Sunday, July 15, 2012

Berbagai Gelar Teologi

(4th Revision - With minor addition)

Dunia pendidikan teologi bagi jemaat kebanyakan sangat rumit, bukan hanya soal apa yang dipelajari disana (ada yang berpikir sekolah teologi mengajar urutan Kejadian-Wahyu, maka pertanyaannya “udah sampai kitab apa?”), tapi juga soal gelarnya. Banyak jemaat hanya tahu pokoknya depannya ‘S’, ‘M’ atau ‘D’.  Banyak hamba Tuhan pun tidak terlalu jelas soal ini. Lebih rumit lagi karena negara yang berbeda, bahkan sekolah yang berbeda, bisa memberikan arti yang berbeda untuk gelar yang diberikan.

Berikut ini saya coba menyederhanakan penjelasan untuk gelar-gelar teologi yang umum dikenal di Indonesia:

Undergraduate Degree
Bagi mereka yang belum punya gelar S1 umum, maka pilihannya hanyalah mengambil program: Sarjana Theologi (S.Th) atau jika di luar negeri disebut Bachelor of Theology (B.Th), atau Bachelor of Arts in Theology atau Divinity, atau Bachelor of Divinity (B.D.).
Note: Di beberapa tempat, B.D memiliki pengertian yang berbeda. Misalnya di Moore (Australia), B.D hanya boleh diambil oleh mereka yang sudah memiliki gelar S1 - mungkin setara dengan Master of Divinity (M.Div), sementara di Cambridge University (UK), B.D bahkan setara dengan Ph.D.

Undergraduate or Postgraduate Degree?
Bagi mereka yang sudah punya S1 umum, maka pilihannya lebih luas:
1. Master of Theological Studies (MTS)/Master of Christian Studies (MCS). Biasanya ini program untuk mereka yang hanya mau belajar teologi tapi tidak bertujuan menjadi hamba Tuhan full time. Programnya umumnya 2 tahun.
2. Master of Art (MA) - dalam berbagai bidang. Sejajar dengan program MTS/MCS. Programnya umumnya juga 2 tahun. Perbedaannya adalah bidang studi dalam Master of Arts biasanya lebih spesifik.
3. Master of Divinity (M.Div). Biasanya M.Div dianggap lebih tinggi dari MTS/MCS/MA karena jumlah SKS yang lebih banyak. Programnya umumnya 3 tahun. Mata kuliah dalam program M.Div mencakup banyak bidang sehingga menjadi program studi teologi yang bersifat komprehensif. Di Amerika (dan mungkin banyak negara lain), gelar M.Div adalah untuk mereka yang mau melayani full time di gereja atau ditahbis menjadi pendeta. Bahkan di banyak gereja, seseorang tidak akan ditahbis menjadi pendeta tanpa gelar M.Div.
4. Master of Ministry (M.Min). Program ini di beberapa tempat hanya untuk mereka yang sudah punya gelar teologi sebelumnya (S.Th/BD/B.Th, MTS/MCS, MA, M.Div). Maka in that sense, ini program post-graduate. Tapi ini bukan program riset akademis, hanya berupa refleksi lebih jauh akan pelayanan. Saya anggap ini sebagai program ‘refreshing’ untuk para hamba Tuhan. Tapi di beberapa tempat program ini juga bisa diambil oleh mereka yang tidak punya gelar teologi (asal punya S1 umum). Maka in that sense, program ini juga seperti program MTS/MCS/MA. Tetapi dalam kasus yang terakhir ini, M.Min akan dipandang lebih rendah daripada MTS/MCS/MA karena jumlah kreditnya lebih sedikit. Programnya sekitar 1-2 tahun.

Berbagai Master di atas sebetulnya ambigu. Disebut Master karena sudah punya S1. Tapi di dalam bidang teologi, mereka adalah undergraduate (kecuali M.Min di beberapa tempat) karena sebetulnya semua itu adalah gelar tahap pertama dalam bidang teologi. Sebagai contoh: Di TTC, mahasiswa Bachelor of Divinity dan Master of Divinity kuliah bersama dan seluruh mata kuliah dan tuntutan sama. Tapi ketika lulus, yang sudah punya S1 umum diberikan M.Div dan yang belum punya S1 diberikan BD. Sesederhana itu! Tetapi berbagai program Master di atas juga memang Master betulan karena dari situ, asalkan mampu (tentu dengan tuntutan yang besar), mereka bisa langsung meneruskan ke jenjang Ph.D (kecuali M.Min). Sementara mereka yang hanya memiliki gelar Sarjana Theologi (S.Th)/Bachelor of Theology (B.Th)/Bachelor of Divinity (B.D) tidak bisa langsung ke Ph.D. (Kecuali Bachelor of Divinity di beberapa tempat, lihat keterangan di atas).

Postgraduate Degree (Master)
Master of Theology (M.Th). Di dalam bidang teologi, M.Th adalah Master ‘yang sebenarnya’ karena program ini hanya boleh diambil oleh mereka yang punya gelar teologi sebelumnya. Dan berbeda dengan semua program Master yang undergraduate di atas, program ini bersifat riset akademis. Kadang orang bingung kenapa sudah punya Master (M.Div) kok ambil Master (M.Th) lagi? Jelas beda sekali!

Sekarang ini di Indonesia karena peraturan pemerintah, muncul kebingungan mengenai gelar Master of Divinity (M.Div) dan Master of Theology (M.Th). Pemerintah hanya mengenal jenjang S1, S2 dan S3. Dalam skema itu, kemana M.Div harus dikategorikan? Banyak sekolah teologi mengambil kebijakan mengubah program M.Div nya menjadi M.Th. Tetapi yang saya sesalkan adalah tidak adanya kesepakatan antara sekolah-sekolah teologi di Indonesia mengenai cara pengubahannya. Ada yang menambahkan tuntutan, misalnya menambahkan mata kuliah atau menambahkan tuntutan menulis thesis. Ada yang mengubahnya menjadi M.Th Praktika yang tanpa penulisan thesis (dibedakan dengan M.Th Teologi yang harus menulis thesis). Maka sekarang pengertian apa itu M.Th menjadi sangat berbeda di antara sekolah-sekolah teologi.

Tambahan: Saya dengar sekarang di Indonesia, pemerintah mengkategorikan M.Div dan D.Min sebagai gelar profesi dan bukan gelar akademis (mungkin saya salah). Artinya tidak dianggap sebagai gelar S2 dan S3 di dalam konteks akademis. Sementara itu, gelar seperti MA justru dianggap S2 (saya tidak tahu bagaimana mengenai gelar MTS/MCS). Ini memang membingungkan karena di luar negeri mereka yang memiliki gelar M.Div sebenarnya bisa langsung mengambil D.Th/Ph.D.

Postgraduate Degree (Doctor) - Profesi
Doctor of Ministry (D.Min) adalah program untuk mereka yang punya gelar teologi (biasanya M.Div) dan sudah sekian tahun melayani sebagai hamba Tuhan. Program ini mengajak untuk menata kembali kaitan antara teologi dengan pelayanan mereka. Programnya berupa refleksi teologis kadang dicampur dengan riset lapangan. Penekanannya adalah bagaimana menerapkan teologi dan kemampuan berpikir kritis dalam pelayanan. Seringkali ini disebut sebagai Doctor dalam profesi, beda banget dengan Doctor dalam riset akademis. Programnya biasanya dirancang 3-5 tahun part time, untuk para hamba Tuhan yang tidak bisa meninggalkan pelayanan untuk studi. Sebagai pembanding, jika D.Min bisa diselesaikan dalam 3-5 tahun secara part time, D.Th/Ph.D memerlukan 3-7 tahun full time.

Postgraduate Degree (Doctor) - Riset
Dalam bidang teologi, Doctor yang bersifat riset akademis hanyalah Doctor of Theology (D.Th/D.Theol)/Theological Doctor (Th.D) dan Philosophical Doctor (Ph.D)/Doctor of Philosophy (D.Phil). 

Sebagian orang berpikir Ph.D lebih tinggi dari D.Th. Sebetulnya tidak begitu (kalau tidak percaya silakan research di google atau bandingkan di berbagai sekolah). Boston University dan Duke University misalnya memberikan kedua gelar itu, dan jelas di dalam katalog mereka bahwa keduanya sejajar, tuntutannya sama, lama kuliahnya sama, semua sama. Perbedaannya adalah Ph.D biasanya diberikan oleh University dan bersifat inter-disciplinary (dikaitkan dengan berbagai ilmu yang lebih luas), sementara D.Th biasanya diberikan oleh Seminari/Divinity School dari University. Maka Ph.D bisa mengajar di Universitas atau Seminari sementara biasanya D.Th hanya mengajar di Seminari. Ditambah lagi, Ph.D adalah gelar yang lebih umum dan 'terkenal' dibanding D.Th. Mungkin itu yang menyebabkan orang berpikir Ph.D lebih tinggi dari D.Th. Andy Rowell, di dalam blognya (http://www.andyrowell.net/andy_rowell/2009/03/advice-about-duke-thd-and-phd-programs-in-theology.html) memberikan perbandingan program Th.D dan Ph.D di Duke University.

Program D.Th/Ph.D di UK, Singapore, Australia (dan saya tidak tahu negara mana lagi) dirancang untuk minimal 3 tahun full time. Dari hari pertama masuk sampai lulus hanya mengerjakan disertasi, tanpa ada kuliah wajib. Program D.Th/Ph.D di USA dirancang untuk minimal 4 (atau 5 tahun) full time. Selama 2 tahun (atau 3 tahun) pertama mengikuti kuliah, 1 tahun persiapan dan ujian komprehensif, lalu 1 tahun mengerjakan disertasi. Larry Hurtado, di dalam blognya (http://larryhurtado.wordpress.com/2014/09/18/phd-studies-in-the-uk-and-edinburgh-in-particular/) memberikan sedikit gambaran perbandingan program Ph.D di UK dan US.

Apa yang saya sebutkan di atas hanya sebagian dari berbagai gelar dalam bidang teologi. Dengan berbagai variasi yang ada, sebetulnya tidak mudah mengenali nilai gelar seseorang. Maka jangan hanya melihat huruf depannya: “S”, “B”, “M” atau “D”. Jangan hanya melihat gelarnya apa atau lulusan dari negara mana, tapi kita perlu tahu dulu dari universitas/seminari mana. Setelah itu baru bisa mencari tahu seperti apa universitas/seminari itu dan seperti apa program itu di situ. Sejujurnya banyak gelar teologi "abal-abal". Sekalipun gelar sungguhan dan berasal dari sekolah sungguhan tapi mutunya bisa sangat dipertanyakan.

Sebenarnya sama seperti waktu kita mendengar orang punya Sarjana Teknik dari universitas A di kota A atau dari universitas B di kota B, maka kita langsung bisa membayangkan bedanya. Demikian pula gelar teologi. Saat ini, di Indonesia, dengan berbagai pengertian yang berbeda akan program M.Div dan M.Th, juga menuntut kita untuk tahu persis apa gelarnya, darimana gelar itu, dan seperti apa programnya, baru bisa menentukan "nilai" gelar itu.

Bagi pembaca yang bukan hamba Tuhan, saya harap tulisan ini menolong memperjelas dan bukan memperbingung. Bagi pembaca yang hamba Tuhan, jika tahu ada informasi di atas yang salah, silakan berikan comment dan kita bisa diskusikan.

Friday, July 06, 2012

Doctoral Study: Pandangan John Piper

Tulisan di bawah ini adalah wawancara dengan John Piper yang dimuat disini. Ini adalah salah satu artikel yang membuat saya bergumul apakah saya akan mengambil program D.Th/Ph.D. Di bawah ini adalah terjemahan bebas dari saya:

Sebagai orang yang sudah melewati studi Ph.D, apakah anda akan merekomendasikan hamba Tuhan lain untuk mengambil pendidikan di jalur itu juga?
 
Maksud anda, hamba Tuhan yang sudah menggembalakan di gereja atau yang masih berencana untuk menggembalakan? Saya akan menjawab untuk keduanya.

Jika anda sudah menjadi gembala, saya tidak menyarankan untuk mengambil Ph.D. Anda harus bekerja sangat keras untuk itu dan hasilnya sangat kecil. Sangat kecil.

Ketika saya mengatakan sangat kecil, saya tidak berarti mempelajari Alkitab akan kecil hasilnya. Tetapi karena anda harus membaca begitu banyak sampah untuk mendapatkan Ph.D. Anda harus menjadi ahli dalam apa yang dikatakan oleh orang lain, yang kebanyakan adalah salah.

Kebanyakan yang ditulis di dunia ini tidak benar. Dan seorang Ph.D harus menjadi seorang ahli. Maka anda harus membaca banyak sekali materi yang sama sekali tidak menolong.

Saya pikir harus ada orang yang melakukan itu. Saya senang ada seorang Don Carson yang seperti sudah membaca segala sesuatu di bawah matahari, maka punya kapasitas untuk berespon dengan baik.

Saya sangat setuju ada kebutuhan lapisan akademis yang sadar apa yang terjadi di luar sana dan bisa mengajar dan menulis. Maka, ya dan amin.

Tetapi penggembalan bukanlah itu. Penggembalaan terutama bukanlah tempat dimana anda harus tahu semua hal salah yang pernah dikatakan orang tentang sepotong kecil biblical theology. Penggembalaan adalah menggembalakan orang dari Firman.

Sekarang kembali ke hal yang positif: Jika program Ph.D disusun -dan ada beberapa yang seperti itu!- untuk membuat anda mempelajari Alkitab selama tiga atau empat tahun dan mengerti implikasinya yang lebih besar untuk kehidupan dan realitas, maka, dalam perjalanan anda menuju ke penggembalaan, itu bisa sangat bernilai.

Tapi program Ph.D saya tidak disusun seperti itu. Dan ketika saya selesai dengan tiga tahun itu, saya hanya mendapat selembar kertas, bahasa Jerman, dan apresiasi kepada teologi yang akademis; tetapi saya tidak bertumbuh banyak, kecuali yang saya bisa peroleh sendiri.

Maka adalah mungkin untuk mengambil Ph.D yang bodoh untuk selembar kertas. Saya jauh lebih suka anda mengambil Ph.D yang bijaksana – yaitu, pergi ke tempat dimana mereka mengizinkan anda terutama mempelajari Alkitab. Ya, anda akan harus membaca materi lain. Tetapi anda ingin keluar setelah tiga tahun dengan pengertian yang besar, dalam, kuat, mantap, akan Allah dan jalan-jalanNya di dalam dunia, bukan hanya sepotong kecil apa yang ribuan orang ngaco katakan tentang sepotong kecil ayat di dalam Alkitab. Itu adalah cara menggunakan tiga tahun yang sangat menyedihkan.

Dan jika anda sudah menggembalakan, tetapkan diri untuk mempelajari Alkitab dan mengambil kelas-kelas. Tapi jangan kuatir dengan gelar.

Saya bahkan tidak pernah membuka tabung tempat ijazah saya sejak 1974! Saya belum membukanya! Ada di laci. Tidak ada orang yang tanya tentang itu. Itu tidak ada artinya lagi. (Mungkin itu berlebihan).

Saturday, June 30, 2012

Bahan Saat Teduh

Lebih dari dua tahun yang lalu saya memulai proyek membaca tafsiran Perjanjian Baru khususnya saya menulis tentang itu disini). Saya sudah membaca tafsiran untuk hampir seluruh kitab dalam Perjanjian Baru, hanya tinggal lima kitab yang tersisa: Roma, Kolose, Filemon, Ibrani, dan Yakobus. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dulu.

Sebetulnya saya membaca tafsiran di dalam rangka saat teduh. Awalnya saya menikmati saat teduh dengan cara itu, tapi lama kelamaan saat teduh saya menjadi kering. Mungkin karena mood? Mungkin juga karena pilihan buku tafsiran saya (buku tafsiran ada yang enak untuk dibaca, ada yang enak untuk dipelajari, ada yang sama sekali tidak enak!). Dan saya memutuskan bahwa saat teduh lebih berarti buat saya daripada sekedar membaca buku tafsiran. Saya masih akan membaca buku-buku tafsiran sebagai bagian dari studi, tapi sementara bukan lagi bagian dari saat teduh.

Seringkali saya mendengar orang berkata ‘saat teduh’nya kering, bosan, tidak dapat apa-apa. Ada beberapa kemungkinan untuk itu:
1. Mungkin waktu yang diberikan terlalu sedikit. Akhirnya saat teduh menjadi sekedarnya.
2. Mungkin saat teduh sama sekali tidak teduh, dilakukan di tempat ramai, di bis, di kantor, dengan iphone, ipad, dsb.
3. Mungkin saat teduhnya hanya informatif, membaca, mengerti, tapi tidak merenungkannya.
4. Mungkin saatnya untuk mengganti ‘bahan’ saat teduh. ‘Bahan’ saat teduh yang biasanya berupa buku renungan harian ditulis oleh manusia dan tidak tentu cocok dengan kita. Dalam kasus saya, buku tafsiran tertentu belum tentu cocok dengan saya untuk dipakai bersaat teduh.

Saya sendiri beberapa kali mengganti ‘bahan’ bersaat teduh. Saya pernah menggunakan buku Renungan Harian, Santapan Harian, Encounter With God. Saya pernah membaca hanya Alkitab saja berurutan dari Kejadian-Wahyu beberapa kali. Saya pernah menggunakan beberapa buku perenungan singkat seperti khotbah (satu artikel per hari). Saya pernah menggunakan buku liturgi harian (ada bacaan Alkitab, ada kisah singkat, ada doa, persis seperti liturgi). Dan saya pernah menggunakan buku-buku tafsiran. Saat ini saya sedang kembali membaca hanya Alkitab saja dengan bantuan NIV Study Bible. Rencananya saya ingin membaca ulang seluruh Alkitab dalam 80 minggu (sampai 31 Desember 2013), mudah-mudahan.

Jangan berhenti saat teduh, jangan biarkan saat teduh menjadi 'kering'. Apapun ‘bahan’nya, caranya, metodenya, yang paling penting adalah kita bersaat teduh dengan baik: membaca Firman Tuhan dan merenungkannya, mendoakannya, dan bersekutu dengan Tuhan. Dan itu lebih penting dari segalanya.

Tuesday, June 26, 2012

Pengakuan Iman Nicea

Salah satu pokok iman yang paling penting bagi orang Kristen adalah ke-Tritunggal-an Allah.
Pengakuan akan Allah Tritunggal inilah yang mempersatukan banyak orang Protestan, Anglican, gereja Ortodox, Assyrian, maupun Katolik Roma. Dan pengakuan iman yang sangat kuat menegaskan ke-Tritunggal-an Allah ini adalah Pengakuan Iman Nicea.

Pada akhir abad ketiga, seorang penatua gereja Alexandria bernama Arius menyatakan bahwa Kristus diciptakan oleh Bapa. Teologi ini diterima oleh sebagian orang sebagai salah satu solusi untuk menjelaskan Allah dalam tiga pribadi. Banyak uskup gelisah dan menganggap ajaran Arius ini sesat. Maka sebagai respons terhadap Arianisme itulah Konsili Nicea diadakan pada tahun 325 AD.

Kaisar Constantine I mengumpulkan para uskup gereja-gereja di Nicea di Bithynia (sekarang daerah Turki). Diceritakan bahwa Constantine mengundang 1800 uskup. Walaupun banyak yang tidak hadir, tapi mereka yang hadir mewakili berbagai daerah dan dianggap bersifat universal. Setelah sidang di Yerusalem (Kis 15), ini adalah pertama kalinya gereja-gereja berusaha mencapai kesepakatan melalui perwakilan dari seluruh gereja. Melalui konsili ini lahirlah pengakuan iman Nicea yang pertama. Dari beberapa ratus uskup yang hadir, hanya Arius dan dua uskup lain yang menolak rumusan Pengakuan Iman Nicea. Beberapa uskup yang tadinya mendukung Arius pun berbalik karena melihat kesesatan ajaran Arius. Maka Arius dan pendukungnya dikucilkan.

Pengakuan Iman Nicea kemudian berkembang seiring dengan bertambahnya tantangan. Pada tahun 381 dalam Konsili di Konstantinopel, bapa-bapa gereja terpaksa berhadapan dengan Macedonianisme. Pengikut Macedonian ini menolak natur keilahian Roh Kudus. Sebagai respons, bapa-bapa gereja ini menekankan keilahian dan kemanusiaan Kristus dan menambahkan pernyataan yang berkaitan dengan Roh Kudus dan karyaNya di dunia melalui gereja di dalam Pengakuan Iman Nicea. Maka lahirlah pengakuan iman Nicea yang kemudian dipergunakan di Timur.

Setelah itu di Barat, Arianisme masih hidup dan berkembang di suku-suku Jerman yang waktu itu mulai merangsek masuk ke Kekaisaran Romawi yang sudah lemah. Sebagai respons, teolog-teolog orthodoks di gereja Latin menekankan doktrin bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Kalimat itu ditambahkan ke pengakuan iman Nicea. Maka lahirlah pengakuan iman Nicea versi terakhir yang dikenal secara umum di Barat.

Pengakuan Iman Nicea, warisan bagi semua orang Kristen, adalah salah satu produk paling penting dalam sejarah gereja. Konsili Nicea dibuka dengan resmi pada tanggal 20 Mei. Dan Pengakuan Iman Nicea disahkan pada tanggal 19 Juni - tepat minggu lalu - 1687 tahun yang lalu.

Di bawah ini adalah Pengakuan Iman Nicea versi terakhir itu (dalam bahasa Indonesia):

Aku percaya kepada Allah yang Esa, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, serta segala sesuatu yang nampak maupun tak nampak.
Dan kepada satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, diperanakkan dari Bapa sebelum segala ciptaan; Allah dari allah, Terang dari terang, Allah yang sejati; diperanakkan, bukan diciptakan, sehakekat dengan Bapa, dan oleh-Nya segala sesuatu diciptakan. Yang untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, turun dari surga, dan berinkarnasi oleh Roh Kudus melalui anak dara Maria, dan menjadi manusia. Dia disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus; menderita dan dikuburkan; dan pada hari yang ketiga bangkit kembali, sesuai dengan Alkitab; naik ke surga, duduk di sebelah kanan Bapa; dan Ia akan datang kembali, dengan kemuliaan, untuk menghakimi yang hidup dan yang mati; dan Kerajaan-Nya akan kekal selamanya. 
Dan aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan dan Sumber Kehidupan; yang keluar dari Allah Bapa dan Allah Anak, yang bersama-sama dengan Allah Bapa dan Allah Anak disembah dan dimuliakan, yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi. Dan aku percaya kepada gereja rasuli yang kudus, esa, dan am. Aku mengakui satu baptisan untuk penebusan dosa, dan aku menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan di dunia yang akan datang.
AMIN

Notes:
1. Karena pengakuan iman Nicea tidak dibacakan oleh kebanyakan gereja di Indonesia, maka sulit menentukan terjemahan 'standar'. Terjemahan di atas saya ambil dari beberapa sumber dan saya cocokkan dengan teks bahasa Inggris.
2. Gambar di atas adalah Kaisar Constantine (di tengah) dengan beberapa bapa gereja, memegang naskah Pengakuan Iman Nicea.

Thursday, June 21, 2012

Eulogi untuk GI. Sonny Putra

Saya dan istri mengenal Sonny sejak kami masih sama-sama kuliah di Universitas Trisakti. Kami satu jurusan dan juga satu angkatan dengan dia.

Kami ingat ketika saat kuliah di Trisakti itu, mendengar berita yang sangat menggembirakan: Sonny mau percaya kepada Tuhan! Dan berita berikutnya yang kami dengar adalah dia menjadi jemaat di GKY Green Ville, dibaptis di sana dan bahkan terlibat pelayanan di sana.

Kami juga ingat mendengar berita yang lebih menggembirakan lagi: Sonny mau menjadi hamba Tuhan penuh waktu! Dia sempat datang ke rumah kami (waktu itu saya sudah selesai sekolah teologi) dan berdiskusi tentang sekolah teologi mana yang akan diambil. Akhirnya dia memilih Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang.

Kami juga ingat berita lanjutannya yang membuat kami senang dan kagum, bahwa Sonny terlibat dalam pelayanan misi di Kartidaya, dan kemudian bergerak sendiri dalam berbagai pelayanan sebagai misionaris utusan GKY Sunter.

Walaupun terpisah jauh, beberapa kali kami kontak melalui telpon maupun email dan juga surat doa yang selalu dia kirimkan kepada kami. Melalui surat doa itu kami jadi mengetahui kegiatannya, bebannya dan berbagai program yang ingin dia jalankan.

Kami mengagumi dia. Melihat hidupnya membuat kami juga mengagumi Tuhan. Bagaimana mungkin Sonny yang kami kenal ini berubah menjadi seperti ini? Dia mengambil jalan hidup yang sama sekali tidak populer, menjadi misionaris dengan segudang pekerjaan di kota kecil. Dia diberikan beban yang sangat besar oleh Tuhan untuk pekerjaan misi. Saya ingat seorang rekan berkata dengan nada bercanda: “Sonny punya beban yang sangat besar dalam bidang misi. Jarang sekali yang seperti dia. Perlu dilestarikan orang seperti ini!” Ya, jarang sekali yang seperti dia. Sonny termasuk segelintir orang yang dipanggil Tuhan dan diberikan hak istimewa untuk melayani Tuhan di ladang misi, dan… dia termasuk lebih segelintir orang lagi yang mau mentaati panggilan itu!

Baru-baru ini waktu istri saya ulang tahun, dia sempat memberi ucapan selamat melalui sms. Istri saya kemudian bertanya tentang kesehatannya tapi dia belum membalas. Tiba-tiba tadi sore kami menerima kabar: Sonny Putra sudah meninggal.

Kami sangat sedih, tidak bisa percaya, bagaimana mungkin? Dia masih muda, belum sampai empat puluh tahun. Masih banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan. Hidupnya berarti bagi banyak orang. Bagaimana mungkin?? Tapi ya, bukan cuma mungkin tapi sudah terjadi. Kami terdiam, menangis dan menaikkan doa untuk istrinya.

Hidup itu singkat, hanya Tuhan yang tahu kapan akan berakhir. Seringkali kita menekankan ‘hasil’. Tapi kalau Tuhan mencari hasil, harusnya Dia memberikan waktu lebih banyak untuk Sonny. Belum ada yang menggantikan Dia. Masih banyak yang bisa dia lakukan di sana. Banyak proyek yang baru mulai dia lakukan. Tunggu hasilnya dulu. Tapi Tuhan tidak menekankan ‘hasil’. Dia melihat apa yang kita kerjakan dalam waktu yang Dia berikan. Dia melihat bagaimana kita hidup dalam waktu yang Dia berikan.

Hidup itu singkat, bagaimana kita menghidupinya menjadi sangat penting. Apa sih yang kita cari selama di dunia? Kekayaan? Ketenaran? Hidup nyaman? Apa? Semua akan menjadi sampah ketika kita bertemu dengan Tuhan. Bukankah yang terbaik adalah menjalankan kehendak Tuhan di dalam waktu yang Dia berikan?

Sonny bukan saja sudah menjalankan hidup yang baik, mengikuti kehendak Tuhan, tapi Dia sudah menjalani hidup bersama dengan Tuhan. Sekarang dia sudah dipanggil Tuhan. Kami percaya dia ada di sorga dan Tuhan menyambut Dia sebagai hamba-Nya yang baik dan setia.

Sampai kita bertemu lagi di sorga Son, dan kita akan bersukacita bersama di hadapan Tuhan!

Sunday, June 17, 2012

Suami Istri: Bertengkar?

Tidak ada satu pasang suami istri pun yang tidak pernah bertengkar. Bahkan sejak pacaran, pertengkaran pasti sudah terjadi. Saya ingat seorang hamba Tuhan bicara dengan nada bercanda: “Kalau pacaran tidak pernah berantem, jangan kawin sama dia. Karena jangan-jangan kamu kawin sama orang bodoh.” Maksudnya dua orang dengan pikiran, kemauan, dan sifat yang berbeda, kalau normal pasti akan bertengkar.

Tapi bagaimana bertengkar? Di dalam percakapan dengan teman-teman yang akan menikah, kami sering menyampaikan bahwa harusnya kita makin ‘ahli’ dalam bertengkar. Bukan maksudnya lebih sering! Tapi makin tahu bagaimana menghadapi masalah penyebab pertengkaran, makin tahu bagaimana diri kita dan pasangan kita akan bereaksi, makin tahu bagaimana menyelesaikan masalah dengan baik, dan makin banyak hal yang akhirnya tidak menjadi pertengkaran lagi.

Waktu awal relasi kita mungkin ‘bodoh’, kita marah untuk sesuatu yang tidak sepantasnya, dan akhirnya menyesal. Kita juga ‘bodoh’ karena kita bereaksi dengan salah, dan akhirnya menyesal. Kita juga kaget menemukan pasangan kita bereaksi seperti itu (jangan lupa dia juga masih ‘bodoh’), dan akhirnya lebih menyesal lagi. Maka setelah sekian lama, apakah kita masih terus ‘bodoh’? Harusnya kita harus makin ‘ahli’ - bukan menghindari masalah tapi tahu bagaimana menghadapinya dan menyelesaikannya.

Bukan hanya itu, tapi bagaimana cara bertengkar juga sangat penting. Saya tidak tahu bagaimana dengan pasangan-pasangan lain, tapi saya dan istri, bahkan sejak pacaran, tidak pernah bertengkar dengan kasar. Kami tidak pernah memukul, mencakar, atau melakukan kekerasan fisik lain. Kami tidak pernah membanting barang, piring, gelas, handphone (mahal amat? :D). Kami juga tidak pernah pisah kamar ketika bertengkar, apalagi sampai kabur keluar rumah. Dan satu hal yang sangat penting, yang sering kami nasihatkan kepada pasangan lain, kami tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar waktu bertengkar. Bahkan saling membentak pun tidak pernah kami lakukan. Ada yang bilang kami terlalu lembut, “apa salahnya sih ‘nada keras’?” Tapi bukankah itu baik?

Ketika emosi, kita mungkin cenderung mengucapkan kata-kata kasar. Percayalah, sepuluh tahun yang akan datang, kita tidak akan ingat kita bertengkar karena apa, tapi kata-kata yang kasar itu masih kita ingat. Ketika emosi, kita mungkin cenderung ingin menyakiti – karena merasa kita disakiti – tapi bukankah kita harus selalu ingat bahwa orang yang di hadapan kita ini adalah suami/istri kita yang saya janji untuk kasihi seumur hidup?

Maka, bagaimana cara anda bertengkar? Bertengkarlah with love and in the love that comes from above. Dengan demikianlah, kita menunjukkan apa yang tertulis di pajangan yang tergantung di banyak rumah pasangan Kristen: CHRIST IS THE HEAD OF THIS HOUSE.

Happy birthday my dear wife! :-) It’s true, Christ was and is and will always be the Head of our family!

Friday, June 15, 2012

Pilgrim's Progress and Lacon

Seorang teman memberikan sebuah buku kepada saya beberapa waktu yang lalu. Buku itu adalah “The Pilgrim’s Progress” karya John Bunyan yang ditulis tahun 1628, sebuah buku yang sangat terkenal dan sampai sekarang masih dicetak.

Saya memperhatikan buku ini, bolak-balik, dan tertarik untuk menggali sedikit lebih jauh tentang buku ini. Ada beberapa hal menarik yang saya temukan:

Bukan ‘isi buku’ itu yang membuat hadiah ini menarik, tapi fisiknya. Kondisi buku ini masih sangat baik, halamannya memang sudah menguning tapi masih sangat baik. Buku ini dikemas dalam (seperti yang ditulis di bagian belakangnya): “bound in rough Persian with gilt lettered backs”. Covernya seperti bagian dalam kulit yang halus dan bagian sampingnya dituliskan judul bukunya dengan warna emas. 


Yang juga menarik adalah gambar John Bunyan di dalamnya yang berwarna. Dan entah bagaimana (seperti yang juga ditulis di bagian belakang): “a frontispiece coloured by hand”. Gambar itu diwarnai dengan tangan? Wow!

Tidak ada sama sekali keterangan tahun berapa buku ini dicetak. Tapi yang sangat menarik adalah adanya tulisan tangan yang memberi tahu bahwa buku ini pernah diberikan sebagai hadiah Natal oleh seorang bernama Daisy R. “Ingleside” Creswick kepada seorang bernama Pricilla. Dan tahunnya adalah 1906! Itu 106 tahun yang lalu dan kondisinya masih sebagus ini. Jangan-jangan di rumah saya, dengan cepat buku ini akan deteriorate!



Terakhir yang saya perhatikan adalah kalimat yang tertulis sebagai ‘kata mutiara’ dari pemberi buku ini:
If there be a pleasure on earth which angels cannot enjoy, and which they might almost envy man the possession of, it is the power of relieving distress. –Lacon-
Sedikit research memberi tahu saya signifikansi kalimat itu. “Lacon” bukanlah nama orang, tapi judul sebuah buku. Lengkapnya “Lacon: Or, Many Things in Few Words: Address—to Those Who Think”. Laconic adalah istilah dalam bahasa Inggris yang memang berarti singkat, pendek. Dan isi bukunya memang adalah paragraf-paragraf pendek, kalimat-kalimat bijak, seperti amsal-amsal, yang dikumpulkan menjadi sebuah buku.

Mau tahu siapa penulisnya? Namanya adalah Charles Caleb Colton (1780-1832). Dia pernah menjadi hamba Tuhan di gereja di Inggris selama belasan tahun sebelum akhirnya dia meninggalkan pelayanan dan juga Inggris. Dalam masa dia menjadi hamba Tuhan di gereja itulah dia menulis Lacon. Dia kemudian pindah ke Amerika dan kemudian ke Perancis. Disana akhirnya dia terlibat judi, sukses selama beberapa waktu, tapi akhirnya dia bangkrut. Menjelang akhir hidupnya dia sakit dan hanya hidup dari pemberian keluarganya. Dia harus dioperasi tapi dia takut operasi, dan akhirnya dia bunuh diri. (lebih lengkapnya bisa dilihat di Wikipedia).

Kisah hidupnya sangat ironis! Dan yang lebih ironis lagi adalah kalimat kutipan di atas sebetulnya tidak lengkap. Di dalam Lacon, Charles Colton menulis lengkapnya begini:
If there be a pleasure on earth which angels cannot enjoy, and which they might almost envy man the possession of, it is the power of relieving distress. If there be a pain which devils might pity man for enduring, it is the death-bed reflection that we have possessed the power of doing good, but that we have abused and perverted it to purposes of ill.
(Jika ada kesenangan di dunia yang malaikat tidak bisa nikmati, dan yang mungkin hampir membuat mereka iri karena manusia memilikinya, itu adalah kuasa untuk melepaskan kesusahan. Jika ada kesakitan yang setan mungkin mengasihani manusia karena harus mengalaminya, itu adalah refleksi di ranjang kematian bahwa kita memiliki kuasa untuk melakukan kebaikan, tapi kita menyalahgunakannya dan merusaknya untuk tujuan yang jahat)
Bukankah ironis? Sekitar 12-15 tahun sebelum mati, dia menulis kalimat di atas. Tapi kemudian dia tidak berbuat baik dan hidupnya makin hancur. Mungkinkah waktu di ranjang kematian, ketika akan bunuh diri, dia sempat merefleksikan hidupnya dan menyesalinya? Mungkinkah waktu itu dia ingat kalimat 'amsal' yang pernah ditulisnya sendiri itu? Kita tidak tahu.

Saya tidak tahu dan mungkin tidak pernah tahu cerita di balik buku tua ini: Siapa Pricilla? Siapa Daisy R. Creswick? Mungkin juga tidak penting. Saya hanya sedikit melatih ‘historian in me’ :-) dan selalu akhirnya kembali menjadikannya refleksi.

Thanks Chris for this gift! :)