Wednesday, June 27, 2007

Lukas 9:18-27

(Tulisan di bawah ini saya buat sebagai bahan saat teduh untuk Retreat GKY Green Ville "Invitation to A Journey" 21-23 Juni 2007)

Mengikut Yesus adalah sebuah pilihan hidup. Makin lama mengikut Yesus kita akan makin sadar hal itu.

Dalam percakapan dengan beberapa orang yang sedang bergumul untuk menjadi hamba Tuhan, saya sering mendengar bahwa masalah yang memberatkan mereka adalah "menjadi hamba Tuhan berarti tidak menjadi kaya dalam materi".

Ada dua hal yang sangat mengganjal bagi saya. Pertama, mengapa perlu bergumul berat untuk hal itu? Bukankah aneh mengikut Tuhan harus ditimbang dengan materi? Kedua, mengapa pergumulan ini sepertinya khas pergumulan ‘menjadi hamba Tuhan’? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk menyangkal diri dan memikul salib? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk membayar harga mengikut Dia sekalipun sampai kehilangan nyawa? Dan bukankah SETIAP ORANG itu berarti SEMUA!? Lalu mengapa hanya pergumulan menjadi hamba Tuhan yang identik dengan pergumulan untuk hidup sederhana, hidup kudus, menderita, taat kemanapun Tuhan suruh, sementara menjadi pengusaha, karyawan, profesional dan lain-lain tidak harus bergumul seperti demikian?

Tidak heran banyak orang Kristen yang merasa bisa sembarangan mengikut Yesus, kecuali menjadi hamba Tuhan. Dan banyak hamba Tuhan juga merasa bisa sembarangan mengikut Yesus karena sekedar sudah menjadi hamba Tuhan.

Mau tidak mau harus kita akui bahwa kita banyak dibesarkan dengan nilai-nilai dunia. Dan bahkan sampai saat ini, promosi nilai-nilai dunia itu terus membombardir kita:
“Hidup yang baik itu adalah kaya, mapan, terhormat”
“Bangga sekali kalau punya simbol-simbol kesuksesan seperti: mobil mewah, rumah mewah, gaya hidup glamour”

atau bahkan dalam pelayanan sekalipun:
“Dipuji orang, dibutuhkan, punya jabatan, itulah pelayanan yang diberkati”

Darimana kita belajar itu? Dari dunia! Maka sebenarnya bukan Firman Tuhan tetapi nilai-nilai dunia yang membentuk kita. Dan yang sangat menyedihkan, berapapun seringnya kita mendengar Firman Tuhan, nilai-nilai dunia itu terus kita simpan di tempat yang aman dalam hati kita. Kita lindungi itu. Kita tidak membiarkan bagian itu disentuh dan diubah oleh Tuhan. Kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan, mengasihi Tuhan, ingin menyenangkan Tuhan, tapi dalam hati tetap mengatakan:
“Saya mau ini Tuhan”
“Aduh enaknya kalau begitu Tuhan”
“Jangan berikan itu Tuhan!”
“Jangan sampai saya kehilangan ini Tuhan”

Maka kapan sebetulnya kita sungguh mengikut Yesus? Itulah sebabnya banyak orang Kristen hidup tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen.

"Memiliki hidup dalam segala kelimpahannya" adalah janji Tuhan Yesus bagi mereka yang mengikuti Dia. Tetapi mengikut Yesus bukan hanya menjadi orang Kristen dan sekedar ‘lumayan’ dan ‘kadang-kadang’ taat. Mengikut Yesus adalah mengarahkan mata kepada Dia dan membutakan diri terhadap yang lain, mengarahkan telinga kepada suaraNya dan menulikan diri terhadap suara lain, dan itu kita lakukan setiap hari. Bukankah Dia adalah Tuhan, Mesias dari Allah, bagi kita?

Saya akan mengakhiri dengan sebuah doa yang saya cuplik dari doa Henry Nouwen:

Pilihan untuk mengikuti jalanMu harus kubuat setiap saat dalam hidupku. Aku harus memilih pikiran yang adalah pikiranMu, kata-kata yang adalah sabdaMu, tindakan-tindakan yang adalah karyaMu. Tidak ada tempat dan waktu tanpa pilihan.

Aku sungguh ingin mengikutiMu, tetapi juga mau mengikuti keinginan-keinginanku sendiri dan senang mendengarkan suara-suara yang berbicara mengenai kedudukan, keberhasilan, kehormatan, kesenangan, kekuasaan dan pengaruh. Bantulah aku, agar aku menjadi tuli terhadap suara-suara seperti itu dan semakin peka mendengarkan suaraMu yang memanggil aku…

Apakah itu juga adalah doa kita? Dengarlah kalimat Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut AKu, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”.

Saturday, June 16, 2007

Lukas 8:4-15


Tulisan di bawah ini saya buat sebagai bahan saat teduh untuk Retreat GKY Green Ville "Invitation to A Journey" 21-23 Juni 2007

Mungkin sudah bertahun-tahun kita menjadi orang Kristen. Entah sudah berapa banyak ayat Alkitab yang kita baca dan entah berapa ratus atau bahkan berapa ribu penjelasannya (khotbah) yang kita dengar. Tetapi seperti perumpamaan yang disampaikan Yesus, semua benih yang ditabur itu akan menjadi percuma kalau tidak jatuh pada tanah yang baik.

Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa masalah paling utama bukanlah berapa banyak yang didengar tapi berapa banyak yang dilakukan. Saya setuju! Tetapi cara berpikir seperti ini juga seringkali membuat kita hanya menekankan ‘tindakan melakukan’ Firman Tuhan. Dan ini bisa berdampak serius.

Misalnya ketika kita membaca ‘kasih itu sabar, kasih itu murah hati…’. Kita akan berjuang untuk terlihat sabar sekalipun marah, dan berjuang untuk terlihat murah hati walaupun tidak rela. Lalu kita rasa kita sudah melakukan Firman Tuhan.

Demikian pula kita akan menghitung apakah kita sudah berdoa, ke gereja, pelayanan, memberikan persembahan, dll. Dan kalau kita sudah melakukannya, kita akan merasa puas, merasa sudah bertumbuh. Padahal kita tidak pernah bertumbuh.

Dalam hal ‘tindakan melakukan’, yang paling hebat mungkin adalah orang Farisi. Tetapi jangan lupa, mereka justru ditegur Yesus! Mereka tidak bertumbuh sekalipun melakukan semuanya. Mereka hanya memasang kuk yang tidak enak dan beban yang berat atas pundak mereka dan orang lain.

Seperti berbuah adalah keharusan, melakukan Firman adalah keharusan. Tetapi jangan lupa ada proses dari benih sampai menjadi buah: benih itu harus ‘masuk’ benar ke tanah, berakar perlahan ke bawah dan bertumbuh perlahan ke atas. Demikian pula ada proses dari ‘mendengar’ Firman ke ‘melakukan’ Firman.

Dengan menggunakan analogi yang sama, minimal ada 3 hal yang harus kita perhatikan:

Firman yang didengar itu harus ‘masuk’ benar ke dalam kita. Bagaimana caranya? Mungkin ilustrasi berikut dari Eugene Peterson bisa membantu. Seekor anjing yang mendapat tulang akan menggigitnya, mengunyahnya, menjilatnya dan kadang menggeram dengan puas. Dia menikmatinya dan tidak terburu-buru menghabiskannya. Yes 31:4 memakai gambaran yang sama: “Seperti seekor singa…menggeram untuk mempertahankan mangsanya”. Istilah menggeram di situ menggambarkan singa yang sedang menikmati mangsanya. Dan yang menarik adalah, istilah yang sama dipakai dalam Mzm 1 dan diterjemahkan ‘merenung’. “Berbahagialah orang" yang “kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam”.

Bayangkan seperti seekor anjing yang begitu menikmati tulang, menggigit, mengunyah, menjilat, dan kadang menggeram dengan puas, atau seperti singa yang begitu menikmati mangsanya, demikianlah kita menikmati Firman Tuhan! Apakah itu yang kita alami waktu mendengar dan membaca Firman?
Kita harus membersihkan tanah itu dari batu dan semak duri. Ini sama sekali bukan pekerjaan yang gampang. Ada dosa, kekhawatiran, kekerasan hati, kepahitan, semua itu satu-persatu harus kita bawa kepada Tuhan untuk dibersihkan. Kita menyediakan tanah yang subur untuk benih itu bertumbuh.

Dan akhirnya, sabar membiarkan Tuhan bekerja. Tidak ada pertumbuhan yang bisa dipercepat. Satu-satunya yang bisa kita lakukan dengan lebih cepat adalah merusak pertumbuhan itu sendiri. Kita hanya membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Dan maksud saya adalah sungguh-sungguh MEMBIARKAN Tuhan bekerja. Jangan halangi dengan dosa, jangan halangi dengan ketidak taatan kita, jangan halangi dengan kemalasan kita!

Kita akan melihat buah itu keluar. Melakukan Firman Tuhan bukan lagi sebagai beban tetapi mengalir keluar dari hidup kita. Sebagaimana pohonnya sudah menjadi pohon yang baik, demikianlah buahnya akan baik.

Itu sebabnya Yesus mengatakan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”.

Wednesday, June 13, 2007

Menulis

Menulis bagi saya adalah salah satu disiplin rohani.

Setiap hari ada banyak peristiwa yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan kalimat-kalimat yang kita dengar. Kalau kita menerima semuanya secara biasa saja, maka peristiwa yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan kalimat-kalimat yang kita dengar itu, hanya akan menjadi bagian yang ‘lewat’ begitu saja dalam hidup kita.

Bagi kita yang mengenal Tuhan, gaya hidup seperti ini mungkin adalah gaya hidup yang skizofrenik. Sekalipun Firman Tuhan kita dengar dan pelajari tapi ketika berhadapan dengan berbagai hal dalam kehidupan, pikiran dan perasaan yang seharusnya sudah dipengaruhi Firman Tuhan itu tidak bekerja atau lebih tepatnya tidak diusahakan untuk bekerja.

Cara hidup seperti ini membuat kita tidak bertumbuh. Pikiran kita dan perasaan kita yang seharusnya makin tajam dibentuk oleh Firman, justru kita latih untuk tumpul dan apatis. Dan lebih buruk lagi, karena benteng pikiran dan perasaan kita menjadi tumpul, tanpa kita sadari banyak pengaruh dari luar masuk kepada kita.

Maka selalu bergumul adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika kita melihat orang sakit yang bertanya “dimana Tuhan?”, apakah kita secara gampang langsung memberikan jawab “aduh orang ini kurang beriman” atau kita ikut bergumul dengan dia? Ketika kita mengalami peristiwa yang tidak enak dan kita marah, apakah kita hanya merasa “sudah seharusnya saya marah” atau bergumul “mengapa saya marah”? Ketika kita melihat berbagai peristiwa dalam gereja, apakah kita menganggapnya biasa saja, atau mengurut dada saja, atau kita jadi menggumuli kehendak Tuhan? Ketika kita mendengar kalimat-kalimat yang salah atau indah, apakah kita membandingkannya dengan Firman Tuhan?

Saya mencoba bergumul dengan peristiwa yang saya alami, hal-hal yang saya lihat, kalimat-kalimat yang saya dengar. Tidak selalu berhasil karena tidak selalu saya cukup peka dan cukup rajin untuk bergumul. Tetapi saya menemukan bahwa ternyata menulis itu mendorong saya untuk mengingat, mengevaluasi dan merenungkan semua itu dari kacamata Firman Tuhan.

Maka menulis adalah salah satu disiplin rohani untuk melatih pikiran dan perasaan kita bekerja dan bereaksi sesuai dengan Firman Tuhan.

Yuk, latihan menulis! Paling tidak bisa kita lakukan dengan menulis jurnal pribadi, yang isinya bukan hanya catatan kegiatan kita, juga bukan hanya luapan emosi kita, tetapi pergumulan mengerti Firman, pergumulan untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan, dan kesadaran akan anugrah Tuhan yang bekerja dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita.

Tuesday, May 29, 2007

Doa Ku Dari Doa Bapa Kami

Bapa kami yang di sorga
Tuhan yang di sorga, terima kasih aku boleh memanggilmu Bapa. Dan terima kasih karena aku tahu aku tidak sendirian dalam perjalanan rohaniku di dunia ini. Aku punya keluarga iman, orang-orang yang di dalam iman bersama-sama berseru menyebutMu: Bapa kami!

Dikuduskanlah namaMu
Bapa, ampuni kalau seringkali aku tidak menghormati kekudusanMu. Ajar aku untuk merindukan namaMu ditinggikan dan dihormati. Jangan biarkan ada orang yang menista Engkau, ya Bapa. Kalau hari ini aku melihat orang melakukannya, biarlah hatiku berkobar karena cinta akan Engkau. Kalau Engkau masih mengizinkan orang-orang menista namaMu, jangan biarkan aku, anakMu ini, ikut melakukannya. Nyatakan kekudusanMu di dalam dunia ini supaya semua orang takut akan Engkau!

Datanglah kerajaanMu
Tuhan pakailah aku dan pakailah gerejaMu untuk memperluas kerajaanMu. Biar lewat hidup kami, terpancar kasih, keadilan, kebenaran dan rasa hormat akan Engkau. Biar kerajaanMu dan kuasa pemerintahanMu makin nyata. Kami rindu, ya Bapa, semua lutut bertelut dan semua lidah mengaku: Engkaulah Tuhan!

Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga
Betapa berbedanya, ya Bapa, bumi dengan sorga. Di sorga, semua tahu siapa yang memerintah, semua malaikat melayani Engkau, semua mengasihiMu. Selama di bumi, aku akan terus melihat manusia berjuang saling menguasai, melayani diri, berebut uang dan kehormatan. Karena itulah hatiku merindukan sorga.... Tetapi aku rindu bukan cuma di sorga, tetapi saat ini juga di bumi ini, kehendak Bapa terjadi. Dan karena aku anakMu ini lemah, mulailah dari aku hari ini, ya Bapa.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
Dua hal aku minta: penuhi hatiku dengan rasa syukur untuk semua yang Kau berikan termasuk sepiring nasi yang berasal dari padaMu dan puaskan hatiku dengan apa yang Kau berikan. Jangan aku tidak bersyukur, dan jangan aku meminta lebih dari yang aku perlukan. Berikanlah ya Bapa berkatMu yang cukup bagiku untuk menjalankan tugasku di dunia. Dan beri aku kerelaan untuk membagikan kepada orang lain kelebihan yang Engkau berikan.

Dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami
Ampunilah aku ya Bapa untuk kesalahan dan dosaku. Ajar aku juga mengampuni orang lain. Jangan biarkan aku memandang remeh dosaku dan memandang berat dosa orang lain, apalagi saudara-saudaraku yang Engkau tempatkan di sekitarku untuk kukasihi.

Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat
Bapa, kadang-kadang kejahatan terasa mengurung aku dan aku tidak tahan. Kadang-kadang situasi terasa begitu menekan dan menggodaku untuk melakukan kejahatan baik lewat mulutku maupun tindakanku. Lepaskanlah aku ya Bapa daripada yang jahat supaya aku jangan jatuh ke dalam pencobaan. Bapa, janganlah murka kepada kelemahanku, ingatlah akan kasih sayangMu. Apapun yang terjadi, jangan biarkan aku sendirian dalam dunia yang jahat ini dan pencobaan menggulungku sampai habis.

Aku memanjatkan doaku dengan iman dan dengan berani karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya! Terpujilah Engkau Bapaku, terpujilah Engkau Bapa kami, Bapa dari orang-orang yang Engkau kasihi!

Amin!

Sunday, May 06, 2007

Firman Tuhan = Khotbah?

Dalam pertemuan-pertemuan ibadah, sebelum pembicara berdiri di depan, biasanya liturgis atau worship leader akan mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”.

Memang pembicara biasanya kemudian membacakan satu atau beberapa bagian Firman Tuhan. Tetapi saya kira yang dimaksud liturgis atau worship leader dengan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan” adalah “Kita akan mendengarkan khotbah”.

Khotbah bukanlah Firman Tuhan. Saya kira tidak ada pengkhotbah waras yang berani mengangkat naskah khotbahnya tinggi-tinggi sambil berseru “Ini adalah Firman Tuhan!”.

Kita bisa mendefinisikan khotbah sebagai:
“Penjelasan akan Firman Tuhan supaya pendengar mengerti Firman Tuhan”
“Usaha mengekspos pendengar kepada Firman Tuhan sehingga mereka berhadapan langsung dengan Tuhan yang berfirman”
Atau hal-hal yang serupa dengan itu, tetapi jelas khotbah bukanlah Firman Tuhan itu sendiri.

Saya tidak bermaksud menyalahkan liturgis atau worship leader yang mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”. Kalimat itu sah saja karena memang dalam ibadah, Firman Tuhan akan diperdengarkan dan juga dijelaskan.

Tetapi 2 hal yang ingin saya ajak kita cermati:

Pertama, kalimat itu sudah menjadi kalimat yang terlalu biasa diucapkan sehingga liturgis atau worship leader, jemaat atau bahkan si pembicara sendiri, tidak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya apa saja yang akan dibicarakan oleh si pembicara langsung disebut “Firman Tuhan”. Saya pernah datang dalam suatu persekutuan. Acaranya adalah pemutaran film dan sebelum film diputar, si pembicara pertama-tama akan memberikan pengantar film tersebut sebelum akhirnya nanti mengajak jemaat mengkritisi film itu berdasarkan konsep Firman Tuhan. Jelas si pembicara tidak akan mengajak membuka Alkitab, tidak membacakan Firman Tuhan dan tidak menjelaskan arti Firman Tuhan. Tetapi worship leader sudah terlalu biasa mengucapkan kalimat itu, maka ketika tiba waktunya si pembicara akan naik dan memberikan pengantar film tersebut, dia langsung mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”. Kalau sampai sejauh itu, saya rasa kita sudah salah kaprah.

Kedua, tidak jarang setelah khotbah, jemaat mengatakan kalimat-kalimat seperti demikian:
“Wah Firmannya bagus sekali Pak!”
“Firman Tuhan hari ini sangat keras, tetapi kita harus belajar menerimanya”

Kalau memang yang dimaksud adalah Firman Tuhan sesungguhnya (Alkitab), kalimat-kalimat di atas tidak salah. Kalau yang dimaksud adalah penjelasan Firman Tuhan (khotbah) menolong dia mengerti betapa indahnya rencana Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, atau karena khotbah itu dia mengerti teguran dari Firman Tuhan bahwa ada dosa-dosa dimana dia harus bertobat, maka kalimat-kalimat di atas juga tidak salah. Tetapi seringkali yang dimaksud adalah ‘khotbah’nya dan bukan ‘Firman Tuhan’nya.

Mengapa saya mempermasalahkan ini? Pertama ini berkaitan dengan definisi dan keseriusan kita memandang Firman Tuhan. Kedua, saya tidak rela kalau ada pengkhotbah yang khotbahnya tidak tepat, walaupun diuraikan dengan bagus atau ‘keras’, lalu orang bilang “Firmannya bagus atau Firmannya sangat menegur”. Itu bukan Firman Tuhan! Bahkan itu salah sama sekali karena tidak sesuai dengan Firman Tuhan!

Tugas pengkhotbah adalah menjelaskan Firman Tuhan, membawa pendengar untuk mengerti Firman Tuhan dan berespon kepada Firman Tuhan. Dia mungkin melakukannya dengan memakai ilustrasi, menjelaskan latar belakang bagian-bagian Firman Tuhan, memakai kalimat-kalimat dari teolog-teolog atau filsuf-filsuf, atau menceritakan kesaksian hidupnya. Tetapi lewat semua itu, tujuan utama adalah supaya pendengarnya mengerti dan mengamini Firman Tuhan.

Maka tidak semua yang dikatakan di atas mimbar harus kita anggap Firman Tuhan. Setiap pengkhotbah harus berpikir apakah melalui kalimat-kalimatnya, dia membawa jemaat mengerti Firman Tuhan? Dan setiap jemaat, seperti yang pernah dikatakan Paulus “menanggapi (menguji) apa yang mereka katakan”. Kalau khotbah itu memang membawa kita mengerti Firman Tuhan dengan benar, mari kita bersyukur untuk bagian Firman Tuhan itu dan kita bersyukur untuk khotbah yang disampaikan yang menolong kita mengerti, dan akhirnya kita harus berespon kepada Firman Tuhan itu sendiri. Bagaimanapun, kita harus taat kepada Firman Tuhan dan bukan kepada khotbah.

Thursday, May 03, 2007

Puasa

Salah satu disiplin rohani yang saya jalankan, tetapi masih sangat kurang, adalah berpuasa. Puasa tidak banyak dijalankan oleh orang Kristen zaman ini. Allan H. Sager dalam buku Gospel-Centered Spirituality mengutip Richard Foster: “Mengapa memberikan uang, misalnya, tanpa perdebatan diakui sebagai salah satu elemen dari kesalehan Kristen sementara berpuasa begitu diperdebatkan? Kita memiliki sama atau mungkin lebih banyak bukti dalam Alkitab tentang berpuasa daripada memberikan uang. Mungkin dalam masyarakat kita yang makmur ini, berpuasa melibatkan pengorbanan yang jauh lebih besar daripada memberikan uang”. Kalimat ini terngiang-ngiang di telinga saya.

Sebagai salah satu bentuk disiplin rohani dan kesalehan Kristen, saya percaya ketika kita melakukannya, banyak pengalaman rohani yang mungkin kita dapatkan.

Beberapa kali saya menjelaskan kepada jemaat bahwa berpuasa adalah bentuk merendahkan diri. Berpuasa membuat kita sadar bahwa kita cuma manusia yang lemah dan butuh Tuhan. Ketika kita berpuasa kita disadarkan bahwa dalam hal yang sangat sederhana, hanya tidak makan selama beberapa jam saja, kita sudah merasa sakit perut dan lemah. Maka ketika sisi kemanusiaan itu dimunculkan, di situlah kita sadar kita cuma manusia dan bukan Tuhan.

Tetapi ada satu pengalaman rohani baru yang saya dapatkan waktu berpuasa baru-baru ini. Mungkin ada yang tahu pepatah ‘A hungry man is an angry man’? Coba saja jika di dalam acara retreat, sampai pada jam makan dan pembicara masih meminta waktu ditambah, apa yang terjadi? Itulah yang saya alami. Ketika saya berpuasa dan tetap bekerja, saya menjadi tidak nyaman. Rasa lapar bercampur lelah membuat saya sensitif dan mudah tersinggung. Tetapi ketika itulah saya sadar, “Hei, bukankah berpuasa mustinya membuat sadar bahwa kamu manusia yang lemah? Lalu mengapa kamu bersikap seperti tuan, ingin dimengerti dan dihormati, bukan seperti hamba?”

Saya belajar bahwa ‘merasa diri lemah dan butuh Tuhan’ itu satu hal. Tetapi ‘merasa diri lemah dan bersikap sebagai orang lemah’ itu satu hal lagi. Dan saya yakin masih ada banyak aspek lagi tentang kelemahan yang masih harus saya mengerti dan alami.

Monday, April 23, 2007

Kecewa Pada Gereja?

Alkitab dengan jelas sekali menegaskan bahwa kita semua, tanpa terkecuali, adalah orang-orang berdosa. Tidak peduli berapa tinggi atau rendahnya pendidikan kita, tidak peduli berapa kaya atau miskinnya kita, tidak peduli juga apakah kita orang Kristen atau bukan, kita manusia yang sama-sama berdosa. Dan karena orang-orang Kristen yang juga berdosa itu berkumpul di gereja, maka gereja juga bisa disebut sebagai kumpulan orang berdosa.

Itu sebabnya kita banyak menemukan dosa di dalam gereja. Ada ketidakadilan, perebutan kekuasaan, iri hati, ketamakan, keegoisan, dan segala macam dosa lainnya di tengah lingkungan gereja. Maka lucu sekali kalau ada orang yang meninggalkan gereja karena kecewa melihat orang Kristen melakukan dosa. Lha wong memang orang berdosa kok! Gereja bukan kumpulan malaikat, tetapi kumpulan orang berdosa.

Pertama, saya tidak mengatakan kita harus memaklumi dosa. Memaklumi itu beda dengan mengerti. Memaklumi dosa adalah menganggap dosa itu tidak apa-apa, tetapi mengerti adalah tahu dan paham mengapa itu terjadi.

Saya berikan contoh. Ketika di dalam pelayanan gereja ada yang iri melihat orang lain ‘sukses’ dan dipuji orang, kita bisa mengerti bahwa hal itu keluar dari ego dan keinginan dia untuk terlihat signifikan. Kita bisa mengerti bahwa memang sulit bergumul dengan dosa ‘supaya dilihat orang’. Kita bisa mengerti bahwa tidak banyak orang yang bisa dengan sepenuh hati melayani sekalipun tidak dilihat dan dipuji orang. Tetapi kita TIDAK BISA MEMAKLUMINYA! Dosa tetap adalah dosa. Kita tidak memaklumi dosa, tetapi mengerti mengapa ada banyak dosa terjadi di kalangan orang percaya dan di tengah gereja. Dan kita berdukacita untuk itu, kita memohon Tuhan yang terus membentuk anak-anakNya dan menjauhkan dosa dari tengah umatNya.

Kedua, satu hal sangat penting yang harus kita ingat adalah, orang yang percaya kepada Kristus bukanlah orang berdosa biasa. Kristus sudah menyucikan kita dan menebus dosa kita. Kristus sudah membangkitkan kita dan menghidupkan kita dari kematian rohani. Maka gereja memang adalah kumpulan orang berdosa, tetapi kumpulan orang berdosa yang sudah ditebus oleh Kristus. Ini perbedaan besar!

Orang yang percaya kepada Kristus memang masih bisa dan seringkali melakukan dosa, tetapi dosa itu sudah menjadi suatu ‘barang’ yang asing baginya karena dia adalah ciptaan baru. Dia sudah dihidupkan dari kematian rohani, maka dia tidak lagi hidup dalam dosa. Tetapi karena dia pernah hidup dalam dosa dan masih hidup dalam dunia berdosa, tarikan untuk berbuat dosa sangat kuat. Itu sebabnya seringkali kita melihat orang yang sudah percaya kepada Tuhan pun melakukan dosa. Tetapi perbedaan yang sangat besar dengan orang yang tidak percaya adalah, dia sudah dan sedang disucikan terus oleh Tuhan karena Roh Kudus ada di dalam dirinya. Dia adalah bagian dari keluarga Allah yang suatu kali nanti, bersama kita dan semua orang percaya, akan berdiri di hadapan Tuhan.

Ketiga, jangan pernah menjauhkan diri dari gereja karena dosa orang-orang di dalamnya. Ada ungkapan dari orang yang kecewa kepada gereja “makin lihat dapurnya gereja, makin tahu kotornya, maka lebih baik jangan lihat dapurnya”. Ungkapan itu menyatakan “lebih baik tidak banyak terlibat dan kenal banyak orang di gereja, daripada kita kecewa karena menemukan banyak dosa”. Tetapi bukan itu yang Tuhan maksudkan. Yesus mati untuk gerejaNya! Kita dan saudara-saudara kita sesama orang percaya, adalah orang-orang berdosa yang sudah ditebus oleh Kristus. Kita saling membutuhkan untuk mendorong dan menarik satu sama lain makin dekat kepada Kristus. Maka kita tidak bisa dan tidak boleh mengabaikan saudara-saudara kita yang lain, dengan mementingkan rasa nyaman kita dengan tidak mau tahu dosa orang lain.

Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa” (1 Yoh 1:6-7)