Wednesday, August 06, 2008

Yang Penting Tuhan Mau - 2

Semakin lama saya melayani, semakin banyak saya melihat orang melayani bukan di tempatnya. Hal ini menjadi semakin sulit dicegah karena banyak orang Kristen yang ‘mempraktekkan kasih’ secara salah.

Misalnya ada orang yang jelas tidak bisa menyanyi, tetapi tetap mau ‘mempersembahkan’ pujian secara solo. Padahal pada waktu dia menyanyi, semua orang yang punya sedikit saja sense of music akan gelisah sambil mendengarkan nyanyiannya. Tetapi di dalam ‘kasih’, bagaimana kita bisa menolak orang yang mau melayani? Bagaimana kita bisa mematahkan semangat orang yang ingin melayani? Maka bukannya mencegah dia menyanyi solo kita malah memuji dia, kalau tidak mau berbohong, maka yang kita puji bukan suaranya tetapi ‘semangatnya’, “wah hebat sekali lho tetap semangat mau nyanyi buat Tuhan”. Semua dilakukan atas nama ‘kasih’.

Saya percaya Tuhan bisa memakai suara sejelek apapun untuk menjadi berkat. Saya pernah mendengar cerita tentang seorang anak yang suaranya sama sekali tidak bagus, tetapi dalam keadaan dia sakit parah dia ingin menyanyi menyatakan imannya kepada Tuhan, dan nyanyiannya itu menjadi berkat luar biasa bagi semua orang yang mendengarnya.

Tapi ada 2 hal yang harus menjadi pertimbangan kita disini: Pertama, kenyataan bahwa Tuhan bisa memakai apa saja termasuk yang paling buruk, tidak berarti kita boleh memberikan yang buruk. Kita tetap harus berusaha memberikan yang terbaik. Kedua, dalam cerita tentang anak yang sakit parah tadi, atau cerita-cerita serupa dengan itu, ada konteks yang melatarbelakangi nyanyian mereka. Maka yang didengar oleh orang bukanlah suara mereka tetapi kesaksian mereka. Nyanyian anak itu menjadi berkat karena orang mengagumi imannya di tengah pergumulannya. Suaranya yang false tidak menghalangi orang memuji Tuhan karena yang menjadi media penyampai berita sebenarnya bukan suaranya tetapi kesaksiannya. Maka kita tidak bisa memakai kisah-kisah seperti itu untuk membenarkan diri “biarpun jelek, tetapi Tuhan bisa pakai”.

Saya harap contoh di atas tidak membuat anda salah mengerti. Saya percaya dengan kalimat "biarpun jelek, tetapi Tuhan bisa pakai" (kalau tidak bagaimana Tuhan pakai saya!). Tapi jangan jadikan itu alasan untuk tetap memberikan yang jelek kepada Tuhan.

Banyak orang tidak sadar dimana tempatnya dalam tubuh Kristus. Komunitas Kristen, tubuh Kristus, gereja lokal, dimana kita berada, akan menolong kita mengerti dimana seharusnya tempat kita. Jangan sampai komunitas Kristen malah membantu mengaburkan tempat kita atas alasan kasih yang palsu. Itu bukan yang Tuhan mau!





Wednesday, July 23, 2008

Sense of Belonging


Di dalam salah satu buku yang sedang saya baca (Komunitas Alternatif: Hidup Bersama Menebarkan sense of belonging, penerjemah buku tersebut memberikan catatan kaki: “Biasanya sense of belonging diterjemahkan secara keliru dengan rasa memiliki. Sebenarnya, sense of belonging adalah rasa dimiliki, artinya seseorang merasa dirinya diterima dalam dan diakui sebagai bagian dari suatu komunitas hidup”.
Kasih, Penerbit Kanisius), ketika sampai pada kalimat

Secara terjemahan, memang itulah terjemahan yang tepat! Hal yang saya tidak mengerti adalah mengapa selama ini setiap kali melihat kata sense of belonging, yang langsung terpikir oleh kita adalah rasa memiliki? Darimana ide itu muncul?

Saya sangat tertarik dengan catatan kaki dari penerjemah tersebut karena terjemahan yang berbeda itu akan merubah cara berpikir kita.

Seringkali ketika membicarakan tentang komunitas atau persekutuan, kita menyebut istilah rasa memiliki. Maksudnya adalah perasaan mengasihi persekutuan tersebut, perasaan bahwa dia punya tanggung jawab atas persekutuan tersebut, perasaan bahwa dia tidak rela persekutuan itu hancur. Karena apa? Karena dia punya rasa memiliki. Maka kita ingin supaya orang-orang dalam persekutuan punya rasa memiliki persekutuan tersebut supaya mereka mau berjuang untuk persekutuan itu. Bagaimana caranya? Entahlah. Mungkin kita melibatkan mereka dalam berbagai aktifitas (supaya mereka merasakan berjuang untuk persekutuan itu), mungkin melibatkan mereka dalam acara kebersamaan (supaya mereka akrab dan senang dengan persekutuan itu) atau mungkin mengajak mereka berdoa untuk persekutuan itu (supaya persekutuan itu lekat dalam hati mereka). Pada intinya kita berjuang supaya mereka menjadikan persekutuan itu sebagai milik mereka.

Tetapi ketika kita mengubah terjemahan sense of belonging menjadi rasa dimiliki. Seluruh arti menjadi berbeda. Kita bukan berjuang supaya setiap orang dalam persekutuan merasa memiliki persekutuan, tetapi supaya mereka merasa dimiliki oleh persekutuan itu. Mereka merasa dianggap bagian dari persekutuan itu, merasa dikasihi, merasa dijadikan anggota keluarga.

Mungkin kegiatan yang kita lakukan tetap sama, tetapi seluruh arah akan menjadi berbeda.

Monday, July 21, 2008

Yang Penting Tuhan Mau - 1


Dari sejak remaja, saya sering mendengar orang berkata “pelayanan yang penting mau bukan
mampu”. Kalimat ini seringkali diucapkan pada waktu mendorong (kadang memaksa) seseorang untuk ambil bagian dalam pelayanan. Maksudnya jelas, asalkan kita mau kita pasti bisa dipakai oleh Tuhan. Kemampuan itu dari Tuhan maka yang penting, sekali lagi, adalah kita mau.

Setiap kita memang tidak ada yang mampu mengerjakan pekerjaan Tuhan. Sesungguhnya terlalu agung, terlalu besar, terlalu impossible bagi siapapun untuk membantu pekerjaan Tuhan! Itu yang pernah diungkapkan Paulus di dalam surat 2 Korintus. Setelah dia menyatakan peran yang sangat mulia dari seorang pelayan Tuhan yaitu “menyebarkan bau yang harum dari Kristus” (2 Kor 2:15), dia bertanya “Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?” (2 Kor 2:16). Dan jawabannya “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah” (2 Kor 3:5).

Maka kita mungkin bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang terlihat seperti pekerjaan Tuhan. Kita bisa mengorganisir suatu acara, membuat desain untuk publikasi, memasak, memainkan musik atau bahkan berkhotbah, tetapi semua itu mungkin bukan pekerjaan Tuhan. Tidak ada dari kita yang mampu menyebarkan bau yang harum dari Kritus, itu adalah pekerjaan Allah. Dengan kekuatan sendiri, kita hanya mampu melakukan christian work dan bukan pekerjaan Tuhan.

Tetapi apakah betul “pelayanan yang penting mau bukan mampu?” Saya kira juga tidak terlalu tepat. Bukankah Tuhan memberikan tempat bagi masing-masing anggota tubuh? Bukankah Tuhan memberikan talenta yang berbeda bagi pelayan-pelayanNya?

Dalam konteks praktis, apakah kita perlu membujuk orang yang suaranya agak ‘lari’ untuk ikut paduan suara (karena paduan suara kekurangan anggota) dengan alasan “pelayanan yang penting mau”? Saya kira tidak. Atau apakah karena kita kekurangan guru sekolah minggu, maka siapa saja kita bujuk untuk menjadi guru sekolah mingu dengan alasan “pelayanan yang penting mau”? Lebih parah lagi, apakah kita harus membiarkan seseorang menempati jabatan tertentu dalam pelayanan hanya karena “dia mau”?

Banyak kekacauan dalam gereja karena banyak orang Kristen yang ingin mengambil tempat yang bukan bagiannya. Dan juga ada banyak kelemahan dalam pelayanan karena banyak orang yang ambil bagian di dalamnya hanya karena merasa bersalah jika dia tidak mau. Konsep bukankah “yang penting mau” membuat banyak orang merasa keterlaluan jika tidak mau. Padahal tiap anggota tubuh harus berada pada tempatnya, bukan sekedar mau berada di mana.

Mungkin lebih baik kita katakan “pelayanan yang penting adalah Tuhan mau”. Kalau pelayanan bukan kesanggupan kita tetapi Tuhan, maka biar Tuhan yang menunjukkan apa yang harus kita lakukan. Talenta yang Tuhan berikan kepada kita bisa menjadi petunjuk bagi kita. Situasi pelayanan di hadapan kita juga bisa menjadi petunjuk bagi kita. Pada intinya, masing-masing kita harus dengan hati yang jujur bertanya kepada Tuhan, apa yang Tuhan mau kita lakukan. Kalau Tuhan mau, walaupun kita tidak mampu (dan memang kita tidak akan mampu), Tuhan akan pakai kita. Sebaliknya, sekalipun kita mau, kalau Tuhan tidak mau (bukan tempatnya kita), kita hanya akan mengerjakan christian work dan bukan pekerjaan Tuhan.

Tuesday, July 15, 2008

Pengalaman Bersama Tuhan


Saya mengamati bahwa sebagian besar gereja-gereja dari kalangan Injili di Indonesia, entah
mengapa, menganggap tabu atau paling tidak menghindari pembicaraan mengenai perasaan-perasaan bersama dengan Tuhan atau pengalaman-pengalaman rohani.

Begitu ada orang yang bicara tentang perasaan-perasaan atau pengalaman seperti demikian, banyak orang yang langsung merasa ‘anti’ atau paling tidak waspada. Misalnya jika ada orang berkata:

“Saya merasa Tuhan menyentuh saya”
“Tiba-tiba saya merasa sangat damai dan ada perasaan hangat di dalam hati”
“Saya melihat seperti ada cahaya dan tiba-tiba saya menangis”
“Saya seperti mendengar Tuhan berkata…”

Kalimat-kalimat itu langsung membuat ‘radar teologi’ kita naik ke atas dan kita siap untuk membom jatuh ‘pesawat musuh’. Mungkin radar anda sekarang juga mulai naik ke atas dan anda siap untuk membom saya?

Saya sangat mengerti ‘bahaya’nya kalimat-kalimat seperti di atas, dan saya sangat tahu penyimpangan-penyimpangan yang selama ini dilakukan oleh orang-orang dengan kalimat-kalimat seperti di atas. Tetapi kalau kemudian kita tabu dengan hal tersebut, kita anti dengan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan seperti itu, saya kira kita "membuang air dalam baskom sekaligus dengan bayi di dalamnya"!

Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus adalah pusat dari kehidupan rohani kita. Dan kalau iman kita adalah iman kepada Tuhan yang hidup, maka kita pasti mengalami perasaan dan pengalaman bersama dengan Dia. Kita tidak berhubungan dengan Tuhan yang hanya jauh di sana, tetapi Tuhan yang juga dekat dengan kita. Tiap hari Dia bersama kita, dan tiap saat ada yang Dia lakukan terhadap kehidupan kita. Tidak mungkin tidak ada perasaan dan pengalaman bersama dengan Dia.

Di sisi lain, iblis memang bisa menyamar menjadi malaikat terang. Artinya iblis bisa meniru berbagai hal yang dikerjakan oleh Allah sedemikian rupa sehingga orang mengira itu adalah pekerjaan Allah. Maka Iblis bisa meniru dengan memberikan perasaan dan pengalaman yang mirip seperti yang bisa diberikan Allah kepada kita. Dia bisa memberikan perasaan seperti damai, perasaan seperti adanya kehadiran Tuhan, bahkan pengalaman-pengalaman ‘rohani’ yang sangat personal.

Tetapi karena iblis bisa meniru, apakah kalau begitu kita boleh anti dengan perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang memang diberikan oleh Tuhan? Bukankah Tuhan memang berbicara kepada kita? Bukankah Tuhan memang menjamah hidup kita? Bukankah kehadiranNya memang seringkali bisa dirasakan dengan jelas oleh anak-anakNya? Lalu mengapa kita anti dengan semua itu? Bukankah seharusnya kita bahkan mengingini pengalaman bersama dengan Tuhan? Itu yang diingini oleh Musa (melihat kemuliaan Tuhan), itu juga yang Elisa doakan supaya bujangnya alami (melihat ada tentara malaikat Tuhan), itu juga yang diberikan Yesus kepada para rasul (memperlihatkan kemuliaanNya dengan berubah rupa bersama dengan kehadiran Musa dan Elia), dan itu juga yang dialami oleh orang-orang percaya di sepanjang Alkitab!

Saya tahu sebagian orang akan berkata “kami tidak anti, tetapi kami selalu harus menguji berdasarkan Firman”. Saya 100% setuju dengan kalimat itu. Tetapi mari kita jujur, apakah selama ini kita memang ‘menguji’ atau sebetulnya cenderung takut dan akhirnya tidak peduli apakah kita mengalami Tuhan atau tidak?

Mengapa kita hanya ‘belajar’ tentang Tuhan dan ‘bekerja’ untuk Dia tetapi kita miskin ‘pengalaman’ bersama dengan Dia?

Thursday, June 19, 2008

Kepedulian Kepada Bumi


Kepedulian akan lingkungan hidup sangat ramai dibicarakan di Indonesia akhir-akhir ini. Isu ini dibicarakan baik oleh guru-guru di sekolah, kolom-kolom berita atau opini dari berbagai orang dalam majalah dan surat kabar, bahkan melalui acara-acara besar seperti Green Festival yang baru diadakan di Jakarta 18-20 April 2008 yang lalu. Seingat saya kepedulian ini baru menjadi sangat ‘panas’ di Indonesia tidak lebih dari 5 tahun yang lalu.

Di dunia, kepedulian masyakarat dunia terhadap lingkungan sudah makin besar sejak lebih dari 40 tahun yang lalu (Tahun 1970 sudah diadakan demonstrasi untuk pelestarian udara, air bersih dan alam di Amerika Serikat yang diikuti oleh jutaan orang, termasuk para siswa dan mahasiswa dari lebih dari 1.500 universitas dan 10.000 sekolah. Hari itu sampai sekarang diperingati sebagai hari bumi). Maka, sekali lagi, Indonesia sebenarnya ketinggalan!

Kalau kita melihat lebih jauh lagi ke belakang, sebetulnya kepedulian terhadap lingkungan hidup selalu ada dalam masyakat di seluruh dunia, paling tidak pada beberapa orang. Tetapi kepedulian itu baru mendapatkan momentum ledakannya beberapa puluh tahun terakhir ini.

Ada dua hal yang ingin saya soroti:

Pertama, ada yang tahu sebetulnya sejak kapan kepedulian terhadap lingkungan hidup ini ada? Sejak penciptaan bumi! Siapa yang peduli? Allah sendiri! Allah yang menciptakan bumi ini dan menjadikannya tempat tinggal manusia, maka Alkitab menegaskan bahwa Allah sangat peduli kepada lingkungan. Tetapi mengapa kepedulian itu melemah dan baru bangkit lagi belakangan ini? Tentu penyebabnya banyak sekali dan sangat kompleks. Tetapi 1 hal saja, orang Kristen yang punya Alkitab yang bercerita tentang Allah yang peduli dengan bumi, ternyata tidak belajar dan mengerti Alkitab dengan baik. Itu sebabnya kepedulian itu menghilang.

Kedua, ketika dunia sekitar sudah ramai membicarakan isu lingkungan hidup, apa yang sudah dilakukan oleh gereja? Ternyata, maaf kalau saya salah, orang Kristen lebih tertinggal lagi. Alkitab sangat mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Allah menciptakan bumi, manusia merusaknya di dalam dosa dan melalui perbuatan dosa, Allah lagi yang menjanjikan akan memperbaruinya dalam bentuk langit dan bumi yang baru. Tetapi mengapa orang Kristen tertinggal dalam kepedulian terhadap lingkungan hidup? Sekali lagi: orang Kristen tidak belajar dan mengerti Alkitab dengan baik.

Mungkinkah masalahnya bahkan lebih serius lagi? Bukan sekedar masalah tidak belajar dan mengerti Alkitab, tetapi tidak punya hati yang lembut untuk mencintai apa yang Tuhan cintai? It might be more serious than we think.

Friday, June 13, 2008

Final Notes (Reflection from Trip to Israel - 6)

Perjalanan ke Israel yang banyak diadakan saat ini adalah campuran antara ziarah, wisata dan belanja. Tidak semua tempat yang kami kunjungi adalah tempat ziarah. Ada beberapa tempat yang sangat kecil atau malah sama sekali tidak ada kepentingannya dengan ziarah. Selain itu, tujuan para peserta pun sering bergeser di sana, bukan lagi ziarah tetapi wisata atau belanja.

Satu pemandangan yang sangat saya ingat adalah di stasiun terakhir via dolorosa (versi gereja Roma Katolik). Kami dengan terburu-buru berbaris melihat dan menyentuh batu yang dipercaya sebagai tempat meletakkan salib Yesus. Tetapi di depan tempat itu, ada seorang wanita yang duduk bersimpuh sambil berdiam diri memandangi tempat itu. Ketika saya melihat dia, saya 'iri' ingin bisa seperti dia. Andai saja saya bisa, saya ingin melakukan itu, merenungkan tentang salib Yesus. Tetapi tidak mungkin, kami harus cepat lagi pergi ke tempat tujuan yang lain.

Memang banyak tempat yang bisa dikunjungi di sana. Kalau kami berlama-lama di setiap tempat, maka pasti banyak tempat yang terlewatkan atau waktu tour menjadi sangat panjang. Tetapi sekali lagi, kalau tujuannya adalah ziarah, ada tempat-tempat yang memang sangat kecil atau bahkan tidak ada kepentingannya. Kalau saja tempat-tempat itu dilewatkan, kami akan punya lebih banyak waktu di tempat-tempat yang penting. Tetapi mungkin banyak orang akan merasa "sayang kalau tidak melihat tempat ini atau itu, karena sudah di Israel". Apa boleh buat...

Demikian pula sikap peserta pada waktu mengunjungi suatu tempat. Ada kalanya kami tidak sungguh bersikap seperti pe-ziarah. Pada waktu di via dolorosa, saya berusaha banyak berdiam dan berdoa sambil berjalan sambil kadang-kadang mengambil foto. Saya terganggu melihat beberapa orang yang masih banyak tertawa-tawa, berbelanja atau berfoto dengan gaya memikul salib! Sementara itu di tengah jalan kami bertemu dengan rombongan lain. Mereka melakukan prosesi memikul salib secara bergantian sambil menjalani via dolorosa, dan mereka lakukan sambil mengucapkan doa-doa. Saya kira mereka lebih punya sikap pe-ziarah.

Saya pikir sebelum pergi ke Israel, anggota rombongan harus dipersiapkan dengan lebih baik. Mereka harus mengerti apa yang akan mereka lihat di sana supaya mereka mampu mengaitkannya dengan apa yang diceritakan dalam Alkitab dan bukan sekedar melihat atau berfoto. Rencana perjalanan pun harus diatur dengan lebih baik, memungkinkan peserta untuk lebih banyak bersama dengan Tuhan. Dan pada waktu di sana, bimbingan rohani sangat diperlukan untuk menolong mereka membuka hati kepada Tuhan. Kadang-kadang di sana saya merasa kalau saja saya sudah pernah ke sana sebelumnya, saya bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik. Tetapi dengan segala kekurangan yang ada, Tuhan sudah bekerja. Puji Tuhan!

Thursday, June 12, 2008

God's Chosen People (Reflection from Trip to Israel - 5)

Kitab Kejadian pasal 1-11 mengisahkan awal segala sesuatu di dalam dunia ini. Dimulai dengan indahnya Tuhan menjadikan dunia ini, dari tidak ada dibuat menjadi ada, dari tidak teratur menjadi teratur, dari kosong menjadi penuh keindahan. Tuhan menciptakan manusia dengan luar biasa dan dikaruniakanNya segala sesuatu yang perlu kepada manusia. Tetapi kisah menjadi kelabu ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Adam dan Hawa berdosa, Kain membunuh Habel, Lamekh menjadi sangat jahat, dan akhirnya seluruh dunia dipenuhi manusia yang “kejahatannya besar di bumi dan segala kecenderungan hatinya membuahkan kejahatan semata” (Kej 6:5). Maka Tuhan menurunkan air bah dan menyelamatkan 1 keluarga, Nuh dan keluarganya, untuk memulai umat manusia yang baru. Tetapi keturunan Nuh pun berdosa lagi dan akhirnya memberontak di menara Babel (Kej 11). Tidak ada harapan bagi manusia, tidak ada jalan manusia bisa selamat. Maka Tuhan campur tangan! Dia memilih 1 orang, Abraham, untuk menjadi umatNya. Dari Abraham lahir Ishak, dari Ishak lahir Yakub, dan dari Yakub lahir bangsa Israel.

Bangsa Israel adalah bangsa yang mengalami sentuhan dengan Tuhan secara luar biasa. Tuhan berkarya secara luar biasa dalam kehidupan mereka. Dia memberikan FirmanNya melalui mereka. Bahkan Yesus lahir dari antara mereka. Israel memang pernah menjadi bangsa yang dipilih Tuhan secara khusus untuk menjadi umatNya.

Posisi Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan bukanlah untuk selama-lamanya. Seperti yang dikatakan Paulus: “…Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanMu,” Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar” (Rom 9:6-8). Umat Allah, anak-anak Allah, anak-anak Abraham, bukanlah Israel secara keturunan tetapi anak-anak perjanjian, umat pilihan Allah dari segala bangsa. Konsep ini dijelaskan berulang kali di dalam Alkitab.

Maka sangat salah kalau ada orang yang ke Israel karena ingin seperti mereka, ingin diberkati seperti orang Israel yang adalah umat pilihan Allah. Karena siapakah umat Allah? Kita yang percaya kepada Yesus. Bahkan bisa kita katakan, orang Israel yang tidak percaya kepada Yesus, bukanlah umat Allah! Juga salah kalau kita ke sana karena ingin diberkati dengan menyentuh tanah Israel yang disebut sebagai holy land. Israel boleh disebut holy land dalam arti tanah di mana kisah-kisah dalam Alkitab terjadi. Tapi dalam arti yang sesungguhnya, Israel hanyalah used to be holy land. Dimana holy land? Holy land adalah tempat yang dipilih Allah untuk menyatakan kehadiranNya, dan itu di dalam hati orang percaya.

Iman orang Israel adalah iman yang ‘terputus’ di tengah jalan. Semua ritual agama yang diberikan Tuhan kepada mereka sebenarnya menunjuk kepada Yesus. Seperti layang-layang, ujungnya seharusnya bukanlah di tali tapi di tangan si pemain. Tetapi iman orang Israel seperti layang-layang putus, ujungnya hanyalah di tali, yang mereka perhatikan adalah ritualnya, tetapi tidak sampai kepada Yesus.

Maka saya sendiri tidak bisa menghayati kesedihan mereka di tembok ratapan atau di kubur raja Daud. Memang ada kesinambungan antara iman mereka dan saya, tetapi tidak sama. Kesedihan mereka salah alamat. Yang membuat saya sedih bukanlah karena sekarang tidak ada bait Allah atau karena Israel tidak mengalami masa keemasan seperti zaman Daud, apalagi karena Mesias belum datang! Yang membuat saya sedih adalah mengapa mereka “yang telah diangkat menjadi anak, telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji, keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia” (Rom 9:4-5), dengan setia masih berpegang kepada semua ritual ibadah tetapi tidak melihat Yesus di balik semuanya.