Saturday, October 31, 2009

Mengajarkan Firman Tuhan - 1

Tugas hamba Tuhan adalah mengajarkan Firman Tuhan. Pada waktu berkhotbah, dia harus menguraikan dan menjelaskan Firman Tuhan dengan setia. Dia harus menggali Firman Tuhan, mengerti artinya dan merenungkannya, kemudian memikirkan cara bagaimana supaya dia bisa menyampaikannya dengan sebaik mungkin. Maka urutan logisnya adalah mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Tanpa mengerti dan merenungkan, apa yang disampaikan? Tapi inilah kelemahan besar di dalam gereja. Coba lihat bagaimana orang Kristen menilai suatu khotbah. Ada yang merasa yang penting khotbahnya lucu, humornya segar. Sebaliknya ada yang sangat tidak senang dengan khotbah yang banyak humor karena khotbah menurut dia harus serius. Tapi yang diperhatikan hanyalah cara penyampaiannya! Lalu bagaimana isinya? Apa isinya? Apakah bagian yang akan dikhotbahkan itu sungguh dia baca, dia pikirkan, dia mengerti dan renungkan, sebelum dia sampaikan?

Khotbah yang main-main, bukanlah khotbah yang banyak humor tetapi khotbah yang tidak dipersiapkan dengan baik. Khotbah yang serius, bukanlah khotbah yang disampaikan dengan muka serius dan suara berteriak tetapi khotbah yang dipersiapkan dengan baik. Prosesnya? Mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Mengerti - Semua orang bisa merasa mengerti padahal tidak. Firman Tuhan bisa dimengerti dalam berbagai lapisan makna, bisa sangat sederhana dan bisa sangat dalam. Sayangnya banyak yang berhenti di makna yang sederhana saja dan tidak menggali lebih dalam. Coba tanya kepada pengkhotbah yang saudara kenal, waktu yang dia pakai untuk mempersiapkan 1 khotbah? Coba tanya juga, kapan terakhir dia membaca buku teologi atau tafsiran yang baik? Buku rohani apa yang dia baca? Berapa banyak yang dia baca? Saudara mungkin akan kaget mendengar jawabannya (kalau saudara tidak kaget, mungkin karena saudara juga tidak mengerti seberat apa seharusnya tugas seorang pengkhotbah). Di sisi yang lebih ekstrim, banyak orang bahkan salah mengerti Firman, seperti para pekabar Injil kemakmuran, tetapi celakanya mereka justru sangat populer. Mereka bisa pintar bicara, contoh yang mengena, ilustrasi yang menyentuh, kutipan Firman Tuhan yang terasa tepat, maka jemaat pun mengalir datang. Tetapi mengerti Firman bukan tugas mudah.

Merenungkan - Firman Tuhan harus direnungkan oleh si pengkhotbah. Seorang pengkhotbah harus menyampaikan apa yang dia percaya adalah kebenaran dan dia gumuli di hadapan Tuhan dengan kesungguhan. Maka dia harus merenungkannya dulu.

Menyampaikan - Kalau dua hal di atas sudah baik, sangat sayang kalau di bagian ini dia kurang baik. Dia harus berpikir bagaimana pendengarnya mengerti apa yang sudah dia mengerti dan renungkan.

Ini tugas hamba Tuhan dan saya sangat sedih dengan banyaknya hamba Tuhan yang tidak lagi menjalankan tugas ini dengan baik. Saya tidak katakan saya sudah baik karena saya juga masih terus bergumul untuk tugas ini. Setiap jemaat harus mendukung hamba Tuhan, orang yang mereka pisahkan khusus untuk melayani Firman Tuhan, untuk mengajarkan Firman Tuhan dengan baik. Sayangnya, jemaat hanya puas dengan penyampaiannya atau pembawaannya yang berkharisma, atau dengan pelayanannya yang penuh perhatian, atau mungkin manajemennya yang luar biasa. Dan hamba Tuhan pun lupa tugas utamanya, mengajarkan Firman. Dan lingkaran ini akan masih terus berputar seperti ini.

Tuhan, kasihani kami!

Thursday, October 08, 2009

Tent-Maker?

Sekitar 15 tahun yang lalu, saya pertama kali mendengar istilah "tent-maker". Saya tidak tahu apa artinya, tetapi keren kedengarannya. Setelah dijelaskan, saya baru tahu bahwa istilah itu mengacu kepada Paulus yang pernah menjadi tukang kemah:

"...Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah" (Kis 18:3).

Apa artinya? Paulus adalah seorang rasul, dia pergi memberitakan Injil dan mengajarkan Firman Tuhan di banyak tempat. Tetapi di saat yang sama, dia juga adalah seorang businessman, memproduksi dan menjual kemah. Maka istilah "tent-maker" yang saya dengar itu maksudnya adalah seorang hamba Tuhan (dalam arti dia berkhotbah, melakukan penginjilan, terlibat dalam lembaga pelayanan atau bahkan menggembalakan gereja) tetapi di saat yang sama juga adalah seorang businessman.

Konsep "tent-maker" ini sempat menarik hati saya. Saya mulai sadar bahwa Tuhan memanggil saya untuk melayani Dia sepenuh waktu. Tetapi itu langkah yang terlalu besar bagi saya, maka saya mulai membayangkan alangkah indahnya konsep ini: saya bisa bekerja, bisnis, lalu tetap melayani, ok lah kalau harus berkhotbah dan bepergian selama 2 bulan setiap tahun. Tetapi itu lebih baik bagi saya!... Akhirnya Tuhan tunjukkan bukan itu yang Dia mau.

Dalam beberapa tahun ini, saya masih suka mendengar istilah ini dipakai. Dan saya makin melihat kesalahannya. Bukan Paulus yang salah menjadi tent-maker tetapi kita yang salah meniru Paulus.

Paulus melayani sebagai rasul di antara orang-orang Yunani. Dia datang ke suatu tempat, dia mulai menginjili dan kemudian mengajar mereka bagaimana menjadi murid Yesus. Ia tidak ingin orang-orang yang baru mengenal Tuhan itu menganggap dirinya sebagai pencari upah, dan dengan demikian pekerjaan Tuhan terintangi (band. 1 Kor 9:10-15). Itu sebabnya ia menjadi tukang kemah untuk menghidupi dirinya sendiri.

Di dalam 1 Korintus, Paulus berulang kali katakan bahwa dia berhak untuk terima upah, Tuhan sudah tetapkan bahwa imam yang melayani di tempat kudus mendapat penghidupannya dari situ dan Tuhan juga menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu. Paulus tidak pakai semua hak itu karena kondisi pelayanannya yang berbeda, kalau boleh saya simpulkan: jemaat Korintus sangat bermasalah.

Sebetulnya Paulus tidak sepenuhnya hidup dari pekerjaannya sendiri (bagaimanapun mana mungkin bisnisnya bisa sukses sementara ia terus berpindah-pindah tempat), ia juga menerima tunjangan dari jemaat. Perhatikan ayat ini:

 "Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!" (2 Kor 11:8).

Artinya Paulus menerima tunjangan dari jemaat lain. Tetapi ia tidak mau terima dari jemaat Korintus, walaupun dia berhak, karena kondisi jemaat Korintus. Mungkin karena ketidakdewasaan mereka atau mungkin karena berbagai masalah dalam jemaat, mengakibatkan pekerjaan Injil akan terhambat kalau Paulus menerima upah dari mereka (Itu sebabnya dia tulis soal ini kepada mereka cukup panjang dalam 1 Kor 9:10-15).

Pendek kata, saya simpulkan, Paulus menjadi "tent-maker" karena dia dipanggil menjadi rasul. Dia rela lakukan apa saja untuk panggilannya. Ketika panggilannya itu akan terhambat karena masalah uang (mungkin tidak ada yang kasih sehingga tidak ada uang atau mungkin seperti di Korintus ada yang ngomel kalau Paulus hidupnya dibiayai sehingga akhirnya Injil ditolak), maka dia akan bekerja menjadi "tent-maker". Dia lakukan itu dalam rangka menggenapi panggilannya.

Sekarang perhatikan bagaimana orang-orang Kristen hari ini menggunakan istilah "tent-maker":

1. Istilah ini dipakai ketika ada orang yang banyak melayani Tuhan (membawakan seminar, berkhotbah atau berkutat dalam pekerjaan misi) sambil tetap dalam profesi atau bisnisnya. Saya tidak bilang mereka salah, tetapi istilah ini tidak tepat. Kalau Tuhan memang tidak panggil dia untuk melayani penuh waktu, maka profesi dan bisnis adalah panggilannya. Jelas dia bukan "tent-maker", dalam arti seperti Paulus.

2. Istilah ini dipakai ketika ada orang yang mau melayani secara penuh waktu tetapi tidak rela meninggalkan profesi atau bisnisnya. Alasannya? Macam-macam. Bisa jadi karena lebih menghasilkan banyak uang (banyak pendeta di gereja besar, punya bisnis yang juga besar), bisa juga supaya tidak bergantung oleh gereja atau lembaga pelayanan (the power is in my hand, I can leave anytime).

Siapa sebenarnya "tent-maker" seperti Paulus hari ini?  Saya kira orang-orang yang melayani di pedalaman, memulai jemaat dari nol, tanpa ada lembaga misi yang mendukung, dan mereka harus berkebun sambil melayani, merekalah "tent-maker" seperti Paulus. Atau mereka adalah orang-orang yang terpaksa, karena alasan tertentu, tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka dan melayani penuh waktu padahal mereka rindu untuk itu. 

Paulus tidak bermaksud supaya dia ditiru, karena dulu dia menjadi tent-maker dalam keadaan 'darurat'. Itu bukan kebanggaan. Bukankah ketika seorang hamba Tuhan menjadi "tent-maker" seringkali itu menunjukkan ketidakdewasaan jemaat dan kurangnya kasih dan hormat kepada Tuhan dalam jemaat? 

Para hamba Tuhan yang menyebut diri "tent-maker" juga harus mempertanyakan motivasi mereka. Jujur istilah itu dulu menarik bagi saya bukan karena itu panggilan Tuhan tetapi karena "the power is still in my hand". Saya tidak perlu bergantung pada gereja, saya tidak bisa diatur-atur, saya bisa menjadi pengkhotbah keliling. Tetapi ketika Tuhan panggil kita menjadi hamba Tuhan, Tuhan mau kita menjadi "hamba". Bagi mereka yang melayani di pedalaman dan harus menjadi "tent-maker", juga harus ingat bahwa itu hanyalah keadaan darurat bukan seterusnya. Ketika keadaan berubah, mereka harus mengajar jemaat untuk menghidupi mereka. 

"Tent-maker" adalah istilah yang dulu memprihatinkan tetapi sekarang dianggap keren.

Monday, September 14, 2009

Tobit

Tobit adalah seorang yang sangat saleh, berasal dari suku Naftali. Pada waktu seluruh suku Naftali menyembah Baal, ia sendiri tetap setia menyembah di bait Allah di Yerusalem. Ia tidak pernah lupa untuk beribadah di sana pada hari raya, dan membawa persembahan sulung bagi Tuhan dan 30% dari penghasilannya untuk dibagikan kepada orang Lewi dan saudara-saudaranya. Ketika ia dan seluruh Israel dibawa ke pembuangan ke Niniwe, ia tidak meninggalkan kesalehannya. Ia tetap menjaga makanannya sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan dan tetap menolong saudara-saudaranya sesama orang Israel. Ia memberikan makan kepada yang lapar, pakaian kepada yang telanjang dan jika ia melihat salah seorang saudaranya mati, ia akan menguburkannya.

Di masa pemerintahan raja Salmaneser, Tuhan mengaruniakannya posisi yang baik di hadapan raja. Ia ditugaskan membeli barang-barang keperluan raja, maka ia sering bepergian ke Media. Di sana kemudian dia menitipkan 10 talenta perak kepada seorang temannya.

Pada masa pemerintahan Sanherib, keadaan berubah. Tobit tetap melanjutkan kesalehannya. Ketika raja membunuh orang Israel dan melemparkan mayatnya ke luar tembok kota Niniwe, Tobit akan mengambil mayat itu dan menguburkannya. Perbuatan ini membuat raja marah. Ia dicari untuk dibunuh dan seluruh hartanya disita.

Tidak lama setelah itu, Sanherib mati dan digantikan oleh anaknya. Ahikar, sepupunya yang mendapat posisi yang baik di kerajaan, membantunya untuk kembali ke Niniwe.

Pengalaman yang buruk itu tidak menghentikan Tobit untuk berbuat saleh. Ketika ia mendengar ada orang Israel yang mati di pasar, ia kembali mengurus penguburannya sementara orang lain mencela dia karena tidak kapok-kapok melakukan itu. Dalam keadaan najis karena menyentuh mayat, Tobit harus tidur di pekarangan. Dan malam itu, kotoran burung jatuh ke matanya dan membuat dia menjadi buta.

Sejak itu, istrinya harus bekerja menghidupi keluarga. Masalah di dalam keluarga memuncak sampai akhirnya istrinya pun memarahi dia “Dimana perbuatanmu yang baik dan persembahan dan dermamu selama ini?”

Dalam kesedihan, Tobit pun menangis dan berdoa kepada Tuhan, “lebih baik aku mati daripada hidup, ... jangan palingkan wajahMu daripadaku.”

Sementara itu di tempat lain, di Ekbatana di Media, seorang perempuan bernama Sarah anak dari Raguel, juga sedang dihina oleh pembantunya. Sarah sudah menikah 7X dan setiap kali sebelum malam pengantin, suaminya dibunuh oleh setan Asmodeus. Kata-kata pembantunya begitu menyakiti dia. Dalam kesedihannya, ia juga minta kepada Tuhan untuk mati.

Doa kedua orang ini didengar oleh Tuhan. Maka Tuhan mengutus Rafael, salah seorang penghulu malaikat untuk menolong mereka.

Tobit merasa waktu kematiannya sudah dekat karena dia sudah berdoa untuk segera mati. Dia memanggil Tobias anaknya dan memberikan pesan-pesan terakhir. Ia minta Tobias untuk memelihara ibunya, mengingat Tuhan, tetap melakukan kesalehan, mencari istri dari suku yang sama, dan mengambil uang yang pernah dia titipkan di Media. Tobit menyuruh Tobias mencari orang untuk menemaninya pergi ke Media, dan Tobias menemukan Rafael yang menyamar sebagai manusia.

Setelah setuju dengan pembayarannya, Tobias pun berangkat dengan Rafael. Di tepi sungai, mereka diserang oleh seekor ikan besar. Rafael menasihati Tobias untuk menangkap ikan itu, mengambil hati, jantung serta empedunya. Dia memberitahu Tobias bahwa ketika hati dan jantung ikan itu dibakar, asapnya akan mengusir setan, sementara empedunya bisa menjadi obat untuk menyembuhkan kebutaan ayahnya.

Dalam perjalanan, Rafael menyarankan Tobias supaya bermalam di tempat Raguel dan meminta dia untuk menikahi Sarah. Tobias pada awalnya menolak karena dia sudah mendengar cerita tentang Sarah yang 7 calon suaminya selalu mati pada malam pernikahan. Tetapi Rafael menenangkan Tobias dengan mengingatkan dia akan hati dan jantung ikan yang sudah mereka bawa yang bisa mengusir setan.

Setelah tiba di tempat Raguel dan menyampaikan maksud mereka, maka seluruh keluarga setuju. Di malam pernikahan mereka, sebelum tidur Tobias mengajak Sarah untuk berdoa kepada Tuhan, membakar hati dan jantung ikan seperti yang disarankan oleh Rafael. Asap itu mengusir setan Asmodeus dan malaikat membelenggunya.

Sementara itu Raguel begitu pesimis sehingga pagi-pagi dia bangun dan menggali kubur untuk Tobias! Dia sangat bersukacita ketika tahu bahwa Tobias hidup. Dia memuji Tuhan dan melangsungkan pesta besar untuk Tobias dan Sarah.

Sambil pesta berlangsung, Tobias meminta Rafael untuk mengambil uang di Media seperti yang dipesankan oleh Tobit, ayahnya. Tobias tahu bahwa orang tuanya pasti sudah sangat sedih. Maka ia ingin bergegas kembali ke rumah orang tuanya setelah hari-hari pesta berakhir.

Sementara itu, Tobit dan istrinya sangat sedih karena mengira Tobias tidak akan kembali lagi. Betapa sukacitanya ketika mereka dari jauh melihat Tobias datang. Ibunya memeluk dia erat-erat dan mereka bertangis-tangisan. Dan ketika Tobias melihat Tobit ayahnya, ia berlari memeluk ayahnya dan mengoleskan ayahnya dengan obat dari empedu ikan itu. Saat itu juga, Tobit bisa melihat kembali.

Tobit dan Tobias merasa sangat berterima kasih kepada Rafael dan mereka bertekad untuk memberikan upah yang besar kepadanya. Tetapi ketika mereka memanggil dia, Rafael memberitahu mereka siapa dia sebenarnya, dia memuji kesalehan Tobit dan menegaskan bahwa Tuhan mendengar doanya maka dia diutus untuk menolong mereka. Rafael kemudian menghilang dari hadapan mereka.

Tobit hidup sampai berusia 185 tahun. Sebelum meninggal ia berpesan supaya Tobias meninggalkan Niniwe karena kota yang jahat itu akan hancur. Tobit berpesan supaya Tobias tetap berbuat kesalehan, memberikan persembahan dan derma seumur hidupnya. Dia percaya bahwa suatu kali Tuhan akan memulihkan umatNya Israel kembali ke Yerusalem.

Tobias mematuhi pesan ayahnya, ia tinggal bersama dengan mertuanya di Media. Ia hidup sampai berusia 175 tahun dan sebelum meninggal dia mendengar tentang kehancuran Niniwe dan dia bersukacita karenanya.

(Tobit adalah salah satu kitab Apokrifa yang dimasukkan dalam Deuterokanonika oleh gereja Roma Katolik. Mungkin ini adalah kitab yang paling terkenal di antara kitab Apokrifa. Kitab Tobit adalah novel yang ditulis sekitar abad ke-2 SM. Nilai-nilai Yahudi dari kitab ini sangat kentara. Selama ini kalau membuat drama tentang penderitaan, referensi kita adalah kitab Ayub. Mungkin kitab ini bisa menjadi alternatif. It's a very interesting story indeed.)

Sunday, August 30, 2009

White Christmas

(Posted in Dec 16, 2006)

 

I'm dreaming of a white Christmas

Just like the ones I used to know

Where the treetops glisten, and children listen

To hear sleigh bells in the snow

I'm dreaming of a white Christmas

With every Christmas card I write

May your days be merry and bright

And may all your Christmases be white

Lagu yang sangat terkenal ini ditulis pada tahun 1942. Dan sekarang ini, dimana-mana, baik di hotel-hotel maupun di gereja-gereja, lagu ini dinyanyikan.

Tanpa ada maksud menjadi tukang kritik, saya ingin mengkritisi lagu ini.

Kalau kita perhatikan teksnya, maka dengan jelas terlihat bahwa lagu ini sama sekali bukan lagu Natal, dalam arti yang sesungguhnya. Lagu ini hanya menggambarkan perasaan emosional dan kehangatan memori pada waktu Natal, suatu perasaan yang bisa dimiliki oleh siapa saja yang dibesarkan di dalam lingkungan atau keluarga yang biasa merayakan Natal.

Jangan salah mengerti, saya sama sekali tidak menentang lagu ini dinyanyikan. Tetapi kalau lagu ini dinyanyikan dalam gereja, apalagi dalam konteks ibadah, maka itu sudah salah kaprah.

Kalau lagu ini dinyanyikan sebagai suatu lagu memori, nah itu baru benar. Tetapi mari kita kritisi sedikit lagi. Lagu ini menyatakan dengan tepat sekali perasaan orang-orang yang biasa tinggal di negara Barat, yang karena suatu alasan kemudian harus pergi jauh ke tempat lain dimana tidak ada salju pada waktu Natal. Memori dan kerinduan mereka akan kampung halaman menjadi bangkit ketika memasuki suasana Natal. Tetapi saya kira tidak ada orang yang sejak kecil hidup di Indonesia, akan memiliki memori seperti yang dituliskan dalam lagu ini. ‘White Christmas’ adalah Natal dalam konteks musim salju, yang memang tidak ada di Indonesia, kecuali mungkin di puncak beberapa pegunungan saja. Ditambah lagi kalimat ‘I’m dreaming of a white Christmas with every Christmas card I write’, makin tidak kontekstual bagi kita yang sekarang lebih banyak memakai email dan sms untuk mengucapkan selamat Natal. Maka perasaan dreaming seperti itu juga tidak kita rasakan.

Mari kita menyanyi, lagu apa saja, dengan pikiran dan perasaan (maksud saya jangan mematikan pikiran dan perasaan dengan menyanyikan lagu yang tidak kita pikirkan dan rasakan, apalagi dalam ibadah).

Thursday, August 27, 2009

Asosiasi

(Posted in Jan 3, 2007)

Memakai sesuatu untuk menunjukkan hal yang lain adalah sesuatu yang sering kita temukan di sekitar kita. Ketika berkomunikasi, orang memakai mimik muka, gerakan tangan, atau nada suara untuk menunjukkan perasaannya. Gaya arsitektur bangunan tertentu juga ingin menunjukkan karakteristik fungsi bangunan itu, misalnya: setahu saya tidak ada rumah sakit yang berarsitektur gaya gothik, sementara istana presiden arsitekturnya bukan sekedar megah tapi menunjukkan wibawa. Simbol atau logo perusahaan bertujuan menunjukkan kesan apakah perusahaan itu futuristik, kreatif, berwibawa, dan sebagainya. Perusahaan-perusahaan rela membayar sangat mahal untuk hal ini (seperti yang dilakukan Pertamina beberapa waktu lalu ketika mengganti logonya, dan sempat diributkan oleh sebagian kalangan), karena jangan sampai apa yang ditampilkan justru menimbulkan kesan yang tidak diinginkan. Saya tidak tahu istilah yang tepat untuk ini, saya sebut saja asosiasi. Ketika melihat yang ditampilkan, kita mengasosiasikannya dengan sesuatu yang lain. Melihat mimik muka tertentu, kita mengasosiasikannya dengan kemarahan. Melihat logo tertentu kita mengasosiasikannya dengan kreatifitas perusahaan.

Allah juga memakai cara yang serupa. Ketika Dia menyatakan Diri kepada kita, Dia tidak bisa menyatakan sepenuhnya keberadaan diriNya yang tidak terbatas. Maka di Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri lewat sosok malaikat, suara dari langit, tiang awan, tiang api, halilintar, dan sebagainya. Semua itu disebut theophany (penampakan Allah), dan ketika kita melihat semua itu, kita mengasosiasikanNya dengan karakter Allah, misalnya kepedulianNya, kedahsyatanNya atau kuasaNya.

Dalam ibadah, kita juga memakai cara ini. Kita menempatkan salib di depan gereja dan di ruang kebaktian, kita memajang lukisan atau mozaik yang menceritakan tentang kisah di Alkitab, kita memakai musik yang indah, semua untuk menunjukkan sesuatu, membuat jemaat mengasosiasikannya dengan sesuatu. Memang yang paling penting bukanlah apa yang ‘dipakai’ tetapi apa yang mau ‘ditunjukkan’. Tetapi masalahnya kalau yang ‘dipakai’ itu salah, akan mengacaukan apa yang mau ‘ditunjukkan’. Maka saya kira kita perlu memikirkan ulang elemen-elemen yang dipakai di gereja, apakah berhasil menunjukkan sesuatu yang benar.

Sebagai contoh, masih dalam kaitan dengan Natal, kita boleh bertanya: Pohon Natal dipajang untuk menunjukkan apa? Dekorasi kado di bawah pohon Natal ditempatkan untuk menunjukkan apa? Santa Claus (termasuk elemennya seperti topinya yang sering dipakai waktu Natal) ditampilkan untuk menunjukkan apa?

Saya tidak ingin terlalu keras dalam hal ini. Bagi saya, ketika melihat pohon Natal dan dekorasi Natal, saya langsung mengasosiasikannya dengan sukacita, keramaian dan suasana Natal yang setiap tahun dirayakan. Rasanya, “ah, Natal sudah tiba”. Kado di bawah pohon Natal menunjukkan memori suasana Natal di keluarga Kristen, dimana banyak orang tua memberikan kado bagi anak-anaknya yang masih kecil. Saya pribadi agak terganggu dengan dekorasi kado karena saya tidak punya pengalaman itu maka saya tidak bisa mengasosiasikannya dengan apapun. Tetapi mungkin bagi sebagian orang, dekorasi seperti itu mengingatkan mereka akan cinta kasih dalam keluarga pada waktu Natal yang pernah mereka alami. Tetapi yang sangat mengganggu bagi saya adalah Santa Claus dengan segala perlengkapannya. Saya tidak mengerti apa yang ingin ‘ditunjukkan’ dengan ‘memakai’ Santa Claus.

Kalau Santa Claus muncul dalam perayaan Natal anak-anak, atau para guru sekolah minggu memakai topi Santa Claus, mungkin yang ingin ditunjukkan adalah suasana sukacita ketika kado dibagikan. Tetapi ini pun mengganggu karena mengapa harus Santa Claus yang membagikan kado? Apa yang kita harap akan diasosiasikan oleh anak-anak dengan figur Santa Claus? Dan lebih mengganggu lagi adalah ketika elemen ini muncul dalam perayaan Natal orang dewasa. Apa yang ingin diasosiasikan? Saya tidak ingin memutlakkan hal ini, tetapi saya ingin kita kritis, karena jangan-jangan elemen yang kita pakai justru mengaburkan apa yang sebenarnya ingin kita tunjukkan: Natal itu sendiri. Dalam istilah perusahaan: logo yang dipakai malah menimbulkan kesan yang tidak diinginkan tentang perusahaannya. Dalam istilah komunikasi: mimik muka yang ditampilkan malah menimbulkan salah paham. Dalam istilah Alkitab: theophany-nya salah dan membuat orang salah mengerti Allah atau bahkan membawa orang kepada dewa lain (wah ini gawat, untungnya Allah tidak pernah salah memilih cara menampakkan diri).

Hal kedua yang ingin saya bahas adalah mengenai kejujuran kita dalam memakai sesuatu. Mengambil contoh komunikasi lagi, kita bisa sengaja memakai mimik muka, gerakan tangan dan intonasi untuk mengaburkan maksud kita yang sesungguhnya (istilah kasarnya: menipu).

Kita tahu pasti bahwa Tuhan melihat hati dan itu yang terpenting. Bagi orang Israel dulu, Tuhan katakan yang paling penting adalah sunat hati, bukan sunat fisik. Tuhan benci pada ibadah dan persembahan korban mereka, karena hati mereka jauh dari Tuhan. Tetapi Tuhan juga mau supaya hati itu ditunjukkan lewat tindakan, seperti datang beribadah, memberikan perpuluhan, melakukan sunat (bagi orang Israel zaman itu), dan lain sebagainya. Dan ketika mereka melakukan itu, mereka tidak boleh sembarangan, karena sekali lagi, itu menunjukkan apa yang ada di hati. Maka betapa eratnya kaitan antara yang di dalam dan yang di luar, antara yang ‘dipakai’ dan yang ingin ‘ditunjukkan’.

Kalau kita mengasihi Tuhan, apakah kita sungguh menunjukkan hati kita dalam tindakan kita? Tuhan tidak pernah katakan ‘yang penting hati, tidak usah ada tindakan’. Sunat hati yang Tuhan tuntut musti ditunjukkan lewat ketaatan melakukan sunat fisik. Apa yang sudah kita lakukan?

Sebaliknya, ketika kita datang beribadah, melayani, memberikan perpuluhan, bahkan tindakan fisik kita seperti berlutut, mengangkat tangan, bertepuk tangan, meletakkan tangan di dada, dan sebagainya, apakah betul-betul keluar dari hati yang mengasihi Tuhan atau hanya tindakan di luar yang tidak ada hubungan dengan yang di dalam? Mungkin kita lakukan hanya karena terpaksa, atau karena ikut-ikutan (yang lain angkat tangan, masa saya tidak). Apapun alasannya itu salah (istilah kasarnya: menipu Tuhan!).

Karena sikap kita menunjukkan yang ada di hati, maka sikap kita musti authentic, tidak ikut-ikutan, tapi orisinil karena fresh from the oven (baca: hati). Oven yang baik akan menghasilkan ‘kue’ sikap yang juga baik. Dan apa yang ditampilkan oleh kita membuat orang mengasosiasikannya dengan apa yang sungguh ada di hati kita. That’s called authentic!

Friday, August 21, 2009

Tuhan Akan Menyelesaikannya Bagiku

Kuliah sudah berjalan 6 minggu. Saya masih semangat, walaupun tanda-tanda stress mulai nampak.

Yang unik adalah saya menemukan tanda-tanda itu juga muncul pada mahasiswa lain. Ada yang jenuh, ada yang mulai frustasi, ada yang sudah tidak tahu harus bagaimana. Kondisi ini wajar terjadi di sekolah theologia, tetapi yang agak unik adalah ini sudah terjadi hanya dalam waktu 6 minggu!

Sampai sekarang saya masih bisa menyelesaikan assignments yang diberikan. Tetapi saya tahu betul bahwa saya tidak on the pace. Di dalam pikiran saya, ada daftar HAVE TO:

I have to learn English (How come my English is so poor?)

I have to learn Greek (Anyway, I am a post grad student in New Testament!)

I have to study the ancient texts related to New Testament (That's the course I'm taking)

I have to read pastoral and spirituality books (I have to deepen my spirituality and pastoral heart)

I have to prepare sermons..

I have to take care of my congregations..

I have to manage church's activities..

Bagaimana mungkin ada begitu banyak hal yang HAVE TO DO?

Maka tiap pagi, saya menengadah dan mengangkat tangan minta kemurahan Tuhan. Saya tahu saya tidak akan mampu kerjakan semuanya dengan sebaik-baiknya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tetapi saya minta pimpinan dan kemurahan Tuhan.

Bagaimana jalan keluarnya? Tidak tahu! Setiap kali saya dalam keadaan tidak-tahu-jalan-keluarnya, Mazmur 138:8 sangat menghibur saya:

TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setiaMu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tanganMu!

Tindakan-tindakan 'Kecil' Dalam Kasih

(Posted in Dec 1, 2006)

Tindakan-tindakan 'kecil' yang dilakukan dalam kasih, sebenarnya sangat tidak kecil.

Waktu masih di sekolah teologi, kami memiliki seorang dosen yang kami tahu sangat sibuk. Suatu malam, dalam keadaan lelah, dia datang membawakan martabak untuk kami. Dia hanya datang sekitar 15 menit, memberikan martabak dan bercanda sebentar dengan kami. Tetapi entah kenapa, apa yang dia lakukan menyentuh saya, dan tidak pernah saya lupakan sampai saat ini.

Satu kali saya bersama istri ingin pergi melihat suatu pertunjukan. Dan beberapa hari sebelum kami pergi ke sana, istri saya mengajak teman lain untuk ikut. Secara keseluruhan acara kami hari itu sangat biasa: perjalanan yang sangat macet khas Jakarta, percakapan biasa dalam mobil, pertunjukan yang sama sekali tidak ‘wah’, makan bersama di restoran padang yang juga biasa. Tetapi waktu sampai di rumah, salah seorang teman yang ikut mengirim sms kepada saya (saya mengganti nama dan sedikit gaya tulisannya untuk privacy): “Ko, thx bgt ya bwt hr ni.Tlg sampaikan jg thx bwt c Yudith. Aku seneng bgt d’ajak jln2 :) asik, rasanya spt kluarga bnran aja lg jln2. Xie2”. Dia memberitahu saya bahwa dia jarang pergi jalan-jalan bersama keluarganya.

Saya tidak menyangka tindakan kecil yang kami lakukan (hanya mengajak ikut jalan-jalan ke tempat yang tidak istimewa!), ternyata menyentuh dia.

Waktu saya mengingat peristiwa itu, saya mencoba mengingat peristiwa-peristiwa lain dalam hidup saya. Ternyata saya menemukan, banyak peristiwa yang tidak bisa saya lupakan adalah tindakan-tindakan 'kecil' yang dilakukan orang-orang dengan kasih kepada saya. Saya tidak mungkin sebutkan semuanya di sini, dan saya juga tidak bisa katakan betapa indahnya apa yang mereka lakukan. Tetapi kalau saya mengingat lagi peristiwa-peristiwa itu, saya masih tersentuh.

Dan yang paling mengejutkan, tindakan-tindakan 'kecil' dalam kasih itu, juga menyentuh hati Yesus.

Saya jadi ingat beberapa perkataan Yesus, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”, atau “barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang paling kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya”. Juga ketika seorang janda miskin memberikan persembahan 2 peser (jumlah yang mungkin kalau dikonversikan ke uang kita hanya bernilai beberapa ratus rupiah saja), Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan”.

Apakah tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dalam kasih itu kecil? Tidak!

Mulailah lakukan itu.