Monday, November 14, 2016

Glittering Vices - Rebecca Konyndyk DeYoung

Rebecca Konyndyk DeYoung, Glittering Vices: A New Look at the Seven Deadly Sins And Their Remedies (Grand Rapids: Brazos Press, 2009), 205 pages.


Secara tidak sengaja, saya melihat buku ini dijual sangat murah di sebuah perpustakaan sekolah teologi. Saya lihat topiknya, penulisnya, dan karena murahnya, saya putuskan untuk membelinya. Di luar dugaan, buku ini sangat bagus.

Buku ini membahas apa yang sering disebut sebagai “Tujuh Dosa Maut (Seven Deadly Sins)”. DeYoung sebetulnya lebih setuju dengan istilah capital vices daripada deadly sins. Ada dua alasan: Pertama, “vice”menunjukkan kebiasaan (habit) atau tipe karakter (character trait). Artinya bukan sekedar perbuatan dosa tetapi sebuah kebiasaan dosa di dalam diri kita yang sudah lama kita kembangkan dan sudah mengakar. Kedua, “capital” artinya adalah “kepala” atau “sumber”. Dari tujuh vices inilah muncul berbagai vices yang lain, dan itulah sebabnya mereka disebut “deadly”.

DeYoung memulai pembahasannya dengan menjelaskan asal usul pemahaman akan capital vices itu dalam tradisi Kristen mulai dari zaman “the desert fathers” (sekitar abad ke-3 dan ke-4). Banyak penjelasannya juga diambil dari Thomas Aquinas (abad ke-13). Lalu dia menjelaskan mengapa tujuh vices ini yang dimasukkan dan mengapa mereka begitu kuat mempengaruhi hidup manusia.

Dengan sangat baik, dia kemudian menjelaskan satu persatu “Seven Capital Vices” itu:

Envy: Feeling Bitter When Others Have It Better
Vainglory: Image Is Everything
Sloth: Resistance to the Demands of Love
Avarice: I Want It All
Anger: Holy Emotion or Hellish Passion
Gluttony: Feeding Your Face and Starving Your Heart
Lust: Smoke, Fire, and Ashes

Buku ini bukan hanya mengajak kita mengerti arti setiap vice, tetapi dengan tajam memperlihatkan bagaimana vice itu mungkin ada di dalam hati kita. Kemudian di setiap akhir pembahasan salah satu vice, dia akan mengusulkan sebuah disiplin rohani untuk mengubah kebiasaan dosa itu. Karena vice bersifat kebiasaan, maka kita perlu mematahkan kebiasaan itu dan menggantinya dengan kebiasaan lain, begitu rupa, sampai itu mengakar dalam diri kita. Maka dari vice berganti menjadi virtue.

Berikut adalah beberapa kutipan dari buku ini:

“If we think about the people we envy, and we envy them in particular, a pattern emerges. Enviers don’t usually envy those who are far removed from their lives and lifestyles, or who are vastly more talented or successful than they are. They tend to envy people to whom they might actually be compared unfavorably, that is, those who are just like them – only better.” (p.49).

“If we step back for a moment, it is disconcerting to think how much of our lives are spent keeping up appearances to impress lots of other people on the basis of qualities that we don’t have or that don’t really matter.” (p.65).

“Acedia’s (Sloth) greatest temptations are escapism and despair – when we don’t feel like being godly or loving anymore, to abandon ship and give up, to drift away inwardly or outwardly toward something more comfortable or immediately comforting… Thus, its greatest remedy is to resist the urge to get out or give up, and instead to stay the course, stick to one’s commitments, and persevere.” (p.97).

Buku ini bukanlah buku yang “berat” tetapi juga bukan buku yang “ringan”. Dia tidak menulis buku ini untuk kalangan akademis maka istilah-istilah yang dipergunakan juga sederhana dan bukan teknis teologis. Tetapi, buku ini bukan buku yang bisa dibaca dengan cepat dan sambil lalu. Perlu ketelitian dan ketenangan untuk membacanya. Kita perlu membacanya dengan cermat sambil memeriksa diri – satu kali. Lalu, sambil bergumul dengan kehidupan, kita perlu membacanya lagi dan memeriksa diri lagi.

Highly recommended!

Monday, October 31, 2016

Mimpi Untuk "Young, Restless, Reformed Movement"

Sepuluh tahun yang lalu, Collin Hansen, seorang jurnalis, menulis sebuah artikel di majalah Christianity Today dengan judul “Young, Restless, Reformed”.

Di akhir abad ke-20 muncul sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “Emerging Church.” Gerakan itu adalah reaksi, di satu sisi terhadap tradisionalisme gereja yang sangat kaku, dan di sisi lain terhadap gerakan “Church Growth” yang menjadikan gereja seperti perusahaan yang produknya adalah pertambahan anggota dan caranya adalah marketing dan entertainment.

Gerakan “Emerging Church” ini sangat beragam dan sulit didefinisikan. Tetapi, pada dasarnya, mereka mencoba membangun bentuk gereja yang baru, ibadah yang tidak dibatasi oleh norma lama, meniadakan pembedaan clergy-laity (hamba Tuhan-awam), menekankan pengalaman sekaligus tradisi, cenderung meniadakan perbedaan teologi, dan berbagai karakteristik lainnya.

Tetapi, di saat yang bersamaan, muncul sebuah gerakan lain. Mereka juga bereaksi terhadap kondisi gereja yang sama tetapi tetapi ke arah yang berbeda. Gerakan ini tidak sebombastis “Emerging Church” yang banyak dibahas di dalam buku maupun penelitian. Gerakan ini luput dari perhatian tetapi, secara perlahan namun pasti, gerakan ini bahkan diduga lebih besar dari “Emerging Church”.

Fenomena inilah yang diamati oleh Hansen. Dia menemukan munculnya sebuah ketertarikan di antara orang Kristen di Amerika, khususnya anak muda, kepada teologi Reformed.

Hansen memutuskan untuk menyelidikinya dan hasilnya menegaskan bahwa ada kebangunan teologi Reformed khususnya di anak muda Kristen di Amerika. Anak-anak muda itu gelisah (restless) dan mereka mencari sesuatu yang tidak mereka temukan di gereja. Beberapa tokoh Kristen (khususnya John Piper) membuat mereka menemukan kembali doktrin yang agung dari iman Kristen. Mereka lelah dengan gereja yang hanya menghibur dan tidak mengajar. Mereka lelah dengan gereja yang memberikan khotbah dan pengajaran yang dangkal. Mereka mengejar pemahaman Alkitab dan teologi yang dalam dan mereka menemukan itu pada teologi Reformed, dengan penekanannya akan kedaulatan, anugrah dan kemuliaan Allah. Maka Collin Hansen menyebut gerakan ini sebagai “Young, Restless, Reformed Movement” (YRMM).

Pengamatan Collin Hansen sama sekali tidak salah. Tahun 2009, majalah Time menyebut gerakan itu sebagai New Calvinism dan menobatkannya sebagai salah satu dari “10 Pemikiran yang Merubah Dunia Saat Ini”.

Saya sempat membaca beberapa cerita tentang dampak gerakan ini: Persekutuan anak muda yang membahas buku Systematic Theology dari Wayne Grudem; mahasiswa-mahasiswa yang sering mengutip kalimat John Piper; Passion Conference yang diadakan oleh Louie Giglio (seringkali John Piper menjadi pembicaranya) menarik 50.000-60.000 mahasiswa setiap tahunnya (kalau belum tahu siapa Louie Giglio, pasti tahu salah satu worship leader di gerejanya: Chris Tomlin); berbagai konferensi serupa (yang isinya selalu sangat biblikal dan dalam) dibanjiri oleh anak-anak muda.

John Piper menyebutkan beberapa ciri dari New Calvinism ini yang membuatnya berbeda dengan older Calvinism. Beberapa di antaranya: gerakan ini menerima bentuk ibadah dan musik yang kontemporer, ada banyak gereja Baptis dan Kharismatik yang menjadi Reformed dalam teologinya, Jonathan Edwards menjadi tokoh yang sangat penting, dan penekanan yang kuat bahwa gereja harus multi-etnis dan adanya kerinduan akan keharmonisan rasial.

Mereka bukanlah orang-orang yang besar di kepala, penuh pengetahuan, tetapi kosong hidupnya. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang bersemangat hidup buat Tuhan. Tidak heran, tokoh-tokoh Puritan (gerakan Reformed di Inggris abad ke-16 dan 17) khususnya Jonathan Edwards, menjadi idola baru mereka. Pada tokoh-tokoh itu ada penekanan kuat dalam hidup kerohanian, mengasihi Kristus, kehidupan yang baik dalam keluarga dan pekerjaan, dan juga bersaksi serta menginjili.

Gerakan ini masih berlangsung saat ini, dan masih kuat, walaupun tidak seheboh waktu awal kemunculannya dengan besarnya gelombang anak muda yang mendadak tertarik kepada teologi Reformed.

Ketika membaca cerita di atas, hati saya menjadi gelisah. Saya menginginkan hal yang sama terjadi di Indonesia!

Sejauh yang saya amati, pikirkan, dan rasakan, anak muda di Indonesia seperti gandum yang siap dituai untuk menjadi "Young, Restless, Reformed". Tetapi sampai sekarang saya belum melihat adanya penuaian yang besar terjadi.

Gereja dan juga sekolah teologi di dalam tradisi Reformed, ketika bicara soal anak muda, sering terjebak hanya kepada program yang menarik, musik yang wah, kreatifitas yang berani, dan sebagainya. Tetapi belum mengarah pada pengajaran yang mendalam, doktrin yang mencerahkan, pengertian yang menantang intelektualitas, dan kecintaan mendalam pada Firman Tuhan. Di sisi lain, ada yang sudah menekankan pengajaran yang mendalam, tetapi gagal membentuk karakter dan menghasilkan orang yang sombong. Padahal kesombongan banyak orang Reformed (older Calvinism) itulah batu sandungan besar untuk banyak orang.

Hari ini adalah peringatan hari reformasi yang ke-499. Saya ingin bermimpi dan berdoa.

Saya bermimpi dan berdoa supaya di Indonesia muncul gerakan di antara jemaat kecintaan kepada Firman Tuhan, kesukaan belajar doktrin-doktrin yang agung dalam kekristenan, kehidupan rohani yang mendalam, dan kesaksian yang kuat akan berita anugrah Injil.

Saya bermimpi dan berdoa supaya gereja-gereja, sekolah-sekolah teologi, para pengkhotbah, yang berlatar belakang tradisi Reformed, ambil bagian dalam gerakan ini.

Saya bermimpi dan berdoa supaya Tuhan juga memakai saya, dalam segala kelemahan yang ada, ikut mengerjakan penuaian ini.

Sola Scriptura – hanya oleh (dasar) Alkitab
Sola Gratia – hanya oleh anugrah
Sola Fide – hanya oleh iman
Solus Christus – hanya oleh Kristus
Soli Deo Gloria – kemuliaan hanya bagi Tuhan

Friday, September 30, 2016

Rasul Paulus: Kitab dan Pedang di Tangan

Rasul Paulus dulu bukan rasul favorit saya (kalau boleh bermain favoritisme). Saya selalu pusing membaca tulisan-tulisannya yang sangat padat dan seperti berputar-putar. Saya juga kurang suka dengan sifatnya yang terkesan garang. Maka, lagi-lagi kalau boleh bermain favoritisme, saya lebih menyukai rasul Yohanes. Tulisannya sangat indah dan menyentuh. Dia menulis dengan mendalam tetapi seringkali misterius sehingga membuat saya perlu merenung untuk mengertinya.

Saya masih menyukai rasul Yohanes. Itu sebabnya dulu pada waktu studi program M.Th, saya ingin membuat thesis dari tulisan rasul Yohanes. Tetapi jalan saya akhirnya berbeda. Saya menulis thesis M.Th mengenai konsep misi dari rasul Paulus dan sekarang saya menulis disertasi D.Th tentang surat Galatia. Setelah bertahun-tahun saya duduk di bawah kaki rasul Paulus, mempelajari tulisannya, argumennya, dan lebih mengenal dia, saya semakin menyukai dan mengagumi dia.

Entah anda pernah memperhatikan atau tidak, seringkali rasul Paulus dilukiskan sedang memegang sebuah kitab dan sebuah pedang.

 

Saya menyukai dua lukisan di atas. Keduanya menggambarkan kelembutan raut wajah dari rasul Paulus, walaupun yang di atas juga menampilkan sedikit sisi kegarangannya.

Kitab atau buku yang dibawanya melambangkan berita Injil yang disampaikannya. Orang yang serius mempelajari tulisan rasul Paulus tidak akan ragu bahwa dia sangat berkomitmen untuk berita Injil. Hidupnya sepenuhnya dia curahkan untuk memberitakan Injil. Hatinya dan air matanya tercurah untuk jemaat yang dikasihinya. Berbagai penderitaan fisik, yang tidak bisa kita bayangkan, dia tanggung. Bukan hanya itu. Saya berkali-kali tertegun melihat rasul yang luar biasa ini mengalami ditolak, ditinggalkan, diragukan motivasinya, tidak dipercaya ajarannya, oleh jemaat yang dia dirikan sendiri! Hanya Tuhan yang tahu berapa besarnya penderitaan emosi yang dia pikul. Semua hanya untuk Injil.

Pedang di tangannya melambangkan kematian yang akan ditempuhnya. Menurut tradisi, khususnya dari tulisan Eusebius (abad ke-3-4), rasul Paulus mati dipenggal kepalanya pada pemerintahan kaisar Nero. Lukisan ini menggambarkan, seakan-akan, rasul Paulus menjalani kehidupannya dengan kesadaran akan kematiannya bagi Kristus yang di depan mata. "Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu." (2 Kor 4.11-12).

Rasul Paulus menjadi inspirasi yang tidak habis-habisnya bagi saya. What's not to love about him? Kitab dan pedang di tangan.

Relakah saya menjalani hidup seperti itu? Rasul Paulus mengingatkan saya akan arti jalan salib.

Wednesday, September 21, 2016

My Dissertation Writing - 5

Saya baru saja menyerahkan Bab 4 dari disertasi saya. Saya lelah sekali, atau lebih tepatnya kehabisan tenaga. Kalau bisa mungkin kepala saya sudah mengeluarkan asap. 

Saya makin menyadari bahwa saya bukan mesin dan hidup saya tidak steril dari masalah. Segala sesuatu bisa direncanakan (dan menurut rencana harusnya sekarang saya sudah di ujung Bab 6). Secara perhitungan, seharusnya saya bisa menyelesaikan sampai sekian dalam waktu sekian. Kenyataannya tidak pernah begitu. Ada masanya otak ini buntu, badan sakit, mood hilang, ide terbang. Ada masanya juga masalah demi masalah menghantam dan saya tidak mampu bekerja. Apa boleh buat, saya bukan mesin.

Ditambah lagi saya makin menyadari sesuatu yang dari dulu sebenarnya saya sudah sadar: Saya ini lambat berpikir. Kadang saya bisa cepat, kalau yang sifatnya sederhana. Tapi begitu menyangkut sesuatu yang mendalam, saya lambat sekali. Saya perlu waktu membaca, berpikir, buuaanyak trial and error, terus begitu… dan itu lama.

Dalam segala kelemahan ini saya makin melihat kasih karunia Tuhan. Walaupun lambat, saya tidak mungkin bisa sampai di tahap ini kalau bukan karena Tuhan. Maka, sekali lagi, saya hanya bisa memohon pertolongan Tuhan.

Beberapa bulan lalu, dalam percakapan dengan beberapa orang, saya berkata bahwa saya sudah mau menyerah. Pikiran itu sempat agak “matang”! Saya sudah mulai memikirkan alasan-alasan untuk tidak menyelesaikan studi – dari yang mulia sampai yang kurang mulia. Tetapi, akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan: Selama masih ada waktu dan kesempatan, saya harus dan akan berjuang. Maka, selama ada waktu dan kesempatan, selamat tinggal dulu semua alasan untuk tidak menyelesaikan studi.

Saya sangaaattt berharap tidak ada perbaikan besar untuk Bab 4 yang sudah dikumpulkan. Besok, saya siap menyambut Bab 5 – tidak tahu akan berapa sulit dan berapa lama saya mengerjakannya. Tapi, mudah-mudahan, saya bisa menyelesaikannya dalam 4 bulan.

Err... I want to stay alive...

Friday, September 02, 2016

The Trellis and The Vine & The Vine Project - Colin Marshall & Tony Payne

Saya baru saja menyelesaikan membaca dua buku ini yang ditulis oleh Colin Marshall dan TonyPayne.

Buku pertama, The Trellis and the Vine, terbit pada tahun 2009 dan menjadi populer. Mengambil perumpamaan dari pohon anggur, mereka mengajak kita melihat bahwa pelayanan kita seharusnya fokus pada vine (anggur) dan bukan pada trellis (terali). Terali perlu ada untuk menunjang pertumbuhan anggur tetapi seringkali kita menghabiskan waktu, tenaga, perhatian, hanya untuk membangun terali dan bukan menumbuhkan anggur.

Bab 1-2 buku itu adalah bab yang sangat penting karena disitulah mereka menguraikan “ministry mind-shift” yang mereka maksudkan. Dalam bab 3-5 mereka menguraikan dasar Alkitab dari konsep mereka. Tidak seluruhnya menarik, menurut saya, tetapi cukup bagus untuk bahan pemikiran lebih mendalam.

Dalam bab 6-8, mereka mulai menyodorkan konsep pelatihan di dalam gereja. Lalu empat bab terakhir buku itu (Bab 9-12) bersifat praktis: Bagaimana melatih co-workers, orang seperti apa yang dipilih, program magang pelayanan, dan bagaimana memulai semuanya.

Buku itu menggugah kesadaran banyak pemimpin gereja bahwa seharusnya mereka fokus mengerjakan vine dan bukan trellis. Tetapi, tidak semudah itu mengerjakan perubahan di dalam gereja. Maka banyak pembaca buku itu bertanya: "Apa yang harus kami lakukan? Jikalau pemuridan hanya dijalankan secara sporadis atau sebagai salah satu “program gereja” maka hasilnya tidak akan terlalu menjanjikan. Tetapi, bagaimana kami bisa membentuk seluruh kultur gereja menjadi disciple-making?"

Maka buku yang kedua, The Vine Project, terbit pada tahun 2016, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka menyadari banyaknya kesulitan yang dihadapi ketika pemimpin gereja ingin menjalankan proyek itu. Maka, seperti yang ditulis oleh mereka di bagian pendahuluan, buku ini bukanlah sekedar untuk dibaca tetapi merupakan sebuah proyek. Mereka menyarankan (mendesak) setiap gereja untuk membentuk tim The Vine Project dan menggunakan buku ini sebagai panduan menjalankan proyek yang besar, sulit, tetapi sangat penting itu.

Mereka membagi proyek ini dalam lima tahap.

Tahap pertama adalah mempertajam keyakinan akan apa yang Tuhan mau kita lakukan. Kita mencoba memperjelas keyakinan kita akan tujuan dan nilai-nilai yang seharusnya ada di dalam pelayanan kita. Tahap ini penting supaya kita memikirkan dengan jelas kaitan antara praktek yang akan kita lakukan dengan teologi.

Tahap kedua adalah mereformasi kultur pribadi kita. Tahap ini sangat menarik dan penting. Banyak orang ingin cepat melakukan sesuatu, membuat program, menyusun kurikulum, menyebarkan brosur, lalu menggerakkan tim untuk mengerjakannya. Tetapi, dengan cara demikian, mereka akan terjebak lagi membangun trellis. Kelemahan utama pendekatan seperti itu adalah mereka (pemimpin gereja) belum pernah melakukan sendiri program yang akan mereka buat. Maka mereka sulit mengerti kesulitan dan halangan yang akan terjadi. Demikian pula, apa yang dikatakan dan dilakukan oleh pemimpin, keputusan-keputusan, prioritas-prioritas, atau kultur pribadinya, akan menjadi titik tolak yang sangat penting bagi sebuah gerakan seperti ini.

Tahap ketiga adalah mulai mengevaluasi gereja. Sama seperti tahap pertama dan kedua, mereka memberikan panduan apa saja yang harus dievaluasi dan bagaimana melakukannya.

Baru di tahap keempat kita masuk kepada tahap inovasi dan implementasi. Beberapa wilayah yang mereka ajak kita fokuskan adalah: Kebaktian Minggu (ini sangat penting), Merancang jalan untuk membawa orang (dari posisi manapun: belum bertobat, baru bertobat, ataupun sudah bertumbuh) makin bertumbuh, Merencanakan apa yang harus dilakukan ketika pertumbuhan terjadi (kualitas dan kuantitas), dan terakhir, Menciptakan bahasa baru yaitu mengkomunikasikan dengan jelas apa yang ingin dilakukan oleh gereja, sedemikian rupa, sehingga ditangkap oleh seluruh jemaat.

Tahap kelima adalah mempertahankan momentum. Proyek ini sama sekali tidak mudah dan tidak cepat. Di dalam prosesnya, bukan saja perhatian, tenaga, waktu, sumber daya, akan banyak terkuras, tekanan juga akan sangat besar dirasakan. Maka sangat penting memikirkan bagaimana menjaga konsistensi dalam menjalankannya.

Hampir untuk setiap bagian yang dibicarakan, buku ini memberikan referensi kepada resources yang bisa dipakai. Akan sangat menolong jika kita juga bisa melihat resources itu dan mempertimbangkan untuk menggunakannya. Buku ini juga didukung oleh situs http://thevineproject.com dimana bisa ditemukan banyak kisah nyata dan wawancara dengan para pemimpin gereja yang menjalankan ini dan juga berbagai resources lainnya.

Kelemahan buku ini adalah ketika dibaca akan terasa too wordy. Tetapi hal ini bisa dipahami karena mereka memang tidak memaksudkannya untuk “dibaca” tetapi “dipergunakan” sebagai panduan dan bahan diskusi.

Saran saya, bacalah dulu buku yang pertama. Hanya jika anda yakin ingin menjalankan perubahan di dalam gereja anda, baru bacalah (dan belilah) buku yang kedua. Saya yakin buku itu akan sangat menolong.

It's time to change, but do it carefully and prayerfully!

Monday, August 22, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 2

Menyambung tulisan sebelumnya di sini, ada meme atau virus of the mind lain mengenai khotbah yang juga populer sekaligus berbahaya. Meme itu berbunyi begini: “Apapun yang disampaikan pengkhotbah di mimbar dalam kebaktian, tentu ditambah dengan membacakan Alkitab, adalah ‘Firman Tuhan’.”

Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah menulis “What is a Sermon?” Apa yang saya tulis di sana tidak perlu saya ulangi lagi. Ada satu definisi yang saya pergunakan di sana yang saya yakin kebanyakan kita akan setuju: “Khotbah adalah penguraian Firman Tuhan (Alkitab).” 

Mari sekarang kita melihatnya dengan sedikit lebih luas.

Kebaktian itu selalu di dalam konteks penyembahan dialogis dan komunal. Komunal artinya umat Tuhan berkumpul bersama, menyembah Tuhan di dalam persekutuan – artinya bukan menyembah Tuhan sendiri-sendiri, tapi bersama-sama, sebagai kumpulan orang yang sudah ditebus Tuhan. Dialogis, artinya kebaktian bukanlah satu arah, seakan-akan di dalam kebaktian arahnya hanya dari kita ke Tuhan. Kebaktian itu dua arah karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Dia mendengar doa kita. Dia memberkati kita. Dan Dia berkata-kata kepada kita, khususnya dan terutama, melalui Firman yang tertulis. Maka kebaktian selalu dari kita (bukan saya) ke Tuhan dan dari Tuhan ke kita – komunal dan dialogis.

Kalau begitu, dimana posisi khotbah dalam skema dialogis ini? Tuhan ke kita! Lalu dimana posisi pengkhotbah? Di satu sisi dia adalah bagian dari jemaat yang menyembah Tuhan dan harus mendengar suara Tuhan. Di sisi yang lain dia dipakai Tuhan untuk menyampaikan suara Tuhan melalui penguraian Firman yang tertulis. 

Jikalau khotbah adalah menguraikan Firman Tuhan (Tuhan ke kita), maka khotbah harus betul-betul menjadi waktu dimana Firman Tuhan dibacakan dan dijelaskan, sedemikian rupa sehingga suara Tuhan itu diperdengarkan. Tugas pengkhotbah adalah memastikan bahwa itulah yang sedang dia lakukan. Lalu apa tugas jemaat? Mereka harus mendengar dengan aktif, berpikir dengan kritis, menguji kebenarannya, dan membuka hati untuk berubah.

Pengkhotbah tidak boleh berpikir bahwa khotbah adalah sekedar cari ayat Alkitab untuk dibacakan, lalu cari bahan pembicaraan yang isinya motivasi, nasihat kehidupan, konsep “menarik” yang dia baca di buku, dan diusahakan supaya lebih menarik dengan bumbu humor, klip video, atau cerita yang menyentuh. Pertanyaannya apakah dia menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan? Apakah dia memperdengarkan suara Tuhan sesuai dengan bagian Alkitab yang dibacakan?

Dan di dalam khotbah, jemaat seharusnya menuntut untuk mendengar, belajar, dan mengerti Firman Tuhan. Jangan sekedar mencari khotbah yang “kena” (walaupun itu penting), karena “kena” itu mungkin karena apa yang dibicarakan pas sesuai dengan pergumulan atau kelemahan kita, walaupun tidak menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan. Jangan sekedar mencari yang menarik dan tidak mengantuk (walaupun itu juga penting). Carilah, ini harus berulang kali diingatkan, yang setia menguraikan Firman Tuhan!

Virus of the mind yang satu ini merusak pertumbuhan gereja. Pengkhotbah berpikir, dengan berdiri di mimbar, bicara, mengkaitkannya dengan Firman Tuhan, apalagi kalau berhasil membuatnya menarik, pokoknya dia sudah menyampaikan “Firman Tuhan.” Jemaat berpikir, pokoknya yang disampaikan pengkhotbah adalah “Firman Tuhan”, maka mereka harus rendah hati dan menerima, apalagi kalau memang ada hal-hal yang “kena”.

Hasilnya? Pengkhotbah tidak merasa perlu berubah dan jemaat tidak bisa berubah. Virus pun mewabah.

Monday, July 25, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 1

Siapa yang tidak tahu meme? Foto/gambar yang dibubuhi kalimat random menjadi sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Tetapi, awalnya meme bukanlah itu.

Istilah meme pertama kali saya dengar waktu membaca buku “Virus of the Mind” dari Richard Brodie lebih dari sepuluh tahun lalu (istilah meme sendiri dimunculkan oleh Richard Dawkins). Meme adalah ide atau pemikiran atau pola tingkah laku yang menyebar seperti virus dari orang yang satu ke orang yang lain. Lalu orang yang terjangkit virus of the mind itu, perlahan-lahan tidak lagi mempertanyakannya tetapi menerimanya sebagai kebenaran. Karena penyebarannya yang luar biasa, akhirnya seakan-akan dia adalah kebenaran umum yang semua-orang-juga-tahu.

Saya ingin bicara soal meme yang seperti itu mengenai khotbah. Meme ini populer sekali. Penyebarannya sangat luar biasa di antara orang Kristen di Indonesia. Kalau dia adalah virus, maka artinya sudah mewabah. Meme itu berbunyi: “Jemaat tidak suka khotbah yang dalam tetapi lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu.

Mungkin ada yang protes, “Tapi itu betul kok... jemaat memang gitu… swear!” Bahkan banyak orang Kristen akan langsung berkata “Betul, saya nggak tahan dengar khotbah kayak gitu, bosen, nggak relevan.” Maka bukankah artinya confirmed!? Tunggu dulu. Jangan-jangan kita juga sudah terjangkiti virus of the mind yang sama :-)

Betulkah jemaat tidak suka khotbah yang dalam? Saya memang belum pernah melakukan survei formal. Tetapi dari percakapan dengan banyak jemaat dan dari apa yang saya amati sejauh ini, saya kira itu salah. Ada banyak, sangat banyak bahkan, orang Kristen yang suka belajar Firman Tuhan dengan mendalam. Mereka suka untuk mengerti apa yang mereka percayai. Mereka suka menemukan jawaban atas banyak pertanyaan iman mereka. Maka masalahnya bukan di jemaat, tetapi di pengkhotbah.

Sebagian pengkhotbah, yang dulu pernah sekolah teologi, tidak lagi belajar Alkitab dan teologi dengan baik (serius!). Maka ketika berkhotbah tematik atau doktrinal yang kesannya “dalam”, apa yang disampaikan? Sebagian akan mengutip buku sistematik teologi yang dulu pernah dipelajari waktu dia di sekolah teologi. Atau menggunakan kalimat-kalimat jargon yang semua-orang-sudah-sering-dengar. Atau menggunakan bahasa formal yang disisipi istilah-istilah teologis atau filsafat. Misalnya: “Manusia hari ini tidak percaya kepada Allah-yang-berada melalui argumen ontologis Kant, tetapi melalui pengalaman eksistensialis yang otentik.” Wuuuzzz… wajar kalau jemaat merasa kering ketika mendengar khotbah seperti itu.

Demikian pula waktu berkhotbah secara ekspositori. Sebagian pengkhotbah berkhotbah hanya seperti ekspositori, dengan menyebut kata-kata dalam bahasa Ibrani atau Yunani lengkap dengan artinya, seperti studi kata, yang dengan mudah bisa didapat dari berbagai buku atau secara online. Kalau khotbah diumpamakan seperti masakan jadi, maka yang disajikan bukanlah masakan tapi bahan mentah.

Ditambah lagi, khotbah yang kesannya “dalam” seringkali tidak relevan. Artinya pengkhotbah tidak memikirkan pertanyaan yang sangat penting di dalam khotbah: “What is the message?” Khotbah apapun, selalu harus berpikir, “what is the message” buat jemaat. Saya pernah mendengar khotbah, tentang natur kemanusiaan dan keilahian Yesus bahwa Yesus 100% manusia dan 100% Allah, yang sangat kering. Seorang teman bercerita di gerejanya diadakan seri khotbah doktrin Roh Kudus yang juga sangat kering. Dimana masalahnya? Bukan di topiknya. Kita boleh, bahkan kadang harus, berkhotbah doktrinal. Tetapi khotbah itu menjadi tidak relevan jika tidak memikirkan pertanyaan: “What is the message?” Apa berita dari kebenaran itu bagi pendengar hari ini?

Ada orang yang pernah berkata (saya tidak tahu siapa yang pertama kali): “Jesus is the answer! But what is the question?” Adalah tugas pengkhotbah, sebagai orang yang menguraikan Firman Tuhan, untuk memahami“what is the question” – apa yang ditanyakan jemaat, apa yang dihadapi jemaat, apa yang diperlukan jemaat. Karena hanya dengan demikian dia bisa menjawab dengan relevan (dan powerful): “Jesus is the answer!

Adalah tugas pengkhotbah untuk menguraikan Firman Tuhan yang kekal untuk memberi jawaban bagi pergumulan manusia yang terus berubah sepanjang zaman. Di dalam tulisan sebelumnya, saya meminjam format dari The NIV Application Commentary Series (NIVAC), untuk menjelaskan tugas pengkhotbah. Untuk setiap bagian Alkitab, NIVAC membagi menjadi tiga bagian: “Original Meaning” – arti bagian itu di dalam konteks aslinya; “Bridging Contexts” – menjembatani konteks asli dengan konteks zaman sekarang; dan terakhir “Contemporary Significance” – memberikan contoh bagaimana bagian itu berbicara dan diterapkan di zaman ini. Sederhananya: “Original Meaning” tidak berubah tetapi “Bridging Contexts” dan “Contemporary Significance” akan selalu berganti.

Maka, saya ringkaskan, ada tiga masalah disini:

1. Isi khotbah
Masalahnya bukanlah khotbah yang terlalu dalam. Tetapi, justru, seringkali terlalu dangkal. Khotbah seperti itu tidak berasal dari pemikiran dan pergumulan yang mendalam tetapi kutip sana sini dan dibumbui dengan kallimat-kalimat yang terkesan wah.

2. Relevansi khotbah
Banyak jemaat berkata: “Saya nggak perlu khotbah doktrinal, saya nggak suka khotbah yang susah. Itu pergumulan teolog tapi bukan pergumulan saya.” Masalahnya, lagi-lagi, bukanlah khotbahnya terlalu dalam tetapi tidak jelas “what is the message”. Kita percaya bahwa Alkitab selalu relevan. Kebenaran-kebenarannya selalu menghidupkan. Maka khotbah dari bagian Alkitab manapun, topik apapun, harusnya relevan dan menghidupkan. Tetapi pengkhotbah yang kadang membuatnya tidak relevan dan mati. (Mungkin kadang saya juga bersalah dalam hal ini. May the Lord have mercy!)

3. Cara penyampaian khotbah
Penyampaian itu mencakup cara menyusun khotbah, pemilihan kata, intonasi, emosi, dan lain-lain. Kadangkala isi khotbahnya baik dan relevan, tetapi susunan khotbahnya tidak menarik, intonasinya monoton dan penguraiannya membosankan. Seorang pengkhotbah haruslah juga seorang “master of words” (kalau saya tidak salah istilah ini dari Eugene Peterson). Dia harus tahu bagaimana memilih kata-kata dan menggunakannya dengan tepat. Hal yang sama jika diucapkan dengan kalimat yang berbeda akan menimbulkan reaksi yang berbeda.

Kalau khotbah yang mendalam itu hanya kesannya saja mendalam, atau tidak relevan, atau membosankan penyampaiannya, tidak heran jemaat lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu. Karena paling tidak dia masih mengerti apa yang dibicarakan. Paling tidak masih ada aplikasi praktis yang dia langsung bisa tangkap. Atau paling tidak dia bisa tertawa dan tidak mengantuk.

Maka menyebarlah meme itu... dan wabah pun berlanjut.

(Tulisan ini pun akan berlanjut)

Sunday, June 19, 2016

The Reformed Pastor - Richard Baxter


Saya sedang membaca buku klasik “The Reformed Pastor” karya Richard Baxter. Malu juga sebenarnya baru baca sekarang. Bertahun-tahun buku ini nangkring di rak buku saya, sempat baca beberapa halaman, lalu dibiarin nangkring lagi tanpa disentuh, sampai sekarang.

Setelah membaca buku ini separuh, saya bisa mengamini apa yang pernah diucapkan seorang hamba Tuhan, “setiap hamba Tuhan wajib membaca buku ini, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.” Buku ini sangat-sangat-sangat diperlukan untuk setiap hamba Tuhan. 

Richard Baxter adalah salah seorang puritan (sekelompok orang Protestan Reformed di Inggris di abad 16-17, yang ingin memurnikan – purifying – gereja Inggris). Orang-orang Puritan terkenal sebagai raksasa-raksasa rohani yang kehidupannya, mind-heart-hand, sangat terintegrasi. Richard Baxter adalah seorang pendeta, penginjil dan juga penulis yang sangat luar biasa di era Puritanisme. Pelayanan dia di gereja Kidderminster (selama hampir 15 tahun) dikatakan mengubah orang-orang kota itu dari yang “bebal, kasar, mencari kesenangan” menjadi komunitas yang saleh dan menyembah Tuhan.

Buku ini adalah tulisan Richard Baxter mengenai bagaimana pelayanan seperti itu bisa dilakukan. Dengan kata lain, ini adalah buku from a pastor to pastors. Walaupun konteks pelayanan dia tentu berbeda jauh dengan hari ini, tetapi prinsip-prinsip yang dia tuliskan sangatlah relevan. Berkali-kali saya harus memeriksa diri dan merenung sambil membaca buku ini.

Bahasanya tidak terlalu mudah karena cenderung archaic, tapi masih bisa dimengerti. Berharap ada penerbit yang mau menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia supaya lebih banyak hamba Tuhan di Indonesia yang bisa mendapat berkat melaluinya. Sebagai cicipan, saya mengutip beberapa pokok pembahasan di bagian 2 dari buku ini:

1. Take heed to yourselves, for you have a heaven to win or lose, and souls that must be happy or miserable for ever; and therefore it concerneth you to begin at home, and to take heed to yourselves as well as to others. 

2. Take heed to yourselves, for you have a depraved nature, and sinful inclinations, as well as others.

3. Take heed to yourselves, because the tempter will more ply you with temptations than other men.

4. Take heed to yourselves, because there are many eyes upon you, and there will be many to observe your falls.

5. Take heed to yourselves, for your sins have more heinous aggravations than other men’s.

6. Take heed to yourselves, because such great works as ours require greater grace than other men’s.

7. Take heed to yourselves, for the honour of your Lord and Master, and of his holy truth and ways, doth lie more on you than on other men.

8. Lastly, take heed to yourselves, for the success of all your labours doth very much depend on this.

Fellow pastors, please read this book!

Saturday, May 28, 2016

Tuhan "Caper"

“You know, don’t you, that I’m the One
who emptied your pantries and cleaned out your cupboards,
Who left you hungry and standing in bread lines?
But you never got hungry for me. You continued to ignore me.”
God’s Decree. 
Saya tertegun membaca gambaran yang sangat dramatis ini di Amos 4:6 (versi The Message). You never got hungry for God. 

TUHAN-lah yang menyebabkan mereka tidak punya makanan. Dia tutup semua sumber makanan mereka. Tetapi, sekalipun kelaparan, mereka tidak pernah lapar akan Tuhan. Dengan nada yang sulit diartikan (sedih/marah/kecewa?), Tuhan berkata: “You continued to ignore me.”
 
Lalu Tuhan melanjutkan dengan nada serupa melalui empat gambaran yang sama dramatisnya:

7-8 “Yes, and I’m the One who stopped the rains
three months short of harvest.
I’d make it rain on one village
but not on another.
I’d make it rain on one field
but not on another—and that one would dry up.
People would stagger from village to village
crazed for water and never quenching their thirst.
But you never got thirsty for me.
You ignored me.”
God’s Decree.
Tuhanlah yang menghentikan curah hujan, membuat tanah kekeringan, dan menjadikan mereka kehausan. Tetapi mereka tidak pernah haus akan Tuhan. You never got thirsty for me. You ignored me.

9 “I hit your crops with disease
and withered your orchards and gardens.
Locusts devoured your olive and fig trees,
but you continued to ignore me.”
God’s Decree.
Ladang mereka dihancurkan-Nya. Kebun, taman, panen, semua sudah disapu habis. But you continued to ignore me.

10 “I revisited you with the old Egyptian plagues,
killed your choice young men and prize horses.
The stink of rot in your camps was so strong
that you held your noses—
But you didn’t notice me.
You continued to ignore me.”
God’s Decree.
Tulah yang dulu ditimpakan kepada orang Mesir untuk membebaskan mereka dari perbudakan sekarang ditimpakan kepada mereka. Bau busuk memenuhi hidung mereka karena banyaknya kematian, baik hewan maupun manusia. Tetapi mereka tetap tidak mengalihkan perhatian kepada Tuhan. But you didn't notice me. You continued to ignore me.

11 “I hit you with earthquake and fire,
left you devastated like Sodom and Gomorrah.
You were like a burning stick
snatched from the flames.
But you never looked my way.
You continued to ignore me.”
God’s Decree.
Tuhan menghajar mereka habis-habisan dengan bencana alam sampai mereka menjadi seperti puntung yang diselamatkan dari api. Tetapi mereka tetap tidak melihat kepada Allah. But you never looked my way. You continued to ignore me.

Di satu sisi, Tuhan bertindak seperti hakim yang sedang menjalankan penghakiman melalui berbagai malapetaka yang dialami umat-Nya. Tetapi, di sisi lain, Tuhan seperti orang tua yang sedang berusaha menarik perhatian anak-Nya. Uang jajan distop, mobil ditarik, baju tidak dibelikan lagi, telpon diputus - semua hanya supaya si anak mau datang ke orang tua.

Apakah Tuhan marah? Ya, Dia marah karena anak-Nya berdosa. Tetapi Dia tidak ingin menghancurkan anak-Nya. Satu-satunya yang Dia inginkan adalah supaya anak-Nya datang kepada-Nya.

Amazing bukan? Tuhan "caper"! Dia cari perhatian! Dia berusaha menarik perhatian anak-Nya untuk kembali kepada-Nya. Datang saja kepada-Nya, lihat saja Dia, bicara saja dengan Dia! But they continued to ignore Him.

Maka tidak ada cara lain, Dia akan lebih jelas lagi, lebih nyata lagi, dan kalau perlu lebih keras lagi. Time’s up. Prepare to meet your God!

12 “All this I have done to you, Israel,
and this is why I have done it.
Time’s up, O Israel!
Prepare to meet your God!”
Saya kira, hari ini, Tuhan sangat mungkin melakukan yang kurang lebih sama kepada kita seperti kepada Israel dulu. Caranya mungkin berbeda tapi kerinduan Tuhan sama. Apakah Tuhan juga sedang caper kepadamu? Don't ignore Him.

Thursday, May 12, 2016

Hamba Tuhan: Role Model Dalam Ibadah

Ada satu peran hamba Tuhan di dalam ibadah yang jarang disadari: Menjadi role model.

Di banyak gereja, pada waktu ibadah, gembala dan juga hamba Tuhan lainnya biasanya akan duduk di barisan paling depan (di beberapa gereja, mereka bahkan duduk di mimbar menghadap jemaat). Satu hal yang sering tidak disadari, baik oleh hamba Tuhan maupun jemaat sendiri, selama ibadah berlangsung ada banyak mata yang akan berulang kali memperhatikan hamba Tuhan di depan itu. Bukan hanya pada waktu dia berdiri di mimbar memimpin pujian atau doa, bukan hanya ketika dia duduk menghadap jemaat, tetapi bahkan juga pada waktu dia duduk membelakangi jemaat.

Jemaat sendiri mungkin tidak terlalu sadar. Tetapi kalau saja dilakukan survei berapa banyak dan berapa sering jemaat "melirik" hamba Tuhan yang ada di depan membelakangi mereka, hasilnya bisa mengejutkan. 

Maka apa yang dilakukan hamba Tuhan di dalam ibadah akan mempengaruhi jemaat. Tentu pengaruhnya tidak akan langsung terasa, tetapi bertahap dan menyebar. Setelah berbulan-bulan atau mungkin beberapa tahun, pengaruhnya akan terlihat. 

Kalau hamba Tuhan tidak serius beribadah, sering keluar di tengah ibadah, menerima telpon, main handphone, ngobrol, maka jemaat sangat mungkin juga akan tidak serius beribadah. Mungkin banyak yang akan bolak-balik keluar, bercanda, bisik-bisik di tengah ibadah, dst. Kalau hamba Tuhan sikapnya dari belakang terlihat tidak serius menyanyi, misalnya tengok kiri kanan, melipat tangan, menengok ke belakang, atau apa lah yang ketahuan sama jemaat, maka jemaat sangat mungkin juga tidak akan serius menyanyi. 

Tentu sikap hamba Tuhan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keseriusan jemaat dalam beribadah. Tetapi, sulit dipungkiri, itu faktor yang ikut menentukan.

Saya pernah beberapa kali melayani di gereja yang sangat jelas hamba Tuhan nya tidak serius beribadah. Suasana ibadah di situ sangat terasa berantakan. Ketika gereja itu kemudian berganti gembala, dan beberapa waktu kemudian saya kembali melayani di sana, saya terkejut melihat perubahannya. Jemaat menyanyi dengan sungguh dan mendengar khotbah dengan serius. Dari sekian banyak penyebab yang mungkin, tidak bisa dipungkiri salah satunya adalah faktor teladan hamba Tuhan nya. Sepanjang ibadah, dia duduk di depan, menyanyi dengan sungguh, dan serius mendengarkan khotbah.

Saya ingat Prof. Bruce Leafblad pernah berkata, "Jangan tanya apakah hamba Tuhan menjadi role model atau tidak di dalam ibadah. Jawabannya: Pasti!" Pertanyaannya apakah dia role model yang baik atau buruk.

Maka caveat pastor!

Thursday, May 05, 2016

Panggilan

Di dalam bukunya yang terkenal, “The Call”, Os Guinness membedakan dua macam panggilan di dalam hidup orang Kristen.

Panggilan yang pertama dan terutama adalah panggilan untuk mengikut Kristus. Panggilan ini adalah yang menyangkut seluruh keberadaan kita sebagai manusia. Hidup kita, hati kita, jiwa dan raga kita, seluruhnya adalah untuk menyembah Dia. Tidak ada apapun yang boleh menyaingi panggilan yang terutama ini. Oswald Chambers pernah berkata, “Waspadalah atas segala sesuatu yang menyaingi kesetiaan kepada Yesus Kristus” dan “pesaing terbesar kesetiaan kepada Yesus adalah pelayanan bagi Dia”. Bagaimana bisa begitu? Karena, “tujuan panggilan Tuhan adalah kepuasan Tuhan, bukan untuk mengerjakan sesuatu bagi Dia.”

Kalimat Oswald Chambers itu perlu diperdengarkan (kalau perlu diteriakkan) lagi di telinga kita. “Mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” sering seperti konsep yang abstrak bagi kita. Jauh lebih mudah untuk membayangkan bentuk konkrit yang harus dilakukan dalam rangka “mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan”, a.k.a. “pelayanan” (baik di gereja maupun melalui profesi). Tetapi, di dalam prosesnya akhirnya kita mempersamakan keduanya. Maka perlahan-lahan, “pelayanan” menjadi sama dengan “penyembahan”. Kita merasa sudah “mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” dengan melakukan “pelayanan”. Bisakah kita melihat masalahnya disini?

“Mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” adalah soal hati, arah, tujuan, motivasi, yang mengarahkan apa yang kita lakukan. Sementara “apa yang kita lakukan”, arahnya, tujuannya, motivasinya, bisa untuk memuaskan Tuhan atau membesarkan diri. Ketika kita mempersamakan keduanya, pasti muncul masalah besar. Kita bisa berdalih bahwa “kita tidak mencari untung”, “kita sedang berusaha menggunakan karunia yang Tuhan berikan”, atau “kita ingin memberi yang terbaik untuk Tuhan” melalui apa yang kita lakukan. Tetapi, pertanyaan yang terus menggantung adalah, apakah sungguh di dalam hati kita hanya-dan-hanya ingin mengikut Yesus? Apakah kita hanya-dan-hanya memuaskan Tuhan?

Panggilan yang kedua, menurut Os Guinness, barulah yang lebih konkrit, yaitu “dalam segala hal kita harus berpikir, berbicara, hidup, dan bertindak sepenuhnya bagi Dia”. Mungkin itu berarti pekerjaan, profesi, atau kehidupan sehari-hari, yang kita jalani sebagai respons atas arahan dan panggilan Tuhan. Tetapi, jangan menjadikan panggilan kedua ini sebagai yang pertama dan terutama.

Saya tertempelak membaca kalimat Os Guinness di bawah ini:
Do we enjoy our work, love our work, virtually worship our work so that our devotion to Jesus is off-center? Do we put emphasis on service or usefulness, or being productive in working for God – at his expense? Do we strive to prove our own significance? To make difference in the world? To carve our names in marble in the monuments of time?
Apakah kita menikmati pekerjaan kita, mencintai pekerjaan kita, secara virtual menyembah pekerjaan kita sehingga kesetiaan kita kepada Yesus tergeser? Apakah kita menaruh penekanan pada pelayanan atau kegunaan, atau menjadi produktif dalam bekerja untuk Allah – dengan mengorbankan Dia? Apakah kita berjuang untuk membuktikan signifikansi diri kita? Untuk membuat perbedaan di dalam dunia? Untuk mengukir nama kita pada monumen-monumen waktu?
Siapa sih yang tidak ingin hidupnya berguna dan produktif? Siapa sih yang tidak senang berhasil membuat perbedaan di dalam dunia? Di dalam kelemahan, siapa sih yang tidak bangga membayangkan hidupnya signifikan dan dikenang? Tidak ada yang salah dengan hidup berguna, produktif, membuat perbedaan, signifikan dan dikenang. Tetapi, menjadi masalah dan salah besar ketika kita mengejar semua itu seakan-akan itulah panggilan kita yang pertama dan terutama.

Os Guinnes mengingatkan, panggilan kita yang pertama dan terutama bukanlah to do something tetapi we are called to Someone. Kunci untuk menjawab panggilan itu adalah untuk setia tidak kepada siapapun (termasuk diri kita) dan apapun selain kepada Allah.

Saya perlu mengunyah kebenaran ini lebih lama supaya meresap.

Thursday, April 28, 2016

Eugene Peterson dan Bono - Tentang Mazmur

Saya menemukan video ini, tentang Eugene Peterson dan Bono (U2). What? Who? Yes, Eugene Peterson and Bono! :-)

Eugene Peterson adalah seorang penulis yang sangat saya kagumi. Bono? Saya hanya tahu namanya tapi tidak pernah mendengar albumnya. Sorry, saya memang agak kuper soal dunia entertainment. Bono mengenal Eugene Peterson juga dari buku-bukunya, khususnya The Message (Alkitab terjemahan dengan bahasa sehari-hari) yang sangat terkenal. Sementara Peterson tidak pernah mendengar tentang Bono sebelumnya :-)

Video ini cukup panjang tapi saya menikmati menontonnya sampai habis. Beberapa percakapan yang sangat menarik bagi saya:

Dalam wawancara dengan Dean Nelson (mulai di menit 1.45), Dean bertanya mengapa Peterson menolak ketika Bono mengundangnya untuk hang out with U2. Peterson menjawab bahwa waktu itu dia sedang mengejar deadline menerjemahkan Perjanjian Lama.
Dean: “You may be the only person alive who would turn down the opportunity just to make a deadline. I mean, come on, it’s Bono!”
Eugene: “Dean, he was Isaiah!” 

lol :-)

Bono bicara tentang Mazmur 23 (mulai di menit 10.30) dan dia menyanyikan Mazmur 23.

Percakapan tentang honesty di dalam Mazmur (mulai di menit 12.25).
Bono: “I would love if this conversation would inspire people who are writing these beautiful voices, who are writing these, say, beautiful gospel songs, write a song about their bad marriage, write a song about how, you know, they are pissed off about the government… why I am suspicious of Christians is because of this lack of realism. And I love to see more of that in life, in art, and in music.”

Percakapan tentang violence (16.10). Eugene mengatakan betapa pentingnya imprecatory psalms (mazmur yang berisi permohonan akan penghakiman, malapetaka dan kutukan bagi musuh).
Eugene: “If we have to get some way in context, and the context is our Bible and our whole psalter, some way in context that tell people how mad we are.”
Lalu Bono teringat akan Mazmur 35:1 dimana Eugene menterjemahkannya dengan sangat baik: “Harass these hecklers, God, punch these bullies in the nose.” 

Adakah cara melihat mazmur-mazmur seperti itu melalui kacamata Yesus dan berharap untuk mengerti violence dan non-violence?
Eugene: "Well, yeah, the crucifixion. There’s violence, there got to be some kind of response… I’m glad that we have a cross in every room in this house. But when I look at those, I don’t think decoration, I think this is the world we live in. And it’s a world with a lot of crosses. And I just would like to spend my life doing something about that, through Scripture, through preaching, through friendship. And now my years here are getting shorter and don’t know how many years left but I don’t wanna escape the violence.”

That touched me. 

Video ditutup beautifully dengan doa dari Eugene Peterson di background.

Ada tiga kesan tambahan yang saya dapat:

Pertama, seorang penulis pernah mengatakan suara Eugene Peterson seperti suara orang yang banyak bergumul di dalam dark nights. Suara saya yang sekarang lagi serak-serak basah membuat saya merasa agak mirip dengan dia (lol) – ok ini nggak penting.

Kedua, Eugene menyebut Bono sebagai “companion in the faith”. Bagaimanapun bedanya Eugene dan Bono, tapi mereka sama-sama beriman dan sedang berjalan dalam perjalanan iman, so yes they are “companion in the faith.” Bisakah kita belajar melihat saudara kita sesama orang Kristen, seberapapun bedanya dengan kita, seperti itu?

Ketiga, saya kagum dengan kesederhanaan Eugene. Saya sudah banyak membaca bukunya maka sedikit banyak tahu tentang hidupnya. Tetapi melihat video ini,… saya semakin mengagumi dia. Di dalam kitab Testaments of the Twelve Patriarchs (sebuah kitab kuno orang Yahudi), ada satu istilah yang sering muncul “walk in singleness/simplicity” – bukan hanya di dalam hal materi, tapi juga di dalam hati, fokus, simpel, nggak neko-neko. Saya kira Eugene sangat tepat melukiskan hidup yang seperti itu.

Here is the video:

Thursday, March 24, 2016

Broken and Spilled Out

Pada kebaktian Jumat Agung di GKY Singapore, empat tahun yang lalu, paduan suara menyanyikan lagu Broken and Spilled Out dari Steve Green. Di malam menjelang peringatan Jumat Agung ini, saya kembali mendengarkan lagu itu dan merenungi lagi kata-katanya.

Steve Green mengambil syair ini dari kisah di dalam Injil. Saya kira dia mengambil syair lagunya dari Matius 26.6-13/Markus 14.3-9/Yohanes 12.1-8 (walaupun kisah yang serupa juga ada di Lukas 7.36-50), yaitu ketika Maria mengurapi Yesus di Betania beberapa hari sebelum Jumat Agung. Yesus sendiri berkata tentang peristiwa itu, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan utuk penguburan-Ku" (Mrk 14.8).

Klip video di bawah ini dibuat oleh istri saya beberapa tahun lalu:



One day a plain village woman
Suatu hari ada seorang wanita desa yang sederhana
Driven by love for her Lord 
Digerakkan oleh kasih kepada Tuhan-nya
Recklessly poured out a valuable essence
Dengan sembrono menuangkan minyak wangi yang berharga
Disregarding the scorn
Tanpa mempedulikan cemoohan
And once it was broken and spilled out
Dan begitu (botol) minyak wangi itu dipecahkan dan ditumpahkan
A fragrance filled all the room
Bau wangi memenuhi seluruh ruangan
Like a pris'ner released from his shackles
Seperti tahanan yang dibebaskan dari ikatannya
Like a spirit set free from the tomb
Seperti roh yang dibebaskan dari kuburan

Tiba-tiba di tengah lagu ini, subjek dan objeknya berubah. Bukan lagi tentang "wanita itu" tetapi tentang "saya". Dan di akhir bagian ini, bahkan bukan lagi tentang "minyak wangi yang ditumpahkan" tetapi tentang "saya yang rela ditumpahkan".

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of you Jesus
Hanya karena kasih untuk-Mu Yesus
My most precious treasure lavished on Thee
Hartaku yang paling berharga dihamburkan pada-Mu
Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at Your feet
Dan dituangkan pada kaki-Mu
In sweet abandon, let me be spilled out
Dalam penyerahan yang manis, biarkan aku ditumpahkan
And used up for Thee
Dan dipakai habis untuk-Mu

Di bagian akhir lagu ini, sekali lagi subjek dan objeknya berubah. Kali ini, bukan lagi wanita itu dan bukan lagi saya yang menumpahkan minyak wangi, tetapi Allah! Bukan lagi tentang minyak wangi atau saya yang ditumpahkan, tetapi Yesus!

Lord You were God's precious treasure
Tuhan Engkau adalah harta Allah yang berharga
His loved and His own perfect Son
Anak-Nya sendiri yang dikasihi dan sempurna
Sent here to show me the love of the Father
Diutus untuk menunjukkan kepadaku kasih Bapa
Just for love it was done
Untuk kasih itu dilakukan
And though You were perfect and holy
Dan sekalipun Engkau sempurna dan kudus
You gave up Yourself willingly
Engkau memberikan diri-Mu dengan rela
You spared no expense for my pardon
Engkau tidak menyayangkan apapun demi pengampunanku
You were used up and wasted for me
Engkau dipakai habis dan dihamburkan untukku

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of me Jesus
Hanya karena kasih untukku Yesus
God's most precious treasure lavished on me
Harta Allah yang paling berharga dihamburkan padaku
You were broken and spilled out
Engkau dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at my feet
Dan dituangkan pada kakiku
In sweet abandon Lord
Dalam penyerahan yang manis Tuhan
You were spilled out and used up for me
Engkau ditumpahkan dan dipakai habis untukku

Segalanya menjadi terbalik!. Kita pikir kita yang mengasihi Allah. Kita pikir kita yang memecahkan dan menumpahkan harta kita, diri kita, segala yang berharga bagi kita, untuk Yesus. Tetapi Allah sudah memecahkan dan menumpahkan Yesus untuk kita. Harta Allah yang paling berharga dihamburkan pada kita! Dia dipecahkan, ditumpahkan, dan seperti - saya tidak tega bahkan untuk menuliskan ini - dituangkan pada kaki kita. Oh Tuhan, how can it be! 

Yesus ditumpahkan dan dipakai habis untuk kita. Bisakah kita tidak melakukan yang sama - yang sebenarnya jauh jauh jauh lebih rendah dari yang dilakukan Allah?

Maka dua kalimat ini terngiang-ngiang di telinga saya:

In sweet abandon Lord, You were spilled out and used up for me.
In sweet abandon, let me be spilled out and used up for Thee. 

Selamat Jumat Agung dan Paskah!

Thursday, February 11, 2016

Langkah-langkah Memulai Masa Pacaran

Valentine Day is just around the corner again. It seems to be an appropriate time to talk about dating :-)

Ok, saya tidak bermaksud menulis textbook cara “pendekatan”. Tapi setelah mendengar berbagai cerita “gosip-seputar-pdkt-dan-pacaran”, saya merasa ada yang kurang “pas”. Maka saya berharap paling tidak tulisan pendek ini bisa sedikit menolong mereka yang sedang bergumul - untuk bergumul dengan benar.

Apa itu “pacaran”? Sederhananya, pacaran adalah masa dimana seorang pria dan seorang wanita mengambil komitmen untuk lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan.

Perhatikan definisi itu. Hanya seorang pria dan seorang wanita, tidak bisa “seorang” dengan “beberapa orang”. Lalu ada “komitmen”. Tetapi komitmennya bukan untuk “hidup bersama”. Komitmennya bukan “to stay together forever and ever”. Komitmennya bukan “you are mine and I am yours”.  Tidak ada hal seperti itu dalam pacarana! Komitmennya hanyalah “lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan”. Maka di dalam pacaran, SAMA SEKALI tidak boleh ada relasi yang sifatnya seksual. Relasi yang dijalin bukan bersifat fisik tetapi komunikasi – pemikiran, perasaan, pengalaman, nilai hidup, iman, dst. Komitmennya hanyalah menjajaki apakah saya dan dia bisa hidup bersama seumur hidup nantinya. 

Walaupun pacaran memang tidak ada komitmen seperti pernikahan, bukan berarti boleh dimulai dengan sembarangan. Bagaimanapun pacaran melibatkan emosi, waktu dan tenaga dari dua pihak, yang sangat sayang untuk disia-siakan. Maka untuk mulai berpacaran harus ada “tingkat kepastian tertentu” – merasa suka, cocok, mau komitmen berelasi, barulah dimulai. Sehingga faktor “gambling” dan “sembarangan” diminimalisir. Di masa pacaran nanti, kedua belah pihak akan sama-sama lagi menilai dan berdoa apakah benar bisa dilanjutkan ke pernikahan. Artinya setelah ada “tingkat kepastian yang lebih tinggi” baru memberanikan diri masuk ke komitmen seumur hidup.

Untuk masuk ke masa pacaran, ada 2 pertanyaan yang perlu ditanyakan terlebih dulu oleh setiap orang:

Pertama, apakah benar ada ketertarikan, ada perasaan suka, dan melihat ada kecocokan? Tidak bisa tidak, perlu waktu untuk menjawab ini.

Kedua, apakah benar mau berkomitmen memasuki masa pacaran?  Memang bukan komitmen untuk menikah atau apapun yang serius, tapi hanya komitmen mengkhususkan waktu, tentunya juga emosi dan pikiran, untuk mengenal dan menguji kecocokan menuju ke pernikahan.

Pikirkan dan doakan untuk menjawab 2 pertanyaan itu. Libatkanlah Tuhan di dalam pergumulan yang sangat penting ini.

Mulai dari yang pria, kalau memang jawaban untuk yang pertama dan kedua adalah “ya”, BARU sesudah itu dia boleh menyatakan secara eksplisit ke yang wanita. Ini penting! Hanya setelah yang pria yakin, BARU dia boleh menyatakan. Lalu tunggu jawaban apakah yang wanita juga setuju untuk masuk ke masa pacaran. Maka giliran si wanita untuk bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas itu dan mendoakannya.

Urutan di atas harus jelas.

Beberapa kesalahan yang biasa terjadi:

Pertama, terlalu cepat memasuki masa pacaran. Tanpa ada “tingkat kepastian tertentu” - hanya berdasarkan perasaan suka (yang mungkin sesaat) lalu berani masuk ke masa pacaran.

Emosi memang selalu melambung jauh lebih cepat dari akal sehat. Pada waktu emosi melambung, dengan cepat kita akan berkata “tertarik, suka, cocok, MAU!” Itu sebabnya perlu waktu untuk membuat emosi "turun" dan stabil dulu, baru bisa berpikir jernih apakah memang tertarik, suka, cocok dan mau pacaran. Jangan mengambil komitmen apapun dalam keadaan emosi yang sedang sangat melambung. Banyak orang yang nekat mengambil komitmen waktu lagi “melayang-layang” dan kecewa setelah “layangan”nya turun ke bumi.

Berikan waktu beberapa bulan untuk berteman saja (tanpa romantisme at all!) dan usahakan tidak pergi berduaan tapi selalu bersama dengan teman-teman lain. Jika relasi disertai banyak romantisme – kata-kata mesra, kontak terus menerus, sering pergi berduaan, apalagi ada kontak fisik, maka tidak pernah akan ada kematangan dalam pergumulan. Romantisme dan kontak fisik sudah berjalan mendahului komitmen dan akal sehat akan jauh tertinggal di belakang.

Kesalahan kedua, berlawanan dengan yang pertama, yaitu terlalu lama mengambil keputusan. Pria memang harus bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas dan mendoakan. Tetapi jangan lupa, ini bukan mencari kepastian untuk “menikah” tapi untuk “memasuki masa penjajakan menuju ke pernikahan”. Jadi tidak bisa harus pasti dan yakin “she is the one” baru mau pacaran. Tidak akan pernah yakin! Keyakinan itu baru bisa didapat nanti waktu di masa pacaran. Maka masa memikirkan dan mendoakan ini tidak perlu terlalu lama (walaupun bukan berarti terlalu cepat dan sembarangan).

Alasannya adalah: Ketika seorang pria merasa suka, sadar atau tidak sadar dia akan banyak “mendekati” si wanita. Dia akan cukup sering kontak, memberi perhatian, dsb. Kalau si wanita tidak suka dengan dia, maka gampang, si wanita pasti akan menjauh. Tapi kalau si wanita suka, maka dia akan kasihan sekali karena perasaannya terus diaduk-aduk. Di satu sisi dia merasa si pria mendekati dia (membuat dia berharap), tapi di sisi lain si pria tidak maju-maju. Jadi seperti digantung – friendzoned.  Apalagi kalau kemudian setelah sekian lama, akhirnya si pria memutuskan untuk tidak mau memasuki masa pacaran. Sekian lama si wanita merasa didekati, diperhatikan, lalu si pria tiba-tiba menjauh! Itu sangat menyakitkan. Memang namanya juga lagi bergumul dan jawabannya bisa “tidak”, tapi justru itu sebabnya jangan terlalu lama. Kasarnya, mau ya mau, nggak ya nggak :-)

Dengan alasan yang sama, setelah pria menyatakan, jangan yang wanita kemudian giliran friendzoning dia. Memang pasti perlu waktu untuk berpikir dan berdoa. Tidak ada patokan juga berapa waktu yang diperlukan, tapi 6 bulan pasti terlalu lama.

Kesalahan ketiga, si pria yang sama sekali belum ada kepastian ini bilang ke si wanita, “saya lagi mendoakan kamu”. Woohooo…. Bagi wanita (yang cenderung lebih emosional), informasi itu tidak ada bedanya dengan “pernyataan langsung”. Bagi dia itu artinya si pria menyukai dia. Dia akan sangat berharap dan sangat sakit hati ketika akhirnya “hasil doa” si pria adalah “tidak”. Maka saya sangat tidak setuju dengan cara seperti itu.

Pria harus berpikir dan berdoa sendiri dulu, walaupun sambil mendekati – asal jangan lama-lama. Setelah ada keputusan bahwa dia mau, BARU menyatakan. Barulah saat itu “bola”nya dilempar ke si wanita untuk memutuskan. Jangan sampai setelah bola dilempar ke si wanita, dengan alasan “sama-sama mendoakan”, lalu si wanita memutuskan “mau” sementara si pria memutuskan “tidak”. Bukan begitu urutannya.

I hope that helps. Selamat bergumul – dengan benar :-)