Thursday, March 24, 2016

Broken and Spilled Out

Pada kebaktian Jumat Agung di GKY Singapore, empat tahun yang lalu, paduan suara menyanyikan lagu Broken and Spilled Out dari Steve Green. Di malam menjelang peringatan Jumat Agung ini, saya kembali mendengarkan lagu itu dan merenungi lagi kata-katanya.

Steve Green mengambil syair ini dari kisah di dalam Injil. Saya kira dia mengambil syair lagunya dari Matius 26.6-13/Markus 14.3-9/Yohanes 12.1-8 (walaupun kisah yang serupa juga ada di Lukas 7.36-50), yaitu ketika Maria mengurapi Yesus di Betania beberapa hari sebelum Jumat Agung. Yesus sendiri berkata tentang peristiwa itu, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan utuk penguburan-Ku" (Mrk 14.8).

Klip video di bawah ini dibuat oleh istri saya beberapa tahun lalu:



One day a plain village woman
Suatu hari ada seorang wanita desa yang sederhana
Driven by love for her Lord 
Digerakkan oleh kasih kepada Tuhan-nya
Recklessly poured out a valuable essence
Dengan sembrono menuangkan minyak wangi yang berharga
Disregarding the scorn
Tanpa mempedulikan cemoohan
And once it was broken and spilled out
Dan begitu (botol) minyak wangi itu dipecahkan dan ditumpahkan
A fragrance filled all the room
Bau wangi memenuhi seluruh ruangan
Like a pris'ner released from his shackles
Seperti tahanan yang dibebaskan dari ikatannya
Like a spirit set free from the tomb
Seperti roh yang dibebaskan dari kuburan

Tiba-tiba di tengah lagu ini, subjek dan objeknya berubah. Bukan lagi tentang "wanita itu" tetapi tentang "saya". Dan di akhir bagian ini, bahkan bukan lagi tentang "minyak wangi yang ditumpahkan" tetapi tentang "saya yang rela ditumpahkan".

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of you Jesus
Hanya karena kasih untuk-Mu Yesus
My most precious treasure lavished on Thee
Hartaku yang paling berharga dihamburkan pada-Mu
Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at Your feet
Dan dituangkan pada kaki-Mu
In sweet abandon, let me be spilled out
Dalam penyerahan yang manis, biarkan aku ditumpahkan
And used up for Thee
Dan dipakai habis untuk-Mu

Di bagian akhir lagu ini, sekali lagi subjek dan objeknya berubah. Kali ini, bukan lagi wanita itu dan bukan lagi saya yang menumpahkan minyak wangi, tetapi Allah! Bukan lagi tentang minyak wangi atau saya yang ditumpahkan, tetapi Yesus!

Lord You were God's precious treasure
Tuhan Engkau adalah harta Allah yang berharga
His loved and His own perfect Son
Anak-Nya sendiri yang dikasihi dan sempurna
Sent here to show me the love of the Father
Diutus untuk menunjukkan kepadaku kasih Bapa
Just for love it was done
Untuk kasih itu dilakukan
And though You were perfect and holy
Dan sekalipun Engkau sempurna dan kudus
You gave up Yourself willingly
Engkau memberikan diri-Mu dengan rela
You spared no expense for my pardon
Engkau tidak menyayangkan apapun demi pengampunanku
You were used up and wasted for me
Engkau dipakai habis dan dihamburkan untukku

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of me Jesus
Hanya karena kasih untukku Yesus
God's most precious treasure lavished on me
Harta Allah yang paling berharga dihamburkan padaku
You were broken and spilled out
Engkau dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at my feet
Dan dituangkan pada kakiku
In sweet abandon Lord
Dalam penyerahan yang manis Tuhan
You were spilled out and used up for me
Engkau ditumpahkan dan dipakai habis untukku

Segalanya menjadi terbalik!. Kita pikir kita yang mengasihi Allah. Kita pikir kita yang memecahkan dan menumpahkan harta kita, diri kita, segala yang berharga bagi kita, untuk Yesus. Tetapi Allah sudah memecahkan dan menumpahkan Yesus untuk kita. Harta Allah yang paling berharga dihamburkan pada kita! Dia dipecahkan, ditumpahkan, dan seperti - saya tidak tega bahkan untuk menuliskan ini - dituangkan pada kaki kita. Oh Tuhan, how can it be! 

Yesus ditumpahkan dan dipakai habis untuk kita. Bisakah kita tidak melakukan yang sama - yang sebenarnya jauh jauh jauh lebih rendah dari yang dilakukan Allah?

Maka dua kalimat ini terngiang-ngiang di telinga saya:

In sweet abandon Lord, You were spilled out and used up for me.
In sweet abandon, let me be spilled out and used up for Thee. 

Selamat Jumat Agung dan Paskah!

Thursday, February 11, 2016

Langkah-langkah Memulai Masa Pacaran

Valentine Day is just around the corner again. It seems to be an appropriate time to talk about dating :-)

Ok, saya tidak bermaksud menulis textbook cara “pendekatan”. Tapi setelah mendengar berbagai cerita “gosip-seputar-pdkt-dan-pacaran”, saya merasa ada yang kurang “pas”. Maka saya berharap paling tidak tulisan pendek ini bisa sedikit menolong mereka yang sedang bergumul - untuk bergumul dengan benar.

Apa itu “pacaran”? Sederhananya, pacaran adalah masa dimana seorang pria dan seorang wanita mengambil komitmen untuk lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan.

Perhatikan definisi itu. Hanya seorang pria dan seorang wanita, tidak bisa “seorang” dengan “beberapa orang”. Lalu ada “komitmen”. Tetapi komitmennya bukan untuk “hidup bersama”. Komitmennya bukan “to stay together forever and ever”. Komitmennya bukan “you are mine and I am yours”.  Tidak ada hal seperti itu dalam pacarana! Komitmennya hanyalah “lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan”. Maka di dalam pacaran, SAMA SEKALI tidak boleh ada relasi yang sifatnya seksual. Relasi yang dijalin bukan bersifat fisik tetapi komunikasi – pemikiran, perasaan, pengalaman, nilai hidup, iman, dst. Komitmennya hanyalah menjajaki apakah saya dan dia bisa hidup bersama seumur hidup nantinya. 

Walaupun pacaran memang tidak ada komitmen seperti pernikahan, bukan berarti boleh dimulai dengan sembarangan. Bagaimanapun pacaran melibatkan emosi, waktu dan tenaga dari dua pihak, yang sangat sayang untuk disia-siakan. Maka untuk mulai berpacaran harus ada “tingkat kepastian tertentu” – merasa suka, cocok, mau komitmen berelasi, barulah dimulai. Sehingga faktor “gambling” dan “sembarangan” diminimalisir. Di masa pacaran nanti, kedua belah pihak akan sama-sama lagi menilai dan berdoa apakah benar bisa dilanjutkan ke pernikahan. Artinya setelah ada “tingkat kepastian yang lebih tinggi” baru memberanikan diri masuk ke komitmen seumur hidup.

Untuk masuk ke masa pacaran, ada 2 pertanyaan yang perlu ditanyakan terlebih dulu oleh setiap orang:

Pertama, apakah benar ada ketertarikan, ada perasaan suka, dan melihat ada kecocokan? Tidak bisa tidak, perlu waktu untuk menjawab ini.

Kedua, apakah benar mau berkomitmen memasuki masa pacaran?  Memang bukan komitmen untuk menikah atau apapun yang serius, tapi hanya komitmen mengkhususkan waktu, tentunya juga emosi dan pikiran, untuk mengenal dan menguji kecocokan menuju ke pernikahan.

Pikirkan dan doakan untuk menjawab 2 pertanyaan itu. Libatkanlah Tuhan di dalam pergumulan yang sangat penting ini.

Mulai dari yang pria, kalau memang jawaban untuk yang pertama dan kedua adalah “ya”, BARU sesudah itu dia boleh menyatakan secara eksplisit ke yang wanita. Ini penting! Hanya setelah yang pria yakin, BARU dia boleh menyatakan. Lalu tunggu jawaban apakah yang wanita juga setuju untuk masuk ke masa pacaran. Maka giliran si wanita untuk bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas itu dan mendoakannya.

Urutan di atas harus jelas.

Beberapa kesalahan yang biasa terjadi:

Pertama, terlalu cepat memasuki masa pacaran. Tanpa ada “tingkat kepastian tertentu” - hanya berdasarkan perasaan suka (yang mungkin sesaat) lalu berani masuk ke masa pacaran.

Emosi memang selalu melambung jauh lebih cepat dari akal sehat. Pada waktu emosi melambung, dengan cepat kita akan berkata “tertarik, suka, cocok, MAU!” Itu sebabnya perlu waktu untuk membuat emosi "turun" dan stabil dulu, baru bisa berpikir jernih apakah memang tertarik, suka, cocok dan mau pacaran. Jangan mengambil komitmen apapun dalam keadaan emosi yang sedang sangat melambung. Banyak orang yang nekat mengambil komitmen waktu lagi “melayang-layang” dan kecewa setelah “layangan”nya turun ke bumi.

Berikan waktu beberapa bulan untuk berteman saja (tanpa romantisme at all!) dan usahakan tidak pergi berduaan tapi selalu bersama dengan teman-teman lain. Jika relasi disertai banyak romantisme – kata-kata mesra, kontak terus menerus, sering pergi berduaan, apalagi ada kontak fisik, maka tidak pernah akan ada kematangan dalam pergumulan. Romantisme dan kontak fisik sudah berjalan mendahului komitmen dan akal sehat akan jauh tertinggal di belakang.

Kesalahan kedua, berlawanan dengan yang pertama, yaitu terlalu lama mengambil keputusan. Pria memang harus bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas dan mendoakan. Tetapi jangan lupa, ini bukan mencari kepastian untuk “menikah” tapi untuk “memasuki masa penjajakan menuju ke pernikahan”. Jadi tidak bisa harus pasti dan yakin “she is the one” baru mau pacaran. Tidak akan pernah yakin! Keyakinan itu baru bisa didapat nanti waktu di masa pacaran. Maka masa memikirkan dan mendoakan ini tidak perlu terlalu lama (walaupun bukan berarti terlalu cepat dan sembarangan).

Alasannya adalah: Ketika seorang pria merasa suka, sadar atau tidak sadar dia akan banyak “mendekati” si wanita. Dia akan cukup sering kontak, memberi perhatian, dsb. Kalau si wanita tidak suka dengan dia, maka gampang, si wanita pasti akan menjauh. Tapi kalau si wanita suka, maka dia akan kasihan sekali karena perasaannya terus diaduk-aduk. Di satu sisi dia merasa si pria mendekati dia (membuat dia berharap), tapi di sisi lain si pria tidak maju-maju. Jadi seperti digantung – friendzoned.  Apalagi kalau kemudian setelah sekian lama, akhirnya si pria memutuskan untuk tidak mau memasuki masa pacaran. Sekian lama si wanita merasa didekati, diperhatikan, lalu si pria tiba-tiba menjauh! Itu sangat menyakitkan. Memang namanya juga lagi bergumul dan jawabannya bisa “tidak”, tapi justru itu sebabnya jangan terlalu lama. Kasarnya, mau ya mau, nggak ya nggak :-)

Dengan alasan yang sama, setelah pria menyatakan, jangan yang wanita kemudian giliran friendzoning dia. Memang pasti perlu waktu untuk berpikir dan berdoa. Tidak ada patokan juga berapa waktu yang diperlukan, tapi 6 bulan pasti terlalu lama.

Kesalahan ketiga, si pria yang sama sekali belum ada kepastian ini bilang ke si wanita, “saya lagi mendoakan kamu”. Woohooo…. Bagi wanita (yang cenderung lebih emosional), informasi itu tidak ada bedanya dengan “pernyataan langsung”. Bagi dia itu artinya si pria menyukai dia. Dia akan sangat berharap dan sangat sakit hati ketika akhirnya “hasil doa” si pria adalah “tidak”. Maka saya sangat tidak setuju dengan cara seperti itu.

Pria harus berpikir dan berdoa sendiri dulu, walaupun sambil mendekati – asal jangan lama-lama. Setelah ada keputusan bahwa dia mau, BARU menyatakan. Barulah saat itu “bola”nya dilempar ke si wanita untuk memutuskan. Jangan sampai setelah bola dilempar ke si wanita, dengan alasan “sama-sama mendoakan”, lalu si wanita memutuskan “mau” sementara si pria memutuskan “tidak”. Bukan begitu urutannya.

I hope that helps. Selamat bergumul – dengan benar :-) 

Monday, December 28, 2015

Refleksi Akhir Tahun 2015

Beberapa hari lagi kita akan sampai di penghujung tahun 2015.

Setiap kita pasti mengalami hal yang berbeda di sepanjang tahun 2015. Suka dan duka, sehat dan sakit, keuntungan dan kerugian, mendapatkan dan kehilangan,… variasinya tidak terbatas. Peristiwa demi peristiwa sudah terjadi. Di satu sisi, semua itu sudah menjadi masa lalu. Sudah lewat. Tetapi, di sisi yang lain, kita perlu menyadari dan mengakui bahwa semua itu masih mempengaruhi kehidupan kita sampai sekarang.

Sakit yang kita alami, kerugian ekonomi yang kita terima, anugrah besar yang kita nikmati, pelajaran tentang kehidupan, sukacita yang kita rasakan, kepahitan hidup, luka hati, semuanya ikut andil membentuk kita. Pikiran dan emosi kita diubah oleh semua itu. Maka bagaimanapun juga, peristiwa di masa lalu itu meninggalkan jejak dalam hidup kita di saat ini dan juga masa depan. Pertanyaannya apa yang harus kita lakukan dengan semua itu?

Membawa semua yang kita terima ke hadapan Tuhan dan bersyukur adalah hal yang sulit. Kita cenderung lupa untuk bersyukur dan mudah untuk berkata “kekuasaanku dan kekuatan tangankulah” yang membuat aku memperoleh semuanya.  Tetapi, membawa ke hadapan Tuhan semua kelelahan, kepahitan, kesedihan, yang sudah kita alami dan mempengaruhi kita, seringkali lebih sulit.

Minggu lalu saya berkhotbah di GKY Jemaat Green Ville dari Yohanes 4:1-42. Saya pernah berkhotbah dari bagian itu di tempat lain walaupun tidak sama persis (lihat tulisan saya tentang Mengulang Khotbah di sini). Bukan saja saya mengurangi dan menambahkan di sana-sini, tetapi juga ada penekanan-penekanan yang berbeda. Maka khotbah itu, bagi saya pribadi, fresh. Bagian Alkitab itu berbicara lagi kepada saya sendiri – dengan cara yang berbeda.

Yesus menawarkan air hidup! Yesus berjanji barangsiapa yang meminum air hidup yang Dia berikan itu tidak akan haus lagi. Dia menggenapi janji itu tidak dengan meniadakan kemungkinan untuk kita haus. Tetapi Dia menggenapinya dengan menjadikan air hidup itu mata air dalam diri kita yang terus menerus memancar sampai ke hidup yang kekal.

Maka setiap kali haus, yang perlu kita lakukan adalah mengaku haus, datang kepada-Nya minta dipuaskan, dan membiarkan Dia memuaskan kita lagi dan lagi. Air hidup itu ada di dalam diri kita! Roh Kudus ada di dalam kita. Kuasa kehidupan yang selalu menopang kita ada di situ. Kekuatan tak terhingga untuk mengubah kita ada di situ. Penghiburan yang terindah ada di situ. Jaminan yang terkuat bahwa Dia akan menuntun kita ada di situ. Maka, lagi dan lagi, kita hanya perlu mengaku haus, datang kepada-Nya dan dipuaskan.

Berapa sulitnya itu? Sulit! Kita sulit untuk mengaku haus dan datang ke Tuhan. Mudah untuk kita menangis. Cepat untuk kita berteriak. Tetapi datang kepada Tuhan dan HANYA meminta dipuaskan oleh-Nya (bukan oleh yang lain), adalah hal yang sangat sulit. Membutuhkan kerendahan hati. Membutuhkan pertobatan.

Terakhir, meminjam judul buku John Piper (“Don’t Waste Your Cancer”), saya ingin mengingatkan “Don’t Waste What You’ve Been Through”. Jangan sia-siakan pengalaman pahitmu. Jangan sia-siakan sakit hatimu. Jangan sia-siakan tangisanmu.

Kita menyia-nyiakannya jika kita hanya berusaha melupakannya tanpa bertobat (walaupun ya, kita perlu meninggalkannya di belakang). Kita menyia-nyiakannya jika kita hanya menjadi orang yang sakit hati dan penuh amarah. Kita menyia-nyiakannya jika semua itu merusak hidup dan masa depan kita. Don’t waste them!

Ketika semua kepahitan, luka, dan tangisan, menjadi cambuk yang memacu kita hidup lebih baik, menjadi arang yang membakar kita berkobar bagi Tuhan, menjadi minyak yang mengobati luka orang lain, maka kita tidak menyia-nyiakannya.

Bagi saya, tahun 2015 adalah tahun dengan warna kelabu terbanyak dalam hidup saya. Pada waktu saya merenungkan kembali Yohanes 4:1-42 itu, saya menyadari bahwa saya sedang sering dan mudah haus. Saya memang pernah meminta dan menerima air hidup yang ditawarkan Yesus – ketika saya sepenuhnya mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Air hidup itu sudah memuaskan dahaga jiwa saya. Tetapi, saya pun haus lagi. Maka sebelum berkhotbah, berkali-kali saya menundukkan kepala, menadahkan tangan dan berdoa, “Tuhan, aku haus, puaskan aku lagi”.

Saya juga tidak ingin menyia-nyiakan semua warna kelabu itu. Saya mengingat lagi semua yang terjadi dan saya berdoa supaya semua tidak sia-sia. Ada janji yang saya ucapkan kepada Tuhan.

Dua hari lalu saya dan istri berjalan kaki cukup jauh, lebih dari 3 km, dan sambil berjalan kami banyak membicarakan apa yang kami alami di tahun 2015 ini. Lalu kami bernyanyi (tentunya dengan suara pelan :-) di jalanan)… “Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik, Dia baik, ku yakin Dia s’lalu sertaku, Dia baik bagiku. Lewat badai cobaan, semuanya mendatangkan kebaikan. Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik bagiku.”

Sambil menyanyi saya terharu… betul Tuhan baik. Kekuatan yang Dia berikan untuk kami berjalan dan terus berjalan selalu cukup. Ya, cukup. Dia juga memberikan sukacita, warna-warna cerah, di sepanjang perjalanan itu. Selalu ada bright moments yang mengingatkan bahwa hidup tidak selalu kelabu. Bahkan Dia memberikan banyak hal yang tidak sepantasnya kami terima. Ya, kami tidak ingin melupakan itu.

Kemurahan-Mu, ya Tuhan, sungguh lebih dari hidup. Maka syukur kami persembahkan lagi kepada Tuhan.

Thursday, December 17, 2015

John Maxwell’s 5 Levels of Leadership

Sekedar sharing.

John Maxwell, yang banyak berbicara tentang kepemimpinan Kristen, pernah mengajarkan dengan sederhana 5 tingkatan kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Saya merasa tertolong dengan model sederhana dari Maxwell ini untuk mengevaluasi kepemimpinan saya dan juga mengingatkan saya akan apa yang masih kurang.

Maka sekedar untuk sharing, di bawah ini saya mencoba menjelaskan apa yang dimaksud oleh dia:

1. People follow because they have to
Ini adalah tingkat kepemimpinan yang paling rendah. “Pemimpin” ini ditunjuk menjadi pemimpin. Dia punya bawahan yang mengikuti dia semata-mata karena mereka harus. Maka orang yang berhenti di tingkatan ini hanyalah boss dan bukan pemimpin. Kata kunci untuk tingkatan pertama ini adalah “posisi”.

2. People follow because they want to
Disinilah seseorang mulai menjadi pemimpin. Leadership is influence. Pengaruh itu diberikan bukan melalui posisi tetapi melalui relasi. Dia membangun relasi yang baik dengan orang-orang dalam timnya. Dia disukai, dihargai, diakui sebagai pemimpin, karena pengaruh yang dia berikan. Sebaliknya ketika orang-orang di bawah dia merasa disukai, dihargai, dipercaya, diperhatikan, maka mereka mulai bekerjasama dengan dia. People go along with leaders they get along with. Maka mereka tidak lagi sekedar mengikuti perintah tetapi mereka mengikuti si pemimpin karena menginginkannya. Kata kunci untuk tingkatan kedua ini adalah “relasi”.

3. People follow because of what you have done for the organization
Pemimpin yang baik makes things happen. Dia harus punya prestasi atau “buah” yang jelas terlihat dan itu membuat orang percaya bahwa dia mampu. Untuk sampai ke tingkatan ini, seseorang harus punya kemampuan kerja yang baik dan juga mampu untuk mengatur dan mengarahkan seluruh organisasi. Dia harus memiliki pemikiran yang baik dan juga etika kerja yang baik. Dia bukan saja produktif secara pribadi tapi mampu mengarahkan tim kerja menjadi produktif.  Kata kunci untuk tingkatan ketiga ini adalah “prestasi”.

4. People follow because of what you have done for them personally
Pada tingkatan ini, seorang pemimpin menginvestasikan uang, energi, waktu, dan pemikirannya untuk mengembangkan orang lain menjadi pemimpin. Bagaimana caranya? Dia hanya 20% berfokus pada apa yang dihasilkan oleh tim kerjanya sementara 80% fokusnya adalah pada pengembangan potensi mereka. Kata kunci untuk tingkatan keempat ini adalah “coaching”.

5. People follow because of who you are and what you represent
Mereka yang berada di tingkatan ini sudah memimpin sangat baik dan sangat lama sehingga terbentuk budaya kepemimpinan yang baik di dalam organisasi yang dipimpinnya. Pengaruh dirinya bahkan melampaui organisasi yang dipimpinnya. Sangat jarang pemimpin yang mencapai tingkatan kelima ini. Biasanya seseorang mencapai tingkatan ini hanya di ujung masa karirnya.  Kata kunci untuk tingkatan kelima ini adalah “legacy”.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah tingkatan-tingkatan kepemimpinan ini harus ditempuh berurutan. Tidak ada yang bisa dilompati. Kita tidak bisa sampai ke tingkatan ketiga sebelum melalui tingkatan kedua, demikian seterusnya.

Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik (good leader), menurut saya, paling tidak kita harus sampai di tingkatan ketiga.

Jika kita menempati posisi pemimpin maka tingkatan pertama pasti sudah dicapai. Pertanyaan  berikutnya adalah bagaimana relasi kita dengan orang-orang di bawah kita? Apakah ada relasi, yang bukan sekedar baik – hangat, akrab, saling percaya, tetapi memberikan pengaruh yang baik? Apakah mereka belajar banyak, termotivasi, berani bermimpi lebih besar, karena kita? Pikirkan jawaban pertanyaan ini dari sisi mereka. Kalau jawabannya “ya”, maka tingkatan kedua dicapai.

Lalu pertanyaan berikut adalah bagaimana hasil kerja kita? Ini bukan sekedar masalah apakah kita rajin, bekerja keras, berkorban, atau tidak. Tetapi, apakah orang-orang melihat kita mampu - berhasil dalam tugas pribadi dan dalam memimpin dan mengarahkan organisasi? Apakah orang-orang di bawah kita percaya dengan penilaian dan keputusan kita karena mereka melihat hasil kerja kita selama ini? Kalau jawabannya “ya”, maka tingkatan ketiga dicapai.

Tetapi, untuk menjadi pemimpin yang sungguh baik (great leader), saya kira minimal kita harus sampai di tingkatan keempat. Bukan saja kita mendorong orang untuk maju, tetapi kita menginvestasikan waktu, tenaga dan uang untuk melatih orang di bawah kita menjadi pemimpin. Ini tidak mungkin kita lakukan dengan baik kalau kita tidak mencapai tingkatan kedua dan ketiga dengan baik juga. Jika kita mencapai tingkatan ini, orang-orang di bawah kita akan mengaku bahwa mereka bisa menjadi pemimpin dan mampu mengembangkan potensi karena kita. This is tough!

Saya pikir model sederhana di atas akan sangat menolong jika kita jujur menilai diri kita. Kita akan melihat pemimpin seperti apa kita dan apa yang harus kita perbaiki.

So… where are you now? What is still lacking?

Monday, November 23, 2015

Sampai Masa Tuaku


Setiap kita akan semakin tua, mau atau tidak mau dan sadar atau tidak sadar.

Rambut semakin memutih atau menipis, kulit mengendur dan keriput semakin jelas, otot melemah, dan organ-organ tubuh semakin rentan. Kesulitan hidup yang kita alami mempertegas dan mempercepat proses itu.

Ketika kita bercermin dan melihat fisik kita yang semakin tua, apa yang kita pikirkan? Berpikir bagaimana membuatnya tampak lebih muda? :-) Berharap bahwa kita belum setua itu? Atau melihat a story, bahwa fisik ini, ya, rambut, kulit yang keriput, semuanya, sudah melalui banyak hal di masa lalu. We have been through many things, ups and downs and in between.

Tetapi, selain itu, bisakah kita juga melihat another story: His story. Betul ada banyak kisah penderitaan, kesulitan, tangisan yang sudah kita lalui di masa lalu, tapi juga jelas ada kisah bagaimana tangan Tuhan menjangkau kita dan bagaimana tangan Tuhan menopang kita. Rajutan “kisah hidup kita” dan “kisah Tuhan dalam hidup kita” itu berpadu menjadi the real story. Itulah kisah sesungguhnya yang ada di balik fisik yang menua.

Selama masih ada nafas hidup, kisah itu belum berakhir, dan rajutan itu akan terus semakin kuat.


Mari mengamini apa yang Tuhan janjikan: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu”  (Yesaya 46:4). Dia sudah melakukannya dan Dia mau terus melakukannya.

Wednesday, November 18, 2015

What Kind of Life Do I Want to Live?

Saya baru saja kembali dari rumah doa di Lembang. Saya pergi kesana to iron out the wrinkles in my heart. Setibanya di sana saya langsung masuk ke kamar doa. Setelah sekitar satu setengah jam, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman.

Seorang tukang kebun yang sudah lama bekerja di situ mengenali dan menyapa saya dengan ramah. Tiba-tiba dia bertanya, “Bapak tahu kalau Ibu sudah meninggal?”

Pikiran saya langsung teringat pada seorang ibu pengelola rumah doa ini. Saya mengenalnya karena dulu sering telpon untuk book tempat lalu beberapa kali bertemu dengannya di rumah doa. Walaupun tidak terlalu kenal, tapi dia selalu menyambut saya seperti sudah lama kenal. Belakangan melalui berbagai peristiwa saya jadi tahu sekelumit kisah hidupnya. Dia seorang wanita yang hidupnya penuh kesulitan tapi tegar, beriman, dan hidupnya sangat menjadi berkat bagi banyak orang. Rumah doa itu pun lahir dari kerinduan dan beban dia. Lalu akhirnya saya mendengar berita dia sakit dan akhirnya meninggal.

Maka saya menjawab “ya, saya tahu” kepada tukang kebun itu. Lalu dia menghampiri saya dan sambil berjongkok dia bercerita bahwa waktu itu si Ibu sempat bilang mau ke Singapore. Bagi dia, waktu itu, si Ibu tampaknya baik-baik saja. Tiba-tiba berita itu tiba dan dia sempat tidak percaya. Lalu dengan muka muram dia bilang, “Kita kehilangan pak… dia orang baek banget… susah cari orang baek begitu. Dia sangat sosial, dia pernah minta saya bikin daftar penduduk di kampung di atas yang perlu dibantu. Dan dia terus bantu”.

Lalu dia berkata bahwa dia senang waktu mendengar jenazah si Ibu akan dibawa pulang ke tanah air. “Dulu Ibu pernah bilang kalau dia meninggal, dia mau jenazahnya dipikul sama anak-anak rumah doa (karyawan). Saya pengen penuhin pesannya”. Kemudian dia bercerita bahwa waktu pemakaman, di kuburan sangatlah ramai. Dengan wajah berduka dan dengan lirih dia berkata, “saya nggak percaya… cepet banget… Ibu orang baek.”

Di tengah rumitnya dan berbelit-belitnya pikiran saya, percakapan singkat itu memberikan kesegaran tersendiri. Saya jadi diingatkan kembali what kind of life do I want to live?

James Dobson pernah mengumpamakan hidup seperti permainan monopoli. Waktu bermain, semua bisa serakah, berebut uang, berusaha mengalahkan lawan, bersaing membeli rumah dan tanah, sambil tertawa-tawa puas ketika menang. Tapi setelah permainan selesai, semua harus kembali masuk ke kotak. Semua yang tadinya begitu berharga, tidak ada lagi artinya. Kesenangan karena menang pun tidak ada lagi nilainya. Tapi bagaimana menjalani permainan tadi bersama orang-orang lain, itulah yang bernilai.

Sebelum berangkat ke rumah doa, saya secara acak membawa satu buku dari perpustakaan untuk dibaca di sana. Mau tahu judulnya? Our Greatest Gift: A Meditation on Dying and Caring (Henri J. M. Nouwen). Pas banget!

Nouwen melayani di komunitas penyandang cacat mental dan dia berkata ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan mereka seperti orang di luar komunitas mereka. Ada yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berhitung, tidak bisa membaca, ada yang tidak bisa makan atau mandi sendiri, dan ada yang sama sekali tidak bisa apa-apa. Mereka sadar bahwa hidup akan semakin berat seiring dengan bertambahnya usia. Tetapi bukankah semua itu juga dialami oleh orang-orang yang “sehat” ketika menjadi tua? Pada waktu muda kita mungkin berbeda, ada yang bisa ini dan itu, ada yang dapat ini dan itu, dan ada yang tidak bisa dan dapat apa-apa. Tetapi ketika tua, kita semua akan semakin mirip. Kita sama-sama akan bergantung kepada orang lain. Sama-sama tidak bisa ini dan itu. Hidup kita adalah dari dependence (masa kecil) ke dependence (masa tua). Sampai akhirnya kita akan persis sama: Meninggal! Maka bagaimana kita hidup, di dalam keterbatasan masing-masing, itulah yang bernilai.

Hidup memang penuh dengan kesulitan. Maka kita berjuang - kita berusaha dengan segala cara untuk mengatasi kesulitan. Ditambah lagi manusia lapar untuk menjadi signifikan (hunger for significance). Maka dalam usaha mengatasi kesulitan, kadang kita menyusun strategi untuk mengalahkan orang lain dan tertawa puas ketika menang. Sebaliknya kadang kita merasa terpukul ketika kalah. Akhirnya kita lupa apa yang bernilai di dalam hidup kita dan apa yang sebetulnya harus kita kejar. Kita hanya sibuk memuaskan kelaparan ego kita.

Saya teringat sebuah film seri televisi “Bu Bu Jing Xin” (步步惊心) yang saya tonton dulu di Singapore. Ceritanya adalah tentang perebutan kekuasaan di antara anak-anak kaisar Kangxi. Belasan pangeran itu sejak kecil bersama-sama, main kuda bersama, berbincang bersama, sampai akhirnya mereka makin dewasa dan berebut kekuasaan. Pangeran yang ke-4, dengan segala cara, akhirnya berhasil menjadi kaisar. Saudaranya yang setia kepadanya sudah meninggal. Saudara-saudaranya yang melawan dia sudah disingkirkan dan meninggal. Satu persatu saudaranya sudah tiada. Dia sudah “menang”.

Lalu ada satu adegan dimana dia berdiri sendirian di istana sambil memandang halaman yang luas. Kemudian dengan wajah yang datar dia berkata, “mereka semua sudah tidak ada, hanya tinggal aku sendirian”. Saya kira sutradara film itu sengaja menghadirkan adegan itu dengan setting seperti itu, istana yang kosong, tidak ada lagi keramaian masa lalu, dan dia sendirian. Seakan bertanya kepada kita: “Lalu apa?”

Suatu kali nanti kita akan memandang ke belakang dan melihat semua yang pernah kita dapatkan atau menangkan dan bertanya, “Lalu apa?” Bahkan pertanyaan itu pun sudah tidak relevan ketika kita meninggal.


Ada banyak doa yang saya panjatkan di sana. Tapi, somehow, perenungan akan kematian dan kehidupan itu menyegarkan hati saya kembali. What kind of life do I want to live?

Thursday, November 12, 2015

Cara Berpikir - Part 4: Don't Focus on the Symptoms, Address the Cause

Ini bagian yang keempat dalam tulisan seri “Cara Berpikir”. Saya pernah menulis di blog ini tentang
cara berpikir:
Cara Berpikir – Part 1: Apa sih Masalahnya? 
Cara Berpikir – Part 2: Benarkah Begitu?
Cara Berpikir - Part 3: Seeing Both the Forest and Tress

Semua masalah selalu ada “penyebab”nya di belakangnya. Kadang “penyebab”nya ada satu , dua, tiga, atau bahkan lebih. Setiap “penyebab” itu juga ada lagi “penyebab” di belakangnya. Demikian seterusnya… Kalau ditarik terus ke belakang…terussss ke belakang…lama-lama penyebabnya adalah dosa Adam. Artinya nariknya udah kejauhan!

Sederhananya begini, ada penyebab yang masih bisa kita rubah, ada penyebab yang tidak bisa kita rubah lagi alias harus diterima. Maka kita perlu mencari ke belakang dan bertanya terus “apa penyebabnya” sejauh ke penyebab yang masih dalam batas kemampuan kita untuk merubah.

Saya menggunakan dua istilah untuk menolong kita berpikir: “Symptoms” dan “Cause.” 

Symptoms” (gejala, keluhan, sesuatu yang muncul dan kelihatan) adalah sesuatu yang muncul ke permukaan yang diakibatkan oleh “cause” (penyebab). Ketika seorang pasien datang ke dokter, seringkali dia tidak tahu apa penyakitnya. Dia hanya akan datang dengan menceritakan symptoms yang dialami dan dokter juga menggali data dari symptoms yang diceritakan. Misalnya kalau dia demam, sudah berapa lama, sampai berapa suhunya. Lalu apakah perutnya sakit ketika ditekan, apakah lidahnya berwarna putih, apakah ada bintik merah di tangan, dst. Yang dilakukan seorang dokter adalah mencari sebanyak mungkin symptoms, lalu menebak apa cause nya. Dia tidak boleh hanya menangani symptoms; demam dikasih pereda panas, sakit perut dikasih panadol, dst. Itu dokter ngaco! Dia harus mencari cause-nya dan menyelesaikan akar masalahnya.

Kesulitannya adalah masalah selalu muncul dalam bentuk symptoms dan kecenderungan kita adalah mencoba menyelesaikan symptoms itu. Praktis. Cepat. Ada masalah ada jawaban. Tapi celakanya, kalau cause nya tidak dibereskan, maka masalah akan terus muncul. Bahkan kadang muncul dalam bentuk symptoms yang lain.

Di dalam pelayanan, berkali-kali saya melihat ini terjadi.

Jemaat mengeluh khotbah membosankan (symptoms). Kalau ditanya apa masalahnya, maka jawabannya adalah terlalu dalam, tidak praktis, terlalu “doktrinal” (analisa symptoms yang salah). Maka dicarilah tema yang lebih praktis, lalu pengkhotbah dipesankan untuk tidak membawakan yang dalam tapi yang ringan-dan-lucu saja. Padahal masalahnya bukan itu! Masalahnya justru mungkin karena pengkhotbah tidak membawakan dengan mendalam dan relevan (cause)! Justru Alkitab perlu diajarkan dengan sangat mendalam (jauh lebih mendalam dari yang kebanyakan hari ini terjadi di banyak gereja), tetapi tetap harus relevan.

Di beberapa gereja diterapkan jam kantor “9 to 5” untuk hamba Tuhan. Seringkali alasannya adalah: Jemaat aja ngantor.. ngapain aja hamba Tuhan kerjanya? Supaya yakin hamba Tuhan juga kerja, maka buat jam kantor (symptoms). Padahal di kebanyakan kasus, cause-nya adalah karena jemaat merasa tidak puas dengan pelayanan hamba Tuhan di gerejanya. Mungkin itu masalah relasi, leadership, khotbah, arah gereja, macam-macam. Kalau symptoms dibereskan dengan dibuatkan jam kantor, apakah masalah beres? Tidak, akan muncul symptoms yang lain.

Demikian pula dengan seruan beberapa orang untuk membuat program ini dan itu, untuk membuat perubahan di sini dan situ, dst. Alasannya? Jemaat perlu! Ini bagus untuk pertumbuhan gereja! Macam-macam sih alasannya. Jangan cepat-cepat! Karena kalau ditelusuri, seringkali bukan itu yang diinginkan dan dibutuhkan. Maka perlu discernment untuk melihat apa sebetulnya yang terjadi, apa penyebabnya, lalu apa yang betul-betul harus dilakukan.

Saya juga melihat ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Anak yang selalu menangis, ngambek, ngotot, minta untuk dibelikan mainan (symptoms), belum tentu sebetulnya menginginkan mainan itu. Mungkin yang dia inginkan adalah perhatian orang tuanya (cause). Satu-satunya yang dia bisa adalah menangis dan minta dibelikan mainan karena saat itulah, untuk sesaat, dia merasa diperhatikan. Tapi apakah masalahnya selesai? Tidak. Dia tetap butuh perhatian. Maka dia akan menangis lagi minta dibelikan mainan.

Beberapa anak menunjukkan prestasi yang buruk di sekolah. Sebagian orang tua berpikir sederhana, prestasi buruk, kurang rajin belajar, maka solusinya diberikan les tambahan. Padahal mungkin bukan itu masalahnya. Mungkin dia punya masalah dengan teman-teman atau guru di sekolah? Mungkin dia tidak cocok dengan cara belajar seperti itu? Mungkin dia tidak tertarik dengan pelajarannya?

Demikian pula dalam kehidupan kita. Ketika kita kesepian, kita memikirkan segala cara untuk mengisi kesepian dan kekosongan itu, dari mulai shopping, nonton, jalan-jalan, dugem, apa saja. Tapi ujungnya tetap sepi. What’s wrong? Karena kita fokus hanya di symptoms: kesepian. Kita tidak addressing the cause: hati kita yang membutuhkan Tuhan.

Maka pola pikir ini bisa menolong kita dalam banyak hal. Jangan melihat sesuatu hanya di permukaan. Jangan melihat masalah hanya dari symptoms-nya dan jangan fokus memberekan hanya symptoms karena tidak akan beres. Address the cause!