Bab 4 dari disertasi saya. Saya lelah sekali, atau lebih tepatnya kehabisan tenaga. Kalau bisa mungkin kepala saya sudah mengeluarkan asap. 

Saya makin menyadari bahwa saya bukan mesin dan hidup saya tidak steril dari masalah. Segala sesuatu bisa direncanakan (dan menurut rencana harusnya sekarang saya sudah di ujung Bab 6). Secara perhitungan, seharusnya saya bisa menyelesaikan sampai sekian dalam waktu sekian. Kenyataannya tidak pernah begitu. Ada masanya otak ini buntu, badan sakit, mood hilang, ide terbang. Ada masanya juga masalah demi masalah menghantam dan saya tidak mampu bekerja. Apa boleh buat, saya bukan mesin.

Ditambah lagi saya makin menyadari sesuatu yang dari dulu sebenarnya saya sudah sadar: Saya ini lambat berpikir. Kadang saya bisa cepat, kalau yang sifatnya sederhana. Tapi begitu menyangkut sesuatu yang mendalam, saya lambat sekali. Saya perlu waktu membaca, berpikir, buuaanyak trial and error, terus begitu… dan itu lama.

Dalam segala kelemahan ini saya makin melihat kasih karunia Tuhan. Walaupun lambat, saya tidak mungkin bisa sampai di tahap ini kalau bukan karena Tuhan. Maka, sekali lagi, saya hanya bisa memohon pertolongan Tuhan.

Beberapa bulan lalu, dalam percakapan dengan beberapa orang, saya berkata bahwa saya sudah mau menyerah. Pikiran itu sempat agak “matang”! Saya sudah mulai memikirkan alasan-alasan untuk tidak menyelesaikan studi – dari yang mulia sampai yang kurang mulia. Tetapi, akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan: Selama masih ada waktu dan kesempatan, saya harus dan akan berjuang. Maka, selama ada waktu dan kesempatan, selamat tinggal dulu semua alasan untuk tidak menyelesaikan studi.

Saya sangaaattt berharap tidak ada perbaikan besar untuk Bab 4 yang sudah dikumpulkan. Besok, saya siap menyambut Bab 5 – tidak tahu akan berapa sulit dan berapa lama saya mengerjakannya. Tapi, mudah-mudahan, saya bisa menyelesaikannya dalam 4 bulan.

Err... I want to stay alive...

Friday, September 02, 2016

The Trellis and The Vine & The Vine Project - Colin Marshall & Tony Payne

Saya baru saja menyelesaikan membaca dua buku ini yang ditulis oleh Colin Marshall dan TonyPayne.

Buku pertama, The Trellis and the Vine, terbit pada tahun 2009 dan menjadi populer. Mengambil perumpamaan dari pohon anggur, mereka mengajak kita melihat bahwa pelayanan kita seharusnya fokus pada vine (anggur) dan bukan pada trellis (terali). Terali perlu ada untuk menunjang pertumbuhan anggur tetapi seringkali kita menghabiskan waktu, tenaga, perhatian, hanya untuk membangun terali dan bukan menumbuhkan anggur.

Bab 1-2 buku itu adalah bab yang sangat penting karena disitulah mereka menguraikan “ministry mind-shift” yang mereka maksudkan. Dalam bab 3-5 mereka menguraikan dasar Alkitab dari konsep mereka. Tidak seluruhnya menarik, menurut saya, tetapi cukup bagus untuk bahan pemikiran lebih mendalam.

Dalam bab 6-8, mereka mulai menyodorkan konsep pelatihan di dalam gereja. Lalu empat bab terakhir buku itu (Bab 9-12) bersifat praktis: Bagaimana melatih co-workers, orang seperti apa yang dipilih, program magang pelayanan, dan bagaimana memulai semuanya.

Buku itu menggugah kesadaran banyak pemimpin gereja bahwa seharusnya mereka fokus mengerjakan vine dan bukan trellis. Tetapi, tidak semudah itu mengerjakan perubahan di dalam gereja. Maka banyak pembaca buku itu bertanya: "Apa yang harus kami lakukan? Jikalau pemuridan hanya dijalankan secara sporadis atau sebagai salah satu “program gereja” maka hasilnya tidak akan terlalu menjanjikan. Tetapi, bagaimana kami bisa membentuk seluruh kultur gereja menjadi disciple-making?"

Maka buku yang kedua, The Vine Project, terbit pada tahun 2016, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka menyadari banyaknya kesulitan yang dihadapi ketika pemimpin gereja ingin menjalankan proyek itu. Maka, seperti yang ditulis oleh mereka di bagian pendahuluan, buku ini bukanlah sekedar untuk dibaca tetapi merupakan sebuah proyek. Mereka menyarankan (mendesak) setiap gereja untuk membentuk tim The Vine Project dan menggunakan buku ini sebagai panduan menjalankan proyek yang besar, sulit, tetapi sangat penting itu.

Mereka membagi proyek ini dalam lima tahap.

Tahap pertama adalah mempertajam keyakinan akan apa yang Tuhan mau kita lakukan. Kita mencoba memperjelas keyakinan kita akan tujuan dan nilai-nilai yang seharusnya ada di dalam pelayanan kita. Tahap ini penting supaya kita memikirkan dengan jelas kaitan antara praktek yang akan kita lakukan dengan teologi.

Tahap kedua adalah mereformasi kultur pribadi kita. Tahap ini sangat menarik dan penting. Banyak orang ingin cepat melakukan sesuatu, membuat program, menyusun kurikulum, menyebarkan brosur, lalu menggerakkan tim untuk mengerjakannya. Tetapi, dengan cara demikian, mereka akan terjebak lagi membangun trellis. Kelemahan utama pendekatan seperti itu adalah mereka (pemimpin gereja) belum pernah melakukan sendiri program yang akan mereka buat. Maka mereka sulit mengerti kesulitan dan halangan yang akan terjadi. Demikian pula, apa yang dikatakan dan dilakukan oleh pemimpin, keputusan-keputusan, prioritas-prioritas, atau kultur pribadinya, akan menjadi titik tolak yang sangat penting bagi sebuah gerakan seperti ini.

Tahap ketiga adalah mulai mengevaluasi gereja. Sama seperti tahap pertama dan kedua, mereka memberikan panduan apa saja yang harus dievaluasi dan bagaimana melakukannya.

Baru di tahap keempat kita masuk kepada tahap inovasi dan implementasi. Beberapa wilayah yang mereka ajak kita fokuskan adalah: Kebaktian Minggu (ini sangat penting), Merancang jalan untuk membawa orang (dari posisi manapun: belum bertobat, baru bertobat, ataupun sudah bertumbuh) makin bertumbuh, Merencanakan apa yang harus dilakukan ketika pertumbuhan terjadi (kualitas dan kuantitas), dan terakhir, Menciptakan bahasa baru yaitu mengkomunikasikan dengan jelas apa yang ingin dilakukan oleh gereja, sedemikian rupa, sehingga ditangkap oleh seluruh jemaat.

Tahap kelima adalah mempertahankan momentum. Proyek ini sama sekali tidak mudah dan tidak cepat. Di dalam prosesnya, bukan saja perhatian, tenaga, waktu, sumber daya, akan banyak terkuras, tekanan juga akan sangat besar dirasakan. Maka sangat penting memikirkan bagaimana menjaga konsistensi dalam menjalankannya.

Hampir untuk setiap bagian yang dibicarakan, buku ini memberikan referensi kepada resources yang bisa dipakai. Akan sangat menolong jika kita juga bisa melihat resources itu dan mempertimbangkan untuk menggunakannya. Buku ini juga didukung oleh situs http://thevineproject.com dimana bisa ditemukan banyak kisah nyata dan wawancara dengan para pemimpin gereja yang menjalankan ini dan juga berbagai resources lainnya.

Kelemahan buku ini adalah ketika dibaca akan terasa too wordy. Tetapi hal ini bisa dipahami karena mereka memang tidak memaksudkannya untuk “dibaca” tetapi “dipergunakan” sebagai panduan dan bahan diskusi.

Saran saya, bacalah dulu buku yang pertama. Hanya jika anda yakin ingin menjalankan perubahan di dalam gereja anda, baru bacalah (dan belilah) buku yang kedua. Saya yakin buku itu akan sangat menolong.

It's time to change, but do it carefully and prayerfully!

Monday, August 22, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 2

Menyambung tulisan sebelumnya di sini, ada meme atau virus of the mind lain mengenai khotbah yang juga populer sekaligus berbahaya. Meme itu berbunyi begini: “Apapun yang disampaikan pengkhotbah di mimbar dalam kebaktian, tentu ditambah dengan membacakan Alkitab, adalah ‘Firman Tuhan’.”

Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah menulis “What is a Sermon?” Apa yang saya tulis di sana tidak perlu saya ulangi lagi. Ada satu definisi yang saya pergunakan di sana yang saya yakin kebanyakan kita akan setuju: “Khotbah adalah penguraian Firman Tuhan (Alkitab).” 

Mari sekarang kita melihatnya dengan sedikit lebih luas.

Kebaktian itu selalu di dalam konteks penyembahan dialogis dan komunal. Komunal artinya umat Tuhan berkumpul bersama, menyembah Tuhan di dalam persekutuan – artinya bukan menyembah Tuhan sendiri-sendiri, tapi bersama-sama, sebagai kumpulan orang yang sudah ditebus Tuhan. Dialogis, artinya kebaktian bukanlah satu arah, seakan-akan di dalam kebaktian arahnya hanya dari kita ke Tuhan. Kebaktian itu dua arah karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Dia mendengar doa kita. Dia memberkati kita. Dan Dia berkata-kata kepada kita, khususnya dan terutama, melalui Firman yang tertulis. Maka kebaktian selalu dari kita (bukan saya) ke Tuhan dan dari Tuhan ke kita – komunal dan dialogis.

Kalau begitu, dimana posisi khotbah dalam skema dialogis ini? Tuhan ke kita! Lalu dimana posisi pengkhotbah? Di satu sisi dia adalah bagian dari jemaat yang menyembah Tuhan dan harus mendengar suara Tuhan. Di sisi yang lain dia dipakai Tuhan untuk menyampaikan suara Tuhan melalui penguraian Firman yang tertulis. 

Jikalau khotbah adalah menguraikan Firman Tuhan (Tuhan ke kita), maka khotbah harus betul-betul menjadi waktu dimana Firman Tuhan dibacakan dan dijelaskan, sedemikian rupa sehingga suara Tuhan itu diperdengarkan. Tugas pengkhotbah adalah memastikan bahwa itulah yang sedang dia lakukan. Lalu apa tugas jemaat? Mereka harus mendengar dengan aktif, berpikir dengan kritis, menguji kebenarannya, dan membuka hati untuk berubah.

Pengkhotbah tidak boleh berpikir bahwa khotbah adalah sekedar cari ayat Alkitab untuk dibacakan, lalu cari bahan pembicaraan yang isinya motivasi, nasihat kehidupan, konsep “menarik” yang dia baca di buku, dan diusahakan supaya lebih menarik dengan bumbu humor, klip video, atau cerita yang menyentuh. Pertanyaannya apakah dia menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan? Apakah dia memperdengarkan suara Tuhan sesuai dengan bagian Alkitab yang dibacakan?

Dan di dalam khotbah, jemaat seharusnya menuntut untuk mendengar, belajar, dan mengerti Firman Tuhan. Jangan sekedar mencari khotbah yang “kena” (walaupun itu penting), karena “kena” itu mungkin karena apa yang dibicarakan pas sesuai dengan pergumulan atau kelemahan kita, walaupun tidak menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan. Jangan sekedar mencari yang menarik dan tidak mengantuk (walaupun itu juga penting). Carilah, ini harus berulang kali diingatkan, yang setia menguraikan Firman Tuhan!

Virus of the mind yang satu ini merusak pertumbuhan gereja. Pengkhotbah berpikir, dengan berdiri di mimbar, bicara, mengkaitkannya dengan Firman Tuhan, apalagi kalau berhasil membuatnya menarik, pokoknya dia sudah menyampaikan “Firman Tuhan.” Jemaat berpikir, pokoknya yang disampaikan pengkhotbah adalah “Firman Tuhan”, maka mereka harus rendah hati dan menerima, apalagi kalau memang ada hal-hal yang “kena”.

Hasilnya? Pengkhotbah tidak merasa perlu berubah dan jemaat tidak bisa berubah. Virus pun mewabah.