Thursday, May 12, 2016

Hamba Tuhan: Role Model Dalam Ibadah

Ada satu peran hamba Tuhan di dalam ibadah yang jarang disadari: Menjadi role model.

Di banyak gereja, pada waktu ibadah, gembala dan juga hamba Tuhan lainnya biasanya akan duduk di barisan paling depan (di beberapa gereja, mereka bahkan duduk di mimbar menghadap jemaat). Satu hal yang sering tidak disadari, baik oleh hamba Tuhan maupun jemaat sendiri, selama ibadah berlangsung ada banyak mata yang akan berulang kali memperhatikan hamba Tuhan di depan itu. Bukan hanya pada waktu dia berdiri di mimbar memimpin pujian atau doa, bukan hanya ketika dia duduk menghadap jemaat, tetapi bahkan juga pada waktu dia duduk membelakangi jemaat.

Jemaat sendiri mungkin tidak terlalu sadar. Tetapi kalau saja dilakukan survei berapa banyak dan berapa sering jemaat "melirik" hamba Tuhan yang ada di depan membelakangi mereka, hasilnya bisa mengejutkan. 

Maka apa yang dilakukan hamba Tuhan di dalam ibadah akan mempengaruhi jemaat. Tentu pengaruhnya tidak akan langsung terasa, tetapi bertahap dan menyebar. Setelah berbulan-bulan atau mungkin beberapa tahun, pengaruhnya akan terlihat. 

Kalau hamba Tuhan tidak serius beribadah, sering keluar di tengah ibadah, menerima telpon, main handphone, ngobrol, maka jemaat sangat mungkin juga akan tidak serius beribadah. Mungkin banyak yang akan bolak-balik keluar, bercanda, bisik-bisik di tengah ibadah, dst. Kalau hamba Tuhan sikapnya dari belakang terlihat tidak serius menyanyi, misalnya tengok kiri kanan, melipat tangan, menengok ke belakang, atau apa lah yang ketahuan sama jemaat, maka jemaat sangat mungkin juga tidak akan serius menyanyi. 

Tentu sikap hamba Tuhan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keseriusan jemaat dalam beribadah. Tetapi, sulit dipungkiri, itu faktor yang ikut menentukan.

Saya pernah beberapa kali melayani di gereja yang sangat jelas hamba Tuhan nya tidak serius beribadah. Suasana ibadah di situ sangat terasa berantakan. Ketika gereja itu kemudian berganti gembala, dan beberapa waktu kemudian saya kembali melayani di sana, saya terkejut melihat perubahannya. Jemaat menyanyi dengan sungguh dan mendengar khotbah dengan serius. Dari sekian banyak penyebab yang mungkin, tidak bisa dipungkiri salah satunya adalah faktor teladan hamba Tuhan nya. Sepanjang ibadah, dia duduk di depan, menyanyi dengan sungguh, dan serius mendengarkan khotbah.

Saya ingat Prof. Bruce Leafblad pernah berkata, "Jangan tanya apakah hamba Tuhan menjadi role model atau tidak di dalam ibadah. Jawabannya: Pasti!" Pertanyaannya apakah dia role model yang baik atau buruk.

Maka caveat pastor!

Thursday, May 05, 2016

Panggilan

Di dalam bukunya yang terkenal, “The Call”, Os Guinness membedakan dua macam panggilan di dalam hidup orang Kristen.

Panggilan yang pertama dan terutama adalah panggilan untuk mengikut Kristus. Panggilan ini adalah yang menyangkut seluruh keberadaan kita sebagai manusia. Hidup kita, hati kita, jiwa dan raga kita, seluruhnya adalah untuk menyembah Dia. Tidak ada apapun yang boleh menyaingi panggilan yang terutama ini. Oswald Chambers pernah berkata, “Waspadalah atas segala sesuatu yang menyaingi kesetiaan kepada Yesus Kristus” dan “pesaing terbesar kesetiaan kepada Yesus adalah pelayanan bagi Dia”. Bagaimana bisa begitu? Karena, “tujuan panggilan Tuhan adalah kepuasan Tuhan, bukan untuk mengerjakan sesuatu bagi Dia.”

Kalimat Oswald Chambers itu perlu diperdengarkan (kalau perlu diteriakkan) lagi di telinga kita. “Mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” sering seperti konsep yang abstrak bagi kita. Jauh lebih mudah untuk membayangkan bentuk konkrit yang harus dilakukan dalam rangka “mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan”, a.k.a. “pelayanan” (baik di gereja maupun melalui profesi). Tetapi, di dalam prosesnya akhirnya kita mempersamakan keduanya. Maka perlahan-lahan, “pelayanan” menjadi sama dengan “penyembahan”. Kita merasa sudah “mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” dengan melakukan “pelayanan”. Bisakah kita melihat masalahnya disini?

“Mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” adalah soal hati, arah, tujuan, motivasi, yang mengarahkan apa yang kita lakukan. Sementara “apa yang kita lakukan”, arahnya, tujuannya, motivasinya, bisa untuk memuaskan Tuhan atau membesarkan diri. Ketika kita mempersamakan keduanya, pasti muncul masalah besar. Kita bisa berdalih bahwa “kita tidak mencari untung”, “kita sedang berusaha menggunakan karunia yang Tuhan berikan”, atau “kita ingin memberi yang terbaik untuk Tuhan” melalui apa yang kita lakukan. Tetapi, pertanyaan yang terus menggantung adalah, apakah sungguh di dalam hati kita hanya-dan-hanya ingin mengikut Yesus? Apakah kita hanya-dan-hanya memuaskan Tuhan?

Panggilan yang kedua, menurut Os Guinness, barulah yang lebih konkrit, yaitu “dalam segala hal kita harus berpikir, berbicara, hidup, dan bertindak sepenuhnya bagi Dia”. Mungkin itu berarti pekerjaan, profesi, atau kehidupan sehari-hari, yang kita jalani sebagai respons atas arahan dan panggilan Tuhan. Tetapi, jangan menjadikan panggilan kedua ini sebagai yang pertama dan terutama.

Saya tertempelak membaca kalimat Os Guinness di bawah ini:
Do we enjoy our work, love our work, virtually worship our work so that our devotion to Jesus is off-center? Do we put emphasis on service or usefulness, or being productive in working for God – at his expense? Do we strive to prove our own significance? To make difference in the world? To carve our names in marble in the monuments of time?
Apakah kita menikmati pekerjaan kita, mencintai pekerjaan kita, secara virtual menyembah pekerjaan kita sehingga kesetiaan kita kepada Yesus tergeser? Apakah kita menaruh penekanan pada pelayanan atau kegunaan, atau menjadi produktif dalam bekerja untuk Allah – dengan mengorbankan Dia? Apakah kita berjuang untuk membuktikan signifikansi diri kita? Untuk membuat perbedaan di dalam dunia? Untuk mengukir nama kita pada monumen-monumen waktu?
Siapa sih yang tidak ingin hidupnya berguna dan produktif? Siapa sih yang tidak senang berhasil membuat perbedaan di dalam dunia? Di dalam kelemahan, siapa sih yang tidak bangga membayangkan hidupnya signifikan dan dikenang? Tidak ada yang salah dengan hidup berguna, produktif, membuat perbedaan, signifikan dan dikenang. Tetapi, menjadi masalah dan salah besar ketika kita mengejar semua itu seakan-akan itulah panggilan kita yang pertama dan terutama.

Os Guinnes mengingatkan, panggilan kita yang pertama dan terutama bukanlah to do something tetapi we are called to Someone. Kunci untuk menjawab panggilan itu adalah untuk setia tidak kepada siapapun (termasuk diri kita) dan apapun selain kepada Allah.

Saya perlu mengunyah kebenaran ini lebih lama supaya meresap.

Thursday, April 28, 2016

Eugene Peterson dan Bono - Tentang Mazmur

Saya menemukan video ini, tentang Eugene Peterson dan Bono (U2). What? Who? Yes, Eugene Peterson and Bono! :-)

Eugene Peterson adalah seorang penulis yang sangat saya kagumi. Bono? Saya hanya tahu namanya tapi tidak pernah mendengar albumnya. Sorry, saya memang agak kuper soal dunia entertainment. Bono mengenal Eugene Peterson juga dari buku-bukunya, khususnya The Message (Alkitab terjemahan dengan bahasa sehari-hari) yang sangat terkenal. Sementara Peterson tidak pernah mendengar tentang Bono sebelumnya :-)

Video ini cukup panjang tapi saya menikmati menontonnya sampai habis. Beberapa percakapan yang sangat menarik bagi saya:

Dalam wawancara dengan Dean Nelson (mulai di menit 1.45), Dean bertanya mengapa Peterson menolak ketika Bono mengundangnya untuk hang out with U2. Peterson menjawab bahwa waktu itu dia sedang mengejar deadline menerjemahkan Perjanjian Lama.
Dean: “You may be the only person alive who would turn down the opportunity just to make a deadline. I mean, come on, it’s Bono!”
Eugene: “Dean, he was Isaiah!” 

lol :-)

Bono bicara tentang Mazmur 23 (mulai di menit 10.30) dan dia menyanyikan Mazmur 23.

Percakapan tentang honesty di dalam Mazmur (mulai di menit 12.25).
Bono: “I would love if this conversation would inspire people who are writing these beautiful voices, who are writing these, say, beautiful gospel songs, write a song about their bad marriage, write a song about how, you know, they are pissed off about the government… why I am suspicious of Christians is because of this lack of realism. And I love to see more of that in life, in art, and in music.”

Percakapan tentang violence (16.10). Eugene mengatakan betapa pentingnya imprecatory psalms (mazmur yang berisi permohonan akan penghakiman, malapetaka dan kutukan bagi musuh).
Eugene: “If we have to get some way in context, and the context is our Bible and our whole psalter, some way in context that tell people how mad we are.”
Lalu Bono teringat akan Mazmur 35:1 dimana Eugene menterjemahkannya dengan sangat baik: “Harass these hecklers, God, punch these bullies in the nose.” 

Adakah cara melihat mazmur-mazmur seperti itu melalui kacamata Yesus dan berharap untuk mengerti violence dan non-violence?
Eugene: "Well, yeah, the crucifixion. There’s violence, there got to be some kind of response… I’m glad that we have a cross in every room in this house. But when I look at those, I don’t think decoration, I think this is the world we live in. And it’s a world with a lot of crosses. And I just would like to spend my life doing something about that, through Scripture, through preaching, through friendship. And now my years here are getting shorter and don’t know how many years left but I don’t wanna escape the violence.”

That touched me. 

Video ditutup beautifully dengan doa dari Eugene Peterson di background.

Ada tiga kesan tambahan yang saya dapat:

Pertama, seorang penulis pernah mengatakan suara Eugene Peterson seperti suara orang yang banyak bergumul di dalam dark nights. Suara saya yang sekarang lagi serak-serak basah membuat saya merasa agak mirip dengan dia (lol) – ok ini nggak penting.

Kedua, Eugene menyebut Bono sebagai “companion in the faith”. Bagaimanapun bedanya Eugene dan Bono, tapi mereka sama-sama beriman dan sedang berjalan dalam perjalanan iman, so yes they are “companion in the faith.” Bisakah kita belajar melihat saudara kita sesama orang Kristen, seberapapun bedanya dengan kita, seperti itu?

Ketiga, saya kagum dengan kesederhanaan Eugene. Saya sudah banyak membaca bukunya maka sedikit banyak tahu tentang hidupnya. Tetapi melihat video ini,… saya semakin mengagumi dia. Di dalam kitab Testaments of the Twelve Patriarchs (sebuah kitab kuno orang Yahudi), ada satu istilah yang sering muncul “walk in singleness/simplicity” – bukan hanya di dalam hal materi, tapi juga di dalam hati, fokus, simpel, nggak neko-neko. Saya kira Eugene sangat tepat melukiskan hidup yang seperti itu.

Here is the video:

Thursday, March 24, 2016

Broken and Spilled Out

Pada kebaktian Jumat Agung di GKY Singapore, empat tahun yang lalu, paduan suara menyanyikan lagu Broken and Spilled Out dari Steve Green. Di malam menjelang peringatan Jumat Agung ini, saya kembali mendengarkan lagu itu dan merenungi lagi kata-katanya.

Steve Green mengambil syair ini dari kisah di dalam Injil. Saya kira dia mengambil syair lagunya dari Matius 26.6-13/Markus 14.3-9/Yohanes 12.1-8 (walaupun kisah yang serupa juga ada di Lukas 7.36-50), yaitu ketika Maria mengurapi Yesus di Betania beberapa hari sebelum Jumat Agung. Yesus sendiri berkata tentang peristiwa itu, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan utuk penguburan-Ku" (Mrk 14.8).

Klip video di bawah ini dibuat oleh istri saya beberapa tahun lalu:



One day a plain village woman
Suatu hari ada seorang wanita desa yang sederhana
Driven by love for her Lord 
Digerakkan oleh kasih kepada Tuhan-nya
Recklessly poured out a valuable essence
Dengan sembrono menuangkan minyak wangi yang berharga
Disregarding the scorn
Tanpa mempedulikan cemoohan
And once it was broken and spilled out
Dan begitu (botol) minyak wangi itu dipecahkan dan ditumpahkan
A fragrance filled all the room
Bau wangi memenuhi seluruh ruangan
Like a pris'ner released from his shackles
Seperti tahanan yang dibebaskan dari ikatannya
Like a spirit set free from the tomb
Seperti roh yang dibebaskan dari kuburan

Tiba-tiba di tengah lagu ini, subjek dan objeknya berubah. Bukan lagi tentang "wanita itu" tetapi tentang "saya". Dan di akhir bagian ini, bahkan bukan lagi tentang "minyak wangi yang ditumpahkan" tetapi tentang "saya yang rela ditumpahkan".

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of you Jesus
Hanya karena kasih untuk-Mu Yesus
My most precious treasure lavished on Thee
Hartaku yang paling berharga dihamburkan pada-Mu
Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at Your feet
Dan dituangkan pada kaki-Mu
In sweet abandon, let me be spilled out
Dalam penyerahan yang manis, biarkan aku ditumpahkan
And used up for Thee
Dan dipakai habis untuk-Mu

Di bagian akhir lagu ini, sekali lagi subjek dan objeknya berubah. Kali ini, bukan lagi wanita itu dan bukan lagi saya yang menumpahkan minyak wangi, tetapi Allah! Bukan lagi tentang minyak wangi atau saya yang ditumpahkan, tetapi Yesus!

Lord You were God's precious treasure
Tuhan Engkau adalah harta Allah yang berharga
His loved and His own perfect Son
Anak-Nya sendiri yang dikasihi dan sempurna
Sent here to show me the love of the Father
Diutus untuk menunjukkan kepadaku kasih Bapa
Just for love it was done
Untuk kasih itu dilakukan
And though You were perfect and holy
Dan sekalipun Engkau sempurna dan kudus
You gave up Yourself willingly
Engkau memberikan diri-Mu dengan rela
You spared no expense for my pardon
Engkau tidak menyayangkan apapun demi pengampunanku
You were used up and wasted for me
Engkau dipakai habis dan dihamburkan untukku

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of me Jesus
Hanya karena kasih untukku Yesus
God's most precious treasure lavished on me
Harta Allah yang paling berharga dihamburkan padaku
You were broken and spilled out
Engkau dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at my feet
Dan dituangkan pada kakiku
In sweet abandon Lord
Dalam penyerahan yang manis Tuhan
You were spilled out and used up for me
Engkau ditumpahkan dan dipakai habis untukku

Segalanya menjadi terbalik!. Kita pikir kita yang mengasihi Allah. Kita pikir kita yang memecahkan dan menumpahkan harta kita, diri kita, segala yang berharga bagi kita, untuk Yesus. Tetapi Allah sudah memecahkan dan menumpahkan Yesus untuk kita. Harta Allah yang paling berharga dihamburkan pada kita! Dia dipecahkan, ditumpahkan, dan seperti - saya tidak tega bahkan untuk menuliskan ini - dituangkan pada kaki kita. Oh Tuhan, how can it be! 

Yesus ditumpahkan dan dipakai habis untuk kita. Bisakah kita tidak melakukan yang sama - yang sebenarnya jauh jauh jauh lebih rendah dari yang dilakukan Allah?

Maka dua kalimat ini terngiang-ngiang di telinga saya:

In sweet abandon Lord, You were spilled out and used up for me.
In sweet abandon, let me be spilled out and used up for Thee. 

Selamat Jumat Agung dan Paskah!

Thursday, February 11, 2016

Langkah-langkah Memulai Masa Pacaran

Valentine Day is just around the corner again. It seems to be an appropriate time to talk about dating :-)

Ok, saya tidak bermaksud menulis textbook cara “pendekatan”. Tapi setelah mendengar berbagai cerita “gosip-seputar-pdkt-dan-pacaran”, saya merasa ada yang kurang “pas”. Maka saya berharap paling tidak tulisan pendek ini bisa sedikit menolong mereka yang sedang bergumul - untuk bergumul dengan benar.

Apa itu “pacaran”? Sederhananya, pacaran adalah masa dimana seorang pria dan seorang wanita mengambil komitmen untuk lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan.

Perhatikan definisi itu. Hanya seorang pria dan seorang wanita, tidak bisa “seorang” dengan “beberapa orang”. Lalu ada “komitmen”. Tetapi komitmennya bukan untuk “hidup bersama”. Komitmennya bukan “to stay together forever and ever”. Komitmennya bukan “you are mine and I am yours”.  Tidak ada hal seperti itu dalam pacarana! Komitmennya hanyalah “lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan”. Maka di dalam pacaran, SAMA SEKALI tidak boleh ada relasi yang sifatnya seksual. Relasi yang dijalin bukan bersifat fisik tetapi komunikasi – pemikiran, perasaan, pengalaman, nilai hidup, iman, dst. Komitmennya hanyalah menjajaki apakah saya dan dia bisa hidup bersama seumur hidup nantinya. 

Walaupun pacaran memang tidak ada komitmen seperti pernikahan, bukan berarti boleh dimulai dengan sembarangan. Bagaimanapun pacaran melibatkan emosi, waktu dan tenaga dari dua pihak, yang sangat sayang untuk disia-siakan. Maka untuk mulai berpacaran harus ada “tingkat kepastian tertentu” – merasa suka, cocok, mau komitmen berelasi, barulah dimulai. Sehingga faktor “gambling” dan “sembarangan” diminimalisir. Di masa pacaran nanti, kedua belah pihak akan sama-sama lagi menilai dan berdoa apakah benar bisa dilanjutkan ke pernikahan. Artinya setelah ada “tingkat kepastian yang lebih tinggi” baru memberanikan diri masuk ke komitmen seumur hidup.

Untuk masuk ke masa pacaran, ada 2 pertanyaan yang perlu ditanyakan terlebih dulu oleh setiap orang:

Pertama, apakah benar ada ketertarikan, ada perasaan suka, dan melihat ada kecocokan? Tidak bisa tidak, perlu waktu untuk menjawab ini.

Kedua, apakah benar mau berkomitmen memasuki masa pacaran?  Memang bukan komitmen untuk menikah atau apapun yang serius, tapi hanya komitmen mengkhususkan waktu, tentunya juga emosi dan pikiran, untuk mengenal dan menguji kecocokan menuju ke pernikahan.

Pikirkan dan doakan untuk menjawab 2 pertanyaan itu. Libatkanlah Tuhan di dalam pergumulan yang sangat penting ini.

Mulai dari yang pria, kalau memang jawaban untuk yang pertama dan kedua adalah “ya”, BARU sesudah itu dia boleh menyatakan secara eksplisit ke yang wanita. Ini penting! Hanya setelah yang pria yakin, BARU dia boleh menyatakan. Lalu tunggu jawaban apakah yang wanita juga setuju untuk masuk ke masa pacaran. Maka giliran si wanita untuk bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas itu dan mendoakannya.

Urutan di atas harus jelas.

Beberapa kesalahan yang biasa terjadi:

Pertama, terlalu cepat memasuki masa pacaran. Tanpa ada “tingkat kepastian tertentu” - hanya berdasarkan perasaan suka (yang mungkin sesaat) lalu berani masuk ke masa pacaran.

Emosi memang selalu melambung jauh lebih cepat dari akal sehat. Pada waktu emosi melambung, dengan cepat kita akan berkata “tertarik, suka, cocok, MAU!” Itu sebabnya perlu waktu untuk membuat emosi "turun" dan stabil dulu, baru bisa berpikir jernih apakah memang tertarik, suka, cocok dan mau pacaran. Jangan mengambil komitmen apapun dalam keadaan emosi yang sedang sangat melambung. Banyak orang yang nekat mengambil komitmen waktu lagi “melayang-layang” dan kecewa setelah “layangan”nya turun ke bumi.

Berikan waktu beberapa bulan untuk berteman saja (tanpa romantisme at all!) dan usahakan tidak pergi berduaan tapi selalu bersama dengan teman-teman lain. Jika relasi disertai banyak romantisme – kata-kata mesra, kontak terus menerus, sering pergi berduaan, apalagi ada kontak fisik, maka tidak pernah akan ada kematangan dalam pergumulan. Romantisme dan kontak fisik sudah berjalan mendahului komitmen dan akal sehat akan jauh tertinggal di belakang.

Kesalahan kedua, berlawanan dengan yang pertama, yaitu terlalu lama mengambil keputusan. Pria memang harus bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas dan mendoakan. Tetapi jangan lupa, ini bukan mencari kepastian untuk “menikah” tapi untuk “memasuki masa penjajakan menuju ke pernikahan”. Jadi tidak bisa harus pasti dan yakin “she is the one” baru mau pacaran. Tidak akan pernah yakin! Keyakinan itu baru bisa didapat nanti waktu di masa pacaran. Maka masa memikirkan dan mendoakan ini tidak perlu terlalu lama (walaupun bukan berarti terlalu cepat dan sembarangan).

Alasannya adalah: Ketika seorang pria merasa suka, sadar atau tidak sadar dia akan banyak “mendekati” si wanita. Dia akan cukup sering kontak, memberi perhatian, dsb. Kalau si wanita tidak suka dengan dia, maka gampang, si wanita pasti akan menjauh. Tapi kalau si wanita suka, maka dia akan kasihan sekali karena perasaannya terus diaduk-aduk. Di satu sisi dia merasa si pria mendekati dia (membuat dia berharap), tapi di sisi lain si pria tidak maju-maju. Jadi seperti digantung – friendzoned.  Apalagi kalau kemudian setelah sekian lama, akhirnya si pria memutuskan untuk tidak mau memasuki masa pacaran. Sekian lama si wanita merasa didekati, diperhatikan, lalu si pria tiba-tiba menjauh! Itu sangat menyakitkan. Memang namanya juga lagi bergumul dan jawabannya bisa “tidak”, tapi justru itu sebabnya jangan terlalu lama. Kasarnya, mau ya mau, nggak ya nggak :-)

Dengan alasan yang sama, setelah pria menyatakan, jangan yang wanita kemudian giliran friendzoning dia. Memang pasti perlu waktu untuk berpikir dan berdoa. Tidak ada patokan juga berapa waktu yang diperlukan, tapi 6 bulan pasti terlalu lama.

Kesalahan ketiga, si pria yang sama sekali belum ada kepastian ini bilang ke si wanita, “saya lagi mendoakan kamu”. Woohooo…. Bagi wanita (yang cenderung lebih emosional), informasi itu tidak ada bedanya dengan “pernyataan langsung”. Bagi dia itu artinya si pria menyukai dia. Dia akan sangat berharap dan sangat sakit hati ketika akhirnya “hasil doa” si pria adalah “tidak”. Maka saya sangat tidak setuju dengan cara seperti itu.

Pria harus berpikir dan berdoa sendiri dulu, walaupun sambil mendekati – asal jangan lama-lama. Setelah ada keputusan bahwa dia mau, BARU menyatakan. Barulah saat itu “bola”nya dilempar ke si wanita untuk memutuskan. Jangan sampai setelah bola dilempar ke si wanita, dengan alasan “sama-sama mendoakan”, lalu si wanita memutuskan “mau” sementara si pria memutuskan “tidak”. Bukan begitu urutannya.

I hope that helps. Selamat bergumul – dengan benar :-) 

Monday, December 28, 2015

Refleksi Akhir Tahun 2015

Beberapa hari lagi kita akan sampai di penghujung tahun 2015.

Setiap kita pasti mengalami hal yang berbeda di sepanjang tahun 2015. Suka dan duka, sehat dan sakit, keuntungan dan kerugian, mendapatkan dan kehilangan,… variasinya tidak terbatas. Peristiwa demi peristiwa sudah terjadi. Di satu sisi, semua itu sudah menjadi masa lalu. Sudah lewat. Tetapi, di sisi yang lain, kita perlu menyadari dan mengakui bahwa semua itu masih mempengaruhi kehidupan kita sampai sekarang.

Sakit yang kita alami, kerugian ekonomi yang kita terima, anugrah besar yang kita nikmati, pelajaran tentang kehidupan, sukacita yang kita rasakan, kepahitan hidup, luka hati, semuanya ikut andil membentuk kita. Pikiran dan emosi kita diubah oleh semua itu. Maka bagaimanapun juga, peristiwa di masa lalu itu meninggalkan jejak dalam hidup kita di saat ini dan juga masa depan. Pertanyaannya apa yang harus kita lakukan dengan semua itu?

Membawa semua yang kita terima ke hadapan Tuhan dan bersyukur adalah hal yang sulit. Kita cenderung lupa untuk bersyukur dan mudah untuk berkata “kekuasaanku dan kekuatan tangankulah” yang membuat aku memperoleh semuanya.  Tetapi, membawa ke hadapan Tuhan semua kelelahan, kepahitan, kesedihan, yang sudah kita alami dan mempengaruhi kita, seringkali lebih sulit.

Minggu lalu saya berkhotbah di GKY Jemaat Green Ville dari Yohanes 4:1-42. Saya pernah berkhotbah dari bagian itu di tempat lain walaupun tidak sama persis (lihat tulisan saya tentang Mengulang Khotbah di sini). Bukan saja saya mengurangi dan menambahkan di sana-sini, tetapi juga ada penekanan-penekanan yang berbeda. Maka khotbah itu, bagi saya pribadi, fresh. Bagian Alkitab itu berbicara lagi kepada saya sendiri – dengan cara yang berbeda.

Yesus menawarkan air hidup! Yesus berjanji barangsiapa yang meminum air hidup yang Dia berikan itu tidak akan haus lagi. Dia menggenapi janji itu tidak dengan meniadakan kemungkinan untuk kita haus. Tetapi Dia menggenapinya dengan menjadikan air hidup itu mata air dalam diri kita yang terus menerus memancar sampai ke hidup yang kekal.

Maka setiap kali haus, yang perlu kita lakukan adalah mengaku haus, datang kepada-Nya minta dipuaskan, dan membiarkan Dia memuaskan kita lagi dan lagi. Air hidup itu ada di dalam diri kita! Roh Kudus ada di dalam kita. Kuasa kehidupan yang selalu menopang kita ada di situ. Kekuatan tak terhingga untuk mengubah kita ada di situ. Penghiburan yang terindah ada di situ. Jaminan yang terkuat bahwa Dia akan menuntun kita ada di situ. Maka, lagi dan lagi, kita hanya perlu mengaku haus, datang kepada-Nya dan dipuaskan.

Berapa sulitnya itu? Sulit! Kita sulit untuk mengaku haus dan datang ke Tuhan. Mudah untuk kita menangis. Cepat untuk kita berteriak. Tetapi datang kepada Tuhan dan HANYA meminta dipuaskan oleh-Nya (bukan oleh yang lain), adalah hal yang sangat sulit. Membutuhkan kerendahan hati. Membutuhkan pertobatan.

Terakhir, meminjam judul buku John Piper (“Don’t Waste Your Cancer”), saya ingin mengingatkan “Don’t Waste What You’ve Been Through”. Jangan sia-siakan pengalaman pahitmu. Jangan sia-siakan sakit hatimu. Jangan sia-siakan tangisanmu.

Kita menyia-nyiakannya jika kita hanya berusaha melupakannya tanpa bertobat (walaupun ya, kita perlu meninggalkannya di belakang). Kita menyia-nyiakannya jika kita hanya menjadi orang yang sakit hati dan penuh amarah. Kita menyia-nyiakannya jika semua itu merusak hidup dan masa depan kita. Don’t waste them!

Ketika semua kepahitan, luka, dan tangisan, menjadi cambuk yang memacu kita hidup lebih baik, menjadi arang yang membakar kita berkobar bagi Tuhan, menjadi minyak yang mengobati luka orang lain, maka kita tidak menyia-nyiakannya.

Bagi saya, tahun 2015 adalah tahun dengan warna kelabu terbanyak dalam hidup saya. Pada waktu saya merenungkan kembali Yohanes 4:1-42 itu, saya menyadari bahwa saya sedang sering dan mudah haus. Saya memang pernah meminta dan menerima air hidup yang ditawarkan Yesus – ketika saya sepenuhnya mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Air hidup itu sudah memuaskan dahaga jiwa saya. Tetapi, saya pun haus lagi. Maka sebelum berkhotbah, berkali-kali saya menundukkan kepala, menadahkan tangan dan berdoa, “Tuhan, aku haus, puaskan aku lagi”.

Saya juga tidak ingin menyia-nyiakan semua warna kelabu itu. Saya mengingat lagi semua yang terjadi dan saya berdoa supaya semua tidak sia-sia. Ada janji yang saya ucapkan kepada Tuhan.

Dua hari lalu saya dan istri berjalan kaki cukup jauh, lebih dari 3 km, dan sambil berjalan kami banyak membicarakan apa yang kami alami di tahun 2015 ini. Lalu kami bernyanyi (tentunya dengan suara pelan :-) di jalanan)… “Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik, Dia baik, ku yakin Dia s’lalu sertaku, Dia baik bagiku. Lewat badai cobaan, semuanya mendatangkan kebaikan. Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik bagiku.”

Sambil menyanyi saya terharu… betul Tuhan baik. Kekuatan yang Dia berikan untuk kami berjalan dan terus berjalan selalu cukup. Ya, cukup. Dia juga memberikan sukacita, warna-warna cerah, di sepanjang perjalanan itu. Selalu ada bright moments yang mengingatkan bahwa hidup tidak selalu kelabu. Bahkan Dia memberikan banyak hal yang tidak sepantasnya kami terima. Ya, kami tidak ingin melupakan itu.

Kemurahan-Mu, ya Tuhan, sungguh lebih dari hidup. Maka syukur kami persembahkan lagi kepada Tuhan.

Thursday, December 17, 2015

John Maxwell’s 5 Levels of Leadership

Sekedar sharing.

John Maxwell, yang banyak berbicara tentang kepemimpinan Kristen, pernah mengajarkan dengan sederhana 5 tingkatan kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Saya merasa tertolong dengan model sederhana dari Maxwell ini untuk mengevaluasi kepemimpinan saya dan juga mengingatkan saya akan apa yang masih kurang.

Maka sekedar untuk sharing, di bawah ini saya mencoba menjelaskan apa yang dimaksud oleh dia:

1. People follow because they have to
Ini adalah tingkat kepemimpinan yang paling rendah. “Pemimpin” ini ditunjuk menjadi pemimpin. Dia punya bawahan yang mengikuti dia semata-mata karena mereka harus. Maka orang yang berhenti di tingkatan ini hanyalah boss dan bukan pemimpin. Kata kunci untuk tingkatan pertama ini adalah “posisi”.

2. People follow because they want to
Disinilah seseorang mulai menjadi pemimpin. Leadership is influence. Pengaruh itu diberikan bukan melalui posisi tetapi melalui relasi. Dia membangun relasi yang baik dengan orang-orang dalam timnya. Dia disukai, dihargai, diakui sebagai pemimpin, karena pengaruh yang dia berikan. Sebaliknya ketika orang-orang di bawah dia merasa disukai, dihargai, dipercaya, diperhatikan, maka mereka mulai bekerjasama dengan dia. People go along with leaders they get along with. Maka mereka tidak lagi sekedar mengikuti perintah tetapi mereka mengikuti si pemimpin karena menginginkannya. Kata kunci untuk tingkatan kedua ini adalah “relasi”.

3. People follow because of what you have done for the organization
Pemimpin yang baik makes things happen. Dia harus punya prestasi atau “buah” yang jelas terlihat dan itu membuat orang percaya bahwa dia mampu. Untuk sampai ke tingkatan ini, seseorang harus punya kemampuan kerja yang baik dan juga mampu untuk mengatur dan mengarahkan seluruh organisasi. Dia harus memiliki pemikiran yang baik dan juga etika kerja yang baik. Dia bukan saja produktif secara pribadi tapi mampu mengarahkan tim kerja menjadi produktif.  Kata kunci untuk tingkatan ketiga ini adalah “prestasi”.

4. People follow because of what you have done for them personally
Pada tingkatan ini, seorang pemimpin menginvestasikan uang, energi, waktu, dan pemikirannya untuk mengembangkan orang lain menjadi pemimpin. Bagaimana caranya? Dia hanya 20% berfokus pada apa yang dihasilkan oleh tim kerjanya sementara 80% fokusnya adalah pada pengembangan potensi mereka. Kata kunci untuk tingkatan keempat ini adalah “coaching”.

5. People follow because of who you are and what you represent
Mereka yang berada di tingkatan ini sudah memimpin sangat baik dan sangat lama sehingga terbentuk budaya kepemimpinan yang baik di dalam organisasi yang dipimpinnya. Pengaruh dirinya bahkan melampaui organisasi yang dipimpinnya. Sangat jarang pemimpin yang mencapai tingkatan kelima ini. Biasanya seseorang mencapai tingkatan ini hanya di ujung masa karirnya.  Kata kunci untuk tingkatan kelima ini adalah “legacy”.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah tingkatan-tingkatan kepemimpinan ini harus ditempuh berurutan. Tidak ada yang bisa dilompati. Kita tidak bisa sampai ke tingkatan ketiga sebelum melalui tingkatan kedua, demikian seterusnya.

Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik (good leader), menurut saya, paling tidak kita harus sampai di tingkatan ketiga.

Jika kita menempati posisi pemimpin maka tingkatan pertama pasti sudah dicapai. Pertanyaan  berikutnya adalah bagaimana relasi kita dengan orang-orang di bawah kita? Apakah ada relasi, yang bukan sekedar baik – hangat, akrab, saling percaya, tetapi memberikan pengaruh yang baik? Apakah mereka belajar banyak, termotivasi, berani bermimpi lebih besar, karena kita? Pikirkan jawaban pertanyaan ini dari sisi mereka. Kalau jawabannya “ya”, maka tingkatan kedua dicapai.

Lalu pertanyaan berikut adalah bagaimana hasil kerja kita? Ini bukan sekedar masalah apakah kita rajin, bekerja keras, berkorban, atau tidak. Tetapi, apakah orang-orang melihat kita mampu - berhasil dalam tugas pribadi dan dalam memimpin dan mengarahkan organisasi? Apakah orang-orang di bawah kita percaya dengan penilaian dan keputusan kita karena mereka melihat hasil kerja kita selama ini? Kalau jawabannya “ya”, maka tingkatan ketiga dicapai.

Tetapi, untuk menjadi pemimpin yang sungguh baik (great leader), saya kira minimal kita harus sampai di tingkatan keempat. Bukan saja kita mendorong orang untuk maju, tetapi kita menginvestasikan waktu, tenaga dan uang untuk melatih orang di bawah kita menjadi pemimpin. Ini tidak mungkin kita lakukan dengan baik kalau kita tidak mencapai tingkatan kedua dan ketiga dengan baik juga. Jika kita mencapai tingkatan ini, orang-orang di bawah kita akan mengaku bahwa mereka bisa menjadi pemimpin dan mampu mengembangkan potensi karena kita. This is tough!

Saya pikir model sederhana di atas akan sangat menolong jika kita jujur menilai diri kita. Kita akan melihat pemimpin seperti apa kita dan apa yang harus kita perbaiki.

So… where are you now? What is still lacking?