Thursday, August 27, 2009

Asosiasi

(Posted in Jan 3, 2007)

Memakai sesuatu untuk menunjukkan hal yang lain adalah sesuatu yang sering kita temukan di sekitar kita. Ketika berkomunikasi, orang memakai mimik muka, gerakan tangan, atau nada suara untuk menunjukkan perasaannya. Gaya arsitektur bangunan tertentu juga ingin menunjukkan karakteristik fungsi bangunan itu, misalnya: setahu saya tidak ada rumah sakit yang berarsitektur gaya gothik, sementara istana presiden arsitekturnya bukan sekedar megah tapi menunjukkan wibawa. Simbol atau logo perusahaan bertujuan menunjukkan kesan apakah perusahaan itu futuristik, kreatif, berwibawa, dan sebagainya. Perusahaan-perusahaan rela membayar sangat mahal untuk hal ini (seperti yang dilakukan Pertamina beberapa waktu lalu ketika mengganti logonya, dan sempat diributkan oleh sebagian kalangan), karena jangan sampai apa yang ditampilkan justru menimbulkan kesan yang tidak diinginkan. Saya tidak tahu istilah yang tepat untuk ini, saya sebut saja asosiasi. Ketika melihat yang ditampilkan, kita mengasosiasikannya dengan sesuatu yang lain. Melihat mimik muka tertentu, kita mengasosiasikannya dengan kemarahan. Melihat logo tertentu kita mengasosiasikannya dengan kreatifitas perusahaan.

Allah juga memakai cara yang serupa. Ketika Dia menyatakan Diri kepada kita, Dia tidak bisa menyatakan sepenuhnya keberadaan diriNya yang tidak terbatas. Maka di Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri lewat sosok malaikat, suara dari langit, tiang awan, tiang api, halilintar, dan sebagainya. Semua itu disebut theophany (penampakan Allah), dan ketika kita melihat semua itu, kita mengasosiasikanNya dengan karakter Allah, misalnya kepedulianNya, kedahsyatanNya atau kuasaNya.

Dalam ibadah, kita juga memakai cara ini. Kita menempatkan salib di depan gereja dan di ruang kebaktian, kita memajang lukisan atau mozaik yang menceritakan tentang kisah di Alkitab, kita memakai musik yang indah, semua untuk menunjukkan sesuatu, membuat jemaat mengasosiasikannya dengan sesuatu. Memang yang paling penting bukanlah apa yang ‘dipakai’ tetapi apa yang mau ‘ditunjukkan’. Tetapi masalahnya kalau yang ‘dipakai’ itu salah, akan mengacaukan apa yang mau ‘ditunjukkan’. Maka saya kira kita perlu memikirkan ulang elemen-elemen yang dipakai di gereja, apakah berhasil menunjukkan sesuatu yang benar.

Sebagai contoh, masih dalam kaitan dengan Natal, kita boleh bertanya: Pohon Natal dipajang untuk menunjukkan apa? Dekorasi kado di bawah pohon Natal ditempatkan untuk menunjukkan apa? Santa Claus (termasuk elemennya seperti topinya yang sering dipakai waktu Natal) ditampilkan untuk menunjukkan apa?

Saya tidak ingin terlalu keras dalam hal ini. Bagi saya, ketika melihat pohon Natal dan dekorasi Natal, saya langsung mengasosiasikannya dengan sukacita, keramaian dan suasana Natal yang setiap tahun dirayakan. Rasanya, “ah, Natal sudah tiba”. Kado di bawah pohon Natal menunjukkan memori suasana Natal di keluarga Kristen, dimana banyak orang tua memberikan kado bagi anak-anaknya yang masih kecil. Saya pribadi agak terganggu dengan dekorasi kado karena saya tidak punya pengalaman itu maka saya tidak bisa mengasosiasikannya dengan apapun. Tetapi mungkin bagi sebagian orang, dekorasi seperti itu mengingatkan mereka akan cinta kasih dalam keluarga pada waktu Natal yang pernah mereka alami. Tetapi yang sangat mengganggu bagi saya adalah Santa Claus dengan segala perlengkapannya. Saya tidak mengerti apa yang ingin ‘ditunjukkan’ dengan ‘memakai’ Santa Claus.

Kalau Santa Claus muncul dalam perayaan Natal anak-anak, atau para guru sekolah minggu memakai topi Santa Claus, mungkin yang ingin ditunjukkan adalah suasana sukacita ketika kado dibagikan. Tetapi ini pun mengganggu karena mengapa harus Santa Claus yang membagikan kado? Apa yang kita harap akan diasosiasikan oleh anak-anak dengan figur Santa Claus? Dan lebih mengganggu lagi adalah ketika elemen ini muncul dalam perayaan Natal orang dewasa. Apa yang ingin diasosiasikan? Saya tidak ingin memutlakkan hal ini, tetapi saya ingin kita kritis, karena jangan-jangan elemen yang kita pakai justru mengaburkan apa yang sebenarnya ingin kita tunjukkan: Natal itu sendiri. Dalam istilah perusahaan: logo yang dipakai malah menimbulkan kesan yang tidak diinginkan tentang perusahaannya. Dalam istilah komunikasi: mimik muka yang ditampilkan malah menimbulkan salah paham. Dalam istilah Alkitab: theophany-nya salah dan membuat orang salah mengerti Allah atau bahkan membawa orang kepada dewa lain (wah ini gawat, untungnya Allah tidak pernah salah memilih cara menampakkan diri).

Hal kedua yang ingin saya bahas adalah mengenai kejujuran kita dalam memakai sesuatu. Mengambil contoh komunikasi lagi, kita bisa sengaja memakai mimik muka, gerakan tangan dan intonasi untuk mengaburkan maksud kita yang sesungguhnya (istilah kasarnya: menipu).

Kita tahu pasti bahwa Tuhan melihat hati dan itu yang terpenting. Bagi orang Israel dulu, Tuhan katakan yang paling penting adalah sunat hati, bukan sunat fisik. Tuhan benci pada ibadah dan persembahan korban mereka, karena hati mereka jauh dari Tuhan. Tetapi Tuhan juga mau supaya hati itu ditunjukkan lewat tindakan, seperti datang beribadah, memberikan perpuluhan, melakukan sunat (bagi orang Israel zaman itu), dan lain sebagainya. Dan ketika mereka melakukan itu, mereka tidak boleh sembarangan, karena sekali lagi, itu menunjukkan apa yang ada di hati. Maka betapa eratnya kaitan antara yang di dalam dan yang di luar, antara yang ‘dipakai’ dan yang ingin ‘ditunjukkan’.

Kalau kita mengasihi Tuhan, apakah kita sungguh menunjukkan hati kita dalam tindakan kita? Tuhan tidak pernah katakan ‘yang penting hati, tidak usah ada tindakan’. Sunat hati yang Tuhan tuntut musti ditunjukkan lewat ketaatan melakukan sunat fisik. Apa yang sudah kita lakukan?

Sebaliknya, ketika kita datang beribadah, melayani, memberikan perpuluhan, bahkan tindakan fisik kita seperti berlutut, mengangkat tangan, bertepuk tangan, meletakkan tangan di dada, dan sebagainya, apakah betul-betul keluar dari hati yang mengasihi Tuhan atau hanya tindakan di luar yang tidak ada hubungan dengan yang di dalam? Mungkin kita lakukan hanya karena terpaksa, atau karena ikut-ikutan (yang lain angkat tangan, masa saya tidak). Apapun alasannya itu salah (istilah kasarnya: menipu Tuhan!).

Karena sikap kita menunjukkan yang ada di hati, maka sikap kita musti authentic, tidak ikut-ikutan, tapi orisinil karena fresh from the oven (baca: hati). Oven yang baik akan menghasilkan ‘kue’ sikap yang juga baik. Dan apa yang ditampilkan oleh kita membuat orang mengasosiasikannya dengan apa yang sungguh ada di hati kita. That’s called authentic!