Friday, June 13, 2008

Final Notes (Reflection from Trip to Israel - 6)

Perjalanan ke Israel yang banyak diadakan saat ini adalah campuran antara ziarah, wisata dan belanja. Tidak semua tempat yang kami kunjungi adalah tempat ziarah. Ada beberapa tempat yang sangat kecil atau malah sama sekali tidak ada kepentingannya dengan ziarah. Selain itu, tujuan para peserta pun sering bergeser di sana, bukan lagi ziarah tetapi wisata atau belanja.

Satu pemandangan yang sangat saya ingat adalah di stasiun terakhir via dolorosa (versi gereja Roma Katolik). Kami dengan terburu-buru berbaris melihat dan menyentuh batu yang dipercaya sebagai tempat meletakkan salib Yesus. Tetapi di depan tempat itu, ada seorang wanita yang duduk bersimpuh sambil berdiam diri memandangi tempat itu. Ketika saya melihat dia, saya 'iri' ingin bisa seperti dia. Andai saja saya bisa, saya ingin melakukan itu, merenungkan tentang salib Yesus. Tetapi tidak mungkin, kami harus cepat lagi pergi ke tempat tujuan yang lain.

Memang banyak tempat yang bisa dikunjungi di sana. Kalau kami berlama-lama di setiap tempat, maka pasti banyak tempat yang terlewatkan atau waktu tour menjadi sangat panjang. Tetapi sekali lagi, kalau tujuannya adalah ziarah, ada tempat-tempat yang memang sangat kecil atau bahkan tidak ada kepentingannya. Kalau saja tempat-tempat itu dilewatkan, kami akan punya lebih banyak waktu di tempat-tempat yang penting. Tetapi mungkin banyak orang akan merasa "sayang kalau tidak melihat tempat ini atau itu, karena sudah di Israel". Apa boleh buat...

Demikian pula sikap peserta pada waktu mengunjungi suatu tempat. Ada kalanya kami tidak sungguh bersikap seperti pe-ziarah. Pada waktu di via dolorosa, saya berusaha banyak berdiam dan berdoa sambil berjalan sambil kadang-kadang mengambil foto. Saya terganggu melihat beberapa orang yang masih banyak tertawa-tawa, berbelanja atau berfoto dengan gaya memikul salib! Sementara itu di tengah jalan kami bertemu dengan rombongan lain. Mereka melakukan prosesi memikul salib secara bergantian sambil menjalani via dolorosa, dan mereka lakukan sambil mengucapkan doa-doa. Saya kira mereka lebih punya sikap pe-ziarah.

Saya pikir sebelum pergi ke Israel, anggota rombongan harus dipersiapkan dengan lebih baik. Mereka harus mengerti apa yang akan mereka lihat di sana supaya mereka mampu mengaitkannya dengan apa yang diceritakan dalam Alkitab dan bukan sekedar melihat atau berfoto. Rencana perjalanan pun harus diatur dengan lebih baik, memungkinkan peserta untuk lebih banyak bersama dengan Tuhan. Dan pada waktu di sana, bimbingan rohani sangat diperlukan untuk menolong mereka membuka hati kepada Tuhan. Kadang-kadang di sana saya merasa kalau saja saya sudah pernah ke sana sebelumnya, saya bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik. Tetapi dengan segala kekurangan yang ada, Tuhan sudah bekerja. Puji Tuhan!