Thursday, September 08, 2011

As Each Part Does Its Work - 2

Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya As Each Part Does Its Work.

Ada sebuah program reality show yang ditayangkan di salah satu stasiun TV di Singapore yang saya suka dan sempat nonton beberapa kali: Undercover Boss. Program itu direkam di beberapa negara, kalau saya tidak salah di Australia, UK dan Amerika, atau mungkin negara2 lainnya.

Konsep program ini adalah meminta boss (bisa owner atau CEO atau CFO, intinya mereka yang berada pada pucuk pimpinan perusahaan) untuk menyamar menjadi karyawan (dengan jabatan yang rendah) di perusahaannya sendiri. Mereka bisa menyamar sebagai trainee atau karyawan baru yang ditempatkan disitu. Tujuannya adalah dia memahami betul apa yang terjadi di perusahaannya, kesulitan yang ada di bawah, dan melihat langsung bagaimana para karyawannya bekerja. Dan di akhir dari program itu – seperti biasa ala Hollywood – surpriseee!!! Orang-orang yang ‘beruntung’ menjadi rekan kerjanya selama dia menyamar akan dipanggil dan diberitahu bahwa ternyata dia adalah boss di perusahaan itu. Berikutnya bisa ditebak – reward dan mungkin punishment? – saya tidak tahu.

Selama menyamar, ada kamera2 tersembunyi yang merekam aktivitas mereka. Dan adegan2 yang ada memperlihatkan bahwa si boss ini tidak trampil dalam banyak hal. Ketika ‘bekerja’ di bagian customer service dia harus banyak dilatih bagaimana menjawab pelanggan yang menelpon dengan marah2. Dia kebingungan sementara ‘rekan kerja’nya sangat tenang menanganinya. Ketika ‘bekerja’ di pabrik dia kesulitan untuk bisa cepat bekerja dengan ban berjalan. Seringkali akhirnya dia kagum dengan para karyawan yang sangat trampil dan pas di bidangnya – jauh melebihi dia!

Boss itu trampil di bidangnya yang asli: mengelola keuangan, punya instink investasi, mengatur kebijakan perusahaan, dll. Tapi di bidang lain (yang sebenarnya berada di bawah kuasa dia): melayani pelanggan, menerima telpon, merangkai bunga, dll, dia jauh kalah ahli dengan karyawannya.

Saya jadi geli sendiri ketika baru2 ini melihat karyawan mertua saya. Saya dan istri bercanda bahwa untuk jadi karyawan mereka perlu ketrampilan ekstra, harus serba bisa. Kadang diminta menyetir mobil, carikan barang di pasar, ambilkan bibit tanaman di taman, bantu melayani pelanggan, dan berbagai hal lainnya, pokoknya harus serba bisa. Saya bukan orang yang sigap, saya pemikir, perencana, pembicara, tapi bukan pekerja fisik yang sigap. Maka kalau saja posisi saya adalah karyawan dan bukan menantu, wah pasti saya dipecat! Untungnya saya menantu dan saya trampil jadi menantu hehe…

Saya jadi terpikir, bukankah demikian pula di gereja. Saya jadi hamba Tuhan yang melayani di gereja dan saya bersyukur bahwa Tuhan memperlengkapi saya untuk tugas itu. Tapi sebagai gembala, di bawah saya ada banyak bidang pengurus. Dan saya tidak trampil mengerjakan banyak bidang yang mereka kerjakan. Saya agak buta dalam hal keuangan, saya tidak mengerti sound system dan berbagai peralatannya, saya –rasanya- tidak akan disukai kalau menjadi guru sekolah minggu, dan seterusnya. Belum lagi masalah waktu, saya tidak mungkin mampu mengerjakan semuanya. Sekarang ini untuk memikirkan dan mengarahkan pun saya sudah keteteran.

Betul, tiap orang ada tempatnya. Kalau saja semua menjalankan bagiannya maka pasti seluruh tubuh berjalan. Tapi kalau ada yang salah tempat dan membuat macet, pasti seluruh tubuh akan merasakan dampaknya.

Maka wow… alangkah indahnya Efesus 4:16: “From him the whole body, joined and held together by every supporting ligament, grows and builds itself up in love, as each part does its work.” Gereja diumpamakan seperti tubuh. Dan seluruh tubuh menerima pertumbuhan dari Kristus, membangun diri di dalam kasih, as each part does its work!