Tuesday, January 14, 2014

“Main Mata” Dengan Pelayanan

Selama masa studi ini, saya bertekad untuk sebisa mungkin full-time. Tentu bukan berarti mengurung
diri dan tidak melakukan apa-apa selain belajar. Saya masih berkhotbah (walaupun jauh lebih jarang daripada dulu), memimpin KTB, menulis blog, bertemu dengan banyak orang, menjalankan hobi fotografi dan tentunya juga jalan-jalan :-) Tetapi semuanya serba dikurangi. Fokus utama, kegiatan utama, porsi terbesar waktu saya, adalah untuk studi.

Kadang saya diminta untuk lebih banyak melakukan ini dan itu atau memberikan waktu lagi untuk ini dan itu. Sebisa mungkin selalu saya tolak. Tapi sedikit buka rahasia, sebetulnya saya sering tergoda untuk mau! Tanpa diminta pun, seringkali saya tergoda. Melihat kebutuhan, ingin rasanya turun tangan. Mendengar masalah, ingin rasanya terlibat menangani. Kadang bahkan saya merasa studi jadi penghalang. Saya jadi curiga dengan diri sendiri. Kenapa saya merasa begitu?

Melayani adalah mengikuti pimpinan Tuhan. Ada masanya Tuhan perintahkan untuk kerjakan ini dan itu, ada masanya Tuhan perintahkan untuk istirahat, ada masanya Tuhan perintahkan untuk persiapan – studi. Seperti Musa, 40 tahun di istana Firaun belajar, 40 tahun di padang gurun juga belajar dengan cara lain, dan 40 tahun mati-matian mengerjakan pelayanan. Sekarang ini, Tuhan perintahkan saya untuk studi.

Kalau begitu, mengapa saya ingin terlibat lebih banyak pelayanan sekarang ini? Mengapa saya “main mata” dengan pelayanan? Kalaupun motivasi saya murni, itu berarti saya tidak sabar menunggu waktu Tuhan! Jangan-jangan saya punya savior-syndrome – “hanya saya yang bisa menolong”. Jangan-jangan saya merasa diri mampu – “orang lain tidak ada yang bisa”. Jangan-jangan saya hanya sok pintar dan sok tahu – “ah.. tidak ada yang mengerti”. Jangan-jangan saya ingin terlihat hebat – “biar orang lihat betapa luar biasa saya ini”. Jangan-jangan saya tidak sabar, tidak tekun, ingin yang instan, sementara studi itu harus lamaaaa… sekali menunggu memetik hasilnya. Jangan-jangan saya ingin terlihat produktif – karena kelihatannya studi itu tidak produktif. Bagaimanapun “betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu” (Yeremia 17:9).

Akhirnya saya memantapkan hati lagi bahwa saat ini perintah Tuhan untuk saya adalah studi. Bagian saya adalah taat. Fokus dan prioritas saya sekarang ini haruslah studi dan bukan “main mata” dengan pelayanan.

Thursday, January 02, 2014

Penuntun Saat Teduh: For the Love of God

Di awal tahun 2014, banyak dari kita yang membuat resolusi. Saya usul, bagaimana kalau salah satunya adalah membaca Alkitab dengan lebih baik, teratur, dan mendalam?

Buku penuntun saat teduh ada yang berseri (bulanan, dua bulanan, atau tiga bulanan) dan ada yang langsung lengkap selama setahun. Dari sekian banyak buku penuntun saat teduh tahunan (tentunya yang saya tahu), saya kira buku "For the Love of God" adalah yang terbaik. Tidak seperti buku lain yang seringkali hanya mengajak kita membaca satu ayat setiap hari, buku ini mengajak kita membaca satu pasal dan bahkan lebih! Penulisnya adalah D.A. Carson, salah seorang ahli Perjanjian Baru yang terkemuka. Renungan yang diberikan sangat baik dan mendalam.

Buku ini dibuat berdasarkan daftar bacaan Alkitab yang disusun oleh seorang bernama Robert Murray M'Cheyne yang lahir tahun 1813. Dia menyusun jadwal bacaan Alkitab untuk satu tahun - dan itu berarti membaca seluruh Perjanjian Lama satu kali dan seluruh Perjanjian Baru + Mazmur dua kali! Dia membuat empat kolom seperti di bawah ini: dua kolom adalah untuk dibaca pribadi dan dua kolom lagi untuk dibaca bersama keluarga (tidak masalah jika semua dibaca pribadi).


D.A. Carson, penulis "For the Love of God", tahu bahwa ini terlalu banyak. Maka dia mengusulkan supaya di satu tahun pertama, setiap hari kita hanya membaca dua bagian Alkitab, yang di kolom pertama dan kedua saja. Renungan yang dia tulis untuk hari itu akan diambil dari salah satu bagian saja. Di tahun kedua, barulah kita membaca bagian Alkitab di kolom ketiga dan keempat. Dan dia juga akan membuat renungannya hanya dari salah satu bagian saja. Itu sebabnya dia membuat buku For the Love of God dalam dua volume, masing-masing untuk satu tahun.

Misalnya, seperti di bawah ini: Di bagian atas dia menuliskan empat bacaan Alkitab sesuai yang dibuat M'Cheyne. Maka bacaan yang perlu dibaca adalah dua kolom pertama: Genesis 1 dan Matthew 1. Dia sendiri membahas hari itu dari Genesis 1 (diberi italic).


Anda bisa membaca dua bagian Alkitab itu sekaligus, lalu merenungkan salah satunya (yang dibahas oleh D.A. Carson). Atau anda bisa membaca satu bagian Alkitab saja di pagi hari (yang dibahas oleh D.A. Carson) dan membaca satu bagian lagi di malam hari. Untuk 1 January berarti Genesis 1 di pagi hari dan membaca renungan dari D.A. Carson, lalu Matthew 1 di malam hari. Dengan cara demikian, dalam dua tahun, anda sudah membaca dua kali Perjanjian Baru dan Mazmur, dan satu kali seluruh kitab Perjanjian Lama lainnya. Kalau anda ingin membaca Perjanjian Baru dan Mazmur satu kali saja, maka tinggal diatur jadwal membacanya.

Berita baiknya adalah, D.A. Carson membagikan buku For the Love of God ini secara gratis dalam bentuk PDF. Di bawah ini adalah link-nya:

For the Love of God, Volume 1:
http://s3.amazonaws.com/tgc-documents/carson/1998_for_the_love_of_God.pdf

For the Love of God, Volume 2:
http://s3.amazonaws.com/tgc-documents/carson/1999_for_the_love_of_God.pdf


Selamat bersaat teduh!

Wednesday, January 01, 2014

2014

Kalau “waktu” itu seperti garis lurus yang sangat panjang, maka di situ kita pasti menemukan banyak
sekali tonggak-tonggak pemberi tanda. Beberapa tonggak itu sifatnya umum, seperti: Tahun baru, Natal, Paskah, dll. Beberapa sifatnya sangat pribadi (dan biasanya ini banyak sekali) seperti: Ulang tahun, lulus sekolah, mulai bekerja, pembukaan bisnis, ulang tahun pernikahan, dst, dst. Manusia selalu tertarik dengan tonggak-tonggak itu.

Tonggak-tonggak itu ibarat pos perhentian di dalam perjalanan hidup. Ketika sampai di sebuah tonggak, kita merasa sudah menyelesaikan satu babak. Maka kita cenderung berhenti, mengingat apa yang di belakang, mengevaluasi, lalu mengambil tekad, menarik nafas panjang…. dan mulai berjalan lagi ke tonggak berikutnya.

Tonggak-tonggak itu ibarat “Bab” dalam buku. Mereka menjadi penanda untuk memudahkan kita mengingat apa yang terjadi di antara tonggak yang satu dengan yang lain. Bayangkan sulitnya membaca buku yang tanpa pembagian Bab, langsung bersambung dari halaman 1 sampai 300!

Tonggak-tonggak itu ibarat bendera warna-warni di tengah hamparan pasir coklat. Mereka membuat hidup menjadi tidak monoton. Tiap kali mencapai tonggak yang baru, seperti ada semangat yang baru, harapan yang baru, senyum yang baru.

Tetapi tonggak demi tonggak yang kita lalui bukan hanya mendorong kita untuk maju... terus... tanpa arah... tanpa ada ujungnya...! Tonggak demi tonggak yang kita lalui bukan hanya menjadi penanda sudah berapa jauh kita berjalan tetapi juga memberikan tanda sudah berapa dekat kita pada ujung jalan. Maka tonggak-tonggak itu ada, diberikan Tuhan, untuk menolong kita hidup lebih bijaksana.

Hari ini sudah 1 Januari 2014. Maka, selamat tahun baru! Kita sudah sampai di satu tonggak lagi!

Saatnya berhenti, 
menoleh ke belakang, 
mengevaluasi, 
menemukan kekuatan baru dari Tuhan,
lalu memandang ke depan, 
mengambil tekad, 
menarik nafas panjang…. 
dan mulai berjalan lagi ke tonggak berikutnya dengan lebih bijaksana. 

Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!"… Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu? Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
-Mazmur 90-

Tuesday, November 26, 2013

Ekstasi-Kesuksesan Dalam Pelayanan

Bayangkan ketika suatu kali kita melayani dalam sebuah acara yang besar.

Acara itu membutuhkan banyak persiapan. Tenaga, waktu, keringat, doa berulang-ulang dan mungkin juga uang, semua sudah dicurahkan. Berkorban? Sudah pasti! Banyak sekali yang sudah dialami selama persiapan. Kadang senang kadang sebal. Kadang semangat kadang cape. Emosi banyak dihabiskan. Sementara itu pekerjaan dan tugas sehari-hari terus menumpuk. Maka waktu untuk istirahat dan jalan-jalan berkurang, bahkan waktu untuk tidur pun menciut. Tidak bisa dipungkiri, sukacita dan semangat tetap terasa. Tiap kali berkumpul dengan rekan-rekan lain, persiapan, rapat, latihan, ada "aura" semangat. Itulah yang membuat kita tetap bertahan!

Lalu tibalah waktunya semua segera akan berlalu. Hari-hari terakhir itu bahkan lebih melelahkan dari sebelumnya. Sampai malam sebelumnya kita masih gladi resik, lalu esok paginya sudah persiapan, sore sudah datang lagi. Akhirnya...saat itu pun tiba! Waktunya, jamnya sudah tiba! Maka kita all out, sekuat tenaga, berusaha sebisanya.

Hasilnya? Luar biasa! Tepuk tangan terus menerus terdengar. Pujian demi pujian kita terima. Seluruh tim sangat bersukacita. Doa penutup dilakukan dengan bergandengan tangan, dan hati kita terharu penuh syukur kepada Tuhan! Malam itu luar biasa! Semua jerih lelah terbayar! Tuhan memberkati pelayanan kita!

Sounds familiar?

Pengalaman serupa-walau-tak-sama dengan itu dialami oleh banyak orang yang melayani dalam berbagai bidang. Baik oleh mereka yang melayani dalam bidang musik, perlengkapan, drama, panitia, bahkan oleh pengkhotbah! 

Satu sisi, tidak ada yang salah dengan pengalaman itu. Betul tuhan memberkati dan betul kita yang sudah menabur dengan air mata boleh menuai dengan sorak sorai. Tidak ada yang salah! Tetapi di sisi lain, sama seperti semua hal yang baik, selalu ada celah untuk dipelintir menjadi hal yang buruk.

Saya menyebutnya efek ekstasi-kesuksesan dalam pelayanan. Perasaan melambung karena kesuksesan itu membuat kita melihat dan memandang diri lebih dari yang sebenarnya. Kita tidak lagi melihat diri kita sebagaimana adanya - lemah dan berdosa - tetapi yang terbayang hanya penggalan kalimat-kalimat pujian, wajah-wajah kagum, tepuk tangan dan perasaan super ala selebriti! Rasanya kita diurapi oleh Tuhan, dipakai dengan luar biasa, menjadi berkat besar! Wow!

Semakin lama kita mengecap memori dan imajinasi kesuksesan itu semakin berbahaya karena perlahan-lahan:

1. Kita merasa lebih dari orang lain
Kita mulai merasa bahwa kita istimewa, bertalenta, dan dipakai oleh Tuhan. Ketika pelayanan kita tidak begitu dianggap oleh orang lain maka pasti orang itu yang salah! Dia sirik, tidak mendukung, bodoh, dsb! Ketika apa yang kita lakukan dihalangi, kita marah karena menghalangi kita “yang diurapi” ini berarti menghalangi Tuhan! Kalau pelayanan kita di dalam tim, maka kita mulai merasa tim kita super. Kita bangga berada di dalam tim itu yang jauh lebih baik dari tim yang lain. Maka saya atau tim saya lebih dari orang atau tim lain. Barangsiapa mengganggu kami, menghalangi kami, tidak mendukung kami, dia sungguh-amat-sangat-super-keterlaluan!

2. Kita tidak lagi memuliakan Tuhan
Sebelum pelayanan kita berdoa dengan sungguh memohon pertolongan Tuhan, tapi begitu selesai pelayanan dan menerima pujian, ekstasi itu mulai bekerja me-ninabobo-kan kita. Kita menikmati semua pujian itu dan Tuhan disingkirkan. Kita bahkan ingin mengulang lagi pelayanan yang seperti itu, bukan karena ingin melayani tapi karena kita kecanduan ekstasi-kesuksesan.

Masih layakkah kita menyebut diri kita “pelayan”? Artinya kita ini berada di tempat yang rendah, tidak apa ditolak, dicaci, apalagi sekedar tidak dianggap. Bukan dengan pikiran “biarin gua sekarang diginiin, nanti gua buktiin”, tapi dengan pikiran seperti Kristus yang memang datang untuk melayani dan bukan dilayani. Masih layakkah kita sebut apa yang kita kerjakan itu “pelayanan”? Artinya menjalankan yang Tuhan mau, karena Tuhan dan untuk Tuhan. Bukan dengan pikiran “ya kerja begini nggak dibayar kan namanya pelayanan”, tapi dengan pikiran penuh takut dan gentar dipakai oleh Tuhan.

Seringkali memang tidak jelas lagi kita hamba atau tuan!? Betapa pentingnya kita melawan efek "ekstasi-kesuksesan” itu setelah pelayanan yang sukses dengan memeriksa diri. Kita perlu bertanya lagi “siapa saya? apa yang saya rasakan? apa yang saya ingini?” Kemudian berdoa, memohon ampun, dan kembali merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Thursday, November 21, 2013

Biblika: Majoring in “not-so-minor”

Ketika akan berangkat studi tahun 2009, tidak terlalu sulit untuk memutuskan bahwa saya ingin menekuni studi biblika – Perjanjian Baru. Alasannya waktu itu sederhana. Saya sedang tertarik dengan spiritualitas dan karena di TTC tidak ada jurusan spiritualitas maka saya harus memilih apakah mendalami Perjanjian Baru atau bidang Teologi. Saya memilih Perjanjian Baru. Salah satu alasannya adalah saya tidak merasa tertarik “mengutak-atik” teologi, pemikiran para teolog, filsafat di baliknya, dst. Sementara, saya selalu tertarik “mengutak-atik” Alkitab.

Di awal studi dalam program M.Th, saya makin menyadari perbedaan studi Biblika dan Teologi. Studi biblika memang berarti “mengutak-atik” Alkitab. Itu berarti saya berhadapan dengan data berupa tulisan kuno yang disebut Alkitab dan berbagai tulisan kuno lain di sekitarnya. Saya harus mempelajari retorikanya, budayanya, bahasanya, dst, untuk bisa merekonstruksi ulang situasi dan maksud dari tulisan itu. Pusing? Saya sangat pusing!

Waktu pusing itulah, saya mulai “iri” dengan teman-teman di bidang Teologi. Mereka mendalami tema-tema besar yang berkaitan langsung dengan berbagai pertanyaan orang Kristen. Mereka makin mampu berdialog dalam banyak isu. Buku-buku yang dibaca pun topiknya luas, menarik, dan intelektual (menurut saya). Sementara saya “hanya” mendalami hal-hal yang “kecil-kecil”.

Misalnya saja ketika bicara tentang hidup Kristen dan dosa, orang Teologi mungkin akan bicara tentang konsep evil, pemikiran para teolog tentang spiritual warfare, bagaimana dosa bekerja dalam hubungan dengan ordo salutis, dll. Sementara orang Biblika cenderung akan bicara tentang apa data yang diberikan Alkitab – khususnya kitab tertentu – mengenai hidup Kristen, apa yang dikatakan Petrus atau Paulus atau Yohanes tentang dosa, dan apa situasi di balik semua argumen mereka?

Studi Biblika adalah tentang data: apa yang ada di dalam Alkitab. Data itu dicari, dikeluarkan, direkonstruksi. Studi Teologi adalah merangkum data yang ditemukan oleh studi Biblika menjadi tema-tema besar. Orang Biblika akan bertanya apa yang dikatakan Paulus dalam surat Korintus tentang Allah? Apa yang dikatakan oleh Injil Yohanes tentang Allah? Orang Teologi akan bertanya siapa Allah? Bagaimana menjelaskan tentang Allah kepada orang zaman ini? Kira-kira, kasarnya, begitu lah. Mudah-mudahan contoh di atas cukup memberi gambaran.

Maka tidak salah juga kalau ada orang yang mengejek bahwa studi Biblika adalah majoring in minor. Studi kami adalah pada yang kecil-kecil. Dan harus diakui kadang sangaaattt kecil sampai seperti tidak ada artinya.

Tetapi sekian tahun sekarang saya mendalami studi Biblika, saya makin melihat keindahannya. Berkali-kali saya mengerutkan dahi mendengar kalimat-kalimat orang Teologi yang menurut saya salah mengerti data Alkitab. Berkali-kali saya harus tidak setuju, dan agak sebal, membaca buku-buku spiritualitas karena menurut saya salah menggunakan data Alkitab. Seringkali akibatnya sama sekali tidak sederhana!

Seharusnya studi teologi terintegrasi. Orang Biblika harusnya merangkum data penemuannya dan mulai membangunnya menjadi Teologi. Itu berarti perlu waktu untuk mengerti pertanyaan orang zaman ini dan refleksi (day dreaming, if you like) bagaimana menjawabnya. Orang Teologi harusnya memakai penemuan orang Biblika sebelum memulai refleksi teologis mereka. Tapi kenyataannya karena bidang masing-masing sudah sangaaaattt besar dan rumit, maka orang Biblika sering berhenti di data sementara orang Teologi agak “asal-asalan” memakai data Alkitab dan cepat-cepat lompat berpikir secara teologis. Saya kira ini harus menjadi “alarm” bagi kita semua yang belajar teologi.

Saya tidak mengklaim tahu segalanya tentang Alkitab! Siapa lah saya!?? Saya baru belajar sepotong kecil saja dari Alkitab. Tapi saya makin sensitif dengan cara orang merangkum data Alkitab, khususnya bagian yang pernah saya pelajari dengan mendetil. Makin lama… saya makin mengerti bahwa studi Biblika ternyata not-so-minor!

Sunday, November 17, 2013

Tuhan Akan Memelihara Gereja-Nya

Beberapa waktu lalu sekolah minggu GKY Jemaat Green Ville mengadakan lomba menceritakan kisah Alkitab yang diikuti oleh anak kelas 1-6. Ada seorang peserta yang sangat baik tapi harus di-diskualifikasi karena belum cukup umur - masih TK. Tapi panitia kemudian mengapresiasi dia sebagai peserta termuda dan berbakat.

Dalam kebaktian pertama di GKY Jemaat Green Ville minggu lalu, para pemenang lomba itu dipanggil maju ke depan dan diberikan apresiasi. Anak yang masih TK yang di-diskualifikasi itu diminta menyampaikan cerita "Daniel di gua singa" yang dia bawakan waktu lomba. Saya terkejut! Sepanjang dia bercerita, saya terkagum-kagum. Dia bercerita tanpa teks dan sangaaaatttt bagus! Bukan hanya kagum, tapi berkali-kali jemaat juga dibuat tertawa dengan kreativitasnya dalam bercerita. Tanpa disadari, saya menangis... saya terharu. Otak saya langsung berputar mempertanyakan diri sendiri, mengapa saya begitu terharu?

Saya teringat bahwa beberapa waktu ini saya merasa khawatir dengan kondisi gereja Injili di Indonesia. Saya melihat bahwa tidak banyak orang yang mau menjadi hamba Tuhan. Dari jumlah yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang punya kemampuan intelektual yang tinggi, berbakat, berdedikasi untuk belajar dan mengajar Firman Tuhan. Makin banyak orang pintar tapi makin sedikit yang mau menjadi hamba Tuhan. Bagaimana masa depan gereja? Situasi dalam gereja juga seringkali begitu tidak mendukung seorang hamba Tuhan untuk terus mengutamakan belajar dan mengajar Firman Tuhan. Kesibukan membunuh kerinduan untuk belajar. Segelintir hamba Tuhan yang punya kemampuan intelektual tinggi pergi untuk studi lanjut, sebagian menjadi 'ngaco', sebagian tidak mau kembali ke Indonesia, maka hanya super segelintir yang sisa. Saya sangat khawatir.

Sekarang di depan saya ada sekelompok anak-anak sekolah minggu yang pandai dan bebakat menceritakan kisah Alkitab. Ditambah melihat anak TK bercerita seperti itu - dengan kemampuan, kreatifitas, dan daya hafal yang bahkan tidak saya miliki, saya terharu.

Saya tahu belum tentu anak-anak itu akan menjadi hamba Tuhan. Tetapi di momen itu, Tuhan seperti menunjukkan kepada saya bahwa Dia pegang kendali gereja-Nya. Dia memelihara dan akan terus memelihara gereja-Nya dengan cara-Nya sendiri. Saya bersyukur untuk anak-anak sekolah minggu itu.

Wednesday, November 13, 2013

My Dissertation Writing - 2

Minggu lalu adalah kebaktian penutupan semester di TTC. Saya jarang menghadiri chapel service di TTC karena selain beban studi saya punya cukup banyak komitmen lain. Tapi kali ini adalah kebaktian penutupan. Saya ingin menghadirinya sekedar penanda bahwa satu semester sudah berlalu.

Pagi itu sempat muncul keraguan untuk hadir karena siangnya saya akan kembali ke Indonesia sementara masih ada khotbah yang harus dipersiapkan! Akhirnya saya tetap hadir. Dan saya bersyukur. Kebaktian itu sungguh menjadi penanda bagi saya, satu semester Tuhan sudah memimpin, satu semester sudah saya hidup di tengah komunitas kecil bernama TTC.

Minggu sebelumnya saya menyerahkan proposal disertasi kepada supervisor saya. Sebetulnya bagi saya proposal itu belum baik karena masih banyak ketidakjelasan. Tapi saya sudah mentok. Apalagi bagian outline, saya tidak tahu harus menulis apa. Tapi waktu sudah sangat mepet... hanya satu minggu sebelum semester berakhir. Kalau saya tidak menyerahkannya maka pasti akan mundur ke Januari. Akhirnya saya selesaikan bagian outline dengan asal-asalan. Saya serahkan proposal itu disertai email 'permohonan'. Kira-kira isinya memohon maaf karena sangat terlambat, tapi kalau boleh saya minta waktu ketemu sebelum libur, tapi kalau tidak bisa saya mengerti bla..bla..bla... Keesokan harinya saya terkejut karena menerima email dari dia mengundang saya untuk bertemu 1 hari sebelum penutupan semester.

Hati saya separuh kebat-kebit separuh "que sera sera" ketika bertemu dengan dia. Ternyata proposal saya disetujui! Tapi sesuai dugaan, outline saya harus direvisi (ya iya lah...). Saya sudah bisa mulai menulis disertasi saya. Dia hanya minta saya mengirim email mengenai outline yang direvisi.

Semangat belajar saya sedang tinggi. Saya makin mencintai topik yang akan saya tulis ini. Bagi yang pernah tahu, waktu itu saya bercerita bahwa topik saya adalah "Flesh/Spirit Antithesis in Paul". Setelah bergumul lagi, saya memperbaikinya menjadi "Pauline Ethics of Spirit in the Letter to the Galatians". Rasanya masih perlu diperhalus, tapi biarlah nanti saja.. hanya masalah supaya lebih keren.

So here I am, celebrating what God has given and how He has led me thus far. Thanks be to God!