Ketulusan dari dulu adalah karakter yang sangat disukai. Kita tidak suka kepada orang yang ‘ada udang di balik batu’ (bahkan ungkapan ini pun sudah lama sekali muncul), orang yang berbelok-belok untuk menyembunyikan maksudnya, orang yang menjebak, pendek kata kita tidak suka orang yang tidak tulus. Walaupun demikian, kita seringkali memaafkan ketidaktulusan. Kita tidak terlalu merasa terganggu dengan ketidaktulusan yang dilakukan orang di sekitar kita.
Tetapi di zaman sekarang keadaan sudah berubah. Kepekaan akan ada tidaknya ketulusan ini menjadi lebih tajam. Bukan berarti orang-orang zaman sekarang lebih tulus (bagaimanapun orang tetap berdosa), tetapi mereka lebih peka, curiga dan tidak suka dengan ketidaktulusan.
Saya ambil contoh praktis saja dari dunia pemasaran. Dulu para agen asuransi diajarkan oleh perusahaan supaya ketika menawarkan asuransi, sebisa mungkin jangan katakan bahwa produk yang dijual adalah asuransi. Alasannya? Banyak orang yang belum mengerti asuransi tetapi langsung antipati ketika mendapat penawaran asuransi. Maka para agen asuransi akan ‘putar-putar’ dulu ketika bicara, baru ujungnya berkata “nah inilah yang saya jual”.
Demikian pula dalam sistem pemasaran multi level (MLM) yang sangat booming sejak hampir 20 tahun yang lalu. Ketika ingin mengajak orang untuk bergabung, mereka diajarkan untuk tidak ‘straight to the point’. Maka mereka mungkin akan mulai dengan mengajak orang itu berpikir apa yang diinginkannya (seringkali yang digali adalah ketamakan dan kemalasan orang itu, seperti ingin punya mobil mewah, penghasilan ratusan juta, tanpa bekerja pula). Bahkan ketika ingin mulai bicara pun, mereka tidak akan katakan ingin membicarakan hal itu. Mereka mungkin katakan ingin datang main ke rumah, ingin bicarakan bisnis, atau bahkan sekedar ‘membesuk’. Setelah ‘putar-putar’, baru mereka menjelaskan maksud sebenarnya.
Cara-cara pemasaran seperti ini terbukti sukses, tapi itu dulu. Sekarang ini, cara-cara yang saya sebutkan di atas masih dilakukan, tetapi saya makin banyak mendengar suara-suara miring dari orang-orang yang menjadi ‘korban’ pemasaran dengan cara tersebut. Mereka merasa ditipu, menjadi objek, diganggu, dan yang paling menyedihkan adalah itu dilakukan oleh orang-orang yang mereka kenal. Artinya ada relasi yang terluka di situ.
Saya pernah mengalaminya. Suatu kali ada teman lama yang tiba-tiba menelpon. Wah, saya sangat senang karena memang sudah lama tidak bertemu. Tetapi setelah basa-basi sejenak, kemudian dia mengatakan ingin menawarkan bisnis. Ketika saya tanya bisnis apa, dia mencoba menyembunyikannya dan mengatakan akan menjelaskannya ketika nanti bertemu saya. Di otak saya langsung muncul 3 huruf yang berkedip-kedip “M-L-M” (Multi Level Marketing). Akhirnya dia memang mengaku, dan dengan sopan saya menolak karena sayatidak tertarik. Setelah telpon ditutup, saya merasa sakit hati. Saya tahu teman saya itu pasti mencoba memikirkan setiap nama yang bisa di ‘prospek’ dan di situlah baru dia teringat nama saya. Sejak hari itu, dia juga tidak pernah menelpon saya lagi. Saya sangat merasa dimanfaatkan dan tidak suka dengan ketidaktulusannya.
Saya juga pernah terjebak, duduk dan harus mendengarkan presentasi yang ‘putar-putar’ dulu itu, yang padahal dari awal saya sudah tahu ujungnya akan seperti apa. Pertanyaan seperti “apa yang anda cita-citakan?” untuk menggali ketamakan saya, membuat saya muak.
Ada 1 cerita lagi, suatu kali seorang teman mengirim SMS menanyakan kapan saya ada waktu karena dia ingin mampir dan ngobrol. Pengalaman saya (bukan cuma sekali dalam peristiwa yang saya ceritakan di atas, tapi beberapa kali) langsung membuat alarm di atas kepala saya berbunyi. Teman ini bukan teman yang dekat, kami juga sudah tidak bertemu beberapa tahun, dan dia tidak pernah khusus ingin ngobrol dengan saya sebelumnya. Belakangan saya tahu, dia memang ingin menawarkan asuransi.
Saya perlu jelaskan dulu, saya tidak anti dengan produk asuransi atau produk yang ditawarkan melalui jaringan MLM. Produk asuransi dan MLM banyak yang bagus dan memang dibutuhkan. Saya juga mencari beberapa di antaranya dan senang membelinya. Tapi saya tidak suka dijebak. Saya lebih senang jika ada orang yang langsung katakan “saya jualan asuransi/produk A, kamu perlu nggak? Kalau mau, biar saya jelasin dulu nanti terserah putusin tertarik atau nggak”.
Saya yakin cara-cara pemasaran seperti di atas masih sukses, dan itu sebabnya masih dipakai. Tetapi saya juga yakin cara pemasaran seperti itu pasti akan makin tidak populer dalam tahun-tahun yang akan datang. Dan adalah kebodohan jika perusahaan-perusahaan masih melatih tenaga pemasarnya melakukan hal-hal seperti di atas, karena itu berarti mereka tidak peka menangkap perubahan.
Saya tidak ingin menulis panjang lebar seperti ini untuk mengkritik dunia pemasaran, tetapi yang ingin saya ajak kita lihat adalah ternyata banyak gereja juga melakukan hal yang sama. Gereja juga tidak membaca perubahan zaman.
Mungkin dulu orang Kristen merasa cara-cara pemasaran seperti di atas sukses untuk bisnis, maka mereka berpikir “wah, ini cocok juga di gereja”. Maka dibuatlah penginjilan dengan cara seperti demikian. Misalnya kita mengadakan pertemuan di rumah, kita undang tetangga dengan menyebutkan “ini acara makan-makan”, tetapi waktu mereka datang ada pengkhotbah yang menginjili mereka. Kita juga tiba-tiba menelpon kenalan lama kita, yang tidak pernah sama sekali kita hubungi dan sejujurnya tidak pernah kita ingat, hanya untuk mengajak mereka ke KKR (bayangkan perasaan mereka karena tahu nama mereka baru teringat waktu kita sedang mendaftarkan siapa yang bisa diajak untuk KKR). Atau kita tiba-tiba menyapa dengan sopan tetangga kita yang tadinya tidak pernah kita sapa (dan mungkin dia sebal dengan kita) hanya karena ingin mengajak mereka ke persekutuan di rumah kita.
Sekali lagi saya yakin cara-cara seperti di atas masih bisa dipakai dan sangat bagus kalau orang Kristen punya semangat untuk memberitakan Injil. Tetapi saya juga yakin cara-cara seperti itu akan makin membuat gereja dicela daripada dimuliakan. Mengapa? Sama seperti kasus dalam dunia pemasaran yang saya sebutkan di atas, itu sangat tidak tulus! Mengapa tidak langsung katakan “Minggu depan ada kebaktian di situ, khusus jelasin tentang kekristenan. Mau ikut nggak? Kalo mau, datang aja dengerin, nanti saya temenin”, atau “Minggu depan di rumah saya ada acara kumpul-kumpul. Yang datang beberapa teman gereja dan juga teman-teman mereka. Acaranya santai, pendeta dari gereja saya kasih khotbah singkat, setelah itu kita makan bareng dan ngobrol-ngobrol aja”. Dan akan lebih menyenangkan bagi orang yang diajak jika selama ini kita memang teman mereka, bukan tiba-tiba mau jadi teman hanya karena ingin mengajak mereka ke KKR!
Satu lagi analogi yang ingin saya tarik dari dunia pemasaran. Hal yang sangat menggelikan bagi saya adalah di dalam usaha memasarkan produknya, banyak para pemasar yang menyebut ‘keinginan menolong orang lain’ sebagai dasar motivasinya. Mereka berkata “kalau saya bisnis sendiri, saya hanya memperkaya diri sendiri, tapi saya ingin menolong orang lain dan anda juga bisa menolong orang lain dengan bergabung dengan bisnis ini”. Apakah sungguh itu motivasinya? Adakah di antara kita yang antusias “Wow, alangkah indahnya bisa menolong orang lain. Saya akan bergabung dengan bisnis ini!”? Jelas bukan itu motivasinya!
Mengajak orang untuk percaya kepada Yesus adalah hal yang sangat mulia, karena kita tahu itu adalah hal terbaik yang bisa terjadi kepada seseorang. Motivasi dasarnya? Kasih! Kasih dalam hal ini boleh saya definisikan sebagai keinginan untuk orang lain memperoleh yang terbaik untuk hidupnya. Melihat orang lain punya kebutuhan rohani dan ingin menawarkan pertolongan dari Tuhan yang mampu menolong, itulah kasih! Tanpa kasih, ajakan yang mulia itu menjadi sangat tercemar. Tanpa kasih, motivasi kita mungkin hanya karena disuruh hamba Tuhan, atau tidak enak kalau persekutuan di rumah sepi, atau mengusir perasaan bersalah karena tidak menginjili. Apapun juga, jikalau bukan kasih, ajakan kita itu menggelikan. Walaupun kita katakan motivasi kita adalah kasih, tapi coba tanya pada diri sendiri apakah betul motivasinya kasih? Kalau sebenarnya bukan kasih, bau ketidaktulusan itu akan tercium.
Di zaman ini banyak orang yang sedang mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hidupnya. Mereka merasa kering, lelah, bosan dengan hidupnya. Mereka membutuhkan Tuhan. Jika kita mengasihi mereka, pertama-tama kita tidak ingin mereka hidup seperti itu, kita ingin mereka menerima kehidupan yang sesungguhnya di dalam Yesus. Kedua, kalau memang kita punya hati seperti itu, pergilah kepada mereka, tanyakan apakah mereka mau mempertimbangkan bahwa Yesus bisa mengisi kosongnya jiwa mereka. Kita punya berita yang sangat berharga, mereka perlu itu, maka tawarkan kepada mereka! Tapi jangan lupa, lakukanlah dengan tulus dan penuh kasih!
Wednesday, April 23, 2008
Tuesday, April 08, 2008
1 Samuel 13 - Ketidaktaatan
Saul adalah raja pertama dari bangsa Israel. Kitab 1 Samuel pasal 9-12 mencatat hal-hal yang indahtentang bagaimana Saul dipilih Tuhan menjadi raja, bagaimana namanya dibuat menjadi harum di antara orang Israel, sehingga Samuel pun bisa berlega hati minta diri dari bangsa Israel. Tetapi mulai 1 Samuel 13, yang diceritakan adalah kemerosotan Saul. Ketidaktaatan dan ketidak bijaksanaan Saul mulai diperlihatkan, sampai akhirnya 1 Samuel 15:35 menyimpulkan: “…Samuel berdukacita karena Saul. Dan Tuhan menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel”. Itulah kesimpulan akhir yang menyedihkan tentang Saul.
Selama Saul memerintah, bangsa Israel terus berada dalam kondisi peperangan dengan bangsa-bangsa lain. 1 Samuel 13-15 menceritakan kemenangan-kemenangan awal Saul atas Filistin dan juga Amalek. Maka dari sisi manusia, bisa dikatakan 1 Samuel 13 ini adalah permulaan yang baik dari pemerintahan Saul. Baru saja jadi raja, sudah menang perang terus. Dia mengawali pemerintahannya dengan menunjukkan kemampuannya melawan musuh. Tetapi justru di sini pointnya. Cerita kesuksesan Saul bercampur dengan komentar yang buruk dari Tuhan.
Dan akhirnya seluruh cerita ditutup di 1 Samuel 15 dengan kesimpulan yang menyedihkan itu tentang Saul. Sekalipun Saul bisa memenangkan peperangan dan banyak mengerjakan hal yang baik selama dia menjadi raja, tetapi dia tidak taat pada Tuhan. Kalau mau diukur dari keberhasilan, Saul sangat sukses. Tapi bukan itu yang Tuhan lihat. Tuhan tidak memuji kesuksesannya, tetapi Tuhan bersedih melihat hatinya.
Kesalahan Saul dalam 1 Samuel 13 ini adalah dalam hal mempersembahkan korban. Kesalahan Saul adalah karena ia tidak mentaati firman Tuhan yang disampaikan oleh Samuel (13:13-14).
Saul ingin segera membakar korban karena pada waktu itu rakyat mulai berserak meninggalkan dia. Tentara Israel punya sedikit sekali senjata yang layak karena mereka sama sekali tidak menguasai teknik untuk mengasah besi. Tidak ada seorang pun tukang besi di Israel, maka mereka tidak memiliki satu pun pedang atau tombak (13:19,22). Hanya Saul dan Yonatan yang punya. Yang lain pakai apa? Mungkin kapak, arit, atau alat-alat pertanian lainnya yang tidak layak dijadikan senjata berperang. Sementara itu, mempersembahkan korban sebelum berperang adalah kebiasaan bangsa-bangsa zaman itu sebagai cara mendapat perkenanan dewa mereka. Bangsa Israel juga punya konsep yang sama. Itu sebabnya dalam keadaan yang serba lemah, sementara korban belum dipersembahkan, mereka sangat takut dan mulai meninggalkan Saul. Maka Saul ingin membangkitkan semangat rakyat dengan membakar korban, seperti berkata “Lihat korban sudah dipersembahkan! Allah pasti tolong!”.
Samuel sudah memberikan perintah supaya Saul pergi dulu ke Gilgal dan menunggu dia selama 7 hari di sana sampai dia datang dan barulah mempersembahkan korban (10:8). Tetapi sesudah ditunggu 7 hari lamanya, Samuel belum datang juga sementara rakyat sudah tidak sabar. Keadaan memburuk karena musuh makin dekat mengepung dan semua sudah ketakutan, ada yang bersembunyi di gua dan ada yang melarikan diri. Maka Saul pun melanggar perintah Tuhan.
Ada 3 hal lagi yang menjadi kesalahan besar Saul:
Pertama, dia pintar beralasan.
Kita bisa berkata bahwa tindakan Saul masuk akal. Persis seperti alasan Saul mengapa dia mempersembahkan korban tanpa menunggu Samuel: “Rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mihkmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran” (13:11-12).
Kata-kata Saul hebat, alasannya tepat, semuanya masuk akal. Tetapi Saul lupa 1 hal: Tuhan lebih senang orang yang taat! Alasan apapun, sekalipun masuk akal, menjadi tidak masuk akal karena melawan perintah Tuhan.
Kalau kita lihat nanti di 1 Samuel 15, kita menemukan kisah yang mirip terulang lagi. Saul tidak taat lagi, dan ketika ditegur, dia langsung memberikan lagi alasan-alasan yang masuk akal. Ini kelemahan Saul yang paling dasar: dia pintar bicara dan mencari alasan ketika ditegur.
Kedua, Saul dikuasai oleh keadaan dan bukan oleh iman.
John Bunyan mengatakan kalimat yang agung: “Aku lebih baik berjalan di dalam gelap bersama Tuhan daripada berjalan sendirian di dalam terang”. Lebih baik di dalam gelap, tidak tahu mengapa, tidak tahu harus bagaimana, tetapi tetap bersama Tuhan, daripada seakan-akan tahu jelas apa yang harus dilakukan, tahu jalan kemenangan, tetapi sendirian karena tidak bersama Tuhan.
Tetapi pikiran Saul lain. Dan seringkali begitu jugalah kita! Ketika kita melihat keadaan tidak beres, kita sering ingin segera melakukan sesuatu. Kita tidak suka ada sesuatu yang berjalan di luar kontrol kita, kita ingin pegang kendali. Tetapi ini salah! Ini seringkali sama dengan keinginan manusia menjadi sama seperti Allah. Kita ingin mengatur hidup kita, ingin semua berada dalam kontrol kita. Padahal lebih baik lemah, seperti tidak bisa berbuat apa-apa, berada dalam kegelapan, tapi jelas menantikan Tuhan.
Terakhir, Saul menganggap Tuhan hanya seperti mainan. Ketika dia mempersembahkan korban, dia juga hanya ingin memakai Tuhan untuk memberkati peperangan. Dia ingin memakai upacara persembahan korban kepada Tuhan itu sebagai alat untuk memompa semangat prajuritnya. Ia tidak menganggap serius Tuhan.
Belajar mentaati Tuhan, belajar tetap taat sekalipun keadaan tidak memungkinkan, belajar tetap menunggu Tuhan sekalipun seperti tidak bisa ditunggu, itu adalah pelajaran-pelajaran penting dalam kehidupan. Saul melakukan kewajiban agama, Saul bicara tentang Allah, Saul juga melakukan pekerjaan Allah. Semua itu dia lakukan, tetapi itu tidak cukup. Masalahnya adalah hati, 'The heart of the matter is a matter of the heart' (Inti dari masalahnya adalah masalah hati). Allah tidak ingin semua itu tanpa hati yang merindukan dan mentaati Dia.
Bagaimana hati anda?
Monday, April 07, 2008
Perubahan
Akhir-akhir ini di dalam beberapa kesempatan, saya bertemu beberapa orang teman lama, teman-teman semasa SMA dulu. Surprise memang, ada yang masih saya kenal, ada yang hanya saya ingat wajahnya tapi lupa namanya, ada juga yang setelah kenalan baru saya tahu ternyata itu teman SMA! Biasanya yang terakhir itu adalah mereka yang memang waktu masa SMA dulu hanya tahu-sama-tahu dengan saya.Masing-masing sudah berubah, saya berubah dan mereka juga berubah. Perubahan kami bukan sekedar pada fisik, yang biasanya terlihat dengan tubuh yang makin ‘besar’, rambut yang makin jarang, dan wajah yang makin tua, tetapi juga pada kehidupan.
Dulu semua sama-sama ‘anak SMA’, seragam kami sama, putih abu-abu dan dan sepatu hitam, pergumulan hidup kami juga mirip yaitu PR, ulangan, ujian, les dan masalah dengan guru.
Sekarang semua punya kehidupan yang berbeda. Ada yang sudah berkeluarga dan ada juga yang belum. Ada yang bekerja sebagai karyawan, dosen atau guru, ada yang wirausaha dan ada juga yang menjadi profesional seperti dokter. Ada yang ekonominya maju dan serba berkecukupan dan ada juga yang biasa-biasa saja. Daftar ini masih bisa ditambah terus.
Yang menarik adalah tidak semua kondisi-kondisi di atas sudah bisa diprediksi sejak dulu. Banyak juga yang ‘dulunya sama sekali tidak terbayang dia bisa jadi begitu’. Saya kira teman-teman SMA saya juga dulu tidak ada yang menduga kalau akhirnya sekarang saya menjadi hamba Tuhan penuh waktu di gereja. Jangankan mereka, sayapun tidak menduga!
Dan saya juga menemukan beberapa hal yang menarik, walaupun kebanyakan perubahan-perubahan itu hanya sekedar status pernikahan, pekerjaan, kondisi ekonomi, atau segala 'embel-embel' lain di permukaan, tetapi ada juga perubahan yang terjadi pada ‘orang’nya. Ada yang dulunya seperti apa tetapi sekarang seperti apa. Ada yang dulunya sangat aktif pelayanan, sekarang sekedar ke gereja. Ada juga yang dulunya tidak percaya Tuhan sekarang jadi orang yang sangat bertumbuh. Ada yang dulu ‘agak aneh’, sekarang berubah walaupun ada juga yang berubahnya menjadi makin parah.
Saya jadi merenung lagi tentang kehidupan saya. Saya yang sekarang juga sudah berbeda dengan saya yang dulu. Mengenai 'embel-embel', pasti banyak perubahan. Tapi mengenai 'orang'nya, mungkin dalam beberapa hal saya tidak berubah (ini menyedihkan saya), dalam beberapa hal lain mungkin saya menjadi makin buruk (walaupun saya harap tidak seperti itu), dan dalam beberapa hal lain mungkin saya makin baik. Tetapi yang membuat saya bersyukur adalah, dengan segala kekurangan yang ada, saya bisa mengatakan saya bertumbuh. Ini membuat saya sangat bersyukur. Walaupun lambat dan cacat di sana-sini, saya bertumbuh!
Dan saya berpikir apa yang menyebabkan saya menjadi seperti sekarang ini? Jawaban saya bisa bermacam-macam: karena orang tua, karena lingkungan, karena teman-teman, atau karena keputusan-keputusan tertentu dalam hidup saya. Tetapi saya sadar di atas semua itu adalah: karena kasih karunia Tuhan dan respon saya atas kasih karunia itu. Tuhan, dengan terus menerus, tidak bosan-bosan, pantang menyerah, berusaha menggarap hidup saya untuk mengubah saya, dan saya berubah juga walaupun respon saya sering lamban dan bebal (Ah, andaikata saya tidak begini bebal dan lamban!).
Ada perubahan-perubahan dalam hidup saya yang waktu SMA dulu, atau bahkan waktu kuliah dulu, sama sekali tidak terpikir oleh saya. Saya tidak terbayang akan menjadi seperti apa adanya sekarang ini. Saya tahu saya masih sangat super jauh dari baik. Tapi saya bisa menyaksikan bagaimana kasih karunia Tuhan itu beroperasi dalam hidup saya dan bagaimana respon saya yang bebal dan lamban itu, walaupun seperti membuka pintu dengan pelit kepada Tuhan, ternyata sudah membuat anugrahNya menerobos masuk. Maka sekarang ini, kalau melihat ke belakang, saya bisa berkata “Oh, betapa manisnya perubahan itu, betapa manisnya karya Tuhan dalam hidup saya!”.
Lalu saya lihat lagi keadaan diri saya sekarang ini. Jujur saya tidak puas, bahkan sangat tidak puas, dengan diri saya yang sekarang. Bukan saya tidak puas dengan anugrah Tuhan. Saya tidak puas karena saya tahu Tuhan ingin saya lebih dari sekarang tapi saya masih terlalu pelit membuka pintu itu. Dan saya memandang ke depan untuk perubahan lagi.
Suatu kali, ketika saya sedang sangat kesal, saya berkata kepada teman saya “saya sudah tidak bisa berubah lagi, sudah mentok!”. Teman saya kemudian memberikan nasihat bijak yang terus saya ingat “jangan batasi perubahan yang ingin dikerjakan Tuhan!”.
Hidup saya hari ini belum tentu menunjukkan besok akan seperti apa. Sekali lagi maksud saya bukan sekedar kondisi ekonomi, jenis pekerjaan atau segala embel-embel lain tetapi diri saya sendiri. Dan sampai berapa jauh saya bisa berubah? Alkitab memberitahu: Sampai seperti Kristus! Sampai hidup dalam kemuliaan bersama Tuhan dan malaikat-malaikatNya di surga! (2 Kor 3:18, Kol 3:4).
Menanti saat itu membuat saya terharu dan tidak sabar. Saya ingin ada disana dan bisa menoleh ke belakang dan dengan lebih berani lagi berkata “Oh, betapa manisnya perubahan itu, betapa manisnya karya Tuhan dalam hidup saya”. Saat itu pasti akan tiba!
Friday, March 21, 2008
Mengenang Apa?
Minggu ini orang Kristen merayakan Jumat Agung dan Paskah, dua hari yang sangat besar, kalau tidak bisa dikatakan terbesar, dalam kalender gereja.
Di dalam kebaktian Jumat Agung atau Paskah di gereja-gereja, dengan berbagai cara kita selalu mengenang kembali kesengsaraan Kristus. Ada pengkhotbah yang menceritakan ulang penderitaan yang ditanggung Yesus. Ada gereja yang menampilkan cuplikan film The Passion of Christ. Ada juga yang menampilkan drama yang melukiskan adegan penyiksaan dan penyaliban Yesus. Dan tidak jarang jemaat, termasuk saya, menangis karenanya.
Jelas tidak salah, bahkan harus, untuk kita mengenang kembali kesengsaraan Kristus. Juga sama sekali tidak salah untuk menangis membayangkan penderitaan yang ditanggung oleh Kristus.
Tetapi jangan sampai kita salah alamat!
Ketika seorang ayah yang penuh kasih memukul anaknya yang bersalah, ia pasti tidak ingin anaknya menangis karena pukulannya saja, lalu titik berhenti di situ. Ia pasti ingin anaknya tahu kesalahannya dan tidak ingin mengulanginya lagi. Ketika seorang ayah memberikan hadiah, ia pasti tidak ingin anaknya bersukacita hanya karena hadiahnya saja, tetapi karena tahu ayahnya mengasihinya.
Ketika kita merayakan Jumat Agung dan Paskah, mengenang kesengsaraan Yesus, menangis karenanya, apa sebenarnya yang kita kenang dan tangisi? Kalau kita hanya mengenang betapa menderitanya Yesus, betapa sakitnya cambukan yang dia terima, betapa perihnya luka ketika paku itu menusuk kaki dan tangannya, kita salah alamat. Kalau kita hanya menangis karena itu, kita salah alamat. Allah tidak ingin kita berhenti di situ.
Mengenang kembali kesengsaraan Kristus seharusnya membawa kita melihat dua hal:
Pertama, betapa besarnya kasih Kristus. Apa yang Dia tanggung bagi kita adalah pernyataan kasihNya kepada kita, kasih yang sudah ada sebelum permulaan zaman dan kasih yang terus dinyatakan kepada kita sampai hari ini bahkan sampai selama-lamanya. Peristiwa kesengsaraan Kristus adalah salah satu, atau lebih tepatnya yang terbesar, dari pernyataan kasih itu. Oh sungguh, “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus!” (Ef 3:18).
Kedua, seperti yang dikatakan Yesus kepada perempuan-perempuan yang menangisi diriNya: “janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk 23:28). Yesus disalib karena menanggung dosa-dosa kita. Tangisilah diri kita yang berdosa ini, tangisilah diri kita yang membutuhkan darahNya yang dicurahkan di atas kayu salib itu, tangisilah diri kita yang sampai hari ini terus berbuat dosa dan terus disucikan oleh darahNya itu!
Betapa lebih gampangnya kita mengenang kesengsaraan Kristus daripada mengingat kasih Allah apalagi keberdosaan kita! Tetapi itulah Jumat Agung dan itulah Paskah.
Selamat merayakan Jumat Agung dan Paskah. Tuhan berkati!
Di dalam kebaktian Jumat Agung atau Paskah di gereja-gereja, dengan berbagai cara kita selalu mengenang kembali kesengsaraan Kristus. Ada pengkhotbah yang menceritakan ulang penderitaan yang ditanggung Yesus. Ada gereja yang menampilkan cuplikan film The Passion of Christ. Ada juga yang menampilkan drama yang melukiskan adegan penyiksaan dan penyaliban Yesus. Dan tidak jarang jemaat, termasuk saya, menangis karenanya.
Jelas tidak salah, bahkan harus, untuk kita mengenang kembali kesengsaraan Kristus. Juga sama sekali tidak salah untuk menangis membayangkan penderitaan yang ditanggung oleh Kristus.
Tetapi jangan sampai kita salah alamat!
Ketika seorang ayah yang penuh kasih memukul anaknya yang bersalah, ia pasti tidak ingin anaknya menangis karena pukulannya saja, lalu titik berhenti di situ. Ia pasti ingin anaknya tahu kesalahannya dan tidak ingin mengulanginya lagi. Ketika seorang ayah memberikan hadiah, ia pasti tidak ingin anaknya bersukacita hanya karena hadiahnya saja, tetapi karena tahu ayahnya mengasihinya.
Ketika kita merayakan Jumat Agung dan Paskah, mengenang kesengsaraan Yesus, menangis karenanya, apa sebenarnya yang kita kenang dan tangisi? Kalau kita hanya mengenang betapa menderitanya Yesus, betapa sakitnya cambukan yang dia terima, betapa perihnya luka ketika paku itu menusuk kaki dan tangannya, kita salah alamat. Kalau kita hanya menangis karena itu, kita salah alamat. Allah tidak ingin kita berhenti di situ.
Mengenang kembali kesengsaraan Kristus seharusnya membawa kita melihat dua hal:
Pertama, betapa besarnya kasih Kristus. Apa yang Dia tanggung bagi kita adalah pernyataan kasihNya kepada kita, kasih yang sudah ada sebelum permulaan zaman dan kasih yang terus dinyatakan kepada kita sampai hari ini bahkan sampai selama-lamanya. Peristiwa kesengsaraan Kristus adalah salah satu, atau lebih tepatnya yang terbesar, dari pernyataan kasih itu. Oh sungguh, “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus!” (Ef 3:18).
Kedua, seperti yang dikatakan Yesus kepada perempuan-perempuan yang menangisi diriNya: “janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk 23:28). Yesus disalib karena menanggung dosa-dosa kita. Tangisilah diri kita yang berdosa ini, tangisilah diri kita yang membutuhkan darahNya yang dicurahkan di atas kayu salib itu, tangisilah diri kita yang sampai hari ini terus berbuat dosa dan terus disucikan oleh darahNya itu!
Betapa lebih gampangnya kita mengenang kesengsaraan Kristus daripada mengingat kasih Allah apalagi keberdosaan kita! Tetapi itulah Jumat Agung dan itulah Paskah.
Selamat merayakan Jumat Agung dan Paskah. Tuhan berkati!
Wednesday, February 06, 2008
Punya Berapa?
Punya sedikit disayang-sayang, punya banyak dibuang-buang. Kalimat itu mungkin melukiskan mentalitas kita.
Ketika listrik padam dan pompa air di rumah saya tidak berfungsi, itu berarti jika air di bak tampung di atas rumah saya sudah habis maka saya harus mulai menimba air dari bak tampung yang ada di depan rumah. Saat itu, otomatis saya menjadi berhati-hati dalam memakai air. Sebisa mungkin saya berhemat, baik dalam mencuci tangan, menyiram toilet, ataupun mandi. Keran dibuka sekecil mungkin dan secepat-cepatnya ditutup lagi. Ini berbeda dengan sikap saya ketika air seperti ‘tidak terbatas’.
Saya yakin banyak dari kita yang punya pengalaman serupa. Entah itu dalam hal air, atau minuman, atau makanan, atau uang, atau apa saja.
Sikap ini sebetulnya sangat salah. Dalam contoh peristiwa di atas, pertanyaan sederhana saja: “Apakah kalau listrik di rumah tidak padam dan air bisa terus mengalir tanpa harus merepotkan saya menimba, maka saya berhak memakai air semau saya?” Jelas tidak! Ini bukan masalah saya mampu membayar tagihan air atau tidak, tetapi masalah tanggung jawab terhadap lingkungan. Ini masalah kepedulian kepada dunia ciptaan Tuhan karena air bersih bukan tidak terbatas. Saya tidak teruskan dulu topik ini.
Saya ingin menyoroti masalah mentalitasnya saja karena ternyata mentalitas yang sama juga berlaku di dalam pelayanan kita.
Dalam gereja yang jumlah jemaatnya sangat sedikit, setiap orang akan dikenal namanya dan diketahui kondisinya. Jika beberapa orang tidak datang, suasana kebaktian akan langsung terasa lebih sepi. Dan dalam suasana seperti itu juga, jika tiba-tiba datang 1 orang yang baru pertama kali datang ke gereja, dia akan disambut dengan sukacita. Saya pernah melayani di suatu persekutuan yang jumlah kehadirannya rata-rata adalah 8-12 orang. Kehadiran setiap orang rasanya begitu penting.
Bandingkan jika kita berada di gereja yang besar. Ketidakhadiran beberapa orang tidak akan terasa, apalagi jika itu adalah orang-orang yang tidak menyenangkan untuk kita. Dan kalau ada di antara mereka yang membutuhkan sesuatu, seringkali kita tidak bersikap melayani tetapi birokratis. Alasannya? Jemaat banyak, sibuk, biar mereka yang berusaha mencari kita. Ini mentalitas ‘punya banyak dibuang-buang’!
Bukankah Firman Tuhan tidak mengajarkan begitu? Baik dalam hal harta milik, dalam hal lingkungan maupun dalam pelayanan kepada jiwa-jiwa, kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan. Jumlah berapapun adalah milik Tuhan dan Tuhan minta kita setia atas semuanya itu.
Seharusnya bukan punya sedikit disayang-sayang, punya banyak dibuang-buang. Kalau punya sedikit maka kita sayang-sayang, mungkin itu cuma mentalitas egois. Kalau punya banyak dibuang-buang, jelas kita tidak berhak lakukan itu. Maka seharusnya punya berapapun disayang-sayang dan dipertanggungjwabkan di hadapan Tuhan!
Ketika listrik padam dan pompa air di rumah saya tidak berfungsi, itu berarti jika air di bak tampung di atas rumah saya sudah habis maka saya harus mulai menimba air dari bak tampung yang ada di depan rumah. Saat itu, otomatis saya menjadi berhati-hati dalam memakai air. Sebisa mungkin saya berhemat, baik dalam mencuci tangan, menyiram toilet, ataupun mandi. Keran dibuka sekecil mungkin dan secepat-cepatnya ditutup lagi. Ini berbeda dengan sikap saya ketika air seperti ‘tidak terbatas’.
Saya yakin banyak dari kita yang punya pengalaman serupa. Entah itu dalam hal air, atau minuman, atau makanan, atau uang, atau apa saja.
Sikap ini sebetulnya sangat salah. Dalam contoh peristiwa di atas, pertanyaan sederhana saja: “Apakah kalau listrik di rumah tidak padam dan air bisa terus mengalir tanpa harus merepotkan saya menimba, maka saya berhak memakai air semau saya?” Jelas tidak! Ini bukan masalah saya mampu membayar tagihan air atau tidak, tetapi masalah tanggung jawab terhadap lingkungan. Ini masalah kepedulian kepada dunia ciptaan Tuhan karena air bersih bukan tidak terbatas. Saya tidak teruskan dulu topik ini.
Saya ingin menyoroti masalah mentalitasnya saja karena ternyata mentalitas yang sama juga berlaku di dalam pelayanan kita.
Dalam gereja yang jumlah jemaatnya sangat sedikit, setiap orang akan dikenal namanya dan diketahui kondisinya. Jika beberapa orang tidak datang, suasana kebaktian akan langsung terasa lebih sepi. Dan dalam suasana seperti itu juga, jika tiba-tiba datang 1 orang yang baru pertama kali datang ke gereja, dia akan disambut dengan sukacita. Saya pernah melayani di suatu persekutuan yang jumlah kehadirannya rata-rata adalah 8-12 orang. Kehadiran setiap orang rasanya begitu penting.
Bandingkan jika kita berada di gereja yang besar. Ketidakhadiran beberapa orang tidak akan terasa, apalagi jika itu adalah orang-orang yang tidak menyenangkan untuk kita. Dan kalau ada di antara mereka yang membutuhkan sesuatu, seringkali kita tidak bersikap melayani tetapi birokratis. Alasannya? Jemaat banyak, sibuk, biar mereka yang berusaha mencari kita. Ini mentalitas ‘punya banyak dibuang-buang’!
Bukankah Firman Tuhan tidak mengajarkan begitu? Baik dalam hal harta milik, dalam hal lingkungan maupun dalam pelayanan kepada jiwa-jiwa, kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan. Jumlah berapapun adalah milik Tuhan dan Tuhan minta kita setia atas semuanya itu.
Seharusnya bukan punya sedikit disayang-sayang, punya banyak dibuang-buang. Kalau punya sedikit maka kita sayang-sayang, mungkin itu cuma mentalitas egois. Kalau punya banyak dibuang-buang, jelas kita tidak berhak lakukan itu. Maka seharusnya punya berapapun disayang-sayang dan dipertanggungjwabkan di hadapan Tuhan!
Tuesday, December 04, 2007
Kata-Kata
Kata-kata (words) sangatlah berkuasa (powerful). Tuhan menciptakan dunia dengan Firman (word). Dan Yohanes mengatakan Firman (Word) itu datang ke dalam dunia menjadi sama dengan manusia. Ketika Firman itu di dalam dunia, Ia mengajar dengan perkataan-perkataan (words) yang penuh dengan kuasa. Dengan kata-kata, Ia mengusir setan, Ia menyembuhkan penyakit, Ia menenangkan angin ribut. Dengan kata-kata juga Ia menghibur, menegur, berdoa, dan menyatakan kehendak Allah. Kata-kataNya terus membentuk kehidupan milyaran manusia sampai hari ini.
Sebagai gambar Allah, kata-kata kita juga punya kekuatan yang dahsyat. Kata-kata kita punya daya cipta, kekuatan untuk membuat sesuatu terjadi. Dengan kata-kata kita membangun sesuatu atau menghancurkan sesuatu. Kata-kata membentuk kehidupan kita. Konsep tentang diri kita, orang-orang atau benda-benda di sekitar kita, dibentuk oleh kata-kata yang kita dengar dan kita ucapkan.
Beberapa orang yang menyadari ini membuat buku tentang berpikir dan berkata-kata secara positif. Filosofinya adalah ‘apa yang kita katakan akan membentuk pikiran kita lalu tindakan kita, dan segalanya akan menjadi berbeda’. Walaupun ada beberapa asumsi mereka yang tidak bisa saya terima, tetapi orang-orang itu mengerti kekuatan kata-kata.
Sementara sayangnya kita orang Kristen seringkali meremehkan kekuatan kata-kata. Padahal kita memakai kata-kata di dalam memuji Tuhan, di dalam berkhotbah, di dalam menasihati, di dalam memberikan bimbingan, dan tentu saja, di dalam bercanda dan percakapan sehari-hari. Betapa berbedanya dampak yang akan terjadi kalau kita berhati-hati dalam memakai kata-kata. Kata-kata yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik lagi. Ia akan menjalankan tugasnya dengan kekuatan yang ada di dalamnya. Ia akan menciptakan sesuatu, membentuk sesuatu, memberikan dampak tertentu, entah membangun atau merusak.
Saya berikan beberapa contoh yang bisa kita renungkan tentang bagaimana memakai kata-kata:
Kalau anda perhatikan, contoh-contoh yang saya berikan di atas semuanya adalah contoh negatif, bagaimana kata-kata punya daya merusak. Alangkah besarnya kekuatan kata-kata jika dipakai untuk membangun, menguatkan, dan membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan.
Saya tahu bagi siapapun mengendalikan kata-kata adalah hal yang sulit. Yakobus juga berkata “barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya” (Yak 3:2). Dan Yakobus juga mengatakan bahwa lidah kita yang kecil ini bisa memegahkan perkara-perkara yang besar dan juga dapat seperti api yang membakar hutan yang besar.
Ah sulitnya! Paling tidak, mari kita berusaha ingat untuk selalu berpikir dulu sebelum berkata-kata.
Sebagai gambar Allah, kata-kata kita juga punya kekuatan yang dahsyat. Kata-kata kita punya daya cipta, kekuatan untuk membuat sesuatu terjadi. Dengan kata-kata kita membangun sesuatu atau menghancurkan sesuatu. Kata-kata membentuk kehidupan kita. Konsep tentang diri kita, orang-orang atau benda-benda di sekitar kita, dibentuk oleh kata-kata yang kita dengar dan kita ucapkan.
Beberapa orang yang menyadari ini membuat buku tentang berpikir dan berkata-kata secara positif. Filosofinya adalah ‘apa yang kita katakan akan membentuk pikiran kita lalu tindakan kita, dan segalanya akan menjadi berbeda’. Walaupun ada beberapa asumsi mereka yang tidak bisa saya terima, tetapi orang-orang itu mengerti kekuatan kata-kata.
Sementara sayangnya kita orang Kristen seringkali meremehkan kekuatan kata-kata. Padahal kita memakai kata-kata di dalam memuji Tuhan, di dalam berkhotbah, di dalam menasihati, di dalam memberikan bimbingan, dan tentu saja, di dalam bercanda dan percakapan sehari-hari. Betapa berbedanya dampak yang akan terjadi kalau kita berhati-hati dalam memakai kata-kata. Kata-kata yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik lagi. Ia akan menjalankan tugasnya dengan kekuatan yang ada di dalamnya. Ia akan menciptakan sesuatu, membentuk sesuatu, memberikan dampak tertentu, entah membangun atau merusak.
Saya berikan beberapa contoh yang bisa kita renungkan tentang bagaimana memakai kata-kata:
- Kalau teman-teman di sekitar kita suka bercanda dengan kata-kata yang kasar dan merendahkan orang lain, coba perhatikan tanpa sadar kita juga akan menjadi terbiasa seperti demikian. Kita akan mulai bercanda dengan cara yang sama. Kita makin tidak peka apakah orang lain tersinggung atau tidak. Bahkan perlahan-lahan, di mata kita, orang yang kita rendahkan itu menjadi lebih rendah dari sebelumnya.
- Berpikir bahwa si A itu jahat lain dengan mengatakan “si A itu jahat!”. Begitu kita ucapkan, konsep itu bukan saja mempengaruhi orang lain yang mendengarnya, tetapi juga akan makin melekat di benak kita. Kita makin yakin bahwa si A itu jahat. (Anda boleh ganti kalimat itu dengan 'jelek', 'bodoh', 'nyebelin', dan lain sebagainya). Dan bayangkan juga dampak kata-kata tersebut jika terdengar oleh si A.
- Kalau kita sering mendengar tentang bagaimana mengeksploitasi alam untuk keuntungan pribadi dan tidak pernah mendengar kata-kata tentang memelihara alam, maka kita terpikir untuk ‘memelihara alam’ pun tidak. Dunia kita menjadi berat sebelah karena dibentuk oleh kata-kata yang banyak kita dengar.
- Satu orang bercanda dengan kata-kata yang kasar, yang satu lagi tersinggung. Yang mengucapkan kata-kata kasar makin terbiasa kasar dan tidak peka dengan perasaan orang yang tersinggung, maka ia makin menjadi-jadi dengan kata-katanya. Yang tersinggung menjadi makin sakit hati dan membalas dengan menjelek-jelekkan orang itu di depan orang lain. Seluruh relasi menjadi rusak dan kerusakan ini makin lama akan makin luas lingkaran pengaruhnya. Berapa banyak kehancuran yang bisa dihindarkan kalau dari awal kata-kata itu tidak diucapkan?
- Kalau kita seringkali mengatakan kalimat-kalimat seperti “hebat yah si A punya mobil begitu mewah, sukses banget” atau mungkin bercanda “saya juga mau seperti dia, mau apa aja ada, keren” atau “ada nggak anaknya yang belum menikah? boleh juga nih”. Tanpa sadar kita sedang membentuk diri kita dan orang di sekitar kita untuk berpikir bahwa itulah kesuksesan, itulah yang seharusnya diidam-idamkan, itulah enaknya menjadi manusia.
- Kalau kita suka berstrategi dengan kalimat-kalimat seperti "kita pakai dulu aja dia", "nggak apa, kita biarin dulu, nanti kita sikat lewat cara lain", atau "orang ini nggak ada gunanya buat kita", kita akan terbiasa melihat orang tidak sebagai orang tetapi sebagai benda.
- Kalau kita menemui kesulitan untuk hidup jujur, lalu kita terus berkata kepada orang lain "memang tidak mungkin", dan orang-orang di sekitar kita juga berkata "betul, memang tidak mungkin", kita akan menjadi orang yang tidak lagi bergumul "mungkinkah? bagaimanakah seharusnya?" Dan celakanya orang-orang yang tidak tahu apa-apa juga mulai berpikir "ah, memang tidak mungkin".
- Ketidaksungguhan dalam berkata-kata atau mengucapkan kata-kata kosong juga akan menimbulkan dampak yang buruk. Saya pernah datang ke dalam suatu persekutuan keluarga dalam rangka memperingati 100 hari meninggalnya salah satu anggota keluarga. Pemimpin ibadah lalu mengatakan “kita bersyukur kita boleh bertemu lagi setelah 40 hari meninggalnya almarhum”. Tiba-tiba terdengar protes dari salah satu anggota keluarga “100 hari! Bukan 40 hari!”. Apakah si pemimpin ibadah bersungguh-sungguh dengan perkataannya? Dan apakah dia sungguh bersyukur? Tidak. Dia mengucapkan kalimat itu hanya karena ingin mengajak menyanyikan lagu “Kita Bertemu Lagi”.
- Saya juga pernah mengikuti suatu perjamuan kudus dimana pendeta yang melayani berkata “saya minta rekan-rekan yang bertugas maju ke depan menolong saya membuka tutup meja perjamuan”. Pada saat dia mengucapkan kalimat itu, tahukah anda apa yang sedang terjadi?..... sudah siap? … para petugas sedang membuka tutup meja itu! Jadi apa gunanya dia mengucapkan kalimat itu? Hanya formalitas! Bayangkan pesan apa yang disampaikan lewat penggunaan kata-kata seperti ini? Si pemimpin makin terbiasa untuk menjadikan ibadah sebagai kegiatan ‘berbasa-basi’ dan bukan pelayanan dengan hati. Dan jemaat pun belajar untuk ‘berbasa-basi’ dalam pertemuan ibadah karena ibadah hanyalah suatu formalitas mingguan yang tidak usah kena mengena dengan hati.
Kalau anda perhatikan, contoh-contoh yang saya berikan di atas semuanya adalah contoh negatif, bagaimana kata-kata punya daya merusak. Alangkah besarnya kekuatan kata-kata jika dipakai untuk membangun, menguatkan, dan membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan.
Saya tahu bagi siapapun mengendalikan kata-kata adalah hal yang sulit. Yakobus juga berkata “barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya” (Yak 3:2). Dan Yakobus juga mengatakan bahwa lidah kita yang kecil ini bisa memegahkan perkara-perkara yang besar dan juga dapat seperti api yang membakar hutan yang besar.
Ah sulitnya! Paling tidak, mari kita berusaha ingat untuk selalu berpikir dulu sebelum berkata-kata.
Tuesday, July 03, 2007
Keluarga
(Tulisan ini adalah revisi atas tulisan yang saya buat untuk kolom Dynatorial dalam buletin Komisi Pemuda 1 GKY Green Ville – Dynamagz edisi Juni 2007)
Ketika Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, Alkitab mencatat “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Semuanya baik artinya: tidak ada kejahatan, tidak ada cacat, semua sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Itulah dunia yang dijadikan Tuhan.
Dunia hari ini sama sekali berbeda dengan dunia awal yang dijadikan Tuhan karena dosa sudah merusaknya. Dosa merusak segalanya dalam dunia. Dan yang saya maksud segalanya adalah, harfiah, SEGALANYA!
Itu sebabnya Allah menjanjikan langit dan bumi yang baru. Suatu dunia yang baru, suatu dunia yang kembali sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Atau boleh kita katakan, suatu dunia surgawi.
Tetapi sebelum sampai ke sana, Allah berulang kali menerobos kehidupan dunia dengan memberikan model kehidupan surgawi. Kemah suci dibangun dengan model yang diperlihatkan Tuhan kepada Musa. Pola ibadah orang Israel dan segala elemennya di perintahkan langsung oleh Allah dengan detil. Melalui kehidupanNya, Yesus datang ke dalam dunia menunjukkan seperti apa model kehidupan surgawi. Dan bahkan Yesus mengajar supaya kerinduan kita adalah “jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga”. Apa yang terjadi di surga kita rindukan, bukan nanti tetapi sekarang, terjadi juga di bumi.
Pola ini bisa diringkas sebagai: Creation (Penciptaan)-Fall (Kejatuhan)-Redemption (Penebusan)-Consummation (Penyempurnaan). Pada waktu Creation segalanya sempurna. Pada waktu Fall segalanya menjadi rusak. Pada waktu Consummation segalanya akan menjadi baru yaitu di surga. Tetapi hari ini kita bukan hanya berada di tengah kondisi Fall tetapi juga ada Redemption dari Tuhan. Maka ada terobosan kehidupan surgawi di tengah dunia yang jatuh ini dan ada pengharapan pembaruan, bukan nanti, tetapi sekarang.
Pola yang sama bisa kita kenakan pada keluarga.
Keluarga adalah bagian dari dunia yang dijadikan Tuhan. Di dalam keluarga, hubungan suami dan istri adalah bentuk hubungan antar manusia yang paling intim dan mencerminkan hubungan Allah Tritunggal. Hubungan antara orang tua dan anak mencerminkan hubungan antara Allah dengan anak-anakNya, yang dididik dan dikasihiNya.
Keluarga juga adalah bagian dari dunia yang dirusak kemudian oleh dosa. Dan itu sebabnya kita melihat banyak kerusakan terjadi dalam keluarga. Untuk menyebut beberapa saja: suami istri saling melukai yang menyebabkan anak juga terluka, orang tua tidak peduli bahkan menyiksa anaknya dengan kata-kata dan tindakannya, mama selalu menuntut dan membandingkan anaknya dengan orang lain, papa tidak memberikan teladan moral, dan seterusnya, dan seterusnya. Keluarga kita dan semua keluarga di dunia sudah dirusak oleh dosa. Kalau tidak ada perubahan, kerusakan itu akan terus berputar menjadi makin besar dari generasi ke generasi.
Tetapi sama seperti elemen dunia yang lain, relasi dalam keluarga juga akan dijadikan baru oleh Tuhan.
Maka hari ini, bukan saja sebagai dorongan, tetapi seharusnya sebagai perintah: “Rindukanlah pembaruan itu!” Dan rindukanlah itu mulai terjadi sekarang juga. Kita memang belum mencapai Consummation, tetapi kita juga bukan hidup dalam kondisi Fall saja. Kita memiliki Redemption!
Kita bisa memulai pembaruan surgawi itu hari ini juga. Paling tidak, kitalah yang mulai menghadirkan pola relasi surgawi itu dalam keluarga kita. Gumulkanlah apa yang Tuhan mau kita kerjakan dalam keluarga kita. Bagaimana harus berkata-kata dan bersikap pada orang tua, suami/istri, anak kita? Bagaimana mendoakan dan mengasihi mereka? Bagaimana terang Tuhan yang ada dalam hati kita bisa bercahaya dalam kegelapan dan kerusakan karena dosa?
Keadaan mungkin tidak akan berubah karena kita belum sampai ke Consummation. Masalah yang kita hadapi dalam keluarga mungkin akan tetap sama atau bahkan bertambah berat. Tetapi doa yang kita panjatkan, kasih dan kebenaran yang memancar dari hidup kita, kuasa Redemption yang kita alami dalam Kristus, tidak akan membuat segalanya persis sama karena mulai ada pola relasi surgawi dalam keluarga kita.
Tuhan memberkati keluargamu!
Ketika Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, Alkitab mencatat “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Semuanya baik artinya: tidak ada kejahatan, tidak ada cacat, semua sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Itulah dunia yang dijadikan Tuhan.
Dunia hari ini sama sekali berbeda dengan dunia awal yang dijadikan Tuhan karena dosa sudah merusaknya. Dosa merusak segalanya dalam dunia. Dan yang saya maksud segalanya adalah, harfiah, SEGALANYA!
Itu sebabnya Allah menjanjikan langit dan bumi yang baru. Suatu dunia yang baru, suatu dunia yang kembali sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Atau boleh kita katakan, suatu dunia surgawi.
Tetapi sebelum sampai ke sana, Allah berulang kali menerobos kehidupan dunia dengan memberikan model kehidupan surgawi. Kemah suci dibangun dengan model yang diperlihatkan Tuhan kepada Musa. Pola ibadah orang Israel dan segala elemennya di perintahkan langsung oleh Allah dengan detil. Melalui kehidupanNya, Yesus datang ke dalam dunia menunjukkan seperti apa model kehidupan surgawi. Dan bahkan Yesus mengajar supaya kerinduan kita adalah “jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga”. Apa yang terjadi di surga kita rindukan, bukan nanti tetapi sekarang, terjadi juga di bumi.
Pola ini bisa diringkas sebagai: Creation (Penciptaan)-Fall (Kejatuhan)-Redemption (Penebusan)-Consummation (Penyempurnaan). Pada waktu Creation segalanya sempurna. Pada waktu Fall segalanya menjadi rusak. Pada waktu Consummation segalanya akan menjadi baru yaitu di surga. Tetapi hari ini kita bukan hanya berada di tengah kondisi Fall tetapi juga ada Redemption dari Tuhan. Maka ada terobosan kehidupan surgawi di tengah dunia yang jatuh ini dan ada pengharapan pembaruan, bukan nanti, tetapi sekarang.
Pola yang sama bisa kita kenakan pada keluarga.
Keluarga adalah bagian dari dunia yang dijadikan Tuhan. Di dalam keluarga, hubungan suami dan istri adalah bentuk hubungan antar manusia yang paling intim dan mencerminkan hubungan Allah Tritunggal. Hubungan antara orang tua dan anak mencerminkan hubungan antara Allah dengan anak-anakNya, yang dididik dan dikasihiNya.
Keluarga juga adalah bagian dari dunia yang dirusak kemudian oleh dosa. Dan itu sebabnya kita melihat banyak kerusakan terjadi dalam keluarga. Untuk menyebut beberapa saja: suami istri saling melukai yang menyebabkan anak juga terluka, orang tua tidak peduli bahkan menyiksa anaknya dengan kata-kata dan tindakannya, mama selalu menuntut dan membandingkan anaknya dengan orang lain, papa tidak memberikan teladan moral, dan seterusnya, dan seterusnya. Keluarga kita dan semua keluarga di dunia sudah dirusak oleh dosa. Kalau tidak ada perubahan, kerusakan itu akan terus berputar menjadi makin besar dari generasi ke generasi.
Tetapi sama seperti elemen dunia yang lain, relasi dalam keluarga juga akan dijadikan baru oleh Tuhan.
Maka hari ini, bukan saja sebagai dorongan, tetapi seharusnya sebagai perintah: “Rindukanlah pembaruan itu!” Dan rindukanlah itu mulai terjadi sekarang juga. Kita memang belum mencapai Consummation, tetapi kita juga bukan hidup dalam kondisi Fall saja. Kita memiliki Redemption!
Kita bisa memulai pembaruan surgawi itu hari ini juga. Paling tidak, kitalah yang mulai menghadirkan pola relasi surgawi itu dalam keluarga kita. Gumulkanlah apa yang Tuhan mau kita kerjakan dalam keluarga kita. Bagaimana harus berkata-kata dan bersikap pada orang tua, suami/istri, anak kita? Bagaimana mendoakan dan mengasihi mereka? Bagaimana terang Tuhan yang ada dalam hati kita bisa bercahaya dalam kegelapan dan kerusakan karena dosa?
Keadaan mungkin tidak akan berubah karena kita belum sampai ke Consummation. Masalah yang kita hadapi dalam keluarga mungkin akan tetap sama atau bahkan bertambah berat. Tetapi doa yang kita panjatkan, kasih dan kebenaran yang memancar dari hidup kita, kuasa Redemption yang kita alami dalam Kristus, tidak akan membuat segalanya persis sama karena mulai ada pola relasi surgawi dalam keluarga kita.
Tuhan memberkati keluargamu!
Subscribe to:
Posts (Atom)