Saturday, October 15, 2011

Mayoritas: Waras?

Ada ungkapan “ketika satu orang waras berada di tengah banyak orang gila, maka yang gila menjadi seperti waras dan yang waras menjadi seperti gila”. Mengapa begitu? Mayoritas! Yang waras menjadi berbeda sendiri di tengah orang gila dan akhirnya dialah satu-satunya yang ‘aneh’ disitu.

Saya melihat ada sebuah trend yang sangat buruk di dalam dunia dan yang juga masuk ke dalam gereja. Trend ini dipelajari dari dunia, dihasilkan oleh dosa dan diterima sebagai sesuatu yang lumrah. Saya sebut saja trend ini: Kuasa!

Semua orang mencari kuasa. Semua orang mencari gengsi. Di kantor semua saling sikut untuk posisi. Di pemerintahan jangan tanya lagi. Di mana-mana orang ingin dihargai karena posisinya, diperlakukan lebih istimewa, dipandang lebih tinggi. Dan trend ini juga masuk ke dalam gereja. Maka di gereja pun saya menemukan ada dua hal aneh yang terjadi:

1.Orang yang mengingini jabatan langsung dicurigai motivasinya pasti kuasa.

Alkitab berkata ‘orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah’. Artinya kita bisa mengingini jabatan tertentu bukan untuk kuasa tapi untuk mengerjakan pekerjaan yang indah – fungsi! Ketika seseorang ingin menjadi majelis, ingin menjadi gembala, ingin menduduki jabatan tertentu, pertanyaannya adalah apa motivasinya? Kuasa? Atau untuk mengerjakan fungsi yang indah? Masalahnya di zaman seperti ini, kita sulit untuk percaya ada orang yang mengingini jabatan dengan motivasi mulia. Semua orang mengingini kuasa. Maka aneh, tidak waras, ada orang yang mengingini jabatan tanpa menginginkan kuasa dan hanya menginginkan fungsi.

2. Orang yang tidak mengingini jabatan langsung dianggap pura-pura.

Sebaliknya saya menemukan orang sulit percaya kalau ada yang berkata bahwa dia tidak ingin jabatan. Dia tidak ingin mendapatkan kuasa. Kita langsung curiga bahwa orang ini sedang pura-pura rendah hati. Atau kita curiga bahwa dia punya inferiority complex. Padahal dia mungkin tidak mau karena dia sadar karunianya, dia sadar panggilannya, dia sadar ada orang lain yang lebih cocok, dan seterusnya.

Ketika kita berlaku waras dan semua menganggap kita tidak waras, masihkah kita menjaga kewarasan kita?