Thursday, May 30, 2013

Mengulang Khotbah

Beberapa jemaat memperhatikan ketika pengkhotbah menyampaikan khotbah yang pernah mereka dengar sebelumnya. Dan berbagai komentar pun bermunculan:
 “Perasaan udah pernah dengar khotbah yang ini!”
“Lho, kok khotbahnya sama seperti yang dulu di gereja itu?”
“Diulang ya khotbahnya?”

Beberapa jemaat berpendapat bahwa pengkhotbah seharusnya tidak mengulang khotbahnya. Seakan-akan itu haram. Kurang persiapan. Tidak orisinil. Hanya comot naskah khotbah. Kesannya gampang. Beberapa pengkhotbah juga merasa gengsi mengulang khotbahnya. Sangat bangga rasanya bisa berkata “saya tidak pernah mengulang khotbah saya!” (*dengan muka bangga*). Rasanya pandai.

Saya tidak setuju! Saya tidak melihat alasan mengapa mengulang khotbah itu tidak baik.

Pertama, sebuah khotbah adalah usaha menjelaskan sebagian Firman Tuhan. Pikiran kita sebagai manusia sangat terbatas. Kretifitas kita terbatas, apalagi ketika usia semakin tua. Menggali Firman Tuhan, merenungkannya, dan kemudian menyusunnya menjadi suatu khotbah adalah sebuah seni. Sangat sulit menuntut si pengkhotbah untuk mengkhotbahkan bagian Alkitab yang sama dengan cara yang terus berbeda-beda. Maka alternatif lainnya adalah bagian Alkitab yang pernah dikhotbahkan tidak boleh dikhotbahkan lagi oleh dia. Tapi mengapa si pengkhotbah tidak boleh menjelaskan bagian Firman Tuhan itu dengan cara yang sama kepada pendengar lain? Mengapa khotbah itu hanya boleh eksklusif didengar oleh jemaat di gereja itu tanggal itu?

Kedua, sebuah khotbah yang baik memerlukan waktu persiapan yang panjang. Perlu usaha yang sangat besar untuk membaca, menggali, dan merenungkan bagian Firman Tuhan yang akan dikhotbahkan. Setelah si pengkhotbah melakukannya, mengapa dia tidak boleh mengkhotbahkannya lebih dari 1X?

Ketiga, berita yang baik yang pernah didengar oleh jemaat di gereja A, sayang sekali jika tidak boleh didengar di gereja B hanya karena “tidak mau mengulang khotbah”.

Saya sendiri sering mengulang khotbah. Tapi saya tidak pernah mengulangnya sama persis. Sederhananya, persiapan khotbah itu ada bagian penggaliannya, ada bagian merenungkan signifikansinya bagi jemaat, dan ada bagian menyusunnya menjadi presentasi khotbah. Saya mungkin tidak mengulang mempersiapkan bagian penggaliannya, tapi saya selalu memikirkan lagi apakah signifikansi/berita yang dulu pernah saya pikir untuk gereja A juga cocok dengan gereja B ini. Dan kadang saya mengubah susunannya atau pengkalimatannya. Maka walaupun diulang, khotbah itu selalu fresh. Karena khotbah bukan mengajar – menyampaikan materi, tapi khotbah itu memberitakan – dengan hati dan kesungguhan. Dan itu tidak mungkin dilakukan dengan hanya mencomot naskah khotbah lama. Khotbah lama itu perlu “dipanaskan” lagi sebelum disajikan.

Menghibur bagi saya ketika menemukan bahkan Jonathan Edwards, pengkhotbah dan teolog besar abad ke-18 itu, juga sering mengulang khotbahnya. Kadang dia mengulang persis. Kadang dia menggabungkan beberapa naskah khotbah menjadi naskah khotbah yang baru.

Sebetulnya masalahnya adalah banyak jemaat yang pindah-pindah gereja atau “mengejar” pengkhotbah. Kadang mungkin ada pengkhotbah yang lupa bahwa dia pernah mengkhotbahkan naskah itu di gereja yang sama. Untuk menghindari hal itu, saya sendiri punya catatan lengkap tentang kapan, dimana, dan naskah khotbah mana yang saya khotbahkan. Tapi bagi jemaat yang pindah-pindah gereja, tidak terhindari dia mungkin akan mendengar khotbah yang sama.

Tetapi kalaupun itu terjadi, kita perlu ingat bahwa mendengar khotbah bukanlah mendengar seminar atau bahan kuliah. Mendengar khotbah adalah momen dimana kita berhadapan dengan kebenaran. Pada waktu mendengar khotbah, kita bukan sekedar berhadapan dengan naskah khotbah dan si pengkhotbah, tetapi dengan Tuhan yang Firman-Nya sedang diuraikan dan diberitakan. Maka khotbah yang sama persis pun bisa dipakai Tuhan bicara lagi kepada kita. Apalagi kita itu pelupa. Ketika mendengar khotbah yang sama dengan yang pernah kita dengar lima tahun lalu, mungkin sedikit pun kita tidak ingat. Lalu mengapa kita tidak boleh diingatkan lagi akan berita itu?

Tuesday, May 21, 2013

M.Th – de jure dan D.Th – hesito

Walaupun berita kelulusan sudah saya terima sejak awal Desember 2012 – dan saya sudah M.Th de facto sejak itu, tapi saya baru diwisuda tiga hari yang lalu – dan baru menjadi M.Th de jure. Upacara wisuda sebetulnya sangat biasa. Dibilang senang, ya senang juga. Tapi itu hanya upacara. Tidak hadir pun, kenyataannya saya tetap sudah lulus.

Yang membuat wisuda menjadi berkesan justru adalah situasi ketidakpastian mengenai rencana studi D.Th ke depan. Saya pernah menulis mengenai kebingungan apakah harus mengambil D.Th atau tidak di sini. Saya tidak menulis tentang hasil akhir pergumulan itu, tapi akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar dan melihat bagaimana hasilnya. Ternyata hasilnya adalah saya diterima sebagai mahasiswa program D.Th di TTC. Semuanya sepertinya lancar. Tiba-tiba saya mendapat berita bahwa student pass saya ditolak. Banyak kemungkinan alasan di balik penolakan itu. Apapun itu, kenyataannya adalah saya tidak diberikan izin untuk studi di Singapore.

Dulu saya tidak punya ambisi untuk studi D.Th/Ph.D. Saya tahu saya bukan scholar-type. Itu sebabnya saya bergumul apakah harus mengambil D.Th atau D.Min saja. Studi adalah persiapan untuk melayani di depan. Dan Tuhan yang tahu pelayanan apa yang akan Dia percayakan, tentunya tahu studi apa yang cocok untuk mempersiapkan saya. Tapi karena waktu itu kesempatan terbuka untuk mengambil D.Th di TTC dan sekian bulan saya mengarahkan hati ke program itu, tanpa sadar muncul ambisi dalam diri. Dan kemungkinan untuk tidak bisa mengambil D.Th membuat saya terkejut – padahal harusnya tidak!

Satu hari sebelum wisuda, saya mampir ke TTC, masuk ke perpustakaan, melihat lorong-lorong penuh buku dan meja-meja perpustakaan, tempat saya berputar-putar dan duduk memeras otak selama bertahun-tahun. Saya bernostalgia dan bertanya apakah Tuhan mengizinkan saya untuk melakukannya lagi? Ataukah tidak ada lagi kesempatan? Pada waktu wisuda, melihat dosen pembimbing saya, saya bertanya bisakah saya belajar lagi di bawah dia dan nanti diwisuda sebagai D.Th? Pada waktu berkeliling Singapore dan bertemu dengan jemaat GKY Singapore, saya bertanya apakah Tuhan akan memberikan saya waktu untuk mengalami semuanya lagi? Maka yes… a bit emotional. Tapi di balik semua itu, saya sadar semua keberatan untuk tidak studi D.Th hanyalah bersifat ambisius.

Sekarang saya sedang dalam proses banding memohon ke pihak imigrasi Singapore dan saya tidak tahu bagaimana nanti hasilnya. Mungkin diterima tapi mungkin juga tidak. Tapi bagi saya peristiwa ini adalah kesempatan untuk saya memurnikan hati lagi. Bahwa saya studi harus bukan untuk ambisi pribadi tapi untuk melayani Tuhan. Dan saya membuka hati lagi bahwa Tuhan yang empunya pelayanan, tahu apa yang terbaik untuk mempersiapkan saya. Maka bisa studi D.Th - berarti memberi yang terbaik untuk Tuhan melaluinya, tidak bisa studi D.Th - berarti memberi terbaik melalui program studi lain atau pelayanan lain.

Saat ini saya hanya mau bersyukur untuk studi M.Th yang sudah lalu dan mempercayakan apa yang ada di depan hanya kepada Tuhan. To God be the glory!


 @TTC's Library




With my supervisor: Dr. Tan Kim Huat... what a privilege!


 With some friends from GKY Sg


Wednesday, April 24, 2013

Pelayanan Bukan Karir

Tulisan ini terutama adalah untuk rekan-rekan hamba Tuhan.

Marva Dawn mengutip surat dari Friedrich von Bodelschwingh untuk seorang anaknya yang baru mulai melayani di gereja (Dortmund) - gereja yang pertama untuknya (John W. Doberstein, ed., Minister’s Prayer Book: An Order of Prayers and Readings (Philadelphia: Fortress, n.d.), 210, dikutip oleh Marva Dawn dalam The Sense of the Call):

Aku meminta kepadamu, jangan melihat Dortmund sebagai batu loncatan, tetapi sebaliknya berkatalah: Di sini aku akan tinggal selama yang Tuhan mau; jika itu kehendak-Nya, sampai aku mati. Lihatlah pada setiap anak, setiap orang yang di sidi, setiap anggota jemaat seperti engkau harus memberi pertanggung jawaban untuk setiap jiwa pada hari Tuhan Yesus. Setiap hari serahkanlah semua jiwa manusia-manusia ini dari tangan terburuk dan terlemah, yaitu tanganmu, kepada tangan terbaik dan terkuat. Maka engkau akan mampu menjalankan pelayananmu bukan hanya dengan hati-hati tapi juga dengan sukacita yang melimpah dan pengharapan penuh sukacita.

Dawn kemudian berkomentar bahwa, instruksi seperti ini (dari akhir abad ke-19) sangat diperlukan hari ini di tengah pendapat bahwa pemimpin gereja harus pindah ke gereja yang lebih besar (dan seringkali dianggap lebih baik). Pemimpin gereja dianggap harus “naik” karirnya. Bisakah kita belajar betapa bernilainya concentrated commitment pada orang-orang yang sekarang ini sedang kita layani?

Saya sangat tertarik dengan tulisan Bodelschwingh di atas. Tidak berarti seorang hamba Tuhan tidak boleh pindah tempat pelayanan. Saya percaya boleh dan kadang harus! Tidak berarti juga seorang hamba Tuhan tidak boleh pindah ke tempat yang lebih besar atau mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Tapi masalahnya adalah ketika kita memandang pelayanan sebagai jenjang karir. Mengapa tidak bertanya kemana yang Tuhan mau, yang sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan, dan setia melayani di situ – selama yang Tuhan mau?

Saya tersentuh dengan kalimat dari John Watson (1850-1907) ketika dia menceritakan tentang seorang pendeta dari masa kecilnya. Dia menggambarkan pendeta itu sebagai seorang yang selalu memikirkan jemaatnya, menjaga mereka, mengunjungi mereka, sampai figurnya di jalan seperti menghubungkan masa lalu dan masa kini, sorga dan bumi, dan membuka harta memori yang suci. Pendeta itu adalah orang yang kepadanya secara instink orang datang dalam sukacita maupun kesedihan, dalam krisis kehidupan. Mereka menyerahkan anggota keluarga yang sekarat kepadanya. Dia menjadi keluarga bagi mereka yang tidak memiliki keluarga dan menjadi sahabat bagi semua jiwa yang lemah. Sepuluh mil dari tempatnya melayani, orang tidak mengenal namanya, tapi bagi jemaatnya tidak ada yang lebih dihormati daripada dia, dan Tuhan sangat tahu itu.

Saya tahu itu konteksnya adalah 150 tahun lalu. Sekali lagi, tidak berarti seorang hamba Tuhan tidak boleh terkenal atau tidak boleh melayani lebih luas, tetapi masalahnya adalah ketika kita mengejar itu.

Kita bisa pindah kemana saja, kapan saja, ke tempat seperti apa saja. Tapi ketika berada di sebuah tempat, kita perlu belajar fully present (kontras dengan “orangnya di situ tapi hatinya dimana”) dan memusatkan komitmen kita untuk jemaat di situ.

Merenungkan kisah di atas menolong kita melawan kecenderungan kita untuk suka pada popularitas, karir, dan “kesuksesan”.

Tuesday, April 09, 2013

Jonathan Edwards: A Guided Tour of His Life and Thought – Stephen J. Nichols

Saya tertarik membaca buku ini sebagai buku biografi. Ternyata biografi Edwards hanya dibahas di
bagian awal dan mengambil tempat tidak sampai 20% saja dari buku ini. Sisanya adalah pembahasan dari beberapa tulisannya dan khotbahnya.

Setelah selesai membaca bagian biografi itu, hampir saja saya tidak meneruskannya karena merasa pembahasan tulisan dan khotbah Edwards akan membosankan. Tapi setelah saya teruskan sedikit, ternyata Stephen J. Nichols berhasil mengerjakan tugasnya dengan baik. Pilihannya atas beberapa tulisan dan khotbah Edwards sangat baik dan cara dia menguraikannya pun menarik.

Edwards adalah seorang tokoh besar. Martin Lloyd Jones mengatakan: “Saya tergoda, mungkin dengan bodoh, untuk membandingkan orang Puritan dengan pegunungan Alpen, Luther dan Calvin dengan pegunungan Himalaya, dan Jonathan Edwards dengan Gunung Everest! Bagiku dia selalu tampak seperti orang yang paling mirip dengan rasul Paulus.”

Tulisan-tulisan Edwards tidak mudah untuk dibaca karena sangat rumit dan ditulis dengan gaya dan konteks abad ke-18. Maka Nichols menulis buku ini sebagai introduksi untuk mengenal Edwards dan khususnya pemikirannya yang berpengaruh besar dalam kekristenan. Sejak tahun 1950 saja, ada kira-kira 3000 buku, disertasi, artikel yang ditulis mengenai Edwards. Nichols memberikan beberapa alasan mengapa Edwards sangat menarik:

Pertama, hidup pribadinya menarik. Dia adalah kakek dari wakil presiden ke-3 Amerika Serikat. Dia diangkat menjadi gembala di gereja paling bergengsi di Amerika pada usia 26, dan ironisnya dipecat 22 tahun kemudian. Dia melayani sebagai misionaris kepada orang Indian dan kemudian menjadi presiden dari Princeton University. Dia juga seorang suami dan ayah yang sangat baik dari 11 orang anak, penuh kasih dan perhatian kepada mereka. Dia juga membimbing separuh dari Amerika karena banyaknya calon gembala yang magang pelayanan di bawah bimbingannya.

Kedua, dia juga adalah “prince of pastors”, khotbahnya dan jiwa penggembalaannya luar biasa.
Ketiga, dia menunjukkan hidup yang sangat berpikir. Dia menyimpan banyak sekali buku catatan dari masa dia kuliah sampai akhir hidupnya. Di sana dia menulis berbagai pemikiran dan ide, kadang hanya beberapa baris kadang beberapa halaman. Dia bisa kembali ke sebuah catatan beberapa puluh tahun kemudian dan menambahkan refleksi baru. Dia mengembangkan sistem tulisan cepat dan referensi silang yang begitu detil dan tersamar sehingga sangat sulit untuk dipecahkan. Dia tidak pernah berhenti berpikir. Sambil menunggang kuda, ketika mendapat ide dia akan duduk dan menulis. Ketika musim dingin dan tidak bisa berhenti, dia menempelkan potongan kain dengan warna tertentu di bajunya untuk mengingatkan dia akan ide tertentu yang sempat muncul. Ketika sampai di tempat tujuan, bajunya bisa sudah penuh dengan potongan kain berwarna warni.

Keempat, Edwards memikirkan dan menulis berbagai topik yang sangat luas. Dia menyelidiki alam dan kegiatan laba-laba terbang, dia menyelidiki Alkitab, mempelajari etika, dan bergumul dengan pertanyaan teologi. Maka hari ini berbagai ahli dari bidang literatur, sejarah, filsafat, teologi, para gembala dan jemaat, semua mempelajari dan membaca Jonathan Edwards.

Kelima, Edwards menarik karena ketaatannya yang sepenuhnya kepada Tuhan. Di dalam diri Edwards kita melihat keseluruhan – hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan – yang diberikan untuk Tuhan.

Banyak orang Kristen tahu sedikit tentang Jonathan Edwards – paling tidak namanya. Tapi kesulitan dan tidak tahu harus mulai dari mana untuk membaca Edwards. Buku ini bukan saja memperkenalkan kehidupan dan karya Edwards, tetapi juga memberikan referensi buku-buku mana yang membahas tentang Edwards.
Good book!

Monday, April 08, 2013

Phebe Bartlet – Kisah Pertobatan

Di dalam buku A Faithful Narrative of the Surprising Work of God in the Conversion of Many Hundred Souls in Northampton, and the Neighboring Towns and Villages of Hampshire in New England yang terbit tahun 1737, Jonathan Edwards mengisahkan tentang pertobatan seorang gadis kecil bernama Phebe Bartlet. Saya terjemahkan bebas:

Phebe lahir pada bulan Maret, tahun 1731. Pada akhir bulan April, atau awal Mei, 1735, dia sangat tergerak karena pembicaraan kakaknya (yang mungkin telah bertobat tidak lama sebelumnya, pada usia sekitar sebelas tahun) dan yang kemudian berbicara kepadanya dengan serius mengenai hal-hal yang agung dari Kekristenan. Waktu itu orang tuanya tidak tahu dan biasanya ketika memberikan nasihat kepada anak-anaknya, mereka tidak khusus bicara kepada Phebe, dengan alasan dia masih sangat muda dan mereka pikir tidak mampu untuk mengerti: tetapi setelah kakaknya bicara kepadanya, mereka mengamati bahwa Phebe mendengar dengan sungguh-sungguh ketika mereka menasihati anak-anak yang lain; dan mereka perhatikan Phebe terus menerus, beberapa kali dalam sehari, mencari tempat tenang untuk berdoa diam-diam…

Pada hari kamis, hari terakhir bulan Juli, sekitar tengah hari, ketika Phebe berada dalam ruang tempat dia biasa berdoa, ibunya mendengar dia bicara dengan keras, sesuatu yang tidak biasa dan tidak pernah didengar ibunya. Dan suaranya seperti orang yang sangat mendesak; tetapi ibunya hanya bisa mendengar beberapa kata ini (dengan gaya seorang anak kecil, tetapi diucapkan dengan kesungguhan, dan dari jiwa yang tertekan): “Berdoa, Tuhan yang terpuji, beri aku keselamatan! Aku berdoa, memohon, ampuni semua dosaku!” Ketika ia selesai berdoa, ia keluar dari ruangan, dan duduk dengan ibunya, dan menangis keras… dia terus menangis dengan sungguh-sungguh selama beberapa waktu, sampai akhirnya tiba-tiba dia berhenti menangis dan mulai tersenyum, dan berkata dengan tersenyum, “Ibu, kerajaan sorga datang kepadaku!”

Ibunya terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba dan dengan ucapan itu; dan tidak tahu harus berbuat apa, maka dia tidak berkata apa-apa. Dan Phebe berkata lagi, “Ada lagi yang datang padaku, dan ada lagi, ada tiga”. Dan ketika ditanya apa maksudnya, dia menjawab, “Satu adalah Jadilah kehendakMu; dan ada lagi yang lain Menikmati Dia selamanya”. Tampaknya yang dia maksud adalah tiga bagian dari buku katekisasi yang muncul di pikirannya.

Setelah anak itu berkata demikian, ia kembali ke ruangan untuk berdoa. Dan ibunya pergi ke rumah kakaknya di sebelah rumah, dan ketika ia kembali, anak itu keluar dari ruangan dan berkata kepada ibunya, “Aku bisa menemukan Tuhan sekarang!” karena sebelumnya dia pernah mengeluh bahwa dia tidak bisa menemukan Tuhan. Lalu anak itu berkata lagi, “Aku mencintai Tuhan!” Ibunya bertanya berapa besar dia mengasihi Tuhan, apakah lebih dari mengasihi ayah ibunya, ia berkata “Ya”. Lalu ibunya bertanya apakah ia mengasihi Tuhan lebih dari adik kecilnya Rachel. Dia menjawab, “Ya, lebih dari apapun!”

Kemudian, karena Phebe berkata dia bisa menemukan Tuhan, kakaknya bertanya dimana dia bisa menemukan Tuhan. Dia menjawab, “Di sorga”. Kakaknya bertanya, “Mengapa? Apa kamu pernah ke sorga?” “Tidak” jawabnya. Dengan jawaban itu tampaknya ketika berkata dia bisa menemukan Tuhan sekarang, Phebe tidak sedang berimajinasi membayangkan sesuatu yang kelihatan sebagai Tuhan. Ibunya bertanya apakah ia takut ke neraka, dan itu membuat dia menangis. Dia menjawab, “Ya dulu aku takut, tapi sekarang aku tidak boleh takut”. Ibunya bertanya apakah Phebe berpikir bahwa Tuhan sudah memberikan dia keselamatan. Dia menjawab, “Ya”. Ibunya bertanya, kapan. Dia menjawab, “Hari ini”.

Malam itu ketika berbaring di ranjang, Phebe memanggil salah seorang sepupunya yang masih kecil dan berkata kepadanya bahwa sorga lebih baik dari bumi. Keesokan harinya, hari Jumat, ibunya menanyakan dia berdasarkan buku katekisasi, untuk apa Tuhan menciptakan dia. Dia menjawab “Untuk melayani Dia”, dan menambahkan “setiap orang harus melayani Tuhan, dan mendapat keuntungan dalam Kristus”.

Edwards kemudian menceritakan satu cerita lagi yang menunjukkan kepekaan Phebe akan dosa dan dampaknya dalam hidupnya:

Suatu kali di bulan Agustus, tahun lalu, Phebe pergi dengan beberapa anak yang lebih besar untuk memetik buah prem (plum) di halaman tetangga, tanpa sadar apa yang dia lakukan itu salah.Tetapi ketika sampai di rumah dengan membawa buah prem itu, ibunya dengan lembut menegur dia dan memberitahu bahwa dia tidak boleh mengambil buah prem itu tanpa izin karena itu berdosa: Allah sudah memerintahkan untuk tidak mencuri. Phebe terkejut sekali, dan menangis dan berseru, “Aku tidak mau buah prem ini!” dan berbalik ke kakaknya Eunice, dengan sungguh-sungguh berkata kepadanya, “Mengapa kamu mengajak aku pergi ke pohon prem itu? Aku harusnya tidak pergi kalau kamu tidak mengajak”.

Anak-anak lain sepertinya tidak terlalu peduli; tetapi tidak ada yang bisa menenangkan Phebe. Ibunya berkata bahwa dia bisa pergi dan minta izin sekarang, dan itu bukan lagi dosa untuk memakannya. Lalu ibunya mengirim salah seorang anak untuk pergi ke rumah pemilik pohon itu dan ketika dia kembali, ibunya memberitahu Phebe bahwa pemiliknya sudah memberi izin, dan sekarang Phebe boleh memakannya dan itu bukan mencuri. Itu membuat Phebe diam sebentar, tetapi kemudian dia menangis lagi dengan keras. Ibunya bertanya apa yang membuat dia menangis lagi, kenapa dia menangis padahal mereka sudah minta izin. Apa yang mengganggu pikirannya sekarang? Berkali-kali ibunya bertanya, sebelum akhirnya dia menjawab – karena itu dosa!

Phebe masih menangis cukup lama, dan dia berkata dia tidak akan pergi lagi kesana walaupun Eunice memintanya seratus kali pun. Dan dia lama tidak mau makan buah prem, karena masih ingat dosanya yang lalu itu.

Kisah Phebe membuat saya termenung. Phebe kecil ini menunjukkan ciri orang yang berpindah dari mati kepada hidup, dari gelap kepada terang. Itulah pertobatan! Itulah keselamatan! Saya yakin dalam kelemahannya, Phebe masih akan berbuat dosa ketika dia besar. Tapi hidup suci bukan berarti tidak berbuat dosa lagi, tapi peka dengan dosa (Phebe menangis terus karena dosanya - yang bagi banyak orang hanya sepele), menganggap serius dosa (Phebe bahkan sampai lama tidak mau makan buah prem lagi karena dosa itu begitu jelas bagi dia), bertekad tidak berdosa lagi (Phebe berkata walaupun seratus kali diajak, dia tidak akan mau lagi). Bagaimana dengan kita?

Wednesday, April 03, 2013

The Pastor as Scholar & The Scholar as Pastor - John Piper & D.A.Carson

Saya membaca buku ini dalam sekali duduk - di tengah penerbangan jarak jauh dari Sydney ke
Singapore. Bukan buku yang sulit untuk dibaca.

Sebenarnya isi buku ini agak berbeda dengan harapan saya ketika pertama kali melihat dan membelinya. Saya berharap Piper dan Carson berbicara tentang kesulitan menjaga keseimbangan pelayanan Pastor & Scholar dan pergumulan dalam memilih dan menjalani kehidupan sebagai Pastor atau Scholar. Saya berharap mereka membahas dengan lebih dalam dari berbagai sisi, biblika, teologis, etis, tentang panggilan ini dan bagaimana menjalaninya.

Walaupun buku ini menyinggung apa yang saya sebutkan di atas, tetapi isinya lebih berupa sharing. Piper menceritakan bagaimana kehidupannya dan pelayanannya sebagai seorang Pastor yang tidak pernah lepas dari dunia Scholar. Dia mengawali pelayanannya sebagai Scholar dan kemudian memilih menjadi Pastor. Sebaliknya Carson mengawali pelayanannya sebagai Pastor dan kemudian memilih menjadi Scholar - dan pernah bergumul untuk kembali menjadi Pastor. Maka dia berpesan bagaimana seorang Scholar juga menjadi Pastor.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan buku ini. Tetapi harus diakui buku ini insightful. Paling tidak judulnya membangkitkan pemikiran tentang panggilan pelayanan seorang hamba Tuhan. Dunia Barat - dan juga Indonesia - sangat memisahkan antara dunia Pastor dan dunia Scholar. Pastor hanya perlu memikirkan yang praktis, manajemen gereja, khotbah ringan, pembesukan, dan kalaupun belajar cukup yang praktis saja. Scholar sebaliknya bagiannya adalah yang "berat", yang di awang-awang, yang ilmunya sering tidak relevan dengan jemaat. Di tengah suasana seperti ini, buku ini insightful - khususnya judulnya yang sekarang sudah menjadi terkenal.

Thursday, February 14, 2013

Lent

Hidup kita terbentuk oleh pergantian tahun. Ada tahun-tahun dimana kita masih kecil, remaja, pemuda, dewasa, setengah baya dan menjadi tua. Kalender dipakai untuk menandai peristiwa-peristiwa itu, dimulai pada 1 Januari dan diakhiri pada 31 Desember. Setiap tahun hidup kita berjalan dalam kalender itu.

Kalender liturgi gereja (liturgical year) tidaklah sama dengan kalender biasa. Kalender liturgi gereja berpusat pada misteri hubungan Allah dan manusia. Waktu ditandai bukan dengan tanggal tapi dengan peristiwa-peristiwa penting bagi iman kita. Maka kalender liturgi gereja tidak dimulai pada 1 Januari, tapi pada minggu pertama Advent, mempersiapkan kita menyambut Natal. Tonggak berikutnya adalah masa Lent, mempersiapkan kita memasuki Jumat Agung dan Paskah. Berikutnya adalah Kenaikan Yesus, Pentakosta, dan akhirnya kembali ke masa Advent.

Tahun demi tahun, kalender liturgi gereja membawa kita tenggelam lagi dan tenggelam lagi dalam makna kehidupan Kristen. Kita bukan hanya mengingat: Yesus lahir, mati dan bangkit untuk kita, tapi kita dibawa untuk mencocokkan diri kembali dengan apa yang Allah kerjakan bagi kita. Tahun ini kita merenungkan Natal, lalu minta ampun dosa waktu Jumat Agung dan Paskah, tahun depan kita kembali melakukan yang sama. Tapi tiap tahun, kita diajak untuk melihat apakah kita makin mengikuti Yesus? Apakah kita bertumbuh makin mencintai Yesus? Kalender liturgi gereja mengajar kita arti mengikut Yesus.

Dua bulan lagi kita akan merayakan Jumat Agung dan Paskah. Sebelum itu, ada masa Lent. Masa ini adalah masa merendahkan diri di hadapan Tuhan. Masa ini mengajak kita sadar bahwa kita adalah manusia yang berdosa dan hina. Tanpa kasih Tuhan, kita semua pasti binasa! Maka selama masa ini, kita banyak berdoa, berpuasa, dan memohon ampun dosa. Secara khusus kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang mengalihkan perhatian kita dari Tuhan. Seperti masa Advent mempersiapkan kita menyambut Natal, demikianlah masa Lent mempersiapkan kita menyambut Jumat Agung dan Paskah.

Masa Lent diawali pada hari Rabu yang sering disebut sebagai Rabu Abu (Ash Wednesday). Di banyak gereja, biasanya waktu itu jemaat akan diberikan tanda salib di dahinya dengan abu. Di dalam Alkitab, abu di kepala adalah tanda berkabung. Tapi abu juga adalah simbol dari kefanaan kita, bahwa kita dicipta dari debu dan akan kembali menjadi debu.

Makna dari seluruh upacara tersebut adalah merendahkan diri, berduka atas dosa, dan mengingat bahwa kita adalah manusia yang fana. Kita hanya manusia, diciptakan dari debu dan akan kembali menjadi debu! Dan setelah itu bertanggung jawab kepada Tuhan.

Banyak orang Kristen di Indonesia yang berpikir bahwa Rabu Abu - dan juga Lent - adalah ‘milik’ gereja Katolik. Tetapi ini bukan tradisi milik gereja Katolik. Gereja mula-mula mulai memasukkan Lent di dalam kalender gereja mungkin sejak abad ke-2 atau ke-3, sekitar 1800 tahun yang lalu (sebelum ada pembedaan Katolik dan Protestan). Dan sekarang ini berbagai gereja di dunia dari Katolik, Lutheran, Presbiterian, Reformed, Methodis, Anglikan, dan Baptis, melakukannya.

Tahun ini, GKY Green Ville akan ikut menjalankan tradisi ini. Sesuai kalender gereja seluruh dunia, masa Lent akan dimulai pada hari Rabu tanggal 13 Februari. Maka di dalam Persekutuan Doa hari Rabu itu, kita akan bersama memulai masa Lent dengan Rabu Abu. Kita akan merenungkan kehidupan kita yang fana dan membutuhkan Tuhan. Setelah itu minggu demi minggu menjadi masa kita mempersiapkan diri memasuki Jumat Agung dan Paskah.

Tepat satu minggu sebelum Paskah nanti adalah Minggu Palem - Minggu memperingati Yesus masuk ke Yerusalem dan kemudian mati disalibkan di sana. Minggu Palem mengajak kita menyadari betapa bedanya menyembah Yesus “di mulut” dan “di hati”, seperti orang banyak yang bersorak “Hosana” dan “salibkan Dia”.

Minggu itu juga disebut sebagai Minggu Sengsara karena di situ Yesus bergumul dengan berat menjelang naik ke kayu salib. Di minggu itu, seluruh kuasa kegelapan bersatu melawan Allah. Dia pasti mati! Tapi bukan kematian biasa karena Yesus sendiri yang memilih untuk sengsara dan mati bagi kita. Selama minggu sengsara itu kita akan berpuasa dan berdoa lebih lagi, sampai akhirnya tiba Jumat Agung dan Paskah.

Mari siapkan diri kita untuk memasuki masa Lent ini. Jumat Agung dan Paskah sudah dekat!