Thursday, July 14, 2011

Pelayanan Anak Muda: Pertanyaan Teologis

Semasa remaja (SMA), saya tidak banyak bertumbuh secara rohani. Saya hampir 100% tidak pernah ikut persekutuan di sekolah, tidak pernah membaca 1 buku rohani pun, tidak tertarik untuk memikirkan pertanyaan2 teologis, dan seterusnya. Saya hanya ke gereja, ikut sibuk2 sedikit dalam pelayanan, titik.

Pada waktu saya kuliah, saya ikut dalam Persekutuan Oikumene Trisakti. Di sana saya bertemu dengan para hamba Tuhan yang berkhotbah jauh lebih mendalam dibanding yang selama itu pernah saya temui di gereja saya. Saya ikut kelas Pemahaman Alkitab dimana pikiran saya dilatih untuk mendalami Alkitab. Saya ditantang untuk mau menjadi murid Tuhan dan belajar terus. Hal-hal itu membuat saya tertarik.. dan makin tertarik untuk mengenal Tuhan. Saya makin punya banyak pertanyaan teologis, saya mencari jawabannya di buku, bertanya kepada hamba Tuhan, berdiskusi dengan teman2, dan akhirnya ikut kelas sekolah Alkitab malam. Saya ingat tiap kali pulang kelas sekolah Alkitab, rasanya saya puas, kepala saya penuh pengertian, dan hati bersemangat untuk menceritakannya kepada orang lain.

Cerita di atas saya kira adalah unik pengalaman saya. Tapi setelah sekian lama melayani, ternyata saya menemukan bahwa itu adalah fenomena umum.

Pertanyaan2 teologis, pertanyaan2 seputar Alkitab, pertanyaan2 yang sering dianggap ‘tidak aplikatif’, memang hampir selalu muncul dari mereka yang dalam usia kuliah. Mereka yang masih berusia SMA, ada yang punya pertanyaan2 seperti itu tapi banyak yang tidak. Tapi mereka punya rasa ingin tahu yang cukup besar. Sementara mereka yang berusia kuliah, punya pemikiran yang lebih kritis dan rasa ingin tahu yang lebih besar lagi. Tapi begitu mereka masuk dunia kerja, perlahan-lahan selera ingin tahu itu memudar. Pertanyaan2 teologis tidak lagi menjadi pergumulan mereka dan tidak membangkitkan minat mereka karena dianggap ‘tidak aplikatif’. Dan hidup serta pikiran mereka dipenuhi dengan yang ‘aplikatif’: pekerjaan, mencari uang, pacaran, menikah, dan seterusnya.

Bagi anda yang sekarang sudah di dunia kerja dan dulu pernah menikmati bertumbuh pada waktu masa SMA atau kuliah, coba ingat2 apakah anda juga mengalami fenomena ini?

Fenomena ini menyedihkan sekaligus menantang. Menyedihkan karena saya kira penyebab mengapa mereka yang berada di dunia kerja tidak tertarik lagi dengan hal2 teologis adalah karena dunia menyita habis waktu dan perhatian mereka. Hidup sepertinya terlalu banyak tantangan dan “nggak usah mikir yang susah2, langsung aja yang aplikatif”. Padahal apa itu ‘aplikatif’? Seperti mendirikan rumah (saya suka sekali ilustrasi ini), apakah fondasi tidak ‘aplikatif’? Apakah batu bata dan semen tidak ‘aplikatif’? Lalu yang ‘aplikatif’ hanya warna cat tembok, furniture, lampu, dan lain2?

Menantang karena kalau usia kuliah adalah usia dimana pertanyaan2 teologis itu banyak muncul, maka kalau masa itu dipakai dengan baik, mereka akan punya fondasi cukup kuat untuk membangun hidup mereka. Mudah2an, itu bahkan cukup untuk membuat mereka terus mengejar pertanyaan2 teologis sepanjang hidup mereka. Karena jika tidak, someday, somewhere along their way, mereka akan menemukan bahwa fondasinya ternyata masih kurang.

Pertanyaannya, siapa yang mengisi kebutuhan itu? Siapa yang memanfaatkan momentum itu? Seharusnya kita bukan saja menjawab pertanyaan2 mereka tetapi bahkan memancing rasa ingin tahu yang lebih besar lagi dari mereka. Tapi kenyataannya seringkali mereka dibiarkan dengan segudang pertanyaan itu. Khotbah di gereja bersifat sederhana dan ‘aplikatif’. Persekutuan pemuda banyak membahas hal yang ‘aplikatif’. Tidak ada orang yang menjawab apalagi memanfaatkan momentum di saat mereka ingin mencari kebenaran. Dan akhirnya momentum itu lewat dan mereka pun merasa “ah itu tidak aplikatif”.